Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang Beresiko
Meski semalaman Zevana hanya berguling-guling tanpa bisa memejamkan matanya sama sekali, namun nona muda itu terlihat sangat bugar dan energik di medan perangnya. Pukul 06.00 Zevana sudah berada di kantor dengan setelan rapi, jas crop top navy—dengan celana kulot senada melengkapi penampilan modisnya.
Secangkir kopi yang masih mengepulkan asap, dan roti mentega juga sudah tersaji di samping laptop setianya. Baginya, tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain merealisasikan rencananya, maka di sanalah dia—dengan setumpuk berkas yang menunggunya untuk diselesaikan.
Sementara itu kini ada sebuah meja kantor lengkap dengan kursi dan komputer baru tepat di seberang meja kantornya.
"Selamat pagi, Bu Zevana," sapa Arka yang kini mendekat ke seberang mejanya.
"Pagi. Tolong cek berkas-berkas ini lalu susun berdasarkan tingkat kegentingan keuangannya. Mulai besok Anda ikut saya untuk survei lapangan, bertemu klien," ucap Zevana tanpa menunggu Arka duduk di kursinya.
"Baik, Bu," sahut Arka antusias sembari mengambil tumpukan map dari meja Zevana ke mejanya.
"Saya pindahkan meja Pak Arka supaya lebih mudah akses untuk diskusinya. Selain itu, kebanyakan berkas harus langsung ditaruh di laci kerja saya, jadi silakan Anda bisa mengaksesnya kapan saja," terang Zevana sembari bangkit lalu merapikan mejanya.
"Iya, baik, Bu. Terima kasih," ucap Arka sembari menatap Zevana yang sedang bersiap.
"Hari ini saya ada temu klien untuk urusan kemitraan. Tolong selesaikan berkas yang ada di meja dulu, lalu masukkan ke laci. Kalau sudah selesai, boleh langsung pulang."
Melihat hal itu, Arka mengernyitkan keningnya lalu dengan tergesa mendekat ke arah Zevana.
Grep!
"Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Arka dengan suara rendah.
Zevana menatap Arka lalu memiringkan wajah.
"Apa saya punya waktu untuk memikirkan kesalahan Anda?" tanya balik Zevana sembari menepis cekalannya yang lemah.
"Saya akan menjaga sikap. Tidak—saya akan menjaga jarak, jika itu memang perlu. Saya akan bersikap profesional." Arka menunduk tepat di depan wajah Zevana.
"Sepertinya saya terlalu terbawa suasana. Saya terlalu mengagumi Anda yang merupakan perempuan hebat dan keren, saya lupa posisi saya hanyalah bawahan," ungkap Arka dengan wajah semakin menunduk.
"Angkat kepala Anda. Apa Anda tidak punya harga diri bersikap begini di depan seorang perempuan?" tanya Zevana sarkas dengan nada penuh penekanan.
"Saya mohon. Bersikaplah seperti biasa saja. Jangan menghindar," ucap Arka pada akhirnya.
"Hah... Saya tidak tahu apa yang Anda pikirkan, tapi saya benar-benar mau ada pertemuan dengan klien. Ini mendadak, jadi tidak saya infokan di grup," desah Zevana frustrasi.
"Kalau saya memang menghindar, untuk apa saya pindahkan meja Pak Arka ke ruangan saya?" tegas Zevana sembari menunjuk meja di hadapannya.
Arka menutup wajahnya lalu berpaling.
"Ah. Maaf, saya jadi malu."
Melihat sikap kikuk Arka, Zevana menahan tawa lalu mengatur ekspresi.
"Saya mau berangkat sekarang," pamit Zevana sembari melepaskan lagi genggaman tangan Arka.
"Maaf, saya tidak bermaksud kurang ajar," sesal Arka saat tangannya dihempaskan perlahan.
Zevana pun berangkat menuju suatu tempat, dengan membawa mobil sendiri tanpa sopir pribadi. Di perjalanan, ia terbayang wajah sendu Arka yang terlihat begitu putus asa saat dirinya hendak pergi. Tanpa sadar ia tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Ck! Fokus, Zevana!"
"Sejak kapan aku goyah sama laki-laki? Modal ganteng doang mah ada banyak. Fokus, fokus!" monolognya mencoba menampar dirinya sendiri.
Tanpa sadar Zevana sudah tiba di tempat janjian pertemuan dengan klien yang ia bicarakan tadi kepada Arka. Ia pun menepikan mobilnya di tempat parkir, lalu melangkah masuk ke area teras kafe sebuah hotel bintang lima.
"Maaf, sepertinya saya terlambat," ucap Zevana sambil memasang senyum terbaiknya.
"Ah! Anda sudah datang!" seru Reno yang lalu bangkit dengan sigap menarik kursi dan mempersilakan Zevana untuk duduk.
"Tidak terlambat kok, saya yang terlalu antusias," jawab Reno sambil menggamit lengan kanan Zevana lalu mengecup punggung tangannya.
Zevana tersenyum getir, sudut bibirnya bergetar menahan diri.
"Jadi... bagaimana? Apa sebaiknya saya langsung pesankan makanan?" tawar Reno sembari mengangkat tangan memanggil pelayan.
Namun belum sempat sang pelayan melihat, Zevana menahannya. "Jangan! Saya tidak biasa makan pagi. Pesan minum dan pencuci mulut saja, lagipula kita akan langsung membahas kemitraan," tolak Zevana seramah mungkin.
Reno mengangguk lalu tersenyum.
"Ah, baik. Kalau begitu kita tunggu sambil mulai rapatnya." Reno membuka laptopnya lalu menyodorkan tabel data diagram balok yang menunjukkan persentase capaian perusahaannya kepada Zevana dan mulai presentasi.
Zevana mengangguk-angguk selama Reno menjelaskan sembari terus menatap layar. Pikirannya berputar, mendengar suara Reno saja ia merasa mual. Namun ia tetap bertahan sembari menahan senyum tipis di bibirnya supaya tidak membuatnya curiga.
"Seperti yang saya sampaikan, meski peningkatan perusahaan kami tidak naik secara signifikan, namun sistem kerja kami yang bagus membuat konsistensi bisa dipertahankan," tutup Reno sebelum akhirnya ia mengangguk tanda selesai.
"Demi apa. Dia hanya membicarakan rencana tanpa ada perkembangan sama sekali. Ini sih bukan hanya monoton, tapi penurunan kualitas secara berkala," batin Zevana merasa jengkel, namun ia masih tetap menjaga senyumnya.
"Baik dimengerti. Melihat kinerja Pak Reno, saya merasa perusahaan Anda memiliki potensi berkembang tak lama lagi. Maka dari itu, saya secara pribadi berniat menanamkan modal secara sukarela dengan beberapa syarat mudah jika Pak Reno berkenan," ucap Zevana percaya diri.
"Saya sudah menyiapkan beberapa nominal yang bisa diterima oleh Pak Reno, silakan dipertimbangkan dulu dan pikirkan baik-baik," imbuh Zevana sembari menyodorkan buku catatannya, lalu sebuah map berisi berkas penandatanganan.
"I-ini? Maksudnya investasi tanpa bagi hasil?" gagap Reno dengan netra membulat.