Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 12 : PECAHNYA TOPENG DAN PERLINDUNGAN SANG CEO
Matahari Maldives pagi itu tidak lagi terasa hangat di kulit Anya Clarissa; rasanya lebih seperti bara api yang membakar kegelisahannya. Devan harus pergi ke pusat pulau untuk menghadiri pertemuan singkat via Zoom dengan dewan direksi Arkatama terkait krisis kecil di pelabuhan Tanjung Priok. Ia meninggalkan Anya di vila dengan janji akan kembali dalam satu jam untuk menjemputnya makan siang.
Anya duduk di dek luar, menatap air laut yang berwarna biru pirus. Ia baru saja akan menyesap jus jeruknya ketika suara langkah kaki yang berat di atas dek kayu membuatnya menoleh. Itu bukan langkah kaki Devan yang elegan dan teratur.
Raka berdiri di sana, tanpa senyum, tanpa keramahan palsu yang ia tunjukkan kemarin. Matanya merah, dan ia memegang sebuah amplop cokelat besar.
"Raka? Apa yang kamu lakukan di sini? Ini area privat," ucap Anya, suaranya tenang namun waspada. Ia segera berdiri, meletakkan gelasnya dengan denting yang tajam.
"Privat? Sama privatnya dengan rahasia yang kamu simpan di dalam amplop ini, Anya?" Raka melemparkan amplop itu ke meja kayu di depan Anya.
Anya membukanya dengan tangan yang mulai dingin. Di dalamnya terdapat salinan digital dari Kontrak Perjanjian Pranikah yang ia tandatangani di ruang kerja Devan. Detail tentang masa kontrak dua tahun, pelunasan hutang dua belas miliar, hingga larangan hubungan asmara—semuanya ada di sana.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan ini?" bisik Anya, suaranya bergetar karena amarah.
"Dunia ini sempit, Anya. Arkatama punya banyak musuh, dan salah satu sekretaris hukum di firma pengacara yang mengurus dokumen ini adalah teman lamaku. Dia butuh uang, dan aku butuh kebenaran," Raka melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. "Pernikahanmu adalah lelucon! Kamu menjual dirimu pada pria dingin itu hanya untuk menyelamatkan butik ibumu? Sungguh murah, Anya."
Anya menarik napas panjang. Rasa takut yang sempat muncul tiba-tiba menguap, digantikan oleh kemarahan yang dingin dan tajam. Ia meletakkan kembali dokumen itu, lalu menatap Raka tepat di matanya—tatapan yang biasanya ia gunakan untuk menghadapi mandor bangunan yang membangkang.
"Murah?" Anya tertawa getir, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Kamu menyebutku murah, Raka? Mari kita bicara soal harga. Di mana kamu saat rumahku hampir disita? Di mana kamu saat Mama hampir masuk penjara karena penipuan Hendra? Kamu menghilang seperti asap saat tahu aku tidak lagi punya aset yang bisa kamu banggakan di depan teman-teman sosialitamu."
Anya maju satu langkah, membuat Raka sedikit terkesiap. "Devan Arkatama, pria yang kamu sebut dingin itu, melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan: dia berdiri di sampingku saat badai datang. Dia memberikan solusi, bukan janji palsu. Jika aku harus 'menjual' hidupku selama dua tahun untuk menyelamatkan satu-satunya keluarga yang kupunya, aku akan melakukannya dengan kepala tegak. Itu namanya tanggung jawab, Raka. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam kamus hidupmu."
"Tapi ini penipuan publik, Anya! Jika aku mengirim ini ke media sekarang, harga saham Arkatama akan hancur dan kamu akan dicap sebagai wanita pemeras!" ancam Raka, suaranya meninggi. "Kembalilah padaku. Aku bisa membantumu melarikan diri dari sini. Kita bisa mulai lagi."
"Kembali padamu?" Anya tersenyum sinis. "Aku lebih suka tenggelam di laut ini daripada harus bernapas di udara yang sama dengan pengecut sepertimu. Sekarang, keluar dari vilaku sebelum aku memanggil keamanan."
Raka kehilangan kendali. Ia mencengkeram lengan Anya dengan kasar. "Kamu tidak akan pergi ke mana-mana sampai kamu setuju untuk—"
"Lepaskan tanganmu dari istriku. Sekarang."
Suara itu tidak keras, namun mengandung otoritas yang begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekitarnya. Devan berdiri di ambang pintu masuk dek, matanya yang tajam tertuju pada tangan Raka yang mencengkeram lengan Anya.
"Devan..." bisik Anya.
Raka tidak langsung melepaskan Anya. "Ah, sang pahlawan sudah datang. Apa kamu tahu, Devan, bahwa istrimu ini baru saja mengakui bahwa dia hanya menginginkan uangmu?"
Devan melangkah maju dengan tenang, namun setiap langkahnya memancarkan ancaman yang nyata. Saat jarak mereka hanya satu meter, Devan menggerakkan tangannya dengan kecepatan yang sulit diikuti mata awam. Ia mencengkeram pergelangan tangan Raka, memutarnya sedikit hingga Raka terpaksa melepaskan Anya sambil mengerang kesal.
"Aku tidak peduli apa yang dia katakan atau apa yang ada di dalam amplop itu," desis Devan tepat di depan wajah Raka. "Dokumen itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kenyataan bahwa dia adalah wanita yang menyandang nama Arkatama. Dan siapa pun yang menyentuh milik Arkatama... biasanya tidak akan pulang dalam keadaan utuh."
Raka mencoba melayangkan pukulan dengan tangan kirinya, namun Devan dengan mudah menangkisnya. Devan melakukan serangan balasan—sebuah pukulan pendek yang presisi tepat di ulu hati Raka, membuat pria itu terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di lantai dek.
Devan mengambil amplop cokelat itu, melirik isinya sekilas, lalu dengan santai merobeknya menjadi potongan-potongan kecil dan membiarkan angin Maldives menerbangkannya ke laut.
"Kamu pikir kamu bisa mengancamku dengan selembar kertas?" Devan menarik kerah kemeja Raka, mengangkatnya hingga kaki pria itu hampir tidak menyentuh lantai. "Dengarkan baik-baik, Pecundang. Jika satu kata saja tentang rahasia ini bocor ke media, aku akan memastikan karirmu berakhir hari ini juga. Aku akan membeli resor ini hanya untuk memecatmu secara tidak hormat, dan aku akan memastikan tidak ada hotel di belahan bumi mana pun yang mau menerima lamaran kerjamu. Kamu tahu aku punya kekuasaan untuk itu."
Raka gemetar, wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi. Ia menyadari bahwa ia baru saja membangunkan naga yang salah.
"Keluar. Sebelum aku berubah pikiran dan melemparmu sendiri ke kerumunan hiu di bawah sana," perintah Devan sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
Raka bangkit dengan tergesa-gesa, berlari meninggalkan vila tanpa menoleh lagi.
Suasana di dek menjadi sunyi, hanya menyisakan suara deburan ombak dan napas Devan yang masih memburu karena amarah. Devan berbalik menatap Anya. Anya berdiri di sana, menatap suaminya dengan perasaan yang tak menentu. Ada rasa takut, namun ada kekaguman yang lebih besar.
"Apa kamu terluka?" tanya Devan, suaranya mendadak melunak. Ia meraih tangan Anya, memeriksa pergelangan tangan yang tadi dicengkeram Raka. Ada bekas kemerahan di sana.
Anya menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Devan. Terima kasih."
Devan menghela napas panjang, ia menarik Anya ke dalam pelukannya. Kali ini, Anya tidak melawan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Devan, merasakan detak jantung pria itu yang kuat.
"Maafkan aku," bisik Devan di rambut Anya. "Aku seharusnya tidak meninggalkanmu sendirian. Dokumen itu... aku akan mencari tahu siapa pengkhianat di firma hukum itu. Tidak akan ada lagi yang bisa mengancammu."
Anya mendongak, menatap mata Devan. "Dia benar, Devan. Pernikahan kita adalah lelucon di mata hukum. Bagaimana kalau rahasia ini terbongkar nanti?"
Devan menangkup wajah Anya dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap pipi Anya dengan lembut. "Mungkin awalnya ini lelucon. Tapi setelah apa yang terjadi semalam, dan setelah melihat bajingan itu menyentuhmu hari ini... bagiku, kontrak itu sudah tidak berlaku. Kamu bukan transaksi, Anya. Kamu adalah satu-satunya hal nyata yang kupunya di tengah kepalsuan hidupku."
Di bawah langit Maldives yang luas, di antara sisa-sisa kontrak yang terapung di air laut, sebuah ikatan baru yang lebih kuat dari materai apa pun mulai terbentuk. Mereka bukan lagi sekadar rekan bisnis yang terpaksa menikah. Mereka adalah dua orang yang telah memilih untuk saling melindungi dari badai dunia.
"Devan," panggil Anya pelan.
"Hmm?"
"Apa kamu benar-benar akan membeli resor ini hanya untuk memecatnya?"
Devan tersenyum miring—senyum khas Arkatama yang penuh percaya diri. "Aku sudah mengirim pesan pada asistenku untuk mengecek harga saham pemilik resor ini. Kenapa? Kamu ingin aku membiarkannya?"
Anya tertawa kecil, melingkarkan tangannya di pinggang Devan. "Tidak. Pecat saja dia. Dia benar-benar merusak pemandangan pagiku."