"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: DENTUMAN BAJA PENGEMPA
Gerbang hidrolik di depan mereka terbuka dengan suara derit logam yang memekakkan telinga, mengeluarkan hembusan udara dingin yang berbau besi tua dan oli mesin. Namun, udara dingin itu tak membawa kelegaan bagi Haidar. Begitu kaki mereka melewati ambang pintu, suara yang tadinya hanya gema jauh kini berubah menjadi dentuman yang menggetarkan isi dada.
BUM! BUM! BUM!
Pemandangan di hadapan Haidar benar-benar mengerikan. Sektor Pengempa bukan lagi sekadar lorong, melainkan sebuah aula raksasa yang dipenuhi oleh barisan pilar baja berukuran sepuluh kali sepuluh meter. Pilar-pilar itu bergerak naik ke langit-langit, berhenti sejenak, lalu menghantam lantai dengan kekuatan ribuan ton dalam interval yang tidak teratur. Setiap kali baja-baja itu bertemu dengan lantai, percikan api memuncrat dan getarannya sanggup membuat seseorang kehilangan keseimbangan.
"Jangan hanya berdiri di situ, Haidar. Lantai ini tidak akan menunggu kakimu siap," suara Sersan nyaris tenggelam oleh bisingnya mesin.
Haidar menelan ludah yang terasa pahit. Pandangan mata kanannya yang tersisa mencoba mengukur jarak antara pilar-pilar itu. Tanpa Mata Niskala, ia tidak bisa melihat frekuensi atau ritme mesin tersebut. Ia harus mengandalkan insting murni dan pendengaran yang masih berdengung. Mata kirinya yang masih bengkak memberikan sensasi berdenyut yang panas, seolah-olah bola matanya siap meledak setiap kali ada getaran besar dari lantai.
"Aku... aku tidak bisa melihat ritmenya, Sersan. Segalanya tampak kabur!" teriak Haidar sambil mencengkeram gagang belati hitamnya.
"Gunakan kakimu, bukan matamu! Rasakan getaran di lantai sebelum pilar itu jatuh!" sahut Sersan. Tanpa peringatan lebih lanjut, Sersan melesat maju. Ia bergerak dengan keanggunan yang tidak manusiawi, meluncur di antara pilar-pilar maut yang jatuh hanya beberapa inci di belakang tumitnya.
Haidar menarik napas panjang. Ia tidak punya pilihan. Jika ia tetap diam, ia hanya akan menjadi patung yang menunggu hancur. Ia mulai melangkah.
BUM!
Pilar pertama menghantam lantai tepat di sampingnya. Angin yang dihasilkan dari hantaman itu begitu kuat hingga melempar tubuh Haidar ke samping. Ia terjatuh, sikunya menghantam tepian besi yang tajam hingga berdarah. Belum sempat ia mengaduh, ia merasakan getaran halus dari bawah telapak tangannya—sebuah peringatan dari lantai besi.
Ia segera berguling ke depan.
BRAKK!
Tempat ia jatuh tadi kini sudah rata dengan pilar raksasa. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di antara dentuman mesin. Ini bukan lagi soal bertarung dengan musuh yang terlihat; ini adalah tarian maut melawan hukum fisika dan mesin tanpa jiwa.
Di tengah aula, perjalanan mereka terhambat. Bukan hanya karena pilar-pilar itu, tapi karena munculnya Unit Penjaga Sektor: The Stompers.
Robot-robot ini tidak besar, namun mereka memiliki kaki hidrolik yang sangat kuat yang dirancang untuk mengunci pergerakan mangsa agar tergilas oleh pilar pengempa. Mereka meluncur di atas lantai yang bergetar, mata biru mereka yang dingin mengunci posisi Haidar yang masih merangkak bangun.
"Sial, bukan sekarang!" umpat Haidar.
Salah satu Stomper melompat ke arahnya. Haidar mencoba menebas dengan belatinya, namun berat senjata itu kembali menyiksanya. Karena tubuhnya lelah dan fokusnya terpecah, ayunannya meleset. Robot itu berhasil menerjang bahunya, menjatuhkan Haidar kembali ke lantai.
BUM!
Pilar di depan Haidar jatuh. Ia hanya punya waktu tiga detik sebelum pilar di atas kepalanya saat ini ikut turun.
"Lepaskan aku, brengsek!" Haidar menghantamkan siku tangannya ke sensor kepala robot itu. Besi bertemu besi. Rasa sakit menjalar ke lengannya, tapi robot itu tidak bergeming. Pengait hidrolik di kaki robot itu mulai mengunci pergelangan kaki Haidar ke lantai.
Haidar panik. Ia melihat ke atas. Pilar raksasa di atasnya mulai bergerak turun. Bayangan hitam besar mulai menelan tubuhnya.
"SERSAN!"
Sersan sedang sibuk menghadapi tiga robot penjaga lainnya di kejauhan. Ia menoleh sebentar, namun tidak bergerak mendekat. "Gunakan kerinduanmu, Haidar! Ubah rasa takutmu menjadi dorongan! Kau ingin pulang, bukan?!"
Haidar melihat bayangan Kinaya dan istrinya kembali melintas. Kali ini bukan sebagai halusinasi manis, melainkan sebagai peringatan bahwa jika ia mati di sini, mereka tidak akan pernah tahu di mana jasadnya berada. Mereka akan menunggunya selamanya dalam ketidakpastian.
Aku... tidak boleh mati... jadi rongsokan!
Kemarahan meledak di dalam dada Haidar. Tanpa sadar, ia memaksakan sedikit frekuensi keluar dari sarafnya yang masih rusak. Ia tidak mengaktifkan Mata Niskala sepenuhnya, namun ia menyalurkan energi itu ke lengannya yang memegang belati.
"AAAAGGGHHH!"
Haidar menghujamkan belati hitamnya tepat ke sendi hidrolik robot Stomper tersebut. Kekuatan murninya yang dipicu adrenalin dan energi frekuensi liar membuat belati itu menembus baja setebal lima sentimeter. Bzzzzzt! Robot itu meledak kecil, cengkeramannya terlepas.
Dengan sisa tenaga, Haidar melakukan gerakan meluncur, menarik kakinya tepat saat pilar raksasa itu menghantam lantai dengan suara guntur yang memekakkan telinga.
BOOM!
Haidar terengah-engah, debu besi memenuhi parunya. Ia selamat, tapi hanya selisih sepersekian detik. Ia bangkit dengan gemetar, menatap robot yang kini sudah menjadi kepingan tipis di bawah pilar pengempa.
Perjalanan berlanjut. Haidar harus melewati puluhan pilar lagi. Setiap langkah adalah pertaruhan nyawa. Ia harus merayap di bawah pipa-pipa panas, melompat di atas ban berjalan yang bergerak cepat, sambil terus menghindari sergapan unit-unit penjaga yang muncul dari celah-celah mesin.
Kondisinya semakin mengenaskan. Mata kanannya mulai kabur karena kelelahan otot yang luar biasa. Mata kirinya berdarah lagi, cairan merah itu menetes hingga ke dagunya. Ia nampak seperti mayat hidup yang dipaksa berjalan di atas bara api.
"Tinggal sedikit lagi," suara Sersan terdengar lebih dekat.
Mereka sampai di sebuah platform yang stabil di ujung aula. Haidar langsung ambruk, paru-parunya terasa seperti terbakar. Ia memandang ke belakang, ke arah aula maut yang baru saja ia lalui. Ia tidak percaya ia masih hidup.
"Kau bertahan," ucap Sersan sambil berdiri di tepi platform, menatap ke arah gelapnya sektor selanjutnya. "Tapi kau menggunakan frekuensi lagi. Kau memaksakan sarafmu yang seharusnya beristirahat."
Haidar hanya bisa terbatuk, darah kental keluar dari mulutnya. "Aku... aku tidak punya pilihan."
"Pilihan selalu ada, Haidar. Tapi kau lebih memilih membakar dirimu sendiri demi satu langkah maju," Sersan berbalik, matanya yang biru menatap tajam ke arah Haidar yang masih terkapar. "Istirahatlah sebentar di sini. Sektor selanjutnya adalah Sektor Pendinginan. Tempat di mana kau akan mendapatkan apa yang kau butuhkan... atau tempat di mana kau akan membeku selamanya."
Haidar memejamkan matanya, membiarkan getaran lantai yang jauh menjadi pengantar tidurnya yang singkat dan penuh mimpi buruk. Ia meraba boneka beruang di sakunya, memastikan benda itu masih ada. Di dunia yang penuh baja dan oli ini, hanya benda kecil itu yang mengingatkannya bahwa ia pernah memiliki jiwa.