NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Ayah

Transmigrasi Jadi Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Duda / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fiyaaa

apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Tiga minggu.

Tiga minggu Saga resmi jadi suami Arion. Tiga minggu Saga nempel 24 jam. Tiga minggu Arion pulang kantor jam 7 malam, langsung disambut Aga yang udah tunggu di depan pintu pakai piyama kembar.

Sampai hari ini.

Pukul 21.03. Apartemen Skyline.

Pintu dibuka. Kosong.

Tidak ada Saga lari-lari sambil teriak “Ionnn~”. Tidak ada aroma nasi goreng. Lampu ruang tamu remang.

Arion menaruh tas, melepas sepatu. “Aga?”

Hening.

Dapur kosong. Kamar utama gelap. Sampai Arion buka pintu kamar tamu.

Saga duduk di kasur, membelakangi pintu. Punggungnya tegak. Kaos Arion yang kebesaran dipakai, tapi rambutnya rapi. Tidak awut-awutan kayak biasa.

“Aga?” Arion jalan masuk. “Kok di sini? Lampu nggak dinyalain.”

Saga tidak noleh. “Nggak apa-apa.”

Arion duduk di sisi ranjang. “Kamu sakit?” Tangannya mau megang dahi Saga.

Tepis.

Saga nepis halus. “Aga nggak sakit.”

Hening lagi.

Arion mengerutkan kening. Tiga minggu ini Saga tidak pernah dingin. Sekalinya ditinggal kerja lembur, Saga ngambeknya paling lama 10 menit. Ini beda.

“Aga marah sama aku?”

Saga gigit bibir. Akhirnya noleh. Mata sembab. “Ion pulang malem terus.”

Arion menghela napas. “Aga, aku udah bilang. Proyek merger sama perusahaan Rasya. Minggu ini deadline. Aku harus—”

“Selama tiga minggu, Ion pulang jam 9. Jam 10. Kemarin jam 11 malem.” Saga menunduk. “Aga masak, nunggu. Dingin. Aga angetin, nunggu lagi. Dingin lagi.”

“Aga, maaf. Aku janji cuma minggu ini. Minggu depan aku—”

“Minggu depan, minggu depan terus!” Saga berdiri. Suaranya naik. “Dari kita nikah, Ion kerja terus! Aga pikir kalau udah nikah, Ion bakal... bakal lebih banyak di rumah. Sama Aga.”

Arion ikut berdiri. “Aga, aku kerja buat kita. Buat masa depan. Biar Aga nggak—”

“Aga nggak butuh uang banyak-banyak!” Saga teriak. Air mata jatuh. “Aga butuh Ion! Aga nikah sama Ion biar nggak tidur sendirian lagi! Biar ada yang nyuapin kalau Aga males! Biar ada yang meluk kalau Aga mimpi buruk!”

Narasi kembali formal. Sejak kasus Edwin, Saga memang mengalami trauma. Ia tidak bisa tidur jika Arion belum di sampingnya. Ia akan terbangun tengah malam, mengecek sisi ranjang. Jika kosong, serangan paniknya kambuh.

Tiga hari terakhir, Arion lembur. Tiga hari terakhir, Saga tidur di kamar tamu, meluk guling, nangis diam-diam.

Langit yang mampir tadi siang tidak sengaja melihat.

“Papa,” katanya. “Kok tidur di sini? Om Ion mana?”

Saga cuma senyum. “Papa lagi main hide and seek sama Ion.”

Langit menatap Papanya lama. “Papa bohong. Papa nangis.”

Sekarang, di hadapan Arion, pertahanan Saga runtuh.

“Aga capek nunggu, Ion,” bisiknya. “Aga takut. Takut Ion bosen. Takut Ion nyesel nikahin Aga yang rewel, yang nempel terus, yang nggak bisa ditinggal.”

Arion terpaku. Baru sadar.

Selama ini dia pikir Saga kuat. Saga sudah sembuh. Nyatanya tidak. Lukanya masih basah. Dan dia, suaminya, malah ninggalin Saga sendirian tiap malam.

“Aga...” Arion maju, mau peluk.

Saga mundur. “Jangan. Nanti Ion sibuk lagi. Aga nggak mau dibikin nyaman terus ditinggal.”

“Aga, dengerin aku.” Arion pegang kedua bahu Saga. “Aku nggak bosen. Nggak akan pernah. Aku kerja lembur karena aku bego. Aku pikir nafkahin kamu cuma soal uang. Aku lupa, nafkah batin kamu itu aku. Kehadiranku.”

Saga nangis makin kencang. “Terus kenapa Ion nggak pulang?! Kenapa chat Aga balesnya cuma ‘otw’ doang?!”

“Karena aku takut, Aga!” Arion balas teriak, lalu lemas. “Aku takut kamu liat aku gagal. Perusahaan Rasya lagi diguncang eks rekanan Edwin. Kalau merger ini gagal, nama Rasya hancur. Aku nggak mau anakmu kecewa. Aku nggak mau kamu malu punya suami gagal.”

Saga diam.

“Aku lembur biar kamu bangga,” lanjut Arion pelan. “Tapi aku lupa, kamu nggak pernah minta aku jadi hebat. Kamu cuma minta aku ada.”

Hening panjang.

Ponsel Arion bunyi. Nama: *Rasya*.

Arion angkat, loudspeaker.

“Om,” suara Rasya. “Meeting besok cancel. Aku udah cut off semua rekanan Edwin. Merger jalan tanpa mereka. Om pulang. Temenin Papa. Dia butuh Om, bukan laporan keuangan.”

Tutup.

Arion menatap Saga. Saga menatap Arion.

“Ion...”

“Aga...”

Saga lari, nabrak dada Arion. Nangis kencang. “Jangan kerja malem-malem lagi! Aga nggak mau kaya! Aga mau Ion!”

Arion peluk erat, angkat Saga ala bridal style. “Iya. Nggak lagi. Mulai besok jam 6 aku udah di rumah. Kalau telat, potong gaji aku.”

“Gaji Ion buat Aga juga!” Saga ngeremes kemeja Arion. “Pokoknya Ion harus ada!”

“Iya, Sayang. Ada terus.” Arion bawa Saga ke kamar utama, didudukin di ranjang. “Maafin aku ya? Aku suami bego.”

Saga cemberut, tapi meluk pinggang Arion. “Maafnya besok. Sekarang Aga laper. Tiga hari nggak disuapin.”

Arion ketawa lega. “Siap. Mau nasi goreng?”

“Mau. Tapi Ion yang suapin. Terus kelonin. Terus nggak boleh ke kantor sampe minggu depan.”

“Yang kelonin iya. Yang nggak ke kantor... kita nego, Aga.”

“Nggak mau nego!”

Pintu kamar ketok.

“Pa,” suara Langit. “Udah baikan belum? Dari tadi kedengeran teriak-teriak.”

Saga noleh, masih meluk Arion. “Udah! Papa udah marahin Ion!”

Langit masuk, ngasih kotak susu kotak. “Nih. Biar nggak dehidrasi nangis mulu. Om Ion, jangan bikin Papa nangis lagi. Awas aja.”

Arion angkat tangan. “Siap, Komandan.”

Langit keluar. Sebelum nutup pintu, dia ngomong, “Papa, kalau kangen, telpon aku ya. Jangan dipendem.”

Saga senyum, mata masih sembab. “Iya, Sayang. Makasih ya, Langit.”

Pintu nutup.

Arion ngecup kening Saga. “Lihat? Anak-anak kamu sayang banget sama kamu. Aku juga. Jadi jangan takut lagi.”

Saga angguk. “Aga janji nggak ngambek diem-diem lagi. Kalau kangen, Aga bilang. Kalau takut, Aga panggil.”

“Pinter.” Arion turun, mau ke dapur.

Tangan Saga narik. “Ke mana?”

“Bikin nasi goreng, kan?”

“Nggak usah.” Saga narik Arion balik ke ranjang. “Peluk aja dulu. Nasi goreng bisa besok. Aga udah tiga hari nggak dipeluk suami.”

Arion naik lagi, meluk Saga erat. “Iya, Bos Aga.”

Malam itu, Saga tidur paling nyenyak. Tidak ada mimpi Edwin. Tidak ada gudang.

Cuma ada detak jantung Arion, dan janji: “Aku di sini. Nggak ke mana-mana.”

Di luar, Rasya matiin reminder di HP. Reminder: “Paksa Om Ion pulang jam 7.”

1
Mima D. S
semangat terus thor
Mima D. S
thank you thor udh update byk🤗
Hmmm;): iyee, capek tangannya ngetik muluu huaaa😭
total 1 replies
Mima D. S
menarik dan sangat seruu, tp update nya yg byk dong thor😁
Hmmm;): yeuuuu sabar atuhhh nunggu banyak yang baca hehehe
total 1 replies
Mima D. S
lanjutttt thorrr
Mima D. S
semangat thor💪
Mima D. S
update yg byk dong thor😭😭
Hmmm;): makasii hehe
total 3 replies
Mima D. S
lanjut kk
Hmmm;): iya dehh
total 1 replies
YunaD
mangkanya kambing itu disembelih biar engak kita yang dibunuh
Hmmm;): pantes ya pas hari Idul adha kambing disembelih🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!