Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Di dalam ruang rapat yang dingin, ketegangan memuncak hingga ke titik didih. Kinanti berdiri dengan tegak, ujung telunjuknya menekan dokumen anggaran yang diajukan Arkan. Suaranya yang tenang namun menghunjam meruntuhkan setiap argumen yang dibangun Arkan selama satu jam terakhir.
"Proyek ekspansi ini tidak memiliki studi kelayakan yang valid, Arkan. Menempatkan dana sebesar sepuluh miliar di desa terpencil di Jawa Tengah tanpa jaminan Return on Investment yang jelas bukan disebut ekspansi," Kinanti menjeda kalimatnya, matanya menyapu para direksi yang kini tertunduk. "Itu disebut pemborosan. Atau lebih buruk lagi... pencucian dana perusahaan untuk kepentingan pribadi."
Arkan menggebrak meja, wajahnya merah padam. "Kinanti! Jaga bicaramu! Aku melakukan ini demi masa depan Wiratama!"
"Masa depan Wiratama atau masa depan wanita simpananmu, Arkan?" bisik Kinanti cukup keras untuk membuat seisi ruangan menahan napas. "Keputusannya tetap. Saya sebagai pemegang saham mayoritas membatalkan anggaran ini. Rapat selesai."
Tanpa menunggu balasan dari suaminya yang sedang gemetar menahan amarah, Kinanti menyambar tasnya dan melangkah keluar.
Ia tidak ingin melihat wajah Arkan. Ia tidak ingin mendengar pembelaan kosong pria itu. Yang ia inginkan saat ini hanyalah satu, menghilang sejenak dari perannya sebagai istri yang dikhianati.
Kinanti memacu mobilnya menuju sebuah kawasan elit di Jakarta Selatan. Ia berhenti di depan sebuah restoran Perancis bergaya klasik yang dikenal dengan ketenangan dan privasinya. Ia butuh ruang untuk bernapas, jauh dari aroma pengkhianatan yang memenuhi udara di kantornya.
Ia memilih meja di sudut yang menghadap ke taman kecil melalui jendela kaca besar. Pelayan datang, dan Kinanti memesan Salad Nicoise serta segelas air mineral. Ia menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sejenak, mencoba meredam denyut di pelipisnya.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
"Kita bertemu lagi. Sepertinya mobilnya tidak mogok lagi, ya?"
Sebuah suara berat yang familier memecah keheningan. Kinanti membuka matanya dengan terkejut.
Di hadapannya, berdiri pria yang tadi pagi menolongnya di pinggir jalan. Pria itu tampak jauh lebih formal sekarang, mengenakan jas abu-abu gelap yang sangat pas di tubuh atletisnya, namun tetap memancarkan kesan santai yang elegan.
Tanpa menunggu izin, pria itu menarik kursi di hadapan Kinanti dan duduk dengan senyum yang begitu cerah, seolah-olah mereka adalah teman lama yang baru saja bertemu kembali.
Kinanti mengerutkan kening, menatap pria itu selama beberapa detik. Ada sesuatu dalam sorot mata pria ini yang membuatnya merasa... tidak terancam, sebuah perasaan yang sudah lama hilang sejak Arkan mulai bermain api.
"Maaf, aku rasa... aku sedang ingin sendiri," ucap Kinanti dengan nada tegas namun tidak ketus.
Pria itu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tulus. "Aku tahu. Wajahmu tadi pagi dan wajahmu sekarang sama-sama mengatakan jangan ganggu aku. Tapi takdir sepertinya punya rencana lain. Aku ada pertemuan bisnis di meja sebelah sana sepuluh menit lagi. Melihatmu duduk sendirian di sini rasanya seperti melihat berlian yang tertinggal di bangku taman. Terlalu sayang untuk dilewatkan tanpa ucapan salam."
Pria itu mengulurkan tangannya yang kokoh. "Dewa. Dewa Dirgantara."
Kinanti tertegun sejenak. Nama itu tidak asing di telinganya. Dirgantara Land adalah raksasa properti yang sering menjadi buah bibir di kalangan pengusaha sukses. Jadi, pria yang mengotori tangannya dengan oli untuk menolongnya tadi pagi adalah pemilik imperium properti itu?
"Kinanti," balasnya singkat sambil menjabat tangan Dewa. "Terimakasih untuk bantuan tadi pagi, Dewa. Dan terimakasih untuk salamnya. Tapi seperti yang aku katakan barusan, aku sedang ingin sendiri."
Dewa tidak tampak tersinggung. Ia justru menopang dagunya, menatap Kinanti dengan binar kekaguman yang tak disembunyikan.
"Wanita sepertimu seharusnya tidak makan siang sendirian dengan wajah mendung, Kinanti. Seseorang yang sangat beruntung di luar sana seharusnya sedang menggenggam tanganmu dan memastikan kamu tersenyum."
Kata-kata Dewa seperti anak panah yang tepat sasaran. 'Seseorang yang beruntung.' Kinanti teringat Arkan yang saat ini mungkin sedang memaki namanya di kantor. Hatinya kembali mencelos.
"Dewa, klien Anda sudah datang," bisik seorang asisten yang tiba-tiba muncul di belakang Dewa.
Dewa melirik ke arah pintu masuk di mana sekelompok pria berjas sudah menunggu. Ia kembali menatap Kinanti.
"Sepertinya tugasku memanggil. Senang berkenalan denganmu, Kinanti. Aku harap pertemuan ketiga kita nanti bukan karena mobil mogok lagi, tapi karena sebuah undangan makan malam yang resmi."
Dewa berdiri, sedikit membungkuk hormat, lalu melangkah menuju meja panjang di tengah restoran yang sudah disiapkan untuk rapatnya.
Kinanti terdiam. Ia menatap makanan yang baru saja disajikan, namun matanya terus mencuri pandang ke arah meja besar tempat Dewa berada. Dari posisinya, ia bisa melihat Dewa yang kini berubah total menjadi sosok pemimpin yang dominan.
Dewa memimpin rapat itu dengan kharisma yang luar biasa. Ia berbicara dengan tenang, namun setiap gerakan tangannya dan sorot matanya membuat rekan bisnisnya mengangguk patuh. Sesekali, Dewa tertawa atau memberikan gestur perhatian pada bawahannya.
Sudah berapa lama Kinanti tidak melihat sosok pria seperti itu? Pria yang berwibawa namun tetap memiliki sisi manusiawi yang hangat. Arkan dulu mungkin pernah seperti itu, tapi arogansi dan pengkhianatan telah mengubahnya menjadi pria kerdil yang penuh tipu daya.
Tanpa sadar, Kinanti terus memperhatikan Dewa dari kejauhan. Ada perasaan hangat yang menyelinap di antara rasa kesepiannya yang akut.
Perhatian kecil Dewa di meja tadi, meskipun singkat dan sedikit kurang ajar bagi ukuran orang asing terasa seperti tetesan air di padang pasir bagi Kinanti yang sudah lama haus akan penghargaan tulus.
Dewa, seolah memiliki indra keenam, tiba-tiba menoleh ke arah meja Kinanti di tengah-tengah bicaranya. Ia memberikan kedipan mata yang sangat tipis dan senyum simpul sebelum kembali fokus pada dokumen di depannya.
Wajah Kinanti memanas. Ia segera menunduk, menyantap saladnya dengan terburu-buru. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.
"Kenapa aku jadi seperti ini?" batin Kinanti. Ia merasa bersalah sekaligus terhibur.
Ia adalah wanita yang sedang berjuang di tengah kehancuran rumah tangga, namun kehadiran Dewa seperti pengingat bahwa di luar sana, masih ada dunia yang lebih indah daripada sekadar perang dengan Arkan dan Alana.
Kinanti menyelesaikan makan siangnya lebih cepat. Ia tidak ingin terjebak lebih lama dalam pesona pria asing itu. Saat ia beranjak dari meja dan berjalan menuju pintu keluar, ia harus melewati meja rapat Dewa.
Langkah Kinanti tertahan sejenak. Ia melihat Dewa sedang mendengarkan presentasi dengan serius. Ia ingin berpamitan, tapi ia tidak ingin mengganggu. Akhirnya, Kinanti hanya melangkah terus. Namun, saat ia sudah sampai di pintu, ia menoleh sekali lagi ke belakang.
Dewa sedang menatapnya. Pria itu mengangkat gelas air mineralnya sedikit, seolah memberikan toast perpisahan untuknya.
Kinanti keluar dari restoran dengan perasaan yang campur aduk. Di dalam mobil, ia menatap dirinya di spion. Ada sedikit rona di pipinya.
"Permainan belum berakhir, Arkan," bisik Kinanti pada dirinya sendiri, kali ini dengan semangat yang berbeda. "Jika kamu bisa mencari kebahagiaan haram di luar sana, maka aku berhak mendapatkan rasa hormat yang sudah lama kamu injak-injak."
Kinanti memacu mobilnya kembali ke kantor. Ia tidak tahu bahwa Dewa baru saja mengirimkan pesan singkat pada asistennya.
"Kirimkan buket bunga lili putih ke kantor Wiratama Group sore ini. Tanpa nama. Hanya tulisan - 'Salam persahabatan dari pengagummu.'"
Peta peperangan Kinanti kini memiliki warna baru. Dan Arkan tidak akan pernah menyangka bahwa lawan terberatnya bukan hanya istrinya sendiri, tapi pria yang jauh lebih hebat darinya yang kini mulai jatuh hati pada sang mangsa.
...----------------...
To Be Continue ....
ga punya hati. .. tetap berselingkuh
Tunggu hukum karma selanjutnya
Kinanti yg dihianati kalah. ga setuju
.👍