(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 18 - MEKANIK VS MONSTER
...Api memakan besi, malam menahan napas....
...Mekanik melangkah... monster belajar arti batas....
...⚙⚙⚙...
Api berkobar liar melahap rumah-rumah kayu di Brakenford. Malam ini bukan lagi malam, melainkan lautan api yang tak bertepi. Jeritan warga bercampur gemuruh reruntuhan dan raungan dahsyat monster yang tak henti. Udara panas penuh abu menusuk paru-paru setiap kali bernapas, seolah desa ini sedang ditelan hidup-hidup oleh kegelapan.
Di tengah kekacauan itu, Liora berdiri kokoh di garis depan. Gerakannya ringan dan presisi, bagaikan bayangan yang melayang. Valkyra di tangannya terus berubah bentuk, mekanisme logamnya berderit halus setiap kali mode berganti, mencabut nyawa musuh yang berani mendekat satu per satu.
Namun gelombang serangan tidak pernah berhenti. Nightclaw terus menyerbu. Stonefang terus mendesak. Dan sesuatu yang jauh lebih besar masih menekan dari balik bayang-bayang gelap.
Tiba-tiba Seekor Nightclaw Stalker melompat turun dari atap rumah yang terbakar. Cakar tajamnya diarahkan lurus ke punggung Liora. Gerakannya terlalu cepat. Jaraknya terlalu dekat.
⚙ MECHANIC DRIVE : ⚙
⚙ BOLT HAMMER!!! ⚙
CLANG...
Hantaman logam berat melesat menyambar, menghantam telak sisi tubuh monster itu tepat di udara. Tubuh makhluk malang itu terpental keras, menghantam gerobak kayu tambang hingga hancur lebur berantakan. Roda-roda kayunya pecah berkeping-keping, serpihannya beterbangan ke mana-mana.
Arven berdiri tegak di sana. Kaki kanannya sedikit maju, kaki kiri menahan beban tubuh, posisi kuda-kuda sederhana seorang teknisi yang terbiasa menahan hentakan mesin raksasa. Titan Wrench di tangannya masih bergetar pelan, sisa energi benturan tadi belum sepenuhnya hilang.
Matanya tidak memandang dengan amarah liar atau kepanikan. Justru sangat tenang, namun tajam dan menghitung. Seperti sedang memeriksa mesin besar yang sedang rusak parah.
“Jangan maju sendirian,“ katanya santai, meski peluh dingin mulai membasahi keningnya.
Liora mendengus kesal, namun senyum tipis terselip di sudut bibirnya, “...kau lambat.“
Arven hanya mengangkat bahu kecil, tak peduli.
“Bukan lambat. Aku telat baca sudut serangan.“
Itulah keunikan Arven. Dia tidak sekadar bereaksi terhadap bahaya. Dia membaca arah jatuhnya musuh. Menganalisis momentum serangan. Seolah seluruh medan perang yang gila ini hanyalah sebuah sistem mekanik rumit yang bisa diprediksi dan diperbaiki.
Dari sisi kanan, seekor Stonefang Ravager menerjang ganas. Arven tidak maju menyerang. Tidak juga mundur menghindar. Ia justru sedikit merendahkan tubuh, menurunkan pusat gravitasinya agar lebih stabil. Titan Wrench diputar setengah lingkaran di tangan kanannya, bukan untuk memukul duluan, tapi untuk mengunci jalur pergerakan musuh. Matanya tajam mengikuti gerakan bahu monster itu.
“...bahu kanan naik duluan.“
Hanya satu detik sebelum serangan sampai. Arven melangkah kecil ke samping. Cakar batu itu hanya menyapu udara kosong, gagal menyentuh sedikit pun tubuhnya. Dan tepat di saat yang sama, Arven memutar seluruh tubuhnya sekuat tenaga. Tanpa membuang waktu, ia merogoh tas perkakas di pinggangnya dan menarik sebuah tabung logam pendek dengan kompresor udara kecil yang berdesis.
⚙ MECHANIC DRIVE : ⚙
⚙ PNEUMATIC PIERCE!!! ⚙
PSHHT...
Tabung di gagang senjatanya meledak mengeluarkan tenaga. Sebuah paku baja ditembakkan keluar. Bukan lurus mendatar. Tapi sedikit miring ke atas tepat mengikuti arah jatuhnya kepala monster yang baru saja kehilangan keseimbangan.
Paku baja itu menembus masuk dengan mudah, menancap tepat di celah mata tengkorak Stonefang. Monster itu membeku seketika di tengah lompatannya. Matanya yang merah menyala perlahan meredup dan mati.
“Pistol paku?“ Liora menghela napas, wajahnya terlihat takjub sekaligus heran.
“Pistol rivet,“ koreksi Arven cepat dengan nada bangga. “Awalnya buat memasang struktur penyangga di tambang bawah tanah biar tidak ambruk.“
Belum selesai. Dua ekor Nightclaw melesat keluar bersamaan dari tumpukan reruntuhan di sebelah kiri.
Arven langsung menggeser posisi tubuhnya. Kakinya tidak mundur ke belakang, tapi memutar setengah langkah ke dalam, memotong jalur serangan mereka sendiri. Dengan gerakan cepat, ia menarik sebuah bilang panjang dari pinggangnya. Sebuah gergaji mekanik dengan mata pisau berbahan baja hitam, bergerigi tajam layaknya pedang eksekusi. Ia menekan tuas di gagangnya.
KRRRRRRRRR...
Suara mesin menderu keras memenuhi lorong desa, memercikkan bunga api kecil dari roda gigi yang berputar cepat.
⚙ MECHANIC DRIVE : ⚙
⚙ CHAIN BLADE EXECUTOR!!! ⚙
Mata gergaji berputar liar dengan kecepatan tinggi, suaranya menggelegar seperti mesin tambang yang baru bangun dari tidur panjang.
SHRRRRK...
Arven tidak mengayunkan senjata sembarangan. Ia menunggu satu monster lebih dulu masuk ke dalam jarak mematikan. Saat cakar monster itu turun, ia memotong dari bawah ke atas, mengikuti garis sendi tubuh musuh dengan presisi sempurna.
Bukan sekadar luka sayat. Tapi struktur tulang dan daging monster itu hancur total dari dalam. Tubuhnya terbelah dan terpental jauh, menghantam dinding kayu hingga tembok itu langsung retak dan roboh sebagian.
Monster kedua mencoba melompat menyerang dari atas. Arven tidak mengejar. Ia hanya memutar badan setengah lingkaran dan menunggu.
“...jatuhnya terlalu tinggi.”
Saat tubuh monster itu mencapai titik terendah sebelum mendarat, Arven mengayunkan gergajinya menyamping dengan tenaga penuh.
SHRRRRK...
Tubuh monster itu terbelah dua tepat di udara, bahkan sebelum kakinya sempat menyentuh tanah. Darah hitam pekat menyembur memercik ke nyala api di belakang mereka, membuat warna api sesaat berubah menjadi gelap pekat.
Liora berhenti bergerak hanya dalam sepersekian detik, menatap senjata itu takjub, “...kau benar-benar mengubah itu jadi mesin pembunuh.“
Arven menurunkan gagang senjatanya sedikit, mesinnya masih berputar pelan. “Ini Cuma alat kerja biasa kok.“
Matanya kembali mengunci medan perang di depan. “Kalau aku bisa baca beban dan sudutnya, semua ini cuma struktur yang tinggal menunggu untuk runtuh.“
Dari atas menara, Rogan menyipitkan mata menatap ke bawah, “...bukan cuma bertarung,“ gumamnya pelan. “Dia baca pola gerakan.“
Penjaga di sampingnya menahan napas, tubuhnya menegang. “Dia bukan petarung biasa?“
Rogan tertawa kecil, matanya masih tak lepas dari sosok Arven. “Dia mekanik... yang menganggap monster itu mesin rusak.“
Di belakang garis pertahanan, Bram berdiri diam sejenak. “...hei,“ gumamnya pelan.
“Anak bengkel itu... berbeda.“ Ia memutar gagang tombaknya sekali cepat, “...lebih merepotkan kalau dia jadi musuh.“
Di tengah api yang terus melahap Brakenford, Arven melangkah maju lagi. Titan Wrench di tangannya sedikit terangkat siap. Matanya tidak pernah berhenti menghitung dan menganalisis setiap pergerakan musuh.
Karena baginya, ini bukan sekadar pertempuran membasmi musuh. Ini adalah sebuah sistem yang harus dibongkar dan diperbaiki. Dan dia baru saja mulai membaca seluruh strukturnya.
Tanah di bawah kaki mereka bergetar semakin kuat dan teratur.
THUD... THUD...
Bukan suara langkah kaki biasa. Itu seperti hentakan sesuatu yang terlalu besar dan berat untuk bergerak di medan sempit seperti Brakenford.
Kabut debu tebal di sisi gerbang perlahan terbelah terbuka. Dan dari baliknya, sebuah bayangan raksasa menyeret tubuhnya keluar. Pagar kayu yang masih tersisa runtuh seketika tanpa perlawanan sedikit pun, patah-patah seperti ranting kering yang diinjak sembarangan.
Sosok itu berdiri tegak. Terlalu besar. Terlalu berat. Setiap napas yang dikeluarkannya terasa seperti angin yang menekan dada siapa saja yang melihatnya. Lengan yang menggantung di sisinya tebal dan kokoh bagaikan batang pohon. Bahunya menjulang tinggi, penuh tonjolan keras seperti batu gunung yang dipaksa hidup. Saat ia menggerakkan tubuhnya sedikit saja, tanah di sekitarnya ikut bergetar merespons.
DUUM...
Satu langkah maju. Retakan panjang menyebar cepat di tanah berlumpur. Para penjaga di garis depan yang masih bertahan langsung terpental jatuh oleh getaran itu, terlempar tanpa sempat memahami apa yang baru saja terjadi.
“...apa itu?“ gumam salah satu penjaga dengan suara gemetar ketakutan.
Makhluk raksasa itu menggeram dalam, matanya yang merah menyala terkunci lurus pada Liora dan Arven, seolah langsung mengenali mereka sebagai ancaman terbesar di medan perang ini.
Liora menarik napas pelan menahan udara dingin. “Dia besar...“ gumamnya pelan, bukan karena takut, lebih seperti pengakuan akan kekuatan yang nyata di hadapannya.
Arven berdiri sedikit di belakangnya. Kakinya dibuka lebar untuk keseimbangan maksimal, berat badannya turun rendah ke pusat tubuh. “Tiga... tidak, hampir empat meter,“ hitungnya cepat dalam hati.
Makhluk itu melangkah lagi. Jauh lebih cepat dari yang terlihat oleh mata. Tanah pecah berantakan di bawah pijakan kakinya yang luar biasa berat.
Arven mengangkat bahu kecil melihat keganasan itu. “...oke. Itu jawabannya.“
Liora hanya menyeringai tipis siap tempur.
Dari sisi menara, suara Rogan tiba-tiba terdengar keras, lebih tinggi dari biasanya. “...hei!“ teriaknya, sambil menahan kepanikan yang mulai naik ke tenggorokan. “Itu bukan Stonefang...!“ Ia berhenti sebentar, melihat makhluk itu menghantam tanah sekali lagi dengan keras. “Kalau catatanku benar...“ lanjutnya, suaranya mulai terdengar serak dan berat, “...itu yang orang tambang dulu sebut...“ Rogan menelan ludah berat. “...Bonebreaker.“
Suasana hening hanya dalam sepersekian detik.
Bukan hening yang tenang. Tapi hening mencekam sebelum sesuatu yang jauh lebih buruk terjadi.
Di bawah sana, Bram yang sedang bertahan di sisi kiri sempat melirik ke arah Rogan. “...Bonebreaker?“ teriaknya bingung dan waspada.
Rogan tidak menjawab panjang lebar. Hanya satu kalimat pendek yang keluar dengan sangat berat. “...Bonebreaker Brute.“
Liora memutar gagang senjatanya, memicu mekanisme internal yang mengubahnya kembali menjadi bentuk tombak panjang yang berkilauan diterpa cahaya api yang berkobar di Brakenford.
“Yang besar itu milikku,“ tantangnya dengan mata yang menyala hijau tajam di tengah kegelapan malam.
Garrick yang masih sibuk menahan gempuran di garis depan sempat menoleh cepat. “...Liora! Jangan gegabah!“ teriaknya, suaranya berat namun jelas terdengar penuh kekhawatiran akan keselamatan putrinya.
Liora tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik sekilas ke arah ayahnya. Lalu tersenyum tipis penuh percaya diri. “Tenang saja, Ayah,“ jawabnya santai. “Arven akan bantu aku.“
Arven yang berdiri tepat di belakangnya langsung mengernyitkan dahi kaget. “...Hah?“
Liora menoleh sedikit ke belakang, sudut bibirnya terangkat nakal. “Kenapa? Kau tidak mau jadi partner keren di cerita ini?“ ucapnya ringan, seolah sedang membahas hal sepele yang sama sekali tidak penting. “Lagipula, kau kan suka kerja lembur.“
“...hei itu beda konteks.“ Arven belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
BOOM-DUUM...
Bonebreaker Brute itu mulai berlari kencang. Setiap langkahnya menghantam tanah seperti palu godam raksasa, membuat bangunan di sekitarnya bergetar hebat hingga debu beterbangan keluar dari celah-celah dinding.
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan lagi-
Liora langsung melesat maju dengan kecepatan penuh.
“LIORA?!“ Arven refleks berseru, suaranya terdengar kaget sekaligus kesal. Ia menghela napas panjang dan tajam, lalu menguatkan cengkeraman tangannya pada gagang Titan Wrench.
Detik berikutnya, tubuhnya ikut bergerak mengejar. Arven memutar senjatanya dalam satu lingkaran penuh di udara, menciptakan desisan angin tajam akibat kecepatan logam.
“Baiklah...“ gumamnya pelan, setengah pasrah setengah serius, “...sepertinya aku benar-benar harus kerja lembur malam ini.“
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
bantu support juga ya Novel ku baca 😄😄
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya