Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
***
Masa tenang tiga hari yang rapuh itu akhirnya habis. Badai salju telah sepenuhnya menyingkir, menyisakan hamparan putih sejauh mata memandang di sepanjang jalur perbatasan menuju ibu kota Kekaisaran Valerieth. Iring-iringan kereta kuda berlambang naga emas bersiap bergerak, dikawal ketat oleh sisa-sisa pasukan ksatria zirah hitam yang dipimpin langsung oleh Kaelen.
Namun, atmosfer di dalam kereta utama kini telah berubah total. Tidak ada lagi jarak dingin atau tatapan penuh curiga seperti saat mereka bertolak dari Aethelgard. Kehampaan itu telah digantikan oleh sejenis obsesi baru yang tenang, namun jauh lebih menyesakkan bagi Lilianne.
Kereta kencana mulai berjalan, berguncang pelan membelah tumpukan salju. Di dalam ruang kereta yang hangat oleh tungku arang kecil, Arthur menolak membiarkan Lilianne duduk di kursi beludru seberang. Pria itu menarik Lilianne untuk duduk tepat di sampingnya. Satu lengan kekarnya yang beralas kain wol tebal merangkul erat pinggang Lilianne, sementara telapak tangannya yang besar dan kapalan tidak pernah beranjak dari atas perut Lilianne yang membuncit tujuh bulan.
Lilianne bergerak gelisah. Rasa hangat tubuh Arthur dan kekuatan cengkeramannya membuat dada Lilianne terasa begah. Ia mencoba menggeser pinggulnya, berusaha melepaskan diri dari kungkungan lengan tersebut.
"Yang Mulia, tolong longgarkan sedikit," bisik Lilianne, napasnya agak memburu karena ruang geraknya terbatasi. "Kereta ini cukup luas. Saya bisa duduk di sebelah sana tanpa harus membuat Anda repot."
"Kau tidak merepotkanku, Lili," sahut Arthur rendah, suaranya parau namun mutlak. Bukannya melonggarkan, lengan pria itu justru semakin menarik tubuh Lilianne hingga punggung gadis itu menempel erat pada dada bidangnya. "Tetaplah di sini. Di bawah mataku. Aku perlu memastikan tidak ada satu pun guncangan jalanan yang menyakitimu... atau anakku."
"Saya bisa menjaga diri saya sendiri, Yang Mulia," balas Lilianne, wajah peraknya menegang menahan sebal. "Sikap Anda yang seperti ini justru membuat saya sulit bernapas."
"Maka terbiasalah," desis Arthur di dekat pelipis Lilianne, mengabaikan protes istrinya mentah-mentah. "Dunia di luar sana sedang menunggu kematian kita. Di dalam kereta ini, akulah satu-satunya dinding yang menjaga kalian tetap aman."
Lilianne akhirnya menyerah untuk meronta, menyadari bahwa menguras tenaga melawan kekuatan fisik seorang panglima perang yang baru bangkit dari maut adalah hal yang sia-sia. Ia mencoba mengalihkan situasi, memfokuskan pikiran mereka pada siasat yang telah mereka sepakati semalam.
"Jika kita membicarakan dinding perlindungan, Yang Mulia," Lilianne membuka suara, matanya menatap lurus ke jendela yang tertutup tirai tipis. "Bagaimana dengan peta kekuatan di ibu kota? Ketika pesan palsu kita sampai ke telinga Kaisar Valerius, faksi mana yang akan bergerak pertama kali untuk mengambil alih posisi Anda?"
Arthur terdiam sejenak. Jemarinya yang berada di atas perut Lilianne mengetuk pelan, seolah sedang menghitung bidak di kepalanya. "Faksi Barat yang dipimpin oleh Adipati Orlov akan menjadi yang pertama mengirim kurir rahasia ke istana utama. Mereka adalah anjing tua milik ayahku. Selama ini, aku menahan jalur logistik gandum mereka di perbatasan. Begitu mereka mengira aku sekarat, mereka akan mencoba merebut kembali segel perdagangan itu."
"Dan Anda akan membiarkannya?" tanya Lilianne, menoleh sedikit untuk melihat rahang tegas suaminya.
"Aku akan membiarkan mereka menggali kuburan mereka sendiri," jawab Arthur dingin. "Kaelen sudah menempatkan tiga batalion bayangan di dekat lumbung Barat. Begitu bajingan-bajingan itu bergerak... mereka tidak akan menemukan gandum, melainkan ujung tombak."
Lilianne mengangguk perlahan, otaknya dengan cepat mencatat setiap informasi taktis tersebut. "Lalu bagaimana dengan Sayap Timur? Pelayan-pelayan di sana—"
"Cukup, Lili," potong Arthur tiba-tiba. Suaranya berubah, kehilangan nada dingin militernya, berganti menjadi sebuah getaran rendah yang sarat akan rasa lapar yang pekat.
Sebelum Lilianne sempat memprotes, Arthur memutar tubuh istrinya dengan satu gerakan cepat. Tangan besar Arthur merayap turun, dengan sengaja menyibak jubah bulu tebal dan menaikkan kain gaun satin biru yang dikenakan Lilianne. Jemari besarnya yang panas langsung bersentuhan dengan kulit perut buncit Lilianne yang putih tegang.
Lilianne tersentak, tubuhnya menegang tegak. "Yang Mulia! Apa yang Anda lakukan?!"
Arthur tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mulai mengelus permukaan kulit perut Lilianne yang halus dengan gerakan memutar yang lambat namun penuh penekanan. Sentuhan itu begitu intens, mengirimkan sensasi hangat yang aneh hingga membuat Lilianne tanpa sadar mengeluarkan erangan kecil dari tenggorokannya.
"Nngh... Arthur, hentikan..." Lilianne mencengkeram pergelangan tangan suaminya, mencoba menarik tangan itu menjauh, namun kekuatannya tidak sebanding.
"Aku tidak peduli lagi dengan siasat atau perancangan faksi istana untuk beberapa jam ke depan," bisik Arthur, wajahnya mendekat, membiarkan napasnya yang memburu menyapu bibir pucat Lilianne. Matanya yang biru gelap berkilat gila oleh rasa candu yang semalam ia temukan. "Siasat bisa menunggu sampai kita menginjakkan kaki di gerbang ibu kota. Yang kubutuhkan sekarang... adalah kehangatan ini. Kau adalah bahan bakarku, Lili. Kau yang menahanku tetap berpijak di dunia ini."
"Anda... Anda baru saja selamat dari racun, Arthur! Stamina Anda belum—"
"Staminaku cukup untuk menghancurkanmu seharian di dalam kereta ini, jika aku mau," potong Arthur dengan sebuah ciuman yang langsung membungkam bibir Lilianne.
Ciuman itu tidak lagi kasar penuh amarah seperti malam di Aethelgard, melainkan sebuah gempuran penuh gairah yang menuntut penyerahan mutlak. Lilianne merintih di dalam pagutan tersebut, tangannya yang semula mendorong dada bidang Arthur perlahan kehilangan tenaga, merosot mencengkeram zirah kain wol di bahu suaminya.
Di bawah guncangan roda kereta kuda yang menghantam jalanan bersalju, Arthur memposisikan tubuh Lilianne dengan sangat hati-hati namun penuh dominasi. Mengingat kondisi perut istrinya yang sudah membesar, ia menaikkan tubuh Lilianne untuk duduk di atas pangkuannya, menghadap langsung ke arahnya.
Posisi itu membuat Lilianne sedikit kesusahan perut buncitnya menempel pada dada Arthur, menciptakan rasa sesak yang intim. Namun, Arthur tidak memberi ruang untuk ragu. Dengan tangan yang gemetar oleh gairah yang membakar, ia menuntun tubuh mereka untuk menyatu.
"Ahhh... Yang Mulia..." Lilianne memekik kecil, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan ketegangan dan kepenuhan mendadak yang menghujam rahimnya. Rasa nyeri tumpul di punggungnya beradu dengan gelombang kenikmatan panas yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Arthur mengerang berat, erangan nikmat yang dalam keluar dari dadanya yang bidang. Ia mencengkeram pinggul Lilianne dengan kedua tangannya, mengangkat dan menurunkannya dalam ritme yang ganas namun terukur, menyesuaikan dengan setiap guncangan kereta kencana di atas salju.
"Nngh... Lili... tatap aku," geram Arthur, matanya yang memerah menatap lurus ke dalam manik mata perak Lilianne yang berair karena gairah. "Katakan... siapa pemilik hidupmu sekarang? Siapa tembokmu?"
"A-Ahhh... hiks... Arthur..." Lilianne merintih, suaranya pecah di sela-sela desahan napas mereka yang memenuhi ruang sempit kereta. Setiap gempuran Arthur terasa begitu dalam, menggoncang batin dan fisiknya. "Kau... nngh... kau adalah monsterku... ahh!"
"Ya... monster yang akan membunuh seluruh dunia untukmu, Lili," bisik Arthur gila, ia menyatukan bibir mereka kembali, meredam rintihan kenikmatan Lilianne saat ritme terjangan mereka semakin cepat dan intens.
Hempitan dinding kereta, kehangatan tungku arang, dan gairah sang panglima perang yang meledak-ledak menciptakan sebuah penyatuan yang brutal namun sarat akan ketergantungan yang mengerikan. Lilianne mencengkeram leher Arthur, menyembunyikan wajahnya yang memerah di bahu suaminya, membiarkan dirinya tenggelam dalam ritme yang mendikte seluruh tubuhnya.
Dengan satu teriakan tertahan dan erangan nikmat yang panjang dari keduanya, Arthur membenamkan eksistensinya sedalam mungkin ke dalam rahim istrinya, melepaskan seluruh ketegangan, sisa racun, dan obsesinya di sana. Tubuh mereka gemetar hebat, berpelukan erat di tengah keheningan sisa guncangan kereta kuda yang terus melaju membelah badai salju yang telah lalu.
Lilianne tersengal-sengal, menyandarkan kepalanya yang lemas di dada Arthur yang berdetak liar. Di dalam sangkar bergerak ini, ia tahu bahwa rantai yang mengikatnya pada sang naga telah sepenuhnya mengeras menjadi belenggu darah yang takkan bisa dilepaskan oleh siapa pun.
****
Bersambung...
entah kenapa
komen ini hilang