Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Dengan napas yang masih tersisa satu-dua tarikan berat, ia menyibak selimut, mengabaikan keringat dingin yang membasahi kemejanya. Langkah kakinya membawa pria itu menyusuri koridor sunyi menuju kamar Zivara, didorong oleh insting protektif yang nyaris tak terkendali.
Perlahan, Kaizar mendorong pintu kayu putih itu. Suara engsel yang berderit halus seolah tenggelam oleh detak jantungnya sendiri. Di dalam, cahaya rembulan masuk melalui celah gorden, menyinari sosok Zivara yang terlelap dalam buaian mimpi.
Kaizar melangkah mendekat, lalu berlutut di samping ranjang. Ia menatap intens paras ayu yang tampak begitu tenang—kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dadanya. Jemari Kaizar terangkat, membelai lembut pipi Zivara. Tatapannya dalam, mencerminkan cinta yang begitu besar sekaligus rasa takut yang melumpuhkan; seolah jika ia berkedip sedikit saja, gadis di depannya akan kembali menjadi bayang-bayang tak bernyawa seperti dalam mimpinya tadi.
Tiba-tiba, embusan angin malam yang kencang menyelinap masuk melalui jendela kamar yang belum tertutup sempurna. Angin itu menyambar kain penutup kanvas di sudut ruangan hingga terlepas dan terbang ke lantai.
Perhatian Kaizar teralihkan. Rasa penasaran membawanya melangkah mendekati lukisan yang selama ini disembunyikan Zivara dengan begitu rapat. Saat matanya menangkap goresan kuas di atas kanvas itu, seluruh persendian Kaizar terasa lemas.
Dunia seakan berhenti berputar. Di hadapannya terpampang sosok wanita yang terkapar di tengah jalanan basah setelah jatuh dari ketinggian sebuah gedung rumah sakit jiwa. Darah merah pekat tampak kontras dengan gaun yang dikenakan—gaun yang sangat mirip dengan milik Zivara di masa depan kelam yang Kaizar ingat.
Zivara tidak melukis rasa sakit. Ekspresi wanita di dalam lukisan itu justru memancarkan kelegaan yang tragis, seolah kematian adalah satu-satunya jalan keluar untuk berhenti mencintai pria yang tidak pernah menoleh padanya.
Napas Kaizar tercekat saat matanya menyisir detail latar belakang yang sengaja dibuat kabur. Di sana, berdiri siluet seorang pria yang menjauh, memunggungi adegan kematian tersebut. Bahu siluet itu kaku, dingin, dan acuh tak acuh.
Itu adalah dirinya. Itu adalah Kaizar di masa lalu.
Tangan Kaizar gemetar hebat saat menyadari satu hal yang mengerikan: Zivara juga tahu. Zivara mengingat semuanya. Lukisan ini bukan sekadar imajinasi DKV, melainkan sebuah memori kematian yang belum terjadi di lini masa ini.
**
Kaizar duduk mematung di kursi jati itu, matanya menatap kosong ke arah piring nasi goreng yang masih mengepulkan uap tipis, hasil masakan Bi Sumi pagi ini.
Meski raganya berada di sana, pikiran Kaizar tersesat di labirin masa lalu yang kelam. Ingatannya bagaikan kaset rusak yang terus memutar cuplikan mimpi buruk semalam: tubuh Zivara yang terhempas, darah yang merembes di aspal, dan lukisan mengerikan di kamar gadis itu.
Pertanyaan-pertanyaan pahit mulai menggerogoti logikanya. Apakah Zivara juga melihat apa yang ia lihat? Jika lukisan itu adalah cerminan dari ingatan yang sama, berarti Zivara sadar bahwa siluet pria yang memunggunginya di sana adalah dirinya. Kaizar mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ia merasa seperti monster yang memakai topeng manusia. Pria jahat yang membiarkan kesalahpahaman demi kesalahpahaman menghancurkan wanita yang seharusnya ia lindungi.
Rasa sesak itu menghantam dadanya begitu kuat, lebih menyakitkan daripada luka fisik mana pun yang pernah ia rasakan.
Keheningan itu pecah oleh suara langkah kaki yang menuruni tangga kayu dengan ritme yang teratur. Kaizar segera menoleh, mendapati Zivara berjalan mendekat. Gadis itu tampak segar, namun ada gurat kedewasaan dan ketegasan di matanya yang dulu tidak pernah ada—sebuah transformasi dari gadis polos menjadi perempuan yang seolah telah melewati seribu badai.
"Selamat pagi, Kak Kai," sapa Zivara pendek, suaranya tenang tanpa nada emosi yang berlebih.
Kaizar berdehem pelan, berusaha menetralkan suaranya yang mendadak serak. "Pagi. Sudah rapi, mau berangkat ke kampus?".
Zivara menarik kursi di hadapan Kaizar, gerakannya anggun dan terkendali. "Iya. Daripada di rumah sendiri, lebih baik aku mengerjakan tugas di kampus. Konsentrasi di studio jauh lebih baik," jawabnya sembari mulai menyendok makanannya.
Kaizar hanya mengangguk kecil, tak berani menatap mata Zivara terlalu lama karena takut rahasia di dalam hatinya terbaca. Sarapan itu berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang mengisi ruang di antara mereka. Meski duduk berhadapan, ada jarak ribuan mil yang diciptakan oleh masa lalu yang belum terselesaikan.
Setelah selesai, Kaizar segera menyambar kunci mobilnya. "Ayo, aku antar".
Zivara tidak menolak. Ia mengikuti langkah Kaizar menuju mobil, membawa misteri tentang lukisan semalam yang masih menggantung di udara seperti awan mendung yang siap menjatuhkan hujan kapan saja.
**
Mesin mobil akhirnya berhenti menderu saat mereka tiba di area parkir kampus DKV yang masih nampak lengang. Kabut tipis Bandung masih menyelimuti pepohonan di sekitar gedung, menciptakan suasana yang seolah mengisolasi mereka berdua di dalam kabin mobil yang kedap suara. Kaizar tidak langsung mematikan mesin. Ia mencengkeram kemudi dengan erat, matanya menatap lurus ke depan seolah sedang mengumpulkan keberanian yang tersisa.
"Luna adalah dalangnya," suara Kaizar memecah keheningan, rendah dan sarat dengan kemarahan yang tertahan. "Semua peristiwa yang menimpamu..., dia yang merencanakannya."
Zivara yang sejak tadi bersandar pada jok mobil hanya menarik napas panjang. Tidak ada riak keterkejutan di wajahnya. Ia justru menoleh ke arah jendela, menatap pantulan dirinya sendiri yang kini tampak jauh lebih dewasa daripada gadis polos di kehidupan sebelumnya.
"Aku sudah bisa menduganya, Kak," jawab Zivara tenang. Ketegasan dalam suaranya membuat Kaizar menoleh cepat. Ia melihat sosok perempuan yang kini berani berdiri di atas kakinya sendiri, bukan lagi gadis pasif yang hanya menerima nasib.
Kaizar terdiam sejenak, mempelajari ekspresi Zivara yang sulit dibaca. "Lalu, apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Aku bisa membawanya ke jalur hukum hari ini juga."
Zivara perlahan mulai pulih dari trauma sesak napas yang sempat menyerangnya tadi. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap Kaizar dengan sorot mata yang jernih namun penuh tekad.
"Jangan. Jangan laporkan dia ke polisi. Belum saatnya."
Dahi Kaizar berkerut. "Kenapa? Dia sudah hampir mencelakaimu, Vara!"
"Aku ingin dia melihat bahwa aku tidak selemah yang dia bayangkan. Aku ingin dia sendiri yang akhirnya menyerah pada kegilaannya," sahut Zivara dengan nada bicara yang sangat stabil.
Kaizar menghela napas, menyandarkan punggungnya sembari menatap langit-langit mobil. Rasa berdosa kembali menghantam dadanya—memori tentang bagaimana ia mengabaikan Zivara demi Luna di masa lalu terasa seperti belati yang berputar di hatinya. Ia menghormati keputusan Zivara, meskipun rasa protektifnya berteriak ingin menghancurkan siapa pun yang menyentuh gadis itu.
"Baiklah. Aku akan menghormati permintaanmu," ucap Kaizar pelan. Ia lalu berbalik, menatap Zivara dengan intensitas yang membuat napas gadis itu sedikit tertahan. "Tapi dengarkan aku, Vara. Mulai detik ini, tidak akan ada satu helai rambutmu pun yang akan disentuh olehnya atau bahaya mana pun. Aku akan menjagamu dengan caraku sendiri, meskipun kamu tidak memintanya."
Zivara hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan luka yang sedang ia sembuhkan sendiri.
***