Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.
Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 Dia punya hati
"Di rumah ini aku masih Hana." Setelah mengatakan itu, Hana menuju dapur, meninggalkan Reigan begitu saja tanpa minat untuk memperpanjang perdebatan.
Reigan duduk di meja makan, matanya yang kelam terus mengawasi pergerakan Hana yang kaku namun efisien di area dapur. Ponselnya berdering. "Ya, Marco?"
"Bos, ada kurir pengantar surat. Apa aku bisa langsung ke atas?" Marco bertanya karena tahu ada ketegangan di lantai atas. Nico memberitahunya.
"Ya. Naiklah."
"Oke, Bos."
Sambungan terputus. Ini membuat Marco heran. Ia menurunkan ponselnya lalu menatap Nico yang masih fokus di depan layar. "Kau bilang bos sedang dalam mode gelap, kenapa aku dibiarkan ke lantai atas?"
"Mungkin sudah reda," jawab Nico menduga.
****
Beberapa menit kemudian, Marco naik membawa sebuah surat undangan. Ada logo pemerintahan di sana. Langkah kakinya yang tegap membawa amplop tebal itu melewati pintu depan apartemen mewah tersebut.
Saat pintu terbuka, aura gelap ternyata masih terasa. Meskipun Reigan dan istrinya duduk bersama di meja makan, tapi itu tidak memudarkan nuansa gelap yang pekat di dalam ruangan.
"Kau datang, Marco?" tanya Hana yang memang terlihat ramah pada bawahan Reigan. Meskipun lebih terlihat akrab dengan Nico.
"Ya..." Marco bingung karena disambut ramah oleh Hana. Dia tidak biasa disapa oleh wanita ini. Terlebih raut wajah Hana saat itu terlihat tulus, bukan hanya sekadar basa-basi.
Reigan melirik. Ternyata Hana tidak hanya ramah pada Nico. Dan raut wajah itu tulus. Bukan hanya basa-basi.
"Kau juga bisa bersikap manusiawi pada orang lain?" cemooh Reigan, suaranya mengalun sinis, merasa egonya tersenggol karena Hana bisa memberikan sisi itu pada bawahannya, sementara padanya hanya ada dinding es.
Hana tidak berkedip. Manik mata esnya beralih dari Reigan, lalu mengunci pergerakan Marco yang masih berdiri kaku.
"Siapa pun bisa," balas Hana datar, memotong cemoohan Reigan tanpa minat untuk berdebat. Wanita itu kemudian menggeser sedikit cangkir di meja, lalu menatap Marco dengan dagu terangkat tipis. "Kemari, Marco. Letakkan suratnya."
Marco maju dan meletakkan surat di atas meja.
"Terima kasih, Marco," ucap Hana.
Marco kebingungan di tempatnya. Banyak orang yang takut mendengar namanya. Mereka pasti menundukkan kepala. Tapi Hana, dia terlihat menghormatinya tanpa terlihat takut.
Reigan yang meraih amplop surat itu tanpa bicara apa-apa, menoleh. Menatap tajam. Bukan marah. Reigan yang terbiasa dengan dunia bawah jarang mendengar kata terima kasih hanya untuk hal sepele seperti ini. Dia tersenyum. Aneh. Mungkin hanya Reigan yang paham.
Pria ini langsung menyobek amplopnya. Bibirnya tersenyum tipis. Senyum khas Reigan yang penuh aura gelap.
"Menteri ingin menemuiku?" Ada nada mencemooh.
Hana melirik. Jika itu menteri, pasti dia orang yang tidak takut karena punya backing kuat dibelakangnya. Siapa? Apa ada hubungannya dengan Leon?
Reigan menemukan sikap tertarik Hana.
"Dia Menteri Sosial. Dia ingin mengajak kerja sama untuk sebuah acara yayasan amal," ujar Reigan remeh. Namun dia bukan sekedar bicara. Dia memberi informasi secara tidak langsung pada Hana. Ia ingin tahu respon wanita itu.
Sial. Aku terlalu antusias. Hana paham Reigan berhasil menemukan ketertarikannya.
"Menurutmu? Apa seorang pembunuh bayaran sepertimu tertarik dengan acara bagi-bagi sup gratis, Hana?" tanya Reigan menantang.
Hana menatap Reigan tenang tanpa berkedip. "Aku cocok dalam keadaan apapun, bahkan menjadi wanita yang dijodohkan dengan pria nomor satu dari gedung Valerius sekalipun."
Reigan menghapus senyum dan mendengus.
Di sudut meja, Marco yang baru saja mendengar kata pembunuh bayaran seketika terkejut setengah mati. Otaknya macet. Apa wanita ini pembunuh bayaran?
"Kau mau makan pagi atau mau pergi?" tawar Hana kemudian pada Marco.
Reigan melirik.
"Aku tidak mau makanan ini terbuang percuma." Hana tersenyum formal.
"Dia segera pergi, Hana," usir Reigan tidak suka pada tawaran Hana. Ia menatap lurus Hana seakan tawarannya adalah dosa besar.
Marco belum paham dengan tawaran itu, tapi dia langsung bisa menangkap sinyal bahaya dari Reigan dan memilih langsung mundur teratur keluar dari ruangan.
...----------------...
Markas.
"Apa situasi di atas sudah dingin?" tanya Nico saat Marco masuk.
"Kau tahu siapa wanita yang jadi istri Bos Reigan?" tanya Marco abai pertanyaan Nico dengan napas tertahan.
"Nyonya Reigan." Jawab Nico.
"Identitas asli."
Nico diam. Alisnya mengerut.
"Sepertinya kau tahu sesuatu," Marco curiga. "Kau tahu kalau dia pembunuh bayaran?" tebak Marco tidak sabar.
"Kau tahu?" Nico terkejut, tapi dia tidak ingin menunjukkan ekspresinya. Yang tahu Hana adalah pembunuh bayaran hanya dia dan Tuan Reigan.
"Jadi itu benar? Brengsek!" umpat Marco. "Aku baru tahu. Bos yang bicara dengan tenang tadi di meja makan." Marco menunjukkan wajah terkejut, takjub. Dari sini Nico tahu siapa yang membocorkan soal ini. "Mereka berdebat."
Nico menatap Marco, lalu memperingatkan dengan suara rendah. "Lebih baik kita jaga rahasia ini."
Marco mencerna peringatan itu dengan rahang rapat. "Sialan. Lantai atas benar-benar jadi sarang monster sekarang."
...----------------...
Sementara di lantai atas, setelah kepergian Marco yang tergesa-gesa, atmosfer di meja makan justru semakin mencekam dan mengikat udara di sekitar mereka.
"Jadi siapa, Menteri Sosial ini?" tanya Reigan sambil menyandarkan tubuh pada badan kursi.
"Kau punya Nico untuk mencari tahu," jawab Hana acuh tak acuh, menawarkan bantuan peretas andalan suaminya.
"Tidak. Aku punya mesin informasi disini, kenapa repot-repot mencari tahu lewat Nico."
Hana diam.
"Kau bisa beri informasi padaku. Aku tahu kau pasti punya banyak infomasi yang tersimpan dalam otak kecilmu itu," ujar Reigan seraya menunjuk kepala Hana dari tempatnya duduk.
Hana tidak bisa mengelak. "Dia orang baik."
"Hanya itu?" Reigan menaikkan sebelah alisnya, tidak puas.
"Apa kau ingin tahu dia punya gudang senjata atau semacamnya?"
"Kalau kau punya data tentang pria ini, kau harus memberitahu. Itu kompensasi aku tidak membunuhmu ..."
"Kau tidak akan cukup bisa membayar dengan apapun untuk Vesper ini, Reigan ..." desis Hana.
Reigan tersenyum miring. Sesaat emosi Hana terlihat. Dia senang dan merasa menang. Gila. Namun sesaat sadar bahwa itu hal konyol.
"Aku butuh infomasi," potong Reigan cepat. menepis gejolak aneh di dadanya.
"Dia orang baik. Hanya baik. Tidak ada manipulasi atau bisnis hitam. Sangat baik hingga dia terlalu banyak musuh." Mata Hana saat mengatakannya penuh dengan rasa hormat.
"Dia masuk daftarmu?" tanya Reigan.
Karena Hana tahu persis bagaimana orang ini, Reigan ingin tahu.
Hana tahu apa yang dimaksud Reigan. Pria itu ingin tahu apakah sang menteri adalah salah satu target yang harus dieksekusi oleh Vesper.
Hening sesaat. "Ya. Dulu." jawab Hana singkat.
Reigan menatap lurus wanita di depannya. Ada yang ditangkap oleh Reigan saat. Sesuatu yang tidak ada dalam kamus pembunuh bayaran. Belas kasih. Kenyataan bahwa Menteri itu masih hidup dan bernapas dengan baik adalah bukti kalau wanita ini mungkin membohongi aturan pembunuh bayaran. Dia punya hati. Hana tidak sepenuhnya hitam.
Reigan memutus pemikirannya dengan dengusan sinis yang khas, berusaha menolak fakta bahwa ia mulai mengagumi sisi kemanusiaan Hana.
lanjutttt💪😄