Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *35
"Ram, kamu kenapa?"
Dorin yang penasaran akan perubahan wajah si sepupu tidak bisa lagi menahan bibir untuk tidak bertanya. Namun Rama yang kaget sekaligus akan kabar yang baru saja ia baca, tidak bisa menjawab. Rama hanya diam mematung tanpa kata. Ponsel Dorin yang ada di tangannya, masih tergenggam dengan erat.
"Rama."
Setelah panggilan kedua itu datang, barulah Rama bergerak perlahan untuk menyerahkan ponsel itu ke tangan pemiliknya. "Li-- lihatlah sendiri. Mungkin, mataku sudah kabur," ucap Rama pelan.
Sesaat melihat menatap wajah Rama, Dorin akhirnya mengalihkan pandangan ke arah layar ponsel. Seketika, pria itu membulatkan mata.
"Sinta di vila kak Wana?"
"Kamu membaca tulisan yang sama dengan yang aku baca, Dorin?"
"Iya ... memang itu yang ada di layar ponsel ini, Ram."
"Ke vila sekarang, Dorin. Sekarang juga," ucap Rama dengan nada penuh penekanan.
"Ap-- apa? Tapi ... tapi .... Ram?"
"Sekarang, Dorin. Sekarang juga."
Dorin pun pasrah. Pada akhirnya, dia memilih untuk mengikuti apa yang Rama inginkan. Mobil ia jalankan menuju vila Rahwana. Tempat yang cukup membuat jantung tidak nyaman hanya dengan memikirkannya saja.
Bukan karena tempat itu seram. Hanya saja, karena pemiliknya sedikit tidak bersahabat. Ketika Dorin datang, dia tidak pernah di sambut hangat oleh Wana. Ah, bukan di sambut dengan hangat. Bahkan, tidak pernah di sambut sama sekali. Sebaliknya, malah diberikan peringatan untuk tidak pernah datang lagi. Begitulah kenyataan yang membuat Dorin agak deg-degan saat dalam perjalanan menuju vila indah tersebut.
Namun di sisi lain, tepatnya di dalam vila, Sinta yang sudah merasa cukup beristirahat pun keluar dari kamar. Wajah gadis itu terlihat jauh lebih segar dari yang tadi. Walaupun kenyataannya, di kamar, Sinta hanya berbaring tanpa bisa terlelap. Di tempat yang baru, dirinya tentu harus melakukan penyesuaian diri dulu baru bisa merasa nyaman.
Ketika Sinta menuruni anak tangga. Matanya langsung melihat ke arah sofa ruang keluarga. Di sana, Wana sedang duduk dengan tatapan yang sedang fokus ke arah layar laptop.
Namun, bukan Wana namanya kalau tidak peka akan kehadiran Sinta yang ada di dekatnya. Tentu saja Wana akan langsung menyadari kehadiran Dewi Bulannya itu yang datang mendekat ke arahnya. Karena pria ini adalah pria yang punya tingkat kepekaan paling tinggi. Terkhusus, terhadap Dewi Bulannya itu.
Sontak, Wana langsung menyingkirkan laptop dari pangkuannya. Senyum tipis dia ukir di bibir sebagai tanda sambutan untuk kehadiran si pujaan hati di dekatnya.
"Sint, sudah bangun?"
"Mm ... bangun, nggak sih, Kak. Karena aku gak tidur kok tadi. Cuma baring-baring aja."
"Ah, iya. Maksud aku, istirahatnya sudah cukup?"
"Iya, cukup. Mm ... barang-barang ku ... mama kirim belum yah? Soalnya aku ... ee .... " Sinta tiba-tiba bertingkah tidak nyaman.
"Ee ... aku mau mandi," ucap wanita itu pada akhirnya.
Seketika, wajah bersalah Wana perlihatkan. Walaupun singkatnya, Sinta tidak terlalu bisa melihat ekspresi itu karena tertutup topeng yang masih saja melekat di wajah Wana. Padahal, ini sudah di dalam rumah. Tidak ada orang lain selain mereka berdua. Tapi, tetap saja, Wana tetap mengenakan penutup wajahnya itu.
Dan, tentu saja dia akan selalu memakainya. Bahkan mulai sekarang, topeng separuh itu akan terus ia kenakan sekalipun dia sedang berada di kamar mandi. Karena di vila itu kini tidak hanya ada dia dan Danu. Melainkan, ada Sinta juga. Wanita yang sangat tidak dia inginkan untuk melihat wajahnya yang ia anggap sangat buruk itu.
"Ee ... anu, tunggu sebentar ya, Sin. Barang-barang mu ... Danu baru pergi buat jemput. Soalnya tadi, dia-- "
Klentang! Tiba-tiba saja, bunyi barang jatuh dari arah dapur. Perhatian Sinta dan Wana langsung teralihkan.
"Ah, nah. Itu dia. Tadi, Danu jemput bi Diah dulu."
"Bi ... Diah?"
Wana mengangguk pelan. "Hm. Bi Diah, bibi yang akan bantu kamu urus vila ini."
"Oh, maksudnya, dia akan tinggal di sini sebagai bibi asisten rumah tangga di sini?"
"Hm. Iya. Ee ... kamu gak masalah kan?"
"Iya. Tentu saja gak masalah. Aku malahan senang lagi, kak. Ternyata, di sini juga ada yang bisa aku ajak bicara kalo kamu gak ada."
"Tuan mu-- " Si bibi yang baru muncul langsung menahan bibirnya untuk bicara saat melihat Sinta.
"Nah, bibi. Ini Sinta. Istriku."
Senyum bi Diah langsung terkembang.
"Nyonya Sinta. Selamat datang. Salam kenal."
Sinta sedikit canggung dengan sapaan dari si bibi. Terutama, saat si bibi memanggilnya nyonya dengan lantang.
"Iy-- iya, Bik. Salam kenal. Tapi ... jangan panggil aku nyonya, bisa gak? Panggil nama aku saja. Itu lebih nyaman."
Bi Diah langsung melirik Wana. Yang di lirik malah diam saja. Jangankan balas melirik, mengalihkan pandangan dari Sinta saja tidak. Seolah, dunia Wana hanya ada Sinta saja. Makanya, di mata Wana, hanya Sinta saja yang terlihat dengan jelas. Yang lain, samar.
"Ee ... baiklah. Kalau gitu, bibi panggil nona saja bagaimana?"
"Mm ... itu lebih baik dari pada sebelumnya."
Usai perkenalan singkat dengan bi Diah. Wanita paruh baya itu kembali ke dapur. Sekarang, di ruang keluarga, tinggal Sinta dan Wana. Suasana sedikit canggung. Namun itu tidak bertahan lama. Karena laporan dari penjaga gerbang langsung memecahkan kesunyian mereka berdua.
"Ada tamu? Siapa?"
"Tuan muda kedua dengan tuan muda sepupu. Mereka ngotot ingin masuk, tuan muda. Apa yang harus saya lakukan sekarang?"
Wana langsung melirik Sinta yang ada di sampingnya. "Ee ... kamu ingin bertemu Rama atau tidak? Jika mau, aku izinkan mereka masuk." Wana berucap dengan nada agak pelan, tapi sangat jelas terdengar di telinga Sinta.
"Mmm ... kenapa tanya aku? Aku dengannya tidak punya urusan apa-apa lagi. Jadi, aku rasa, aku tidak perlu bertemu dengannya."
Belum sempat Wana menjawab apa yang Sinta katakan, tiba-tiba saja dari arah belakang si penjaga, Rama muncul. Sedangkan Dorin, pria itu menyusul dari belakang dengan wajah yang sedikit ketakutan.
"Ram, Ram." Dorin memanggil Rama dengan gugup.
"Sinta."
Mata Rahwana langsung melihat adiknya dengan tatapan lebih tajam. "Kamu masuk rumah ku. Siapa yang mengizinkannya?"
"Kak Wana. Aku ... hanya ingin bicara dengan Sinta."
"Sinta, aku sudah mencarimu ke mana-mana. Ku mohon, tolong, bicaralah dengan ku sekarang. Ikut aku pulang. Ada banyak hal yang harus aku bicarakan."
Sambil berucap, Rama ingin menyentuh tangan Sinta. Namun gadis itu berusaha menghindar. Wana yang melihat hal itu sigap menepis tangan adiknya yang sedang berusaha menjangkau istri tercintanya itu.
Puk. Tangan Rama Wana pukul.
"Jaga tangan mu itu. Jauhkan tangan ini dari Sinta atau aku akan-- "
Wana menahan ucapannya karena ia sadar, dia tidak bisa bicara sembarangan. Jika tidak, Sinta mungkin akan takut dengan dirinya. Mana mungkin Wana siap membuat Dewi bulannya merasa takut.
wana wana
aihhh Rama gendeng