NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXIX

  Di sebuah penginapan yang letaknya agak tersembunyi dan tidak terlalu ramai, Putri Yanxi duduk tenang di kursi sambil sesekali melirik ke arah pintu. Ia tampak menantikan kedatangan seseorang. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang pemuda melangkah masuk. Sosoknya tegap, tinggi, dan berparas tampan dengan sorot mata yang lembut namun tegas. Begitu melihat wanita yang ditunggunya, ia segera berjalan mendekat dengan langkah yang tergesa namun tetap sopan.

Putri Yanxi yang melihatnya seketika tersenyum lebar. Ia bangkit berdiri dan langsung menghampiri, lalu memeluk pemuda itu dengan penuh kerinduan. Ternyata, pria itu adalah Zhang Jun, seorang tabib yang dulu pernah menolong Lili dan Dafi saat Dafi terluka parah.

Hubungan mereka ternyata telah terjalin selama dua tahun terakhir. Sejak masa-masa mereka belajar bersama di akademi, persahabatan di antara mereka perlahan tumbuh menjadi perasaan yang lebih dalam. Karena mereka sering bertemu dan saling mengenal karakter satu sama lain, benih-benih cinta pun tumbuh, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan.

Selama ini, Zhang Jun sebenarnya telah berniat untuk melamar Putri Yanxi secara resmi. Namun, ia selalu menahan diri karena memahami posisi kekasihnya itu. Sementara itu, Putri Yanxi sendiri memiliki keyakinan yang berat, dimana ia merasa ayahnya, yakni Kaisar, tidak akan pernah merestui hubungan mereka mengingat perbedaan status sosial yang cukup jauh. Hal inilah yang membuatnya selama ini belum berani mengambil langkah yang lebih lanjut.

Zhang Jun sering merasa tidak enak hati karena harus bertemu dengan seorang Tuan Putri secara sembunyi-sembunyi seperti ini. Ia merasa tidak pantas dan khawatir hal ini justru akan merusak nama baik Putri Yanxi. Namun, kali ini Putri Yanxi telah bertekad untuk menyampaikan keinginannya ini kepada ayah dan ibunya secara terus terang, apa pun risikonya nanti.

"Maaf membuatmu menunggu terlalu lama," ucap Zhang Jun pelan sambil membalas pelukan itu dengan lembut. Ia melepaskan pelukan dan menatap wajah kekasihnya dengan tatapan yang penuh perhatian.

"Tidak apa-apa, aku juga baru saja datang," jawab Putri Yanxi sambil tersenyum, lalu duduk kembali dan mengajak Zhang Jun duduk bersama. "Yang penting, akhirnya kau bisa datang juga."

Zhang Jun mengangguk, namun raut wajahnya tampak sedikit berat. "Yanxi, sebenarnya... apakah kita harus terus bertemu seperti ini? Di tempat yang sepi, tanpa sepengetahuan orang lain? Aku merasa tidak nyaman. Aku tidak ingin orang-orang berpikir buruk tentangmu, apalagi kau adalah seorang Tuan Putri."

Mendengar hal itu, Putri Yanxi meraih tangan Zhang Jun dan menggenggamnya. "Aku mengerti perasaanmu. Tapi percayalah, aku sudah memikirkannya. Selama dua tahun ini, kau selalu ada untukku, dan aku juga tau kau sangat mencintai ku."

Zhang Jun menghela napas panjang. "Aku memang ingin segera melamarmu, berdiri di hadapan Kaisar dan Permaisuri untuk meminta restu. Tapi aku hanyalah seorang tabib biasa. Aku tidak memiliki gelar kebangsawanan apapun, tidak memiliki kekuasaan... Aku takut ayahmu akan menolaknya."

"Memang aku juga sempat berpikir begitu," akui Putri Yanxi jujur. "Tapi aku tidak mau terus menyembunyikan hubungan ini selamanya. Hari ini aku memanggilmu karena aku telah memutuskan sesuatu. Aku akan bicara terus terang kepada Ayah dan Ibuku. Aku akan menceritakan segalanya, tentang siapa dirimu dan bagaimana perasaan kita satu sama lain."

Zhang Jun menatapnya. "Tapi... bagaimana jika mereka tidak memberikan restunya? Bagaimana jika mereka mau memisahkan kita?"

Putri Yanxi tersenyum, meski terlihat ada sedikit ketakutan di matanya. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi setidaknya kita sudah berusaha. Jika kita terus bersembunyi, kita tidak akan pernah mendapatkan apa-apa. Aku yakin, Ayah dan Ibu pasti menginginkan aku bahagia. Dan kebahagiaanku ada bersamamu."

Mendengar keteguhan hati Putri Yanxi itu, Zhang Jun merasakan hatinya terasa hangat. Ia menggenggam tangan Yanxi dengan lembut namun penuh keyakinan.

"Baiklah. Jika itu keputusanmu, aku akan mendukungmu sepenuhnya. Aku akan bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi. Aku akan menunjukkan kepada Kaisar dan Permaisuri bahwa meskipun aku bukan orang kaya atau berkuasa, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjagamu dan membuatmu bahagia selamanya."

Putri Yanxi mengangguk, merasa lega karena mendapat dukungan itu. "Terima kasih, Zhang Jun. Mendengarnya, aku merasa lebih tenang."

Pertemuan itu pun berakhir, Putri Yanxi berangkat kembali menuju istana kerajaan. Namun, dalam perjalanan pulang, ia memutuskan untuk menyempatkan diri mampir ke kediaman adiknya, Pangeran Haoran. Meski sering bersikap tegas dan terkadang terdengar galak saat berbicara dengan Pangeran Haoran, sebenarnya di dalam hatinya, ia sangat menyayangi dan peduli pada adiknya itu.

Di Kediaman Pangeran

  Sesampainya di kediaman yang megah itu, Putri Yanxi melangkah masuk dengan penuh keanggunan. Sementara itu, Pangeran Haoran yang sedang sibuk bekerja di ruangannya didatangi oleh seorang pelayan yang menyampaikan kabar kedatangan Putri Yanxi. Mendengar itu, Pangeran Haoran segera bergegas keluar, terkejut melihat kakaknya datang secara tiba-tiba, dan segera menyambutnya dengan raut wajah penuh tanda tanya.

"Kakak? Kenapa kau tiba-tiba datang ke sini tanpa memberi kabar?" tanya Pangeran Haoran dengan nada heran. "Ada urusan penting apa yang membuat Kakak datang kemari?"

Putri Yanxi melirik adiknya dengan tatapan tajam namun penuh keakraban, lalu duduk di kursi utama sambil mengibaskan lengan bajunya.

"Memangnya aku tidak boleh datang ke kediaman adikku sendiri? Apa kau sudah terlalu sibuk dengan istri barumu itu hingga melupakan kakak kandungmu ini?" jawab Putri Yanxi dengan nada sedikit ketus, khas cara bicaranya yang tegas. "Aku datang ke sini karena penasaran. Aku ingin bertemu dengan adik iparku itu."

Pangeran Haoran tersenyum tipis mendengar nada bicara kakaknya yang tidak berubah itu.

"Baiklah, Kak. Memangnya ada hal yang ingin Kakak sampaikan padanya?" tanya Pangeran Haoran.

"Tentu saja," jawab Putri Yanxi singkat. "Aku ingin melihat seperti apa wajahnya." Tidak lama kemudian, ia pun kembali bertanya kepada Pangeran Haoran "Oh, ya.. Kalau boleh tau, siapa nama adik iparku itu?"

Wajah Pangeran Haoran seketika berubah menjadi lembut saat menyebut nama istrinya.

"Nama aslinya adalah Xiao Ning, tapi aku biasa memanggilnya Luna," jawab Pangeran Haoran pelan.

"Baiklah, kalau begitu di mana dia sekarang, Haoran? Aku ingin menemuinya," ucap Putri Yanxi sambil menoleh ke sana ke mari seolah-olah mencari sosok Luna.

Mendengar itu, Pangeran Haoran segera memanggil pelayan untuk menanyakan keberadaan istrinya itu. Pelayan itu menjawab dengan hormat, "Nyonya saat ini sedang berada di tempat latihan, Pangeran, Putri."

"Baiklah," ucap Putri Yanxi segera. "Aku akan menemuinya di sana." Tanpa berbasa-basi, ia pun segera berjalan menuju tempat latihan itu, sementara Pangeran Haoran mengikutinya dari belakang.

Putri Yanxi berjalan menuju tempat latihan itu, yang berada tepat di halaman belakang Kediaman. Langkahnya terhenti sejenak saat matanya tertuju pada sosok wanita yang sedang bergerak lincah di tengah lapangan. Itu adalah Luna.

Saat itu Luna mengenakan busana serba putih yang membuatnya tampak bersih namun memancarkan aura tajam. Di tangannya, sebilah pedang berputar mengikuti setiap gerakannya, mulai dari ayunan yang kuat, putaran tubuh yang lincah, hingga lompatan tinggi yang anggun namun mematikan. Setiap gerakannya tampak sangat terlatih dan luwes, seolah pedang itu adalah dirinya sendiri.

Putri Yanxi tak bisa menyembunyikan kekagumannya. "Wah.. ternyata adik iparku ini sangat pandai ilmu bela diri, ya. Gerakannya sungguh lihai dan indah dipandang."

Luna yang menyadari kehadiran orang lain segera menghentikan gerakannya. Ia memutar pergelangan tangannya, memosisikan pedang dengan siap, lalu menoleh ke arah sumber suara itu. Melihat Pangeran Haoran berdiri di samping seorang wanita cantik dan berwibawa itu, ia segera menghampiri mereka.

Pangeran Haoran tersenyum, lalu segera memperkenalkan wanita itu. "Luna, Ini Kakakku, Putri Yanxi."

Luna segera membungkukkan badan dengan sopan. "Salam, Tuan Putri."

"Aku sudah melihat gerakanmu dari tadi. Sungguh mengagumkan," puji Putri Yanxi sambil tersenyum ramah.

Setelah pertemuan singkat itu, Pangeran Haoran mengajak mereka untuk duduk bersantai di taman belakang. Di sana terdapat sebuah pondok kayu yang nyaman, dikelilingi oleh aneka bunga dan sebuah kolam ikan hias yang airnya jernih. Suasana sejuk dan pemandangan yang indah itu akan membuat hati terasa sedikit lebih tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!