NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:538
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan Kemanusiaan dan Pembelaan si Singa Betina

Aroma kuah bakso yang gurih bercampur asap rokok dan es teh manis menguar di Warung Jeng Sri, sebuah tempat nongkrong legendaris di seberang gerbang belakang SMA Pelita Bangsa. Warung bertembok kayu dengan bangku-bangku panjang itu selalu penuh oleh anak-anak cowok setelah bel pulang sekolah berbunyi. Di sudut paling pojok, agak jauh dari jangkauan bising radio usang pemilik warung, Shaka duduk tenang.

Cowok itu baru saja mengganti kemeja putih seragamnya dengan kaus oblong hitam polos yang selalu ia simpan di bagasi motor. Di hadapannya, sebotol soda dingin yang hampir kosong mengembun. Tangannya yang beberapa jam lalu menghantam rahang Rendi kini bergerak santai, mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu yang permukaannya sudah penuh dengan coretan tip-eks anak sekolahan.

Raihan duduk di seberangnya, bersandar santai pada sandaran kayu sambil mengunyah mendoan hangat. Matanya sejak tadi tidak lepas dari Shaka, mengamati ekspresi wajah sahabatnya yang sedatar papan gilasan. Jujur saja, isi kepala Raihan masih dipenuhi oleh sisa-siga adegan di koridor lantai dua tadi siang.

Sebagai orang yang sudah berteman dengan Shaka sejak awal masuk SMA, Raihan tahu betul bagaimana tabiat cowok di depannya ini. Shaka adalah definisi dari ketenangan yang mutlak. Dia tidak pernah memedulikan drama sekolahan, tidak suka mencari gara-gara, dan selalu berjalan dengan kepala dingin seolah semua masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan rumus matematika. Melihat Shaka melempar pukulan mentah di area sekolah—di depan mata puluhan murid dan guru—adalah sebuah anomali besar.

"Gue masih kepikiran kejadian tadi siang, Shak," buka Raihan, memecah keheningan di antara mereka berdua. Ia meminum es tehnya sekilas sebelum melanjutkan, "Jujur, gue sedikit kaget liat lo yang berani main tangan begitu di area sekolah. Lo tahu sendiri taruhannya apa. Rekor lo bersih, tapi tadi nama lo perdana tertulis di buku hitam BK."

Shaka tidak langsung menjawab. Ia meraih botol sodanya, meneguk cairan manis bertingkat karbonasi itu hingga tandas, lalu meletakkannya kembali ke meja dengan bunyi ketukan yang pelan. "Dia cari masalah duluan," jawab Shaka pelan, nyaris tanpa beban.

Raihan tersenyum smirk. Sisi jahilnya mulai merayap naik ke permukaan. Ia memajukan badannya, menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja, menatap Shaka dengan pandangan menyelidik yang menyebalkan.

"Cari masalah duluan atau karena yang diganggu itu Alisha?" pancing Raihan dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Ayo mengaku sajalah, Shak. Lo suka kan sama Alisha? Gak usah pakai kedok jepit rambut beruang kemarin kalau ujung-ujungnya lo sampai kalap mukul orang pas cewek itu dikatain."

Mendengar nama Alisha disebut dengan konotasi seperti itu, rahang Shaka sempat mengatup rapat selama satu detik. Namun, dengan perlindungan gengsi setinggi langit yang dimilikinya, ekspresi wajah cowok itu kembali berubah sedatar es batu. Tidak ada kepanikan, tidak ada rona merah di pipi, hanya ada tatapan dingin yang tajam.

"Nggak usah ngaco," balas Shaka ketus. "Gue lakuin itu murni karena alasan kemanusiaan, bukan karena perasaan seperti yang otak drama lo pikirkan."

"Kemanusiaan?" Raihan terkekeh sinis, sama sekali tidak percaya.

"Ya. Gue gak suka kalau ada siapapun yang di-body shaming di depan muka gue," lanjut Shaka, membela diri dengan argumentasi yang terdengar sangat logis dan mulia. "Rendi itu mulutnya sampah. Tindakan dia mengelompokkan orang berdasarkan warna kulit atau fisik itu kuno dan merendahkan martabat. Siapapun korbannya, kalau kejadian di depan mata gue, pasti bakal gue sikat."

Raihan melipat kedua tangannya di dada, senyum smirk-nya justru semakin melebar mendengarkan pembelaan panjang lebar yang tidak biasa keluar dari mulut seorang Reyshaka. "Sama siapapun lo bilang?" sahut Raihan, menaikkan sebelah alisnya. "Alibi lo keren, Shak. Tapi sayangnya, yang gue liat dari tadi siang, lo cuma sekadar peduli dan bersikap sekiller itu kalau hal ini menyangkut Alisha doang deh kayaknya. Coba kalau anak kelas lain yang dikatain begitu sama Rendi, paling lo cuma lewat sambil pasang muka tripleks."

Shaka mendengus pelan, membuang muka ke arah jalanan di luar warung yang mulai ramai oleh kendaraan umum. "Nggak lah," sangkal Shaka cepat, nadanya datar namun penuh penekanan. "Dia tuh cuma singa betina gue di tim olimpiade, bukan siapa-siapa di real life. Gue cuma butuh otak dia tetap waras buat bimbingan materi besok, makanya gue gak mau fokus dia rusak gara-gara omongan sampah Rendi. Cuma sebatas itu."

Raihan hanya mangut-mangut dengan senyuman misterius yang tertahan di bibirnya. Ia tidak berniat mendebat lebih jauh, karena ia tahu, semakin Shaka membangun benteng pertahanannya dengan kata-kata logis, semakin besar pula sebenarnya penyangkalan yang sedang cowok itu lakukan terhadap perasaannya sendiri.

Sementara itu, di belahan kota yang lain, atmosfer yang kontras sedang terjadi.

Matahari sore yang mulai meredup mengiringi langkah gontai dua gadis yang berjalan beriringan di trotoar jalan menuju ke arah kompleks perumahan mereka. Aleta berjalan dengan langkah yang diseret, tas sekolahnya disampirkan lunglai di salah satu pundak, sementara kepalanya tertunduk lesu. Energi gadis kelas sepuluh itu benar-benar telah terkuras habis setelah satu jam penuh dijemur di bawah terik matahari lapangan upacara dengan posisi hormat.

Di sebelahnya, Alisha berjalan dengan ritme yang sama, sesekali melirik ke arah adiknya dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus khawatir.

"Teta, lo gak apa-apa? Kaki lo sakit?" tanya Alisha lembut, memecah keheningan di antara suara bising kendaraan yang lewat.

Aleta hanya menggumam pelan tanpa menoleh. "Lemas, Kak. Rasanya seluruh sendi di kaki aku kayak mau copot. Haus banget lagi."

Alisha mengembuskan napas panjang. Ia meraih lengan adiknya, merangkulnya pelan untuk membantu menyokong tubuh Aleta yang tampak sudah sangat kepayahan. "Sabar ya, dikit lagi sampai rumah. Nanti sampai rumah langsung mandi air hangat, terus gue buatin teh manis yang banyak esnya."

Mendengar kata "es teh manis", barulah ada sedikit binar kehidupan di mata Aleta, meskipun ia hanya membalasnya dengan anggukan pasrah. Sepanjang sisa perjalanan, keduanya tidak banyak bicara, sibuk dengan pikiran masing-masing tentang kekacauan luar biasa yang terjadi di sekolah baru mereka hari ini.

Malam harinya, suasana rumah terasa jauh lebih tenang. Setelah makan malam bersama Bapak dan Ibu yang untungnya tidak mengetahui kejadian di sekolah karena Alisha dan Aleta kompak tutup mulut, kedua bersaudara itu kini berada di dalam kamar tidur Alisha.

Aleta duduk berselonjor di atas kasur empuk milik kakaknya, mengenakan piyama tidur bermotif beruang yang nyaman. Sementara Alisha duduk di kursi belajar, baru saja selesai merapikan buku-buku pelajaran untuk jadwal besok hari.

Suasana hening sejenak, hanya menyisakan suara putaran kipas angin di sudut kamar. Aleta memandangi punggung kakaknya dengan tatapan bersalah yang sejak sore tadi mengganjal di dadanya. Gadis kecil itu meremas ujung piyamanya pelan sebelum akhirnya membuka suara.

"kak Alisha..." panggil Aleta dengan suara yang mencicit pelan, sangat berbeda dengan suaranya yang menggelegar saat mengomeli Rendi tadi siang.

Alisha memutar kursinya menghadap ke arah kasur. "Kenapa, Ta?"

Aleta menundukkan kepalanya, menatap jari-jari kakinya sendiri. "Aku... aku mau minta maaf ya, kak."

Alisha mengernyitkan dahi, menatap adiknya dengan heran. "Minta maaf buat apa?"

"Gara-gara aku yang emosian dan langsung lepas sepatu tadi siang, suasananya jadi kacau banget. Kita jadi pusat perhatian satu sekolah, terus Kak Shaka sampai ikut-ikutan mukul orang dan masuk ruang BK untuk pertama kalinya. Aku ngerasa bersalah banget sama Kak Shaka, dan... aku juga takut kalau gara-gara kelakuan bar-bar aku tadi, kak Alisha malah jadi ikutan kena imbasnya atau makin diejek sama anak-anak kelas dua belas yang lain," tutur Aleta panjang lebar, matanya berkaca-kaca menahan rasa sesal yang teramat sangat.

Alisha tertegun mendengarkan curahan hati adiknya. Perlahan, senyuman hangat terukir di wajah Alisha. Ia bangkit dari kursi belajarnya, berjalan mendekat ke arah kasur lalu duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Aleta.

Alisha mengulurkan tangan, mengacak rambut sebahu adiknya dengan sayang. "Teta, dengerin gue ya," ucap Alisha, suaranya terdengar begitu tulus dan menenangkan. "Lo gak perlu minta maaf untuk hal yang bener. Justru, gue ini bangga banget... banget sama keberanian lo tadi siang."

Aleta mendongak, menatap mata kakaknya dengan pandangan tidak percaya. "kakak gak marah aku bikin malu?"

"Marah buat apa? Gue justru takjub," kata Alisha sambil terkekeh pelan. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya ke udara, membentuk gestur dua jempol tepat di depan wajah Aleta. "Nih, dua jempol penuh dari gue buat Aleta si pemberani. Tindakan lo tadi siang itu keren banget. Lo berani menyuarakan apa yang bener, lo berani pasang badan buat gue pas lo ngerasa gue dihina, dan lo gak membiarkan orang lain semena-mena bawa masalah fisik atau warna kulit sebagai bahan becandaan."

Alisha menurunkan jempolnya, lalu menggenggam kedua tangan adiknya yang terasa hangat. "Gue selama ini selalu minder kalau ada orang yang ngomongin soal warna kulit atau penampilan Gue, Ta. gue biasanya cuma bisa diem atau pura-pura gak denger karena gue gak seberani lo. Tapi tadi siang, pas liat lo langsung maju dan nampar mulut sampah Rendi pake sol sepatu, gue ngerasa kayak... beban di pundak gue luruh begitu aja. Lo udah mewakili rasa sakit hati gue dengan cara yang paling epik."

Aleta merengut, namun seulas senyuman mulai terbit di bibirnya. Air mata penyesalan yang tadi sempat menggenang kini berganti dengan binar kehangatan. "Tapi tetep aja kasihan Kak Shaka, kak. Sampai dihukum begitu."

"Soal Shaka, lo gak usah terlalu kepikiran," hibur Alisha, walau dalam hatinya sendiri dadanya kembali berdegup aneh saat mengingat kalimat protektif Shaka di pinggir lapangan tadi siang. "Dia cowok yang kuat kok. Lagian dia mukul Rendi juga karena emang dasar Rendi-nya aja yang pantes dipukul. Sekarang yang penting, lo tidur yang nyenyak biar besok kaki lo gak kram lagi pas upacara bendera atau pelajaran olahraga."

Aleta mengangguk patuh, lalu merebahkan tubuhnya di kasur sambil menarik selimut hingga sebatas dada. "Makasih ya, Kak Alisha."

"Sama-sama, Teta. Selamat tidur," balas Alisha sebelum mematikan lampu utama kamar dan menyisakan lampu tidur yang temaram.

Di dalam kegelapan kamar yang tenang, Alisha kembali menatap langit-langit langit kamarnya. Rasa hangat dari pembelaan Aleta dan kalimat tegas dari Shaka siang tadi seolah menjadi perisai baru di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Alisha merasa tidak sendirian lagi dalam menghadapi dunia luar yang terkadang begitu kejam menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat oleh mata.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!