NovelToon NovelToon
Air Mata Di Atas Mahkota

Air Mata Di Atas Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Frenzy hrp

Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.

Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.

Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.

Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa yang Terbangun

Aroma tajam dari espreso ganda yang baru diseduh sama sekali tidak mampu mengusir kantuk di wajah Baskoro, Senior Auditor di Pratama & Co.

Pagi baru saja menyentuh pukul delapan, dan meja kerjanya sudah dipenuhi oleh tumpukan berkas dari puluhan perusahaan yang sedang mengantre untuk diaudit. Dengan malas, jemarinya mengklik membuka folder email masuk berkategori darurat.

Sebuah subjek email tanpa nama instansi langsung menarik perhatiannya: Draf Analisis Forensik Investigasi Arus Kas PT Mahkota Karya.

Baskoro mendecih pelan. "Pekerja lepas baru ya? Jam pengirimannya pukul 03.30 subuh. Pasti isinya cuma draf berantakan," gumamnya sinis.

Namun, begitu dia mengklik file PDF lampiran dan membaca tiga halaman pertama, cangkir kopi di tangan kanan Baskoro mendadak berhenti di udara.

Sepasang matanya yang semula layu seketika melotot lebar. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan pergerakan matanya yang membaca baris demi baris laporan itu dengan sangat cepat.

Bukan dokumen berantakan. Ini adalah sebuah mahakarya audit forensik.

Seluruh rincian transaksi tax haven yang sengaja disembunyikan oleh direksi PT Mahkota Karya dikupas tuntas hingga ke akar-akarnya, lengkap dengan pembuktian nomor kliring bank lokal yang mengarah pada sebuah agensi model bernama V-Vanguard Management.

Penulisnya, Kayla Anindita, bahkan menyertakan grafik perbandingan yang begitu presisi antara biaya perawatan mesin fiktif dan penyusutan aset yang dimanipulasi.

Brak!

Baskoro berdiri begitu cepat hingga kursi kerjanya terdorong ke belakang. Kopi di cangkirnya hampir saja tumpah mengenai celananya, tetapi dia tidak peduli. Dia langsung menekan tombol print, menyambar lembaran-lembaran kertas yang baru keluar dari mesin pencetak, lalu setengah berlari keluar dari kubikelnya menuju ruangan Partner Utama—pimpinan tertinggi firma hukum dan audit mereka.

"Pak! Kita harus lihat ini sekarang!" seru Baskoro tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Laporan dari pekerja lepas baru ini... ini bukan lagi sekadar draf kualifikasi. Ini adalah peluru untuk menghancurkan rencana investasi palsu PT Mahkota Karya!"

Sore harinya, pemandangan kontras tersaji di area lobi utama gedung pencakar langit Xavier Group yang megah di kawasan pusat bisnis Jakarta. Lantai granit hitam yang mengilat memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang mewah. Puluhan staf berbaju rapi berdiri berjejer dengan kepala sedikit menunduk, tidak ada satu pun yang berani bersuara keras.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan pintu lobi kaca. Seorang petugas keamanan dengan cekatan membukakan pintu belakang.

Seorang pria dengan tinggi tegap melangkah keluar. Devan Xavier. CEO muda dari Xavier Group itu mengenakan setelan jas hitam custom-made yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.

Rambutnya ditata rapi ke belakang, menampilkan dahi yang tegas dan sepasang mata elang yang dingin, tajam, dan tidak bersahabat. Langkah kakinya yang dibalut sepatu pantofel kulit terdengar mantap dan mengintimidasi saat dia memasuki lobi.

Di belakangnya, sang sekretaris pribadi, tatapan matanya panik, berjalan tergesa-gesa menyamakan langkah sembari menyodorkan sebuah tablet digital yang layarnya menyala.

"Tuan Devan, mohon maaf mengganggu waktu Anda sebelum rapat," bisik sekretaris itu dengan suara gemetar. "Ada kiriman dokumen darurat dari Pratama & Co. Ini mengenai laporan keuangan internal PT Mahkota Karya yang akan menandatangani kontrak investasi dengan kita setengah jam lagi."

Devan tidak menghentikan langkahnya. Dia memasuki lift privat khusus CEO, lalu mengulurkan tangan kirinya tanpa menoleh. Sekretarisnya dengan sigap meletakkan tablet tersebut di telapak tangan Devan.

Di dalam lift yang bergerak naik dengan cepat, sepasang mata Devan membaca data analisis forensik keuangan yang dikirimkan. Begitu matanya menangkap nama V-Vanguard Management dan skema pencucian uang bernilai ratusan miliar di sana, sudut bibir Devan terangkat tipis. Bukan senyuman ramah, melainkan sebuah seringai dingin yang mengerikan.

Devan paling membenci dua hal di dunia ini: pengkhianatan dan orang yang mencoba membodohinya dalam bisnis.

"Jadi, mereka ingin aku menanamkan modal triliunan di perusahaan yang sebenarnya sudah dirampok dari dalam oleh tikus-tikus ini?" suara Devan terdengar berat dan teramat dingin, membuat atmosfer di dalam lift seketika terasa mencekik.

Dia mengembalikan tablet itu ke sekretarisnya. "Cetak laporan ini sekarang. Bawa langsung ke ruang rapat VIP."

Sementara itu, di dalam ruang rapat VIP Xavier Group yang super mewah, suasana justru terasa sangat kontras. Sebuah meja marmer panjang dikelilingi oleh kursi-kursi kulit premium.

Adrian Wijaya duduk di salah satu kursi dengan senyum percaya diri yang tidak pernah lepas dari wajah tampannya. Sebagai CEO Wijaya Corp yang menjadi mitra pendamping PT Mahkota Karya dalam proyek ini, dia merasa hari ini adalah hari keberuntungannya. Jika kontrak dengan Xavier Group ditandatangani sore ini, nama Wijaya Corp akan melambung tinggi di bursa saham.

Di sudut ruangan, sofa khusus tamu diisi oleh Valerie Amanda. Wanita itu mengenakan gaun desainer berwarna merah menyala yang sangat modis, sibuk memeriksa riasan wajahnya di cermin kecil sembari sesekali melemparkan senyum manja ke arah Adrian. Valerie merasa sangat bangga karena agensi modelnya, V-Vanguard, juga kecipratan nama besar dari proyek ini.

"Adrian, setelah tanda tangan ini selesai, kita harus merayakannya di restoran mewah yang kemarin aku bicarakan, ya?" bisik Valerie pelan, suaranya terdengar manja di antara obrolan para direksi PT Mahkota Karya.

"Tentu saja, sayang. Apa pun untukmu," jawab Adrian setengah berbisik, matanya berkilat penuh kesombongan.

Pikiran tentang Kayla yang dia buang di jalanan sama sekali tidak terlintas di kepalanya. Di matanya saat ini, hanya ada kesuksesan, kemewahan, dan wanita cantik di sampingnya.

Klek.

Pintu ganda ruang rapat yang berlapis peredam suara terbuka lebar.

Seluruh obrolan di dalam ruangan seketika terhenti. Adrian dan jajaran direksi PT Mahkota Karya langsung berdiri dari kursi mereka, bersiap menyambut sang penguasa Xavier Group dengan senyuman terbaik mereka.

Devan Xavier melangkah masuk. Auranya begitu pekat dan menekan, membuat senyum di wajah Adrian perlahan-lahan agak kaku. Adrian melangkah maju, mengulurkan tangan kanannya dengan formalitas tingkat tinggi. "Selamat sore, Tuan Devan. Suatu kehormatan bagi kami—"

Devan bahkan tidak melirik tangan Adrian yang melayang di udara. Pria itu berjalan melewati Adrian begitu saja, menarik kursi utama di ujung meja, lalu duduk dengan gerakan yang teramat anggun namun dingin.

Sekretaris Devan masuk di belakangnya, lalu meletakkan sebuah map dokumen tebal berlambang Pratama & Co tepat di atas meja marmer di depan Devan dengan suara gebrakan pelan yang bergaung mematikan di dalam ruangan yang mendadak senyap itu.

Devan menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menatap lurus ke arah Adrian dan jajaran direksi di depannya dengan tatapan mata yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.

"Mari kita lewati basa-basi sialan ini," ucap Devan, suaranya tenang namun terdengar sangat berbahaya. "Dan mari kita bahas tentang bagaimana cara kalian menjelaskan aliran dana fiktif ke V-Vanguard Management sebelum aku memanggil polisi ke ruangan ini."

Seketika itu juga, wajah Adrian Wijaya berubah pucat pasi, dan lipstik merah di bibir Valerie yang semula tersenyum manis mendadak membeku total. Di dalam ruangan itu, jebakan yang disusun Kayla dari ranjang rumah sakit baru saja menutup, mengunci mangsanya rapat-rapat.

1
Mundri Astuti
bukannya Kayla dpt bonus ma dp byran tenaganya yak, knapa ga ambil kosan yg bersihan minimal, kan anakmu masih merah kayla
marwah: abis biaya rumah sakit kak Kayla disana 2 minggu devan bayar nya cuman seminggu
total 1 replies
Hari Saktiawan
cerita yang bagus lanjut
Mundri Astuti
next thor
Mundri Astuti
masih kurang thor 😄
Mundri Astuti
tegang juga euy
Mundri Astuti
kereennn kamu Kayla
Mundri Astuti
jangan lupa gugat cerai si bunglon Kayla, tapi sebelumnya kamu harus kuat dulu secara finansial biar bisa melindungi arsen
Yusria Mumba
ya nangung cerita ny pendek, nda seru ahh
marwah: terimakasih kakak cantik udah mampir dan dukung ceritaku mohon sabar ya author lagi bingung bikin jalan Kayla kedepannya, kan dia gak punya apa-apa sekarang kalo langsung ngemis ke devan jadinya gak seru😇😇
total 1 replies
Yusria Mumba
laki2 kurang ajar,
Yusria Mumba
nayla kenapa mesti berhan,pergi aja
rumah poke
mau nyimak dl
𝚔𝚞𝚌𝚒𝚗𝚐 ამოყჹ
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!