PERHATIAN!!!
Jika ingin membaca cerita ini siapkan mental. Takutnya bisa baper stadium akhir dan yang nulis gak tanggung jawab jika bibir kalian gak bisa berhenti ketawa.
Kata orang menjadi cewek cantik itu terlalu beruntung. Karena dipikir banyak yang demen. Tapi apa jadinya jika seorang cewek kaya Ghea Virnafasya yang jutek dan menjadi badgirl di sekolahnya masihlah jomblo.
Tahukah jika kadar kecantikan dan kejutekannya itu terlalu akurat stadium akhir?
Dia, Ghea Virnafasya cewek cantik jomblo abadi yang gak suka pacaran. Dia inginnya langsung menggelar nikahan.
Tapi apa kejutekan dan kenakalannya akan bisa berakhir? Apa Ghea akan sadar dan bertaubat setelah bertemu dengan seorang guru baru yang tampan nya naudzubillah bak aktor Yang yang, mengajar di kelasnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Gery Penuh Teka-teki
UHUK UHUK UHUK
Aduh, saking lekatnya menatap Pak Gery, Ghea sampai tersedak air minumnya. Refleks Pak Gery menjauhkan bibir botol dari bibir Ghea. "Gak papa?" Pak Gery bertanya dengan raut khawatir dan - bersalah. Untung saja air dari mulut Ghea tidak memuncrat ke wajah Pak Gery seperti waktu di dapur rumah Pak Gery dulu.
"Ehkem ... astaga, maaf, Pak, maaf," ujar Ghea menepuk-nepuk dadanya pelan. "BTW Bapak ngapain kemari?" Ghea bertanya sembari mengalihkan tatapannya dari Pak Gery. Ghea tidak ingin kembali tersedak lagi karena lama-lama memandang wajah perfect di depannya ini.
"Ada masalah?" Pak Gery menjawab dengan nada sinis.
"Eh ... bukan! Tidak ..., tidak ada masalah, sih, Pak. Cuma ini kan, masih jadwal kamu mengajar. Kenapa ke kantin?"
"Kamu sendiri kenapa ke kantin? Saya menyuruh kamu keluar kelas bukan untuk datang ke sini. Tapi ke UKS!"
"Eh ..." Ghea tersentak. Kaget. Kenapa Pak Gery jadi cerewet seperti ini? "Saya gak bisa ke UKS sendiri, masalahnya, Pak. Takut saya." Pengennya kepala saya diusap-usap aja sama kamu. Imbuh Ghea dalam hati. Ah, andai Pak Gery peka dengan kemauan Ghea. Tapi beribu sayang, berapa kali Ghea selalu memberi kode pada Pak Gery. Hasilnya kepekaan Pak Gery memang lah sangat minus.
"Takut?" ulang Pak Gery dengan dahi yang terlipat. Ghea mengangguk. "Katanya di UKS ada hantunya." Kelakar Ghea. Yang membuat Pak Gery semakin menautkan kedua alisnya. Bingung.
**
Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Semua murid sudah keluar dari kelasnya. Termasuk kelas Pak Gery mengajar. Mereka sudah meninggalkan meja kursi masing-masing.
Pak Gery membereskan buku-buku materi di mejanya. Kemudian mengambil hand phone saat benda pipih itu bergetar. Satu pesan masuk. Pak Gery membukanya yang ternyata pesan itu dari Papa Dika.
Ia mengesah ketika usai membaca pesan singkat dari Papa Dika - yang harus membeli cincin untuk pertunangannya dengan Ghea. Padahal Pak Gery lagi ada janji sama temannya. Huh, Papa Dika ini ada-ada saja. Padahal masih tiga hari ini acaranya. Tapi Papa Dika sudah heboh sekali.
Haruskah Pak Gery mengajak juga temannya itu?
"Hatchiii"
Eh, Pak Gery tersentak. Di pikir, di kelas itu sudah tidak ada orang. Ternyata Ghea masih stay di kelas. Ia duduk di meja paling pojok. Pantas saja Pak Gery tidak menyadarinya.
"Hatchiii"
Ah, Ghea rasa obat yang tadi dikasih Pak Gery pun masih tidak mempan. Ia masih bersin-bersin. Dan sekarang hidungnya pun semakin merah. Padahal sejak tadi Pak Gery mengajar pelajaran kedua. Ghea aman-aman saja. Kenapa sekarang bersin-bersin lagi?
"Kamu. Kenapa masih ada di sini?" Pak Gery bertanya. Bangkit dari duduknya lalu menyandarkan bokongnya pada meja kebesarannya. Kedua tangannya terlipat di atas dada. Dan tumit kakinya juga saling menyilang. Matanya tajam menyorot Ghea.
"Eh, saya kira juga Bapak sudah keluar." Karena Ghea sedari pelajaran kedua dimulai. Ia tidur. Meringkuk di atas kursi yang disatukan.
Di pikir Pak Gery, Ghea tidak hadir di meteri pelajaran keduanya karena istirahat di UKS. Jadi Pak Gery tidak menanyakan lagi pada ketua kelas. Tama.
"Kamu tidur di sana?" Pak Gery bertanya. "Kenapa?" Bukannya menjawab. Ghea justru melempar pertanyaan pada Pak Gery. Ia membereskan buku tulis dan penanya.
"Heuh?"
"Iya saya tidur di sini, Pak. Heheh ... Bapak kenapa masih di sini?" Ghea bertanya. Ia bangkit dari duduknya setelah memasukan barang-barangnya ke dalam tas. "Aku mau pulang." Menyampirkan tas itu ke pundaknya. Ghea berjalan melewati Pak Gery yang sedang berdiri di posisinya.
Emang ada yang nanya? Batin Pak Gery.
"Eh, tunggu!" Tangan Ghea tertahan oleh Pak Gery. Ia menoleh. Sesaat menatap netra Pak Gery lalu tak berapa lama beralih ke pergelangan tangan yang ditahan.
"Eh, sorry!" Ketika Pak Gery melihat gerakan mata Ghea. Refleks ia melepaskan cekalannya.
"Kenapa?" Ghea bertanya bingung.
"Beli cincin!"
"Heuh?" Ghea bergumam dengan lipatan kening yang terlihat beberapa lapisan.
"Eum ... maksud saya. Kita beli cincin untuk pertunangan. Saya tidak tahu ukuran jari kamu."
Lagi pula kenapa Pak Gery tho the point banget, sih? Kenapa gak tanya basa-basi dulu. Pulang sama siapa, misal? Ah, Ghea lupa kalau cowok di depannya ini adalah manusia paling minus peka.
"Eumm ..." Ghea menahan bola matanya di atas. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk tali tas yang tersampir di bahunya. Ghea berbikir. Kalau menolak, sayang banget. Kan bisa sekalaian jalan sama doi. Tapi kalau diiyain kepala Ghea pening terus malu bersin-bersin mulu. So, baiknya gimana, ya?"
"Jangan banyak mikir!" Tanpa persetujuan dari Ghea. Pak Gery memutarkan tubuhnya. Mendorong punggung Ghea sampai ke depan pintu.
"Eh - eh, Pak. Kan aku -"hatchiii-"
"Ingat, poin kedua!" Menekan kata terakhir. Pak Gery menarik tangan Ghea. Tapi itu hanya sampai melewati kelas mereka - yang sepi. Setelahnya Pak Gery melepaskan tangan mulus Ghea itu. Auto berjalan di depan Ghea. Tak lupa dua tangannya ia masukan ke dalam saku celana. Lagi-lagi perlakuan Pak Gery itu membuat Ghea tidak mengerti.
Aneh gue. Kenapa gue mau banget dinikahin sama Pak Gery. Padahal dia banyak banget maunya. Nikah aja harus tanda tangan kontrak segala, masa? Ini mah pernikahan untung di dia rugi banget di gue. Awalnya gue pikir dijodohin sama doi bakalan enak. Punya suami cakep. Eh buset ... tahu-tahunya gue ngerasa dirugiin gini. Tapi kalau sekarang gue nolak? Yakali gue jomblo seumur hidup.
"Hey!" Menjentikan dua jari ke wajah Ghea. Pak Gery yang sudah beberapa jauh melangkah. Kembali lagi melangkah pada Ghea ketika melihat cewek itu hanya diam terpaku di tempatnya. Ya karena Ghea sedang membatin.
"Eh ..." Ghea kaget. Bulu matanya mengerjap cepat. "Mau di sini aja sampai malam?" tanya Pak Gery. Kini tangan itu bersedekap. Matanya yang tajam membuat Ghea keleyengan. Auto terpana. Lagi. Ah, sial!
"Nggak! Aku-"
Dreeettt dreettt
Kalimat Ghea tertahan saat hand phone Pak Gery kembali bergetar.
"Hallo. Kenapa?" Pak Gery menempelkan benda pipih itu saat sudah menggeser ikon hijau. Dan satu tangan lagi menarik pergelangan tangan Ghea. Auto tertohok. Ghea hanya mampu mengerjap berulang-ulang sambil matanya mengikuti tangan yang ditarik Pak Gery. Keduanya berjalan bersama. Pak Gery berjalan di depan sambil menerima telepon. Dan Ghea mengikuti langkah Pak Gery di belakang. "Oke, aku lagi jalan ke sana. Kamu tunggu di luar gerbang aja, ya!" sahut Pak Gery. Berbicara dengan orang di sebrang sana - yang entah siapa.
Ghea yang diam-diam curi dengar, pun menarik satu alisnya. Aku, kamu? Pak Gery lagi ada janjian? Terus kenapa ngajakin gue cari cincin?" Ghea bertanya dalam hatinya. Pak Gery ini masih banyak teka-tekinya. Membuat Ghea semakin bingung. Apa iya, papanya akan menjodohkan Ghea dengan Pak Gery? Yang sama sekali Ghea belum tahu aslinya.
Ah, kenapa sekarang Ghea jadi gamang gini, sih? Bukannya dari awal Ghea tahu cowok yang akan dijodohkannya sangat senang? Kenapa sekarang seolah Ghea ragu, ya?
"Hay!" sapa orang yang sedang bersandar pada badan mobil. Ia melambaikan tangannya. Refleks Pak Gery melepaskan tangan Ghea. Ia berjalan lebih dulu dan semakin cepat melangkah ke arah orang itu - orang yang memang menunggu Pak Gery. Senyum orang itu sangat manis - cantik. Karena dia cewek. Wajah orientalnya mampu membuat Ghea merasa minder. Cantik banget dia asli. Ghea aja sampai terhipnotis. Nah, apa kabar dengan Pak Gery?
Tubuh Ghea menegang di tempat, ketika melihat intraksi antara Pak Gery dan cewek itu. Pakai cipika-cipiki lagi. Kan Ghea cemburu.
Dia pacar Pak Gery? Otak Ghea mulai berspekulasi.
TBC
Eh eh kok gini?
Siapa tuh cewek berwajah oriental. Gue bukan, sih? hahahaha
Selamat berdebar gaysssss !!!
Maafkeun autor gaje yang telat update. Semalam asli ngantuk banget. (curhat)
mengecewakam
Sukses bwt karyanya