Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang manipulator
Malam itu juga, Devina tidak bisa menunggu hingga esok. Dadanya terasa sesak seolah oksigen dikamarnya telah habis dihisap oleh kata kata Aruna. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengetik pesan kepada Faisal.
Devina. (19.10) : Sal, temuin aku ditaman komplek perumahan. Sekarang. Kalo kamu ga datang, jangan pernah cari aku lagi.
Faisal yang sedang melamun diteras seketika bergegas tanpa membalas pesan Devina.
Faisal tiba dengan nafas memburu. Ia masih mengenakan jaket yang sama dengan yang ia gunakan saat mengejar taksi tadi pagi. Dibawah lampu jalan yang bersinar, ia melihat Devina berdiri tegak, namun tatapannya terlihat begitu dingin, lebih dingin dari angin malam yang berhembus.
" Dev, syukur kamu mau ketemu...."
" Tadi Aruna nelpon aku," potong Aruna cepat. Kalimat itu langsung membungkam Faisal.
Devina melangkah mendekat, menatap tajam ke arah Faisal yang tampak bingung.
" Dia minta maaf. Tapi dia juga bilang sesuatu yang menarik, dia bilang kamu ngerasa tertekan sama aku. Dia bilang kamu ngerasa lebih bebas dan jadi diri sendiri waktu lagi sama dia. "
Faisal tercengang.
" Apa? Aku ga pernah bilang gitu, Na. Aku cuma...."
" Jujur, Sal! " bentak Devina, air matanya mulai menetes namun suaranya tetap tegas. " jangan kasih aku alesan lagi. Aku mau kamu jujur sama diri kamu sendiri. Apa bener selama ini kamu ngerasa terbebani sama ambisi aku? Apa bener kehadiran aku selama ini bikin kamu ngerasa tertekan? Sementara kehadiran Aruna bikin kamu ngerasa.......nyaman? "
Faisal terdiam seribu bahasa, lidahnya kelu. Ia ingin membantah, tapi dilubuk hatinya yang paling dalam, ia teringat percakapan nya dengan Aruna dikantin. Ia teringat bagaimana ia mengiyakan ucapa Aruna bahwa ia merasa lelah dengan aturan aturan Devina.
" kenapa diem, Sal? apa karena semua yang aku omongin ini bener? " suara Devina melemah, penuh kekecewaan.
" Jujur, Aku..... Aku emang sempet ngerasa cape, Na. " Faisal akhirnya mengaku dengan suara rendah. " Tapi itu bukan berarti aku mau balik sama dia, aku cuman ngerasa akhir akhir ini kamu selalu sibuk sama kehidupan kamu sendiri, kamu jarang ngabarin aku, Na. Dan bahkan kadang lupa. Aku ngerasa kehadiran aku dihidup kamu tuh ga ada gunanya, aku kangen sama kamu, Na. "
Devina mundur selangkah.
" Jadi, kamu lebih milih lari ke masalalu kamu daripada ngomong sama aku? Kamu ngebiarin dia nyentuh kamu, ngebiarin dia dengan leluasa ngasih perhatian perhatian kecil, dan ngebiarin dia masuk ke celah hubungan kita cuman karena kamu cape? "
" Aku salah, Na. Aku pengecut, aku terlalu takut untuk jujur ke kamu soal apa yang aku rasain belakangan ini. Dan Aruna.... Dia ada disamping aku diwaktu yang tepat. " Faisal menunduk, tidak berani menatap mata Devina.
Devina menghapus air matanya dengan kasar.
" Dia bukan ada diwaktu yang tepat, Sal. Tapi dia sendiri yang ciptain waktu yang tepat itu. Dan kamu dengan bodohnya malah masuk ke perangkapnya. Kayanya kamu emang bener bener gagal lupain dia. "
Devina menarik nafas panjang, mencoba menstabilkan suaranya.
" Sekarang aku tanya satu hal untuk yang terakhir kali. Dan aku mau, kamu jawab jujur, tanpa tapi. Apa kamu masih punya perasaan ke dia? Bukan cuman rasa kasihan, tapi perasaan yang bikin kamu ngerasa bebas itu? "
Faisal menatap Devina. Di kepalanya berputar bayangan Devina yang menuntutnya maju, dan bayangan Aruna yang membiarkannya tetap bergerak bebas. Keraguan itu terpancar jelas dimatanya, dan bagi Devina. Keraguan Dimata Faisal adalah jawaban yang paling menyakitkan.
Suasana ditaman yang sunyi itu semakin mencekam ketika sebuah bayangan muncul dari balik pepohonan. Aruna melangkah keluar dengan raut wajah yang tampak sangat prihatin, seolah ia adalah juru selamat yang datang di waktu yang tepat.
sebenarnya, ia sudah membuntuti Faisal sejak meninggalkan rumah.
" Devina, Faisal..... Tolong, jangan berantem kaya gini. " suara Aruna memecah ketegangan.
Ia berjalan perlahan ke tengah tengah mereka, menempatkan dirinya tepat diantara Faisal dan tertunduk dan Devina yang hancur.
Devina menatap heran ke arah Aruna.
" Kamu.... Kenapa kamu ada disini? "
Aruna tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia menoleh ke arah Faisal, menyentuh lengannya dengan lembut sebelum beralih menatap Devina.
" Aku tadi ga sengaja liat Faisal buru buru keluar dari rumah, mukanya kaya lagi panik banget, aku takut dia kenapa kenapa dijalan, jadi aku ikutin. Dan ternyata bener, kalian malah makin salah paham karena telepon aku tadi. "
" Salah paham? Kamu gausah pura pura deh, Na. " Devina tersenyum sinis. " Barusan Faisal ngaku, dia udah bilang semuanya. Ngga ada yang salah paham disini. "
Aruna menghela nafas panjang, matanya berkaca kaca menatap Devina.
" Dev, kamu harus ngerti. Faisal itu sayang banget sama kamu. Tapi dia juga manusia biasa, dia butuh sedikit ruang, apa kamu ga sadar kalo setiap kali kamu fokus sama nilai dan olimpiade ada Faisal yang kangen sama kamu disini? Waktu dia pengen nelpon kamu, kamunya selalu sibuk. Dia ga butuh apa apa selain waktu kamu, Dev. Dia butuh pasangannya. "
Aruna kemudian berbalik menatap Faisal, suaranya melunak, penuh manipulasi.
" Sal, kamu jangan salahin Devina juga. Dia ambisius karena dia pengen masa depan kalian bahagia, walaupun ya.... caranya mungkin bikin kamu ngerasa tertekan. Kamu inget gimana kita dulu kan, Sal? Aku yang dulu sama kaya Devina sekarang, cuman bedanya kita masih bisa ketemu setiap hari. "
Kata kata ' bisa ketemu setiap hari ' itu seperti bensin yang dilemparkan ke dalam api di hati Devina. Aruna sedang menunjukan secara terang terangan bahwa ia memahami Faisal jauh lebih baik daripada dirinya.
" Cukup, Na! " bentak Devina. " kamu gausah sok jadi penengah. Ini semua rencana kamu kan? Kamu sengaja nyari celah buat masuk ke hubungan kita? "
Aruna menunduk, bahunya bergetar seolah ia sedang menahan tangis karena di sudutkan.
" Aku cuma pengen bantu kalian, Dev. Aku gamau liat Faisal menderita terus karena harus pura pura kuat didepan kamu. Kalo kamu emang sayang sama dia, harusnya kamu bahagia kalo dia lagi kangenin kamu, kamu harusnya ngebiarin dia jadi dirinya sendiri, jadi support system buat dia, meskipun itu bukan disamping kamu. "
Aruna menoleh pada Faisal yang tampak bingung.
" Sal, mungkin lebih baik kalian tenangin diri dulu. Jangan ambil keputusan pas lagi emosi. Kalo kamu butuh tempat buat tenangin pikiran, aku selalu ada disamping kamu, Sal. "
Aruna sengaja menciptakan pemikiran bahwa Devina adalah sumber penderitaan dan dirinya adalah pelabuhan yang damai. Ia menatap Faisal dengan tatapan memohon, sebuah tatapan yang menuntut perlindungan. Faisal merasa terpojok oleh kemarahan Devina, dan secara refleks bergeser sedikit ke arah Aruna.
Gerakan kecil itu adalah pukulan terakhir bagi Devina.
- hebat banget kamu, Na. Kamu ngebuat aku keliatan kaya penjahat dihubungan yang aku bangun sendiri dengan air mata. Gumam Devina.
Keputusan Devina malam itu adalah keputusan yang paling berat yang pernah ia ambil. Ia merasa harga dirinya telah diinjak injak oleh manipulasi Aruna. Namun disisi lain, denyut cintanya untuk Faisal masih berdegup di frekuensi yang sama.
Devina menatap Faisal untuk yang terakhir kalinya malam itu. Air matanya sudah kering, digantikan oleh sorot mata yang letih namun penuh ketegasan. Ia melihat Faisal yang berdiri disamping Aruna, sebuah pemandangan yang mengiris hatinya, namun ia menolak untuk terlihat hancur lebih lama lagi.
" Oke, aku pergi. Aku biarin kalian berduaan disini untuk nikmatin kebebasan yang kalian omongin tadi. " suara Devina terdengar tenang, namun bergetar.
" Tapi, Na. Aku...... "
Faisal ingin melangkah maju, tapi lidahnya masih tertahan oleh rasa bersalah yang mencekik.
Aruna disisi lain, mencoba menahan senyum kemenangannya.
Sebelum benar benar berbalik, Devina berhenti sejenak.
" Sal, rasa sayang aku ke kamu ga pernah berubah secepat itu. Tapi kepercayaan aku ke kamu udah ga ada. Aku kasih kamu kesempatan terakhir. Satu kesempatan buat kamu untuk ngebuktiin kalo semua ini bener bener cuman salah paham, dan bukan karena kamu yang pengen balik ke masalalu. "
Devina menunjuk Aruna dengan dagunya tanpa menoleh.
" Buktiin ke aku lewat tindakan, Sal. Bukan sekedar kata kata atau janji. Kalo emang kamu gabisa nunjukin dimana rumah kamu yang sebenernya, anggap aja kita ga pernah saling kenal. "
Faisal hanya berdiri mematung, menatap punggung Devina dengan rasa bersalah yang sangat dalam.
Tanpa menunggu balasan, Devina berjalan menjauh. Langkah kakinya terdengar tegas diatas aspal taman, meninggalkan Faisal yang termangu dan Aruna yang merasa posisinya terancam kembali.
Setelah Devina menghilang di kegelapan malam, taman itu terasa sangat dingin bagi Faisal. Aruna mencoba mencairkan suasana dengan menyentuh lengan Faisal lagi.
" Apaan sih, Na. lepasin! " ucap Faisal tegas.
" Sal, kamu liat kan? Dia egois. Dia masih aja ngasih kamu syarat dan tekanan disaat kamu lagi kacau gini, mending kita......"
" Cukup, Na. Seenggaknya dia ga ninggalin aku demi cowo lain. Kamu inget dulu? situasi nya mirip kaya gini, tapi kamu lebih milih nyari cowo baru daripada dengerin penjelasan aku. Aku gamau ngelakuin apa yang kamu lakuin ke aku dulu. " Faisal menyentakkan tangannya dengan kasar. Ia menatap Aruna dengan pandangan yang berbeda, bukan lagi pandangan yang penuh rasa kasihan, melainkan pandangan penuh kekecewaan.
" Dia baru aja ngasih aku kesempatan, dan sekarang aku bener bener sadar, di setiap detik yang aku abisin sama kamu, itu justru ngebuat aku semakin kehilangan dia. "
Aruna terpaku, tangisnya pecah. Bayangannya kembali pada masalalu, dimana dia yang mengabaikan permintaan maaf Faisal demi Arya. Ia merasa sangat menyesali keputusannya.
- Sal, aku tau aku salah. Tapi aku gabisa liat kamu bahagia sama orang lain. Aku sadar aku egois, tapi cuman ini yang bisa aku lakuin buat kamu. Maafin aku Sal. Gumam Aruna.