"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Wajah yang Berubah, Mata yang Tak Lagi Berkilat Cinta
Di sebuah kota perbatasan yang ramai dan penuh dengan pelacur serta penjudi, Li Yao duduk sendirian di sudut kedai minuman yang remang-remang. Ia memakai topi lebar dan jubah tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, berusaha menyembunyikan identitasnya.
Namun, bahkan tanpa melihat wajahnya secara jelas, aura yang ia pancarkan sudah cukup membuat orang-orang di sekitarnya enggan mendekat. Meja-meja di sebelahnya kosong melompong, seolah ada tembok tak kasat mata yang memisahkannya dari dunia luar.
Seorang pelayan wanita yang bertugas mengantar minuman mendekat dengan gemetar. Ia berani menatap sekilas ke arah wajah pria itu saat meletakkan cangkir teh.
"Ini tehnya, Tuan..." bisik pelayan itu takut-takut.
Namun saat matanya tak sengaja bertemu dengan tatapan mata pria itu, pelayan itu tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan nampannya.
Mata itu...
Dingin. Gelap. Dan sama sekali tidak memiliki kehidupan.
Li Yao menyadari reaksi orang itu. Ia tidak marah, ia hanya mengambil cangkir teh itu dan menyesapnya pelan.
'Apa yang mereka lihat saat menatapku?' batinnya bertanya.
Ia teringat masa lalu. Dulu, saat ia masih Li Yao yang polos, orang-orang sering bilang matanya bersinar hangat seperti matahari pagi. Ling Qingyu bahkan sering bilang bahwa matanya adalah cermin dari hati yang bersih.
'Itu dulu...'
Dengan gerakan perlahan, Li Yao merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah cermin perak kecil yang dirampasnya dari salah satu korban. Ia mengangkat cermin itu, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini, ia melihat pantulan dirinya sendiri dengan jelas.
Dan apa yang ia lihat... membuatnya sendiri pun tertegun sejenak.
Wajah di hadapan cermin itu bukan lagi wajah anak muda yang ceria.
Wajah itu kini terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Kulitnya tampak gelap dan kasar karena terbakar sinar matahari dan angin pegunungan. Jenggot tipis tumbuh rapi namun memberikan kesan garang dan mematikan. Bekas-bekas luka perang melintang di pipi dan dahinya, menambah kesan kejam pada wajah itu.
Tapi yang paling mencolok... adalah matanya.
Dulu, bola matanya berwarna hitam biasa dengan cahaya putih yang memantul. Kini, bagian putih matanya justru terlihat sedikit kemerahan, dan pupil hitamnya sedemikian pekat, tanpa ada pantulan cahaya lampu atau apapun di dalamnya.
Itu adalah mata orang yang sudah melihat terlalu banyak kematian. Mata iblis.
"Ha..." Li Yao tersenyum kecil di depan cermin. Senyum itu kaku, dan tidak sampai ke mata. "Wajah ini... sungguh mengerikan. Bahkan aku sendiri pun takut melihatnya."
"Hei, Kakak! Jangan duduk sendirian dong! Main sama kami yuk!"
Tiba-tiba dua orang wanita penghibur mendekat, berusaha menggoda dan menarik pelanggan. Mereka tidak tahu bahaya yang sedang duduk di hadapan mereka.
"Wajahmu serius sekali, Kak. Kenapa tidak tersenyum? Senyum itu manis lho," kata salah satu wanita itu sambil mencoba menyentuh tangan Li Yao.
Namun, saat wanita itu melihat wajah Li Yao yang terangkat dari balik bayangan topi...
Wanita itu langsung membeku. Senyum di bibirnya hilang seketika, digantikan oleh rasa ngeri yang luar biasa.
"Kau... kau ini..." wanita itu mundur teratur, wajahnya pucat. "Maaf... saya... saya salah orang..."
Mereka berdua langsung lari menjauh secepat mungkin, seolah baru saja melihat hantu penasaran.
Li Yao menurunkan cerminnya kembali, wajahnya kembali datar.
"Lihat? Bahkan wanita yang biasanya ramah pada siapa saja pun takut padaku," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. "Mereka tidak melihat manusia di sini. Mereka melihat monster."
Dan itu benar.
Cahaya cinta yang dulu selalu bersinar di matanya telah padam digantikan oleh es abadi. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi keramahan, tidak ada lagi kilatan kasih sayang.
Yang tersisa hanyalah dua buah lubang hitam yang menelan segala harapan.
"Bagus. Semakin mereka takut, semakin mudah bagiku," ucapnya dingin. "Biarkan wajahku berubah menjadi setan. Biarkan matanya kehilangan cahayanya. Itu adalah harga yang harus dibayar."
Ia meletakkan beberapa keping uang emas di meja, lalu berdiri. Tinggi badannya yang menjulang membuat bayangannya tampak sangat besar dan gelap di dinding.
"Dulu, aku tersenyum karena aku bahagia. Sekarang, aku hanya akan tersenyum... saat melihat nyawa musuh melayang dari tubuh mereka."
Li Yao melangkah keluar dari kedai itu, menghilang ke dalam keramaian kota malam. Orang-orang berjalan kesana kemari, namun tidak ada satu pun yang berani menatap matanya. Mereka tahu secara naluriah: Jangan ganggu binatang buas yang sedang lapar.