NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Genggaman Jiang Xuan pada tangkai tulang itu mengeras.

Sensasi dingin yang luar biasa merayap melalui pori-porinya seketika. Itu bukan rasa dingin yang membekukan darah layaknya Qi elemen es milik Lin Ruoxue, melainkan dinginnya kematian absolut dari kuburan tak bernisan. Di kedalaman lautan kesadarannya, memori dari tiga ratus tahun pembantaian bangkit meraung, menyambut benda kuno di tangannya layaknya kawan lama.

Jiang Xuan menunduk menatap pena kuas tersebut, sepasang mata gelapnya memancarkan arogansi kelam yang tidak terbendung.

Di kehidupan masa lalunya, berabad-abad dari titik ini, Jiang Xuan memanjat keluar dari tumpukan mayat di sebuah sekte yang terbakar untuk menemukan sebuah perkamen kulit manusia yang nyaris hancur. Kitab usang itu berjudul 'Manual Tinta Kematian'. Kitab terkutuk itulah yang mengajarinya seni brutal Void Calligraphy, yang mengubahnya dari kultivator medioker tanpa bakat menjadi entitas yang dijuluki Cendekiawan Tinta Hantu.

Pemilik asli kitab tersebut adalah seorang eksekutor purba. Seorang pembantai dari era kuno yang meludah di wajah Hukum Langit dan merobek takdir musuh-musuhnya hanya dengan sapuan kuas. Sosok misterius itu menjadi satu-satunya entitas yang menjadi motivasi absolut Jiang Xuan. Selama ratusan tahun di kehidupan lalunya, Jiang Xuan membalikkan setiap batu, menghancurkan formasi pelindung klan-klan tua, murni untuk mencari senjata pasangannya: Pena Kuas Tulang ini.

Namun, hingga napas terakhirnya di ranah Jiwa Baru Lahir saat ia dikhianati dan dibunuh, ia tidak pernah menemukannya.

Jiang Xuan tertawa parau. Tawa yang sangat gelap, kering, dan penuh ejekan terhadap surga yang sedang ia permainkan.

"Betapa lucunya Hukum Langit sialan ini," bisiknya, suaranya menggema di aula makam yang dipenuhi puing-puing Golem Besi Darah.

Rasionalitas otaknya yang presisi segera merangkai kebenaran ironis ini. Di garis waktu aslinya, saat ekspedisi Reruntuhan Kuno ini dibuka, Jiang Xuan yang berusia lima belas tahun sedang memegang sapu lidi, menyapu halaman kotor sekte luar. Ia dianggap 'sampah' tahap dua Kondensasi Qi, bahkan tidak layak untuk dijadikan umpan meriam.

Sejarah asli mencatat bahwa tepat satu bulan setelah masa ekspedisi itu berakhir, Reruntuhan Kuno ini runtuh ke dalam tanah dan tertutup selamanya oleh segel spasial.

Ia tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat ini. Ia tidak pernah tahu bahwa Makam Sayap Barat di reruntuhan inilah tempat sang pembantai kuno bersemayam. Ia telah mencari senjata ini di seluruh penjuru Benua Biru dan Kehampaan, padahal senjata itu terkubur tepat di bawah hidung sektenya sendiri.

"Tetapi sekarang berbeda," Jiang Xuan menyeringai buas, memperlihatkan deretan giginya. "Efek Kupu-kupu yang kuciptakan dengan menghancurkan Ye Chen merusak tatanan surga. Hukum Langit memaksaku masuk ke sini sebagai pasukan perintis. Kesombongan surga justru mengantarkan taring asliku ke tanganku di usia lima belas tahun."

Ia harus menguji ketajaman taring barunya.

Jiang Xuan mengangkat Pena Kuas Tulang itu sejajar dengan matanya. Bulu hitam pekat dari ekor binatang misterius di ujung kuas itu tidak meneteskan tinta, namun memancarkan Niat Formasi yang begitu haus darah hingga udara di sekitarnya tampak beriak.

Tanpa perlu memeras tenaganya seperti sebelumnya, Jiang Xuan hanya mengalirkan setetes kecil energi Qi Kondensasi tahap empat ke dalam tangkai tulang tersebut. Kuas itu menyerap Qi-nya layaknya rawa yang kelaparan akan darah. Efisiensi konversinya sangat gila; tidak ada setitik pun energi yang terbuang sia-sia ke udara. Qi itu dimurnikan, dipadatkan dengan Niat Membunuh Jiang Xuan, lalu disalurkan ke ujung bulu hitam.

Dengan jentikan pergelangan tangan yang sangat malas dan efisien, Jiang Xuan mengayunkan kuas itu ke udara kosong.

Sret.

Tidak ada suara ledakan keras. Tidak ada fluktuasi Qi liar yang membutakan mata. Hanya sebuah garis hitam ilusi setipis rambut yang meluncur membelah ruang.

Garis Niat Formasi itu melesat tanpa suara dan menghantam sebuah pilar batu penyangga aula berdiameter dua meter yang tersisa dari amukan Golem.

Pilar raksasa itu diam tak bergerak selama tiga tarikan napas penuh. Lin Ruoxue yang memperhatikannya dari jauh nyaris mengira serangan itu gagal. Namun, pada detik keempat, bagian atas pilar batu itu bergeser mulus dan jatuh berdebum ke lantai. Permukaan potongannya sehalus cermin. Sempurna dan presisi absolut.

Jiang Xuan menurunkan tangannya. Jika ia menggunakan jari kosongnya untuk membelah pilar itu, ia harus mengorbankan separuh cadangan Qi-nya dan menanggung risiko pembuluh darah tangannya pecah. Dengan Kuas Tulang ini, daya hancurnya meningkat berlipat ganda, sementara konsumsi Qi-nya berkurang drastis. Ia kini bisa memotong leher kultivator tingkat Inti Emas tanpa harus mengorbankan fisiknya.

Tepat saat euforia kelam dan rasionalitas pembunuh itu merasuki otaknya, suara gesekan tulang yang mengganggu terdengar dari arah sudut ruangan.

"Kyuuu!"

Baozi melompat keluar dari dalam tumpukan tengkorak siluman dengan tubuh berdebu dan sayap kecil yang mengepak liar. Hidungnya yang luar biasa sensitif mengendus aroma energi padat dari tangkai tulang purba di tangan Jiang Xuan. Mengira benda itu adalah sisa tulang sumsum kuno yang lezat, gumpalan bulu putih itu melesat layaknya peluru, membuka mulut mungilnya lebar-lebar, dan berniat menggigit gagang kuas tersebut.

TRUK.

Gerakan Baozi terhenti membeku di udara.

Ujung bulu hitam dari Pena Kuas Tulang itu kini menempel tepat di ujung hidung mungil Baozi. Niat Membunuh purba yang memancar langsung dari ujung kuas itu seketika meresap ke dalam pori-pori si bola bulu, membuatnya merasakan teror absolut dari sang malaikat maut.

Jiang Xuan menatap makhluk bulat itu dengan mata sedingin dasar jurang neraka.

"Gigit tulang ini, keparat kecil," desis Jiang Xuan dengan nada kotor dan sangat tenang. "Gigit saja. Dan aku bersumpah malam ini aku akan mengulitimu hidup-hidup, mengeluarkan ususmu, dan memakainya sebagai tali ikat pinggangku."

Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur dari dahi Baozi. Makhluk itu menelan ludah dengan susah payah, matanya yang besar berkaca-kaca menatap ujung kuas pembawa maut tersebut. Dengan gerakan sangat lambat dan kaku, Baozi perlahan mundur, mendarat di lantai, berbalik, lalu memanjat kaki Jiang Xuan secepat kilat untuk bersembunyi kembali ke dalam kerah jubah. Ia mendengkur pura-pura tidur dengan tubuh gemetar.

Jiang Xuan mendengus meremehkan, mengabaikan peliharaannya. Ia memutar tubuhnya perlahan, ujung jubahnya menyapu debu makam. Matanya langsung terkunci pada Lin Ruoxue yang masih bersandar lemas pada puing-puing batu.

Gadis itu menatap senjata baru di tangan Jiang Xuan dengan kewaspadaan ekstrem. Naluri embrio Iblis Es Hitam di dalam dirinya memperingatkan bahwa remaja di depannya kini seratus kali lebih berbahaya daripada saat ia membunuh tiga murid senior dengan tangan kosong.

"Bangun, Tamengku," perintah Jiang Xuan dengan otoritas mutlak.

Tidak ada nada simpati dalam suaranya. Tidak ada pertanyaan apakah gadis itu masih bisa berjalan setelah kakinya robek dan bahunya terkoyak. Di mata Jiang Xuan, selama gadis itu masih bernapas, ia masih memiliki fungsi utilitas.

"Waktu istirahatmu sudah habis," tambahnya dingin.

Lin Ruoxue menggertakkan giginya hingga rahangnya sakit. Luka di betis dan punggungnya menjerit protes saat ia bergerak, tetapi Segel Teratai Hitam di dahinya berdenyut pelan, memberikan ancaman kepatuhan absolut. Ia meraih pedang bajanya, menggunakannya sebagai tongkat penyangga, dan memaksakan diri berdiri tegak meskipun kedua kakinya bergetar.

Jiang Xuan tidak mempedulikan penderitaannya. Ia menarik Peta Giok kuno yang dimuntahkan Baozi dari balik jubahnya. Cahaya Roda Langit menyala di mata kirinya, menyapu ukiran labirin rumit di permukaan batu giok tersebut, memetakan sisa jebakan dan jalur tersembunyi.

Area Makam Sayap Barat telah dibersihkan. Garis emas pada peta menunjukkan bahwa sebuah lorong rahasia di balik singgasana obsidian ini mengarah langsung menukik ke bawah. Menuju jantung dari struktur raksasa ini: Area Inti Reruntuhan.

Di sanalah harta sesungguhnya dari Reruntuhan Kuno ini disembunyikan. Namun, bukan hanya artefak mati yang terlintas di otak pragmatis Jiang Xuan.

Area inti adalah titik kumpul terakhir. Itu adalah tempat di mana sisa-sisa murid luar Sekte Awan Azure—mereka yang cukup beruntung, cukup licik, dan cukup kuat untuk bertahan hidup dari pembantaian siluman di pinggiran—akan berkumpul mencari jalan keluar atau harta penutup.

Selama satu bulan bertahan hidup, anjing-anjing sekte itu pasti telah memanen puluhan rumput roh langka, menjarah senjata berharga dari mayat kuno, dan memakan pil-pil berharga. Di mata Jiang Xuan, mereka bukanlah sesama murid seperguruan. Mereka adalah babi-babi gemuk yang sudah waktunya disembelih.

"Jalan ke depan. Kita menuju Area Inti," Jiang Xuan menunjuk lorong rahasia di balik singgasana menggunakan ujung Kuas Tulangnya.

Seringai buas, kejam, dan sangat efisien terukir di wajah sang Cendekiawan Tinta Hantu.

"Murid-murid sekte sampah yang berhasil mencapai pusat pasti sudah membawa banyak mainan bagus di kantong penyimpanan mereka," monolog Jiang Xuan, memastikan Lin Ruoxue mendengarnya. "Menjarah mayat kuno yang sudah berdebu memang menguntungkan. Tetapi membantai dan merampok mereka yang telah bersusah payah mengumpulkan harta untuk kita... itu jauh lebih efisien."

Jiang Xuan melangkah maju, mendorong punggung Lin Ruoxue secara kasar menggunakan hawa Niat Membunuhnya.

"Buka jalan untukku, Ruoxue. Jangan biarkan pedangmu menumpul. Hari ini, kita panen darah manusia."

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
serasa gigitan nyamuk, kata na 😱
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!