NovelToon NovelToon
Putri Penguasa Yang Terlupakan

Putri Penguasa Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rere Lumiere

Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.

Bagaimana kelanjutan cerita ku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semua Pergi

Shopia menatap kepergian Bima di depan villa setelah pria cukup muda itu mengantarkannya. Gadis kecil itu masih tertegun dengan kedua tangan yang saling bertaut. Dia tidak tahu nasib apa yang menantinya di tempat itu.

Sebenarnya dia mungkin bisa melarikan diri saat ini karena Linda sudah menghilang. Namun, tubuhnya yang begitu kecil pasti tidak akan kuat bertahan hidup di luar sana, pikirnya sembari menatap jari-jarinya yang mungil.

'Mungkin aku harus bertahan di sini sampai usiaku cukup kuat untuk hidup di luar, sambil mengumpulkan dana... yang entah dari mana,' pikirnya lagi sembari memegang dagunya berpikir keras.

Shopia membalikkan tubuhnya menuju pintu masuk villa yang terlihat begitu sepi, tanpa suara hiruk-pikuk para pelayan seperti biasanya, meskipun selama ini mereka hanya sibuk tertawa dan bermalas-malasan.

Shopia membuka pintu itu. Terlihat beberapa orang dengan kemeja hitam dan celemek di pinggang mereka mulai mengemasi barang-barang mereka dengan tergesa-gesa.

'Mau ke mana orang-orang ini?' gumamnya dalam hati, matanya mengawasi gerak-gerik mereka dari ujung ke ujung.

"Aku tidak bisa terus di sini, aku nggak bisa. Kau lihat kan nasib Linda dan anaknya, Bagas? Sekarang sudah dihabisi Tuan. Nanti giliran kita juga yang kehilangan nyawa karena anak sialan itu. Lebih baik cari pekerjaan lain yang tidak berisiko," tukas salah satu pelayan yang sedang mengamati barangnya dan terlihat sibuk membungkus sesuatu yang berharga di dalam ruangan itu.

"Kau benar, lebih baik aku pindah sambil membawa barang ini. Bisa jadi modal usahaku nanti," sahut temannya sambil tersenyum sinis, terlihat dia membungkus barang jauh lebih banyak daripada milik pelayan yang lain. 

Shopia hanya diam mematung di ambang pintu mendengar dengan seksama pembicaraan mereka. Dia tidak kaget dengan perbuatan Lucas, hanya saja tak menyangka tingkah para pelayan yang bertingkah layaknya perampok di dalam villa milik orang sejahat Lucas.

'Kalau tahu dia berbahaya, kenapa juga mengambil barang di ruangan ini? Apakah mereka tidak takut pada Lucas?' gumamnya dalam hati.

'Oh ya, aku lupa, aku ini hanya anak yang tidak diinginkan,' fikir Shopia lagi sembari menepuk jidat dengan kasar.

Suara tepukan tangan Shopia tidak sengaja sampai ke telinga para pelayan itu. Seketika mata mereka tertuju pada Shopia. Bukan rasa hormat atau takut yang terlihat di mata mereka, melainkan tatapan tajam penuh kebencian dan sinis.

"Ternyata anak sialan itu kembali juga!" sindir salah satu pelayan memandang remeh pada Shopia.

"Ya, tidak mungkin anak itu dipedulikan oleh Tuan. Mungkin Tuan sedang sedang baik hati saja hari ini. Besok-besok juga sama saja, seperti anak yang tidak dianggap," ledek temannya sambil kembali mengemasi barang.

"Kamu benar, ayo kita segera pergi sebelum dapat sial di sini," sahut pelayan lainnya sambil mengencangkan ikatan kain yang berisi buntalan barang berharga di dalamnya.

Shopia yang masih menautkan kedua tangan seketika panik melihat barang-barang itu dibawa pergi. Padahal dia berharap barang-barang itu bisa menjadi bekalnya saat dewasa nanti untuk kabur. Seketika Shopia berlari ke arah para pelayan, namun mereka justru mendorong tubuhnya agar menyingkir dari jalan.

Shopia menarik tangan salah satu pelayan, tetapi malah didorong keras hingga tersungkur di lantai dingin itu. Pelayan itu melayangkan tatapan sinis nya, seolah akan mengakhiri hidup Shopia detik itu juga kalau gadis kecil itu berani menghalangi jalannya lagi.

"Jangan sentuh aku, anak pembawa sial!" sarkasnya sambil menghempaskan tangannya, seolah tangan kecil itu adalah sebongkah kotoran.

"Iya, benar! Lebih baik cuci tanganmu ketika sampai di rumah, nanti malah sial terbawa ke mana-mana," sindir temannya.

Akhirnya para pelayan itu meninggalkan villa itu, meninggalkan Shopia yang masih tersungkur di lantai yang dingin sembari menatap kepergian mereka dengan perasaan yang sulit dijelaskan—campuran antara kecewa, ingin memanggil, bahkan marah.

 *

Sementara di tempat lain, Bima melihat para pelayan yang tidak asing itu di salah satu area villa milik tuannya. Mereka berbondong-bondong pergi membawa buntalan yang cukup besar. Bima menjadi penasaran dan mencari tahu dari arah mana mereka datang.

Bima mengikuti jalan itu, dan tibalah dia di tempat yang baru saja didatangi tadi. Ya, tempat dia mengantar Nona Shopia, anak kandung tuannya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Bima sambil mengintip ke arah dalam villa.

'Tapi, Tuan mengatakan aku tidak boleh peduli dengan Nona Shopia. Aku tidak bisa melanggar perintah Tuan,'

Bima menghentikan langkahnya ketika baru saja akan masuk ke dalam villa itu. Dia berbalik arah menjauh dari bangunan yang nampak lusuh itu. Meskipun rasanya saat ini hati Bima penuh kekacauan, dia merasa sangat khawatir dengan anak yang baru kemarin sore dilihatnya lagi itu.

 *

Shopia mencoba berdiri dari rebahnya akibat dorongan keras tadi. Dia melihat sikunya yang terlihat membiru karena benturan tiba-tiba ke lantai yang dingin.

"Kenapa sih anak kecil mudah sekali jatuh dan terluka," gerutunya kesal.

Shopia mencoba menyeimbangkan tubuhnya agar dapat kembali berdiri dengan tegap. Meskipun sebelumnya sedikit oleng, akhirnya Shopia berhasil berdiri. Namun, dia mulai merasakan sensasi yang aneh pada tubuhnya. Dunia terasa berputar begitu cepat tanpa bisa dikendalikan.

Shopia menyadari apa yang terjadi. Sebagai jiwa yang pernah melewati umur dua puluh tahun, dia tahu betul tanda-tanda ini. Dia menyentuh keningnya dan benar saja. Ini merupakan gejala demam tinggi. Pemandangan sekeliling mulai buram meskipun masih terlihat jelas betapa kumuhnya villa itu.

Gadis kecil itu tidak tahan lagi. Kemudian dia merentangkan tangannya demi meraba jalan mencari kamarnya. Dia tidak ingin tersungkur atau terbentur sesuatu saat mencoba berjalan, sembari tangan kirinya terus memeriksa suhu tubuhnya yang makin panas.

Tidak berselang lama, dia sampai di kamarnya dengan berjalan hati-hati seperti yang dilakukan sejak tadi. Shopia kemudian menaiki ranjang yang cukup tinggi itu, dan berhasil merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan sedikit meringkuk.

"Apakah aku akan mati di sini dalam keadaan mengenaskan dan sendirian tanpa ada yang peduli?" gumamnya di sela-sela menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.

 *

Di tempat lain, Bima melamun sembari duduk di sebuah taman dengan pemandangan kolam di depannya. Dia melempar kerikil ke dalam kolam itu berulang kali. Hingga Lisa yang lalu-lalang menjaga rumah utama menjadi penasaran melihat pekerjaan yang tidak biasa dilakukan Bima.

Pria itu bukannya berpatroli di sekeliling kediaman, malah melamun sembari melempar kerikil.

'Apa yang dilakukan anak ini? Tidak biasanya,' fikir Lisa sembari menggelengkan kepalanya.

"Apa yang kau lakukan di sana? Apakah perintah Tuan sudah kau kerjakan?" panggil Lisa agar Bima tidak melakukan kelalaian.

Bima sontak menoleh dengan kening yang berkerut, membuat Lisa merasa aneh dengan tingkahnya.

"Lisa, aku tak bisa berpikir jernih..."

1
Cty Badria
👍
Rere Lumiere
Cerita ini kalau sepi pembaca akan di hapus pada bab 20, jadi yang suka cerita ini tolong ramaikan ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!