Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 naik gunung
Selain bertani, sebagian warga Desa Wu juga sering mengadu nasib ke gunung untuk berburu. Di antara mereka, pemburu terbaik adalah seorang lelaki lajang misterius bernama Ning Guang, yang kerap dijuluki Ning Garang oleh penduduk setempat karena wataknya yang dingin.
Tidak ada yang tahu pasti dari mana asal-usul pria itu. Dia tiba-tiba muncul di Desa Wu enam tahun lalu dengan pembawaan misterius, wajah penuh janggut lebat, dan tatapan mata yang tampak kejam.
Ning Garang memilih mengisolasi diri dengan membangun sebuah pondok kayu di kaki Gunung Wu. Di halaman depan rumahnya, dia memelihara seekor anjing pemburu hitam besar yang terkenal galak, persis seperti tabiat tuannya.
Nara melirik Yan Ning yang ketakutan setengah mati hingga mencengkeram erat jemarinya. Di sisi lain, wajah Nyonya Mu juga tampak memucat saat mereka bertiga terpaksa berjalan melewati depan pondok tersebut.
Anjing pemburu besar itu langsung menggonggong nyaring begitu menyadari kehadiran mereka. Sepasang matanya yang liar menatap tajam, seolah siap menerkam kapan saja jika mereka berani mengambil satu langkah maju lagi.
Krieeet...
Pintu pondok kayu mendadak terbuka dari dalam. Seorang pria bertubuh kekar dengan kulit gelap terbakar matahari melangkah keluar.
Nyonya Mu refleks langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia membalikkan badan dengan canggung, menolak untuk menatap pria asing itu secara langsung demi menjaga sopan santun.
Sambil membawa semangkuk besar makanan anjing, Ning Garang memberikan perintah pendek agar peliharaan hitamnya berhenti menggonggong.
Dia sempat melirik dingin ke arah Nara dan keluarganya dengan kening berkerut dalam, sebelum meletakkan mangkuk itu lalu berbalik untuk kembali masuk.
Mendengar Nyonya Mu mengembuskan napas lega, Nara diam-diam tersenyum tipis. Orang-orang di zaman kuno ini ternyata jauh lebih konservatif dalam interaksi lawan jenis dibanding dugaannya.
"Ara, ayo cepat jalan," bisik Nyonya Mu mendesak cemas.
Nara mengangguk patuh lalu kembali melangkah. Namun, anjing hitam yang sedang makan itu mendadak mendongak, memperlihatkan deretan taring putihnya yang tajam ke arah mereka.
Nyonya Mu kaget bukan main hingga kakinya mendadak lemas. Beruntung Nara dengan sigap langsung menopang tubuh ibunya sebelum sempat jatuh ke tanah.
Saat mereka bertiga kembali saling memapah untuk melanjutkan perjalanan menuju lereng gunung, pintu kayu kembali terbuka. Ning Garang melangkah keluar lagi dari pondoknya.
"Mau nekat naik ke gunung?" tanya pria itu dengan suara berat yang terdengar sangat dingin.
Nara menaikkan sebelah alisnya, lalu menyahut santai tanpa rasa takut. "Kenapa? Memangnya ada masalah?"
Ning Garang menyipitkan matanya yang gelap, membuat tatapannya terasa semakin mengintimidasi di balik wajahnya yang penuh janggut.
"Aku tidak punya masalah," jawab Ning Garang datar. Namun, kalimat berikutnya sukses membuat lutut Nyonya Mu kembali gemetar hebat. "Hanya saja, ada harimau ganas yang berkeliaran di hutan sejak dua hari lalu. Kalian beneran mau cari mati?"
Ning Guang tentu saja mengenali Nara, si anak pembawa sial yang sangat terkenal di Desa Wu.
Dulu dia pernah melihat Nara sekilas, dan saat itu si gadis tampak murung serta tidak punya rasa percaya diri. Tapi sekarang, sosok di depannya ini kelihatan seperti menjelma jadi orang yang berbeda total karena pancaran matanya begitu hidup.
Namun, mau seberani apa pun perubahannya, Nara tetaplah gadis remaja yang lemah di matanya. Jika mereka bertiga tidak sengaja berpapasan dengan harimau besar itu di atas sana, mereka pasti bakal habis dicabik-cabik tanpa sisa.
Ning Guang sendiri sebenarnya sudah mengintai binatang buas itu selama dua hari dan belum berhasil menjebaknya. Dia sendiri heran kenapa dia harus repot-repot membuang napas untuk memperingatkan orang lain, padahal selama ini dia bukan tipe orang yang suka ikut campur.
Sayangnya, Nara sama sekali tidak kelihatan gentar. Gadis itu justru ikut menyipitkan matanya, membalas tatapan tajam sang pemburu.
"Apa Paman sengaja menakut-nakuti kami agar tidak boleh naik? Paman mau memonopoli semua hasil buruan di gunung ini sendirian, ya?" sindir Nara sengaja memprovokasi.
Ning Garang mengernyitkan dahi dalam-dalam saat mendengar panggilan 'Paman' terlontar dari mulut Nara. Dia mengusap janggutnya lalu mendengus kesal.
"Kalau memang mau mati, silakan saja," balas Ning Garang dingin. Dia langsung berbalik badan masuk ke dalam rumah lalu membanting pintu kayunya hingga menutup dengan dentuman keras.
Nara mencebikkan bibirnya santai, lalu kembali menatap ke arah jalur hutan yang membentang di depan mata.
Harimau ganas, ya? Menarik.