Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Callie
"Callie, cucu Opa yang paling cantik dan gemoy. Apa yang dikatakan sama sepupumu itu nggak benar kan? Masa kamu yang kalem begitu ambil pistol. Kan kamu sukanya dolar," seru Julian yang masih tak percaya dengan ucapan Mika.
Bahkan kini Julian sampai membawa Callie untuk duduk di pangkuannya. Julian ingin Callie menjawab dan membuat pengakuan sendiri di depannya. Ia juga ingin melihat Callie merengek padanya agar dibela dari tuduhan Mika. Julian rasanya tidak rela jika sampai cucunya itu bermain pistol seperti Ronand dan Ralia. Julian ingin mempunyai cucu yang seperti dia, banyak bicara tetapi kalem dan tidal bermain senjata. Sedikit menyebalkan juga tidak masalah asalkan bukan yang menyeramkan seperti anak laki-lakinya.
"Iya, Callie yang ambil. Nih... Pistolnya yang bisa buat tembak dol dol dol," Callie pun mengambil pistol yang ada di dalam sakunya dan memperlihatkan pada Julian. Seketika itu juga badan Julian langsung menegang melihat benda kecil di tangan cucunya.
"Calon penerusku selanjutnya," seru Papa Fabio yang tak marah jika cicitnya mengambil pistol itu. Justru Papa Fabio sudah tahu siapa saja yang akan menjadi penerusnya.
"Enggak ya, Pa. Ini tak bisa dibiarkan," seru Julian yang langsung mengambil pistol itu dari tangan Callie.
"Ini bawa pistolnya Papa. Julian tidak akan membiarkan Callie mengikuti jejak kalian. Callie harus jadi anak manis yang suka main boneka dan belanja aja," Julian meletakkan pistol itu dalam pangkuan Papa Fabio.
Julian berusaha menjauhkan pistol itu dari jangkauan Callie. Bahkan Julian langsung mendekap Callie dan menyembunyikannya agar bocah cilik itu tak bisa melihat pistol kembali. Sedangkan Reska, sedari tadi diam mencerna tingkah semua orang di sana. Apalagi melihat sikap absurd Julian yang sulit untuk dipercaya. Jika sudah pulang nanti, mungkin Reska akan langsung menceritakan semua ini pada orangtuanya.
"Opa tuh salah menilai Callie. Dia tidak sekalem atau sepolos itu untuk anak usia 3 tahun,"
"Kemarin saja dia menembak tangan penjahat pakai pistol punya Om untung," ucap Mika membongkar rahasia Callie.
"Apa?" seru Julian, Papa Fabio, dan Reska secara bersamaan.
"Mika, beneran anak sekecil ini sudah bisa menembak?" tanya Reska ingin mengonfirmasi tentang kejadian ini.
"Iya. Sampai tangan penjahatnya berdarah," ucap Mika dengan tatapan seriusnya.
"Nggak papa. Itu artinya dia punya jiwa untuk melindungi diri dan keluarganya,"
Papa Fabio menanggapi cerita Mika tentang Callie ini dengan santai. Sedari dulu, Papa Fabio tak pernah melarang anak dan cucu sampai cicitnya melakukan sesuatu yang berbahaya. Termasuk mengunakan senjata. Papa Fabio tahu kalau semua keturunannya itu genius. Bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Jika sudah menggunakan kekerasan atau senjata, berarti memang lawan mereka itu jahat. Sedangkan Julian masih shock karena tak menyangka jika cucunya akan melakukan hal yang berbahaya.
"Callie akan aku bawa ke pskiater. Nggak bisa dibiarkan ini," seru Julian yang tak terima dengan kemampuan Callie.
"Buat apa, Opa? Apa Mika, Kak Ralia, dan Uncle Onand juga butuh ke psikiater? Kami dari kecil sudah tahu hal beginian lho," ucap Mika dengan tatapan anehnya. Apalagi melihat Julian seakan begitu ketakutan saat mengetahui fakta tentang Callie.
Sudah lah Julian, kamu itu terlalu berpikiran jelek tentang kemampuan mereka.
Papa yakin kalau mereka itu bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Papa percaya mereka menggunakan senjata itu juga untuk kebaikan,
Benal. Ini untuk melindungi kelualga. Masa kelualga dalam bahaya, kita cuma diam. Opa tuh belajal tembak yang benal,
Kok aku jadi yang disudutkan begini ya?
Ini keluarga sangat mengerikan,
***
"Makan dulu, Res. Anggap aja lagi makan di rumah sendiri," ucap Mika dengan santainya.
Reska tak diperbolehkan pulang oleh Chiara karena tadi sempat pingsan. Chiara khawatir kalau terjadi sesuatu pada Reska di jalan. Chiara berpikir bahwa Reska pingsan karena belum sarapan. Padahal bukan itu masalahnya. Sedangkan Julian, sedari tadi memilih diam. Dia kesal karena semua orang tidak berada di pihaknya. Malah mendukung Callie yang meminta dia belajar menembak.
"Nggak enak. Ngrepotin banget aku di rumahmu, Mika." bisik Reska membuat Mika terkekeh pelan.
"Halah... Kaya sama siapa aja sih? Kaya waktu kita ketemu di balapan itu lho, santai kaya di pantai." ucap Mika dengan pelan. Gawat juga jika sampai ada yang dengar dirinya ikut balapan.
"Beda lah, itu kan ada di arena bukan rumah keluargamu." Reska tampaknya geregetan pada Mika karena tidak mengerti perasaan dan kecanggungannya.
"Kenapa kalian bisik-bisik? Kalau ngelumpi, ajak Callie dong." seru Callie dengan tatapan menyelidik.
"Dih... Urusan orang besar sih. Anak kecil nggak boleh tahu," ucap Mika meledek Callie.
Mama...
Rachel yang sedang menyuapi Callie pun hanya menghela nafasnya sabar. Seperti ini, jika diledek pasti akan merengek padanya untuk minta pembelaan. Padahal ini juga salahnya Callie sendiri yang ikut campur urusan orang. Chiara yang mengerti kelelahan Rachel mengurus Callie pun langsung menyuapkan buah pada cucunya. Benar saja, Callie langsung diam dan lupa dengan celotehannya.
"Callie, lain kali nggak boleh ya ambil barang milik oranglain tanpa ijin. Dosa lho," ucap Chiara yang tahu tentang ulah cucunya.
"Udah dua kali, Ma. Sebelumnya dia ambil punya Kak Lucky dan sekarang Opa," ucap Rachel yang kesal dengan tingkah anaknya itu.
"Buat mainan, Oma cantik. Callie bosan lho main boneka balbie dan lumah-lumahannya itu. Mau tembak dol dol," ucap Callie dengan senyum polosnya.
"Besok mainan cacing di depan rumah aja sih, Callie. Biar beda," ucap Mika memberikan saran.
"Ndak lah. Masa cacing buat mancing ikan dibuat mainan. Kasihan nanti ikannya pada ndak makan kalau cacingnya buat mainan," ucap Callie memberi alasan.
Dih... Sok memikirkan ikan makannya bagaimana? Padahal perut dia doang yang dipikirkan,
Mika berdecih sinis mendengar pembelaan Callie itu. Padahal Callie itu adalah orang yang tak peduli dengan lainnya. Yang penting perutnya terisi penuh, tak peduli dengan lainnya. Chiara hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan di meja makan itu. Papa Fabio memilih diam dibandingkan harus ikut berdebat dengan mereka. Yang penting dia sudah tahu siapa pengambil dari pistol miliknya itu. Nanti dia akan meminta Ronand dan Lucky untuk lebih mengawasi Callie.
"Reska, pakai motor listriknya Mika saja nanti pulangnya. Motormu yang mogok itu masih di bengkel," ucap Papa Fabio yang tadi mendapat laporan tentang sepeda motor Reska dari Kara.
"Baik, Tuan Fabio. Terimakasih,"
Tuan Fabio, Callie mau juga dong naik sepeda listlik.
Naik tiang listrik aja kamu itu, Callie.
Plastik Mika syilik aja dali tadi sama Callie. Komental mulu kaya netijen,
Huh...
lanjuttttt bykkkkk thor💪😄