"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2.Rumah Salsa.
Suasana di Desa Wood perlahan kembali kondusif. Setelah bukti yang tak terbantahkan ditemukan, tidak ada lagi yang bisa dibantah oleh si pencuri. Wajah pria itu pucat pasi, penuh penyesalan dan rasa malu yang bercampur dengan lebam-lebam di wajahnya.
"Ayo bergerak!" bentak Rian dingin sambil mendorong bahu pria itu.
Rian tidak mau berlama-lama. Dengan sigap, dia mengawal pelaku menuju Pos Keamanan desa yang terletak tak jauh dari lokasi kejadian. Di belakangnya, Pak Kades dan beberapa perangkat desa mengikuti dengan langkah tergesa. Mereka masih terlihat syok dan berterima kasih karena ada petugas kepolisian yang kebetulan lewat dan membantu menyelesaikan masalah ini dengan cara yang benar.
Di dalam pos keamanan yang sederhana itu, proses pembuatan laporan awal dimulai. Rian dengan cekatan memeriksa barang bukti, mencatat keterangan saksi, dan meminta keterangan tertulis dari Pak Kades. Gerakannya cepat, efisien, dan penuh wibawa. Tidak ada satu pun kata yang terbuang sia-sia.
Selesai dengan urusan administrasi sementara dan memastikan pelaku diamankan dengan baik, Rian akhirnya menghela napas panjang. Dia melonggarkan kerah jaket kulitnya yang terasa sedikit gerah.
"Terima kasih banyak sekali, Tuan Polisi," ucap Pak Kades dengan wajah berseri-seri sambil mengulurkan tangan. "Kalau bukan karena Bapak datang tepat waktu, mungkin kami sudah melakukan hal yang salah. Dan berkat gadis itu juga, barang kami bisa kembali utuh."
Rian menjabat tangan Pak Kades dengan singkat. "Itu tugas saya, Pak. Lain kali tolong ingatkan warga, jangan main hakim sendiri itu berbahaya dan melanggar hukum. Biarkan hukum yang bekerja."
"Siap, siap, Tuan. Pasti akan kami ingatkan."
Rian memandang sekeliling, seolah mencari sesuatu. Atau lebih tepatnya, mencari seseorang.
"Ngomong-ngomong, Pak... gadis yang tadi membawa tas itu... siapa dia sebenarnya?" tanya Rian santai, meski di dalam hatinya ada rasa penasaran yang mengganggu. Gadis itu aneh. Berani, kotor, tapi matanya... matanya terlihat sangat jujur dan polos.
"Oh, dia? Itu Salsa, Tuan. Cucunya Almarhum Kakek Tio Handoko," jawab Pak Kades dengan nada sedih namun penuh kasih sayang. "Anak yang baik, rajin, dan pintar. Sejak orang tuanya meninggal, dia diasuh sama Kakek Tio. Sayang sekali, bulan lalu Kakek Tio juga meninggal dunia. Sekarang dia tinggal sendirian di sana."
Rian tertegun.
Salsa...
Nama itu terngiang di telinganya. Dan nama Kakek Tio Handoko... nama itu sangat familier. Sangat familier sekali.
Jantung Rian berdegup sedikit lebih kencang. Dia ingat pesan ayahnya tadi pagi. 'Jemput calon istrimu. Anak dari teman lamaku, Kakek Tio Handoko. Namanya Salsa.'
Jadi... gadis berlumuran lumpur yang tadi kutemui itu... adalah Salsa? Calon istriku? batin Rian terkejut setengah mati. Bayangannya selama ini tentang calon istri adalah gadis desa yang pendiam, lemah lembut, dan sopan santun. Bukan gadis yang aneh seperti itu!
"Terus... rumahnya di mana, Pak?" tanya Rian berusaha tetap tenang, menyembunyikan keterkejutannya.
"Oh, rumahnya tidak jauh dari sini, Tuan. Arahnya ke sebelah selatan desa. Ciri-cirinya gampang sekali, di halaman depannya ada rimbunan pohon bambu yang tinggi dan lebat. Itu rumah tua peninggalan orang tua Kakek Tio," jelas Pak Kades.
"Terima kasih, Pak. Saya permisi."
Tanpa menunggu lama, Rian langsung berbalik dan melangkah lebar menuju mobil Jeep hitamnya. Pintu dibanting dengan suara brak, mesin langsung dinyalakan dengan menderu keras.
BRUMMMM!!!
Mobil itu melaju kembali membelah jalanan desa, meninggalkan debu di belakangnya.
Perjalanan tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar sepuluh menit berkendara melewati pemukiman warga yang mulai sepi, Rian akhirnya melihat apa yang dicarinya.
Di sebuah tanah lapang kecil, berdiri sebuah rumah kayu tua yang terlihat sangat kokoh dan asri. Catnya mungkin sudah mulai memudar dimakan usia, namun bangunan itu terlihat sangat terawat, bersih, dan penuh dengan tanaman hias di sekelilingnya.
Dan tepat di depan halaman, seperti yang dijelaskan Pak Kades, terdapat barisan pohon bambu kuning yang sangat tinggi dan rimbun. Daun-daunnya berdesir lembut ditiup angin, menciptakan suasana yang teduh dan damai.
Inilah rumahnya.
Rian memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang kayu yang terbuka setengah. Dia mematikan mesin. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara kicauan burung dan desisan angin menerpa dedaunan.
Rian turun dari mobil. Kali ini, auranya tidak segarang tadi saat menghadapi massa atau penjahat. Dia terlihat sedikit gugup. Jarang-jarang Komisaris Rian Wijaya merasa gugup.
Dia merapikan jaket kulitnya, menyisir rambutnya dengan jari, dan menarik napas panjang.
Oke Rian, tenang. Ini hanya menjemput calon istri sesuai wasiat. Tidak ada yang perlu ditakuti. batinnya menenangkan diri.
Dia melangkah masuk ke halaman rumah. Pijakan kakinya yang menggunakan boots kulit mengeluarkan suara klek... klek... di atas lantai tanah yang dipadatkan. Semakin dekat, dia bisa mencium aroma wangi bunga melati dan tanah basah yang sangat menenangkan.
"Halo,apa ada orang?..." panggil Rian pelan, suaranya terdengar lembut, sangat berbeda dengan teriakannya tadi pagi.
Rian memanggil berulang kali, tapi tidak ada yang menjawabnya hanya sunyi yang aneh dirasakan Rian.
"Permisi, apa ada orang?. " Panggil lagi Rian sedikit lebih keras suaranya.
Masih sama tidak ada jawaban.
Rian berjalan mendekati teras rumah. Di sana, dia melihat sebuah ayunan kayu tua yang digantung di tiang teras. Dan di meja kecil, ada sebuah gelas teh yang masih mengeluarkan asap tipis, seolah-olah pemiliknya baru saja pergi sebentar.
Rian mengerutkan kening. Keheningan di rumah ini terasa aneh. Tidak hanya sunyi, tapi ada hawa dingin yang merayap perlahan menusuk tulang belakangnya, meski hari sedang cerah. Sebagai seorang polisi yang terlatih, instingnya sangat tajam. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di udara.
'Apa ini perasaan saya saja?' gumam Rian dalam hati.
Dia memutuskan untuk tidak berlama-lama. Mungkin gadis itu belum pulang. Dia akan menunggu di mobil saja.
Namun, saat dia baru saja berbalik badan hendak melangkah pergi...
TAP!
Tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan dingin dan berat mendarat di bahu kanannya.
Jantung Rian seakan berhenti berdetak. Keringat dingin langsung membasahi pelipisnya. Dia tidak mendengar langkah kaki sama sekali! Bagaimana bisa ada orang yang datang sepelan itu?
Rasa takut yang jarang dia rasakan kini menyelimuti seluruh tubuhnya. Rian sangat sensitif dan tidak menyukai hal-hal berbau mistis atau supranatural.
Dengan tangan gemetar, dia perlahan menoleh ke belakang.
Dan apa yang dilihatnya membuat darahnya seakan membeku!
Di sana, berdiri tepat di belakangnya, sosok wanita tinggi dengan rambut hitam panjang yang menjuntai menutupi seluruh wajahnya. Pakaiannya putih panjang namun terlihat kusam dan samar. Sosok itu berdiri diam tak bergerak, namun aura yang dipancarkannya sangat menakutkan.
"ARGHHHHHH!!!!"
Rian berteriak sekeras-kerasnya, teriakan panik yang keluar dari dasar hati. Matanya terbelalak ketakutan melihat penampakan itu.
"JANGAN! JANGAN GANGGU SAYA!!" teriaknya lagi sambil mencoba mendorong, tapi kakinya terasa lemas seakan tak bertulang.
Jantungnya tidak kuat menahan guncangan ketakutan itu. Pandangannya mulai kabur, dunia seakan berputar cepat.
BY..UR!
Tanpa bisa ditahan lagi, tubuh tegap dan kekar itu langsung lemas dan roboh tersungkur ke tanah.
Rian pingsan.
Tepat di halaman rumah calon istrinya sendiri, si "Serigala Gila" yang ditakuti seluruh penjahat kota, kini tergeletak tak sadarkan diri hanya karena ketakutan melihat sosok arwah.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍