Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Lita menatapnya lama. “Terus?”
Sekar mengernyit. “Ya nggak seimbang. Enggak pantas. Sama seperti dulu. Sekarang dia yang diatas, aku yang dibawah."
Lita langsung menggeleng pelan. “Kamu masih mikir pakai cara lama, Sekar.”
Sekar tidak menjawab.
“Nilai seseorang itu bukan cuma status,” lanjut Lita. “Kamu lihat dirimu sekarang deh.”
Sekar terdiam.
“Kamu mandiri. Kamu kuat. Kamu punya karier baru yang bahkan nggak semua orang bisa capai,” tambah Lita. “Kalau kamu masih lihat dirimu ‘kurang’… itu masalahnya bukan di orang lain.”
Kata-kata itu menampar pelan. Sekar menggenggam setir sedikit lebih erat. Ia tahu… ada benarnya. Tapi hatinya belum sepenuhnya siap untuk menerima kemungkinan itu. “Aku nggak mikir ke sana,” katanya akhirnya, pelan tapi tegas.
Lita tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Nggak harus sekarang.” Ia menoleh ke luar jendela, lalu menambahkan dengan nada ringan“Tapi jangan langsung nutup pintu juga.”
Sekar tidak menjawab lagi. Mobil terus melaju, membawa mereka pulang. Dan di sepanjang perjalanan itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama Sekar tidak hanya memikirkan masa lalu atau masa depan bersama Sea, tapi juga sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum ia beri nama.
***
Langit sudah benar-benar gelap saat mobil itu berhenti di depan rumah. Mesin dimatikan, tapi Sekar masih diam beberapa detik, tangannya tetap di setir. Seolah ia masih ingin memastikan semua ini nyata.
“Turun, Bu penulis sukses,” goda Lita ringan.
Sekar menghela napas kecil, lalu tersenyum. Ia membuka pintu mobil dan turun perlahan.
Baru beberapa langkah menuju teras, “Sekar?”
Suara itu langsung membuatnya menoleh. Ibunya sudah berdiri di ambang pintu, menatap mobil itu dengan mata yang membesar, antara kaget dan… haru.
Sekar tersenyum kecil, sedikit canggung. “Iya, Bu…”
Ibunya melangkah mendekat, pelan. Tangannya menyentuh bodi mobil itu, seperti tidak percaya. “Kamu beli ini?” tanyanya lirih.
Sekar mengangguk. “Iya. Maaf ya Bu, aku nggak ngasih tau Ibu sebelumnya, aku mau ngasih surprise. Keputusanku untuk membeli mobil ini juga ada alasannya, untuk kebutuhan pekerjaan. InshaAllah aku pengen buka usaha baru. Jualan buku online." ungkap Sekar
Beberapa detik… tidak ada suara. Lalu, tanpa banyak kata, ibunya langsung memeluknya. Pelukan yang hangat. Penuh rasa bangga. Dan… lega. “Ibu bangga sama kamu…” bisiknya pelan. "Dari dulu, kamu selalu membuat ibu dan mungkin kalau bapak masih ada, bapak juga pasti bangga sekali."
Sekar memejamkan mata sejenak. Dadanya langsung penuh. Kalimat itu… sederhana. Tapi terasa seperti pengakuan panjang atas semua yang ia lalui. Dari jatuhnya. Hancurnya. Sampai bangkitnya.
“Ibu nggak nyangka…” lanjut ibunya pelan, suaranya mulai bergetar, “di kondisi kamu yang kemarin… kamu bisa sampai sejauh ini. Kamu benar-benar luar biasa, Nak."
Sekar tersenyum kecil di dalam pelukan itu. “Aku juga nggak nyangka, Bu. Dan pastinya ini karena baiknya Allah padaku, pada kita semua. Juga jasa Bu psikolog ini yang sampai sekarang nggak mau lho Bu Nerima uangku. Padahal katanya sekarang uangku udah nggak berseri, tapi tetep dia nggak mau."
Mereka menangis tetapi juga tertawa. Terharu dengan apa yang sudah Sekar dapatkan. Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sudah duduk di ruang tengah. Suasana hangat, ditemani teh dan camilan sederhana.
Mobil baru itu masih terlihat dari jendela, berdiri diam seperti simbol perjalanan panjang Sekar.
Lita, seperti biasa, tidak bisa diam terlalu lama tanpa membuka topik baru. “Bu…” katanya santai, “tadi kita ketemu seseorang.”
Sekar langsung melirik tajam.
Ibunya tertarik. “Siapa?”
Lita menahan senyum. “Damar.”
Sekar langsung menghela napas panjang. “Lita…”
Tapi ibunya sudah lebih dulu bereaksi. “Damar?” ulangnya, sedikit terkejut. “Yang dulu itu?”
Lita mengangguk cepat. “Iya, Bu. Yang dulu ngejar Sekar.”
Ibunya langsung menoleh ke Sekar, matanya berbinar, campuran kaget dan… geli. “MasyaAllah… masih ada orangnya?”
Sekar menutup wajahnya sebentar. “Bu…”
“Tadi ketemu di mana?” tanya ibunya, sekarang benar-benar penasaran.
“Di showroom, Bu. Dia yang punya,” jawab Lita tanpa ragu.
Ibunya langsung terdiam beberapa detik. “Punya showroom?” ulangnya pelan.
Lita mengangguk santai. “Lumayan besar.”
Ibunya menoleh lagi ke Sekar, kali ini dengan ekspresi yang berbeda, setengah tidak percaya, setengah… menyesal bercampur bercanda. “Coba dulu nggak ibu larang ya, Kar…” katanya tiba-tiba, sambil tersenyum geli.
Sekar langsung menatap ibunya, antara kaget dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. “Bu!”
Lita langsung tertawa. “Bener kan, Bu?” tambah Lita. “Sekarang anaknya rapi, mapan, masih single lagi.”
Sekar menggeleng cepat. “Kalian berdua ini…”
Ibunya ikut tertawa kecil, tapi kemudian menatap Sekar dengan lebih lembut. “Dulu ibu cuma takut kamu salah pilih,” katanya pelan. “Kamu masih kecil, dia juga… belum jelas arahnya. Tapi ternyata feeling ibu salah, Kar. Anak yang ibu anggap nggak pantas malah sekarang menjadi bagus. Sementara yang ibu kira bisa jadi imam yang baik untukmu ...."
"Bu, dia ayahnya Sea." Sekar mengingatkan. Lalu Sekar terdiam. Ia mengerti itu. Bahkan sampai sekarang, ia tidak pernah benar-benar menyalahkan ibunya.
“Tapi sekarang…” lanjut ibunya pelan, “orang bisa berubah.” Kalimat itu menggantung.
Sekar tidak langsung menjawab. Pikirannya kembali ke sore tadi, ke sosok Damar yang berdiri dengan tenang, ke cara dia berbicara, dan bagaimana semuanya terasa… berbeda dari dulu. “Aku nggak mikir ke sana, Bu,” katanya akhirnya, pelan.
Ibunya tersenyum tipis. “Iya, ibu tahu.”
Lita menyenggol pelan lengan Sekar. “Belum mikir aja.”
Sekar melirik tajam, tapi tidak membalas. Ia hanya menarik napas pelan, lalu bersandar sedikit di kursinya. Di dalam hatinya… ada sesuatu yang bergerak. Kecil. Hampir tidak terasa. Bukan harapan besar. Bukan juga perasaan yang jelas. Tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa hidupnya… tidak lagi hanya tentang bertahan.
***
Pagi itu terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Sekar berdiri cukup lama di depan cermin, memperhatikan bayangannya sendiri dengan saksama, seolah memastikan bahwa perempuan yang ia lihat di sana benar-benar siap menghadapi hari ini.
Ia memilih pakaian dengan hati-hati, tidak berlebihan, tapi rapi dan pantas. Tangannya beberapa kali merapikan kerudung yang sebenarnya sudah rapi, napasnya naik turun pelan, mencoba menenangkan detak jantung yang sejak tadi tidak benar-benar stabil.
Hari ini bukan sekadar hari biasa. Hari ini ia akan menjemput Sea. Sudah terlalu lama ia menunggu momen seperti ini, terlalu banyak kesempatan yang hilang, terlalu sering ia harus menahan rindu tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan sekarang, ketika akhirnya izin itu datang, justru rasa takut ikut menyelinap, takut kalau sesuatu terjadi, takut kalau kebahagiaan kecil ini tiba-tiba direnggut lagi. Ia menatap dirinya sekali lagi, lalu berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar, “Aku harus kuat… demi Sea.”
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗