Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Dimas
"Hah?! Serius?!" tanya Dira pada Dimas saat keduanya sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.
Dimas menceritakan semuanya pada Dira —tentang Arumi yang adalah pasien di klinik Arisa, tentang keluhannya, dan tentang perasaannya pada Arumi. Dimas tak peduli lagi kode etik. Dia hanya ingin berbagi dengan saudara kembarnya.
"Emang dunia tak selebar daun kelor," komentar Dira, masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Tunggu bentar. Gue sih yakin si Ardi nggak selingkuh. Soalnya, di kantor tuh nggak cuma satu dua yang punya simpenan. Dan hampir jadi rahasia umum di kantor," kata Dira mencoba meyakinkan Dimas tentang reputasi Ardi di kantor.
"Kamu yakin?" tanya Dimas sambil fokus mengemudi. Dira mengangguk mantap.
"Kalo one-night-stand?" tanya Dimas. Dira menoleh cepat ke arah Dimas.
"Wah kalo itu gue nggak yakin sih," kata Dira.
"Masalahnya, Ra, suaminya tiba-tiba berhenti di tengah hubungan. Aneh. Nggak wajar. Dan cuma itu yang masuk di akal. Rasa bersalah," kata Dimas.
"Tapi, Dim, rasa bersalah kan bisa dari apa aja," Dira masih mencoba menyangkal bahwa Ardi yang selama ini dia kenal sebagai family man yang baik, tega melakukan hal seperti itu terhadap isterinya.
"Misalnya?" tanya Dimas, membuat Dira berpikir keras.
"KDRT?"
"Arumi nggak pernah bahas itu,"
"Mmm... Secara verbal. Mungkin Arumi nggak merasa tersakiti, tapi Ardi merasa udah mengatakan sesuatu yang..."
"Non-sense!" potong Dimas kesal.
"Sekarang kamu coba pikir. Dimana-mana, kalo ada orang berkata kasar sampe nyakitin hati, yang jelas-jelas masih mengingat itu pasti yang tersakiti, bukan sebaliknya," kata Dimas. Dira terdiam.
"Arumi nggak mencurigai Dimas selingkuh sejak awal konsultasi, Ra. Dia percaya Ardi pria baik-baik seperti kamu percaya sama Ardi," lanjut Dimas.
"Aku hanya menyimpulkan dari uraian Arumi tentang hubungannya dengan Ardi. Dan kesimpulan ku cuma satu. Dia pernah melakukan hubungan dengan wanita lain dan itu cukup membuatnya merasa bersalah dan menyesal," jelas Dimas.
Hening.
"Kalo emang merasa bersalah, kenapa dia malah dingin sama Arumi?" tanya Dira, tak paham dengan kelakuan Ardi.
"Tanpa sadar, dia membangun benteng. Menutupi kesalahannya, menutupi rasa bersalahnya, dan mungkin... bayang-bayang tentang wanita itu masih tersisa," jawab Dimas.
Dira diam, mencerna setiap perkataan Dimas yang terasa benar dan satu-satunya jawaban.
"Aku nggak bilang dia jatuh cinta sama wanita itu. Kalo kek gitu situasinya, artinya dia selingkuh," kata Dimas. Dira mengerutkan alisnya.
"Nggak cinta? Bisa gitu? Having sex tanpa ada cinta?" tanya Dira yang tidak bisa membayangkan hal seperti itu benar-benar nyata.
"Ra, having sex itu kebutuhan biologis. Yang dibutuhin cuma nafsu. Kalo ada dua lawan jenis bertemu dan punya gairah, jadilah," jawab Dimas.
"Cinta itu cuma dasar agar kita nggak ngelakuin itu sama sembarang orang," lanjut Dimas. Dira menghela napas pelan.
"Kalo emang itu alasan rumah tangganya jadi hambar, jalan satu-satunya agar rumah tangga mereka kembali membaik adalah dengan Ardi mengakui kesalahannya," kata Dira. Dimas menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak menjamin akan kembali membaik," kata Dimas. Dira menatap Dimas penuh tanya.
"Kalo kamu di posisi Arumi, apa kamu bisa maafin Ardi?" tanya Dimas. Dira menggelengkan kepalanya. Dimas mengangguk.
"Tepat sekali. Perceraian akan terjadi," kata Dimas.
"Tapi Arumi bukan gue, Dim,"
"Oke. Semisal Arumi maafin Ardi, apa kamu pikir dia akan sama? Dia bakal jadi lebih posesif, curigaan, yang akan menimbulkan perdebatan setiap hari, kecuali emang Ardi bisa menghandle semua kegelisahan Arumi pasca pengakuannya," kata Dimas. Dira kembali mencerna perkataan Dimas.
"Piring yang udah pecah, tetep ada bekas retakannya meski udah disatuin lagi, Ra," lanjut Dimas. Dira diam, menatap lurus ke arah jalanan.
'Seberat ini masalah lo, Ar?'
***
Arumi masih duduk di meja makan bersama secangkir teh hangat setelah makan malam selesai. Kayla sudah tertidur pulas efek terlalu lelah bermain seharian. Ardi berada di kamarnya begitu suapan terakhir makan malamnya selesai ia kunyah.
Arumi menatap teh di dalam cangkir lalu menghela nafas panjang. Dia kemudian melirik tangannya yang tadi sempat digenggam Dimas.
'Kenapa Dokter bersikap seperti itu?' pikir Arumi.
Arumi menyeruput tehnya. Kehangatan mengalir mengisi kerongkongan masuk ke dalam dadanya. Dia kembali menghela nafas panjang. Ditatapnya pintu kamarnya. Sepi.
Arumi teringat beberapa malam sebelumnya, saat Ardi mau duduk berdua di meja makan sambil menikmati secangkir kopi panas.
"Kayla hari ini seneng banget," kata Arumi membuka pembicaraan.
"Seneng banget? Kenapa?" tanya Ardi sambil menyeruput kopi.
"Dapet bintang dari gurunya. Katanya karena Kayla mau membantu temennya yang kesulitan," cerita Arumi sambil tersenyum. Ardi ikut tersenyum.
Hening.
"Mas," panggil Arumi.
"Hm?"
"Aku seneng kita bisa punya waktu ngobrol kek gini lagi," kata Arumi sambil tersenyum. Ardi tersenyum kikuk.
"Maaf, Mas, kita jadi jarang ngobrol karena aku ngurus Kayla," kata Arumi.
"Nggak apa-apa. Udah tugas kamu," jawab Ardi sekenanya.
"Tugas aku?" tanya Arumi dengan nada lembut.
"Iya. Tugas kamu. Ngurus anak, ngurus rumah," kata Ardi santai lalu menyeruput kopinya. Arumi tersenyum sarkastik.
"Ngurus anak itu bukan cuma tugas aku, Mas. Tugas kita. Anak nggak cuma butuh ditemenin main, dikasih makan, tapi hatinya juga butuh diisi sama cinta dari orangtuanya," kata Arumi.
"Kok kamu jadi marah ke aku? Kalo kamu butuh bantuan buat ngurus Kayla, bilang. Aku bisa cariin babysitter buat bantuin kamu," kata Ardi.
"Aku nggak butuh babysitter, Mas. Aku butuh kamu,"
"Butuh aku? Aku kerja, Rum. Kamu butuh aku buat apa? Seharian aku kerja, cari uang buat menuhin kebutuhan kalian. Trus kamu minta aku buat ngapain lagi?"
"Kamu bisa kan main sebentar sama Kayla atau ngobrol sama Kayla sebelum dia tidur? Atau paling nggak bacain dia cerita sebelum tidur. Biar ada bonding antara kamu sama Kayla," pinta Arumi.
"Halah. Lagian kalo aku pulang Kayla juga udah ngantuk. Aku selesai mandi dia udah tidur," kata Ardi.
"Itu kalo kamu pulang telat, Mas. Kalo nggak..."
"Oh? Jadi kamu nuduh aku lagi?"
"Bukan, Mas. Aku nggak nuduh. Aku cuma minta waktu kamu buat Kayla. Sedikit aja. Kalo kamu nggak lembur kamu bisa..."
"Halah. Udah. Aku capek. Toh akhir pekan ini kita ke taman bermain. Udah cukup kan?" kata Ardi lalu masuk ke dalam kamar tanpa menghabiskan sisa kopinya.
Sejak itu, Ardi tak pernah mau duduk berdua, berbicara, bercerita. Hanya Arumi sendiri bersama luka yang tak tahu kapan bisa terobati.
Di balik pintu kamarnya, Kayla menatap punggung mamanya yang sedang duduk di ruang makan sendirian. Beberapa hari terakhir, saat di rumah, mamanya terlihat sangat sedih. Mungkin karena pertengkaran beberapa malam yang lalu dengan papanya yang sempat Kayla dengar dari balik pintu kamar dengan ketakutan luar biasa.
'Maaa... apa papa jahat sama mama? Kenapa mama nggak pergi? Apa karena Kayla?'
***