NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sentuhan yang di rindukan

Orion melangkah masuk ke dalam gedung megah itu, diikuti oleh Sue dan Storm tepat di belakangnya. Pemandangan yang terbentang di hadapan mereka membuat Storm dan Sue terpaku sejenak, tercampur rasa kaget dan takjub.

Interior di dalamnya terlihat begitu mewah, megah, dan sangat canggih dengan teknologi yang mutakhir. Sama sekali tidak terkesan menyeramkan atau suram seperti kesan yang didapat saat melihat bangunan tersebut dari luar.

"Tuan," sapa salah satu anak buah Orion dengan hormat saat mereka berpapasan.

"Apakah Rex sudah tiba?" tanya Orion tanpa menghentikan langkah kakinya.

"Sudah, Tuan. Mereka sedang menunggu di ruangan utama saat ini," jawab anak buah itu sigap.

"Bawa pria yang pingsan di dalam mobil ke ruangan bawah tanah," perintah Orion. Tanpa menunggu balasan, ia kembali berjalan tegap menuju ruangan tempat Rex berada.

Storm dan Sue terus mengikuti setiap langkah kaki Orion. Mereka berjalan menyusuri lorong panjang yang dindingnya dipenuhi pajangan barang-barang antik dan benda-benda berharga yang tampak sangat bernilai.

Storm memandang sekeliling dengan mata berbinar, kekagumannya pada Orion semakin dalam. Pria ini benar-benar sosok yang luar biasa dan tak tertandingi.

Berbeda dengan Storm, Sue justru tampak lebih waspada. Intuisinya berkata bahwa Orion bukanlah pria biasa. Ada aura misterius yang mengelilinginya, dan Sue merasa seolah ada banyak bahaya tersembunyi yang mengintai siapa pun yang berada terlalu dekat dengan pria itu.

Klik...

Orion mendorong pintu besar yang dihiasi ukiran rumit dan indah yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Kau akhirnya datang juga?" sapa suara berat Rex yang sudah duduk menunggu di dalam.

Di ruangan itu, terlihat Maple sedang duduk di sofa, sementara Rey tertidur pulas di pangkuannya.

"Sue... Storm..." panggil Maple dengan nada lega saat melihat mereka masuk.

"Maple," ucap Sue cepat, lalu segera berjalan mendekat untuk memastikan keadaan sahabatnya baik-baik saja.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Maple dengan wajah penuh perhatian.

"Kami baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Sue menenangkan.

Sementara kedua wanita itu sibuk saling bertukar kekhawatiran, Rex tetap duduk di behind meja, matanya tak lepas dari layar laptop yang menampilkan data-data penting, tampak sangat serius.

"Kau membawa salah satu dari mereka?" tanya Rex tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

"Hmm..." gumam Orion singkat. Ia berjalan menuju lemari minuman pribadinya, mengambil sebotol wiski, dan menuangkannya ke dalam gelas kristal.

"Siapa sebenarnya orang-orang itu?" tanya Rex lagi, kali ini suaranya terdengar lebih berat.

"Salah satu pembunuh terlatih dari Ordo Wolf," jawab Orion dingin.

"Ordo Wolf?" potong Maple dengan bingung. "Siapa mereka sebenarnya?"

"Mereka adalah salah satu organisasi mafia paling ditakuti di Inggris," jelas Orion sambil menyesap minumannya.

"Apa rencanamu selanjutnya, Rex?" tanya Orion.

Rex menghela napas panjang, seolah sedang menahan beban yang berat di pundaknya. Haaah...

"Ini adalah masalahku. Aku sendiri yang akan menghadapinya," ucap Maple dengan tegas, memutus keheningan yang tercipta.

Rex langsung menoleh dan memandangi Maple dengan tatapan tajam yang menusuk.

"Kau ingin menghadapinya sendirian? Harus kuakui, kau memang beruntung bisa bersembunyi dan menghindari kejaran mereka selama bertahun-tahun," sahut Orion.

"Yang mereka incar hanyalah aku. Aku akan pergi dari sini agar kalian semua tidak terlibat lebih jauh," kata Maple dengan mantap.

"Aku ikut denganmu, Maple!" seru Sue dengan cepat, tak mau ditinggal.

"Pergi??" Rex mendengus, suaranya terdengar garang. "Kau pikir kau bisa pergi seenaknya dan membawa putraku masuk ke dalam bahaya?"

"Rey bukan putramu," sanggah Maple, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.

"Kami bisa hidup baik-baik saja selama ini tanpa kalian. Jadi tolong, jangan campur tangan lagi," tambah Sue membela sahabatnya.

"Maaf jika aku menyela..." Storm angkat bicara dengan hati-hati. "Sebaiknya kita minta bantuan pada Kakak Ipar saja. Aku punya firasat buruk, musuh yang kita hadapi kali ini jauh lebih mengerikan dari yang kita bayangkan."

"Mereka pasti akan segera tahu jika kami memiliki hubungan dengan kalian. Secara otomatis, kita semua sudah terlibat dalam masalah ini sejak awal," tegas Orion.

"Kita bahas ini nanti. Ada hal yang harus aku selesaikan sekarang," potong Rex. Ia berdiri dan berjalan mendekati Maple, lalu dengan gerakan lembut, Rex menggendong tubuh mungil Rey yang masih terlelap di pangkuan istrinya.

"Kau mau membawanya ke mana?" tanya Maple cemas, refleks ingin menjaga anaknya.

"Tentu saja untuk tidur. Biarkan Rey beristirahat dengan nyaman dulu di tempat yang layak," jawab Rex datar. Ia berjalan menuju pintu, dan Storm yang berdiri di dekat sana sigap membukakan jalan untuknya.

Maple yang tak tenang melihat Rey dibawa, segera berdiri dan mengikuti langkah Rex dari belakang.

"Tunggu di sini saja, Sue," pesan Maple saat melihat sahabatnya hendak ikut.

"Baiklah," jawab Sue patuh.

*

Maple kini berada di ruangan lain yang tak kalah luas. Di sudut ruangan terdapat sebuah kamar kecil yang nyaman dengan kasur empuk di dalamnya.

Rex membaringkan tubuh Rey dengan sangat hati-hati agar anak itu tidak terbangun, memastikan Rey tidur dengan lelap.

"Kita perlu bicara," ucap Rex pelan namun tegas saat ia keluar dari kamar kecil itu dan menutup pintunya perlahan.

"kami akan pergi pagi-pagi sekali besok," ucap Maple.

"Kenapa kau meninggalkanku tujuh tahun lalu, Maple?" tanya Rex memotong, suaranya rendah namun penuh penekanan. Pertanyaan itu seolah tertahan di hatinya selama bertahun-tahun.

"Aku tidak ingin membicarakan masa lalu, Rex. Aku bahkan... sudah tidak pernah memikirkanmu lagi," jawab Maple berbohong, suaranya sedikit bergetar.

Rex melangkah maju, mendekat hingga jarak di antara mereka tinggal beberapa senti saja. Tatapan tajam pria itu membuat Maple merasa terperangkap dan terintimidasi, namun di saat yang sama, jantungnya berdegup tak karuan.

Di lubuk hati terdalam, Maple mengakui bahwa rasa rindu itu masih ada, begitu besar dan membara. Walaupun waktu kebersamaan mereka dulu begitu singkat, namun kenangan itu terpatri begitu kuat di hatinya.

"Kau yakin?" bisik Rex. Wajah mereka begitu dekat hingga Maple bisa merasakan hangatnya napas pria itu dan aroma tubuh maskulin yang sangat ia rindukan selama ini.

"Rex..." panggil Maple terbata-bata, kata-katanya tercekat di tenggorokan.

Tanpa peringatan, Rex langsung melumat bibir Maple dengan penuh tuntutan, dalam, dan bergairah. Maple sempat terkejut dan berusaha mendorong dada bidang pria itu, namun tenaganya tak sebanding. Rasa haus akan sentuhan dan rindu yang terpendam bertahun-tahun akhirnya pecah.

Sentuhan tangan Rex yang terasa kasar namun memabukkan itu perlahan membuat pertahanan Maple runtuh. Ia pun membalas ciuman itu dengan sama mendalamnya, melepaskan semua rasa rindu yang selama ini ia pendam sendiri.

Cup... Cup... Haaa... Cup...

Keduanya seolah lupa akan segalanya, larut dalam hasrat dan cinta yang tak pernah padam. Setiap sentuhan dan hembusan napas panas Rex membuat Maple tak lagi punya kekuatan untuk menolak.

 

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!