Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Impian di Tepi Laut
Minggu-minggu berikutnya berlalu dengan sangat menyenangkan bagi Nono dan Ayu. Kedai "Ombak & Senyum" terus berjalan lancar, pelanggan setia semakin banyak, dan kebahagiaan seolah selalu menyertai langkah mereka setiap hari. Dan kini, saat akhir pekan yang panjang tiba, mereka akhirnya bisa mewujudkan salah satu rencana yang tertulis di buku catatan kecil mereka: pergi berlibur ke pantai bersama-sama.
Pagi itu, suasana di dalam mobil Nono terasa begitu ceria dan penuh semangat. Jendela mobil dibuka sedikit, membiarkan angin pagi yang sejuk masuk dan menerbangkan helai rambut mereka. Di kursi belakang, tergeletak beberapa tas berisi pakaian dan perlengkapan liburan mereka. Musik ceria mengalun pelan dari radio mobil, menambah suasana gembira di dalam sana.
"Akhirnya kita bisa liburan juga ya, No," kata Ayu sambil menatap jalanan yang mulai berubah dari pemandangan kota menjadi pemandangan sawah dan perbukitan hijau. Wajahnya bersinar penuh antusiasme. "Aku udah nggak sabar pengen lihat laut, main pasir, dan rasain angin laut yang segar."
Nono tertawa sambil memegang setir mobil dengan santai. Dia melirik Ayu sebentar dengan senyum lebar. "Iya dong, Yu. Kan udah jadi janji kita di buku rencana itu. Aku juga senang banget akhirnya bisa ajak kamu jalan-jalan. Kita kan udah capek banget ngurusin kedai selama ini, pantaslah kita liburan dikit."
"Tapi ingat ya, No," tiba-tiba Ayu menoleh dengan tatapan sedikit tajam, meski sudut bibirnya tersenyum. "Nanti pas di pantai, kamu harus dengerin aku ya. Kita harus main air sampai puas, terus kita harus foto-foto yang bagus-bagus buat kenang-kenangan. Jangan kamu malah duduk santai terus kayak orang tua!"
Nono tertawa renyah mendengar itu. "Ya ampun, Tuan Putri. Baru mau liburan aja udah kasih perintah banyak banget. Iya deh, iya deh. Aku janji bakal nurutin semua kemauan kamu hari ini. Kita bakal main air, kita bakal foto-foto, kita bakal lari-larian di pasir. Pokoknya kamu mau apa, aku turutin. Puas?"
Ayu mendengus pelan, tapi matanya berbinar penuh cinta. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar kalau ngomong manis banget. Tapi oke deh, aku percaya sama janji kamu."
Perjalanan menuju pantai itu memakan waktu sekitar tiga jam. Tapi bagi Nono dan Ayu, waktu itu terasa begitu singkat karena mereka terus bercakap-cakap, tertawa, dan bernyanyi bersama mengikuti lagu di radio. Sesekali mereka masih berdebat soal hal kecil—misalnya soal lagu mana yang lebih enak didengar atau soal jalan mana yang lebih cepat—tapi itu justru membuat perjalanan mereka tidak membosankan.
Akhirnya, sekitar pukul sepuluh pagi, mereka pun tiba di lokasi pantai yang menjadi tujuan mereka. Pemandangan yang terbentang di depan mata mereka sungguh memukau. Laut yang biru jernih berpadu dengan langit yang biru cerah, ombak putih bergulung pelan menyapa pantai pasir putih yang halus dan bersih. Angin laut bertiup sejuk, membawa aroma garam yang khas dan menyejukkan.
"Wah, indah banget..." bisik Ayu takjub, matanya terbelalak melihat pemandangan itu. Dia langsung turun dari mobil dan berlari kecil ke arah pantai, membiarkan angin menerbangkan rambutnya.
Nono tersenyum melihat kegembiraan Ayu. Dia pun turun dan mengikuti langkah Ayu perlahan. "Cantik banget kan, Yu? Seindah pemilik hatiku," goda Nono sambil berdiri di sebelah Ayu.
Ayu tersipu malu, lalu dia memukul lengan Nono pelan. "Ih, kamu tuh ya, di mana aja dan kapan aja bisa aja gombal. Tapi... makasih ya udah bawa aku ke sini. Aku senang banget."
Mereka pun mulai menikmati waktu liburan mereka. Seperti janji Nono, mereka bermain air laut bersama-sama. Ombak kecil menyapu kaki mereka, dingin tapi sangat menyegarkan. Mereka tertawa bahagia saat ombak datang dan membasahi baju mereka. Lalu, mereka bermain pasir, membuat istana pasir yang tidak seindah karya Dito (teman mereka di cerita desa pesisir), tapi cukup bagus buat ukuran mereka berdua. Dan tentu saja, mereka tidak lupa foto-foto. Ayu dengan teliti mengatur pose dan sudut pandang, sementara Nono dengan setia menjadi model dan fotografernya.
"Eh, Nono, jangan dong fotonya miring! Coba deh lihat dulu sebelum jepret. Aku kan mau hasilnya bagus," seru Ayu sambil menatap layar kamera ponsel yang dipegang Nono.
"Ya ampun, Yu. Ini udah bagus kok. Kamu kan emang cantik, jadi di foto mana aja pasti bagus," jawab Nono santai, tapi dia tetap memotret ulang sesuai permintaan Ayu.
Sore harinya, saat matahari mulai turun perlahan ke arah cakrawala, mereka duduk berdampingan di atas pasir yang hangat. Mereka menatap matahari terbenam yang melukis langit dengan warna oranye, merah muda, dan ungu yang sangat indah. Pemandangan itu sungguh memukau dan membuat hati mereka terasa sangat damai.
"Yu," panggil Nono pelan.
Ayu menoleh. "Kenapa, No?"
Nono menatap matahari terbenam itu, lalu menatap Ayu. "Ingat nggak waktu kita kecil, aku pernah cerita kalau pantai itu adalah dunianya, sekolahnya, dan tempatnya belajar banyak hal? Nah, sekarang, pantai ini juga jadi tempat yang spesial buat kita berdua. Tempat di mana kita bisa lupa sama kesibukan, dan cuma nikmatin waktu bareng-bareng."
Ayu mengangguk setuju, matanya berkaca-kaca karena terharu. "Iya, No. Aku juga ngerasa gitu. Liburan ini bikin aku sadar kalau kita butuh waktu buat diri kita sendiri juga, selain sibuk kerja. Dan aku senang banget bisa lewatin waktu ini sama kamu."
Nono meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat. "Aku juga, Yu. Makasih ya udah selalu ada di samping aku, selalu sabar sama aku, dan selalu sayang sama aku. Aku janji, kita bakal sering-sering liburan kayak gini di masa depan. Ke pantai, ke gunung, atau ke mana aja yang kamu mau. Asalkan sama kamu, aku pasti senang."
Ayu tersenyum lebar, lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu Nono. "Aku sayang banget sama kamu, No. Selamanya."
"Aku juga sayang banget sama kamu, Yu. Selamanya," jawab Nono pelan, lalu dia mencium puncak kepala Ayu lembut.
Di bawah langit senja yang indah itu, di tepi pantai yang tenang, Nono dan Ayu menikmati momen bahagia mereka. Mereka sadar, cinta mereka memang unik, penuh dengan perdebatan dan perbedaan pendapat, tapi itu justru membuat cinta mereka menjadi begitu berwarna, begitu kuat, dan begitu indah. Dan mereka berjanji, akan terus menulis cerita indah ini bersama-sama selamanya.