Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Sepasang suami istri yang duduk bersila di puncak Gunung Nyongkokot itu hanya bisa saling pandang dan menghela napas panjang. Penyesalan, ketakutan, dan beban dosa bercampur menjadi satu.
Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terjadi dan tak bisa diubah lagi.
"Tapi tenanglah Istriku... Kita masih punya harapan. Hanya uluran tangan Prediansyah, ditambah dengan kekuatan supranatural dan darah biru dari cucu Abah Guru yaitu Daniel... Aku yakin seyakin-yakinnya semua kutukan dan belenggu yang menimpa kita akan bisa dicabut dan dikeluarkan," ucap Kodir penuh keyakinan.
Mendengar itu, wajah Iroh yang tadi pucat dan gemetar perlahan mulai membaik. Ia mengangguk mantap.
"Ya Pak... Aku juga yakin. Nak Prediansyah orang baik, dia pasti akan mau dan siap membantu kita membereskan semua ini," sahut Iroh dengan semangat baru.
Malam yang panjang dan penuh misteri di puncak gunung itu pun perlahan berakhir, menyisakan tekad bulat untuk masa depan yang lebih baik.
"Baiklah Istriku... Nanti pagi buta kita turun dari puncak gunung ini. Kita kembali ke rumah."
"Dan saat itu juga... pemuda itu sudah saatnya bangun. Nanti kita mandikan seluruh tubuhnya dengan air berkah dari hasil meditasi kita, insyaallah kesadarannya akan kembali," ucap Kodir penuh keyakinan.
"Iya Pak..." jawab Iroh sambil tersenyum penuh arti, lega mendengar kabar baik itu.
Namun seketika wajahnya kembali tampak ragu.
"Tapi Pak... bagaimana nanti cara Bapak jelaskan semuanya pada anak-anak? Terutama pada Nak Prediansyah? Mereka pasti akan kaget dan banyak pertanyaan soal rahasia besar ini," tanya Iroh cemas.
"Nanti Bapak pikirkan bagaimana cara menyampaikannya. Kalau pada Prediansyah, Insyaallah dia pasti mengerti dan punya kematangan jiwa untuk terima kenyataan. Tapi... kalau pada Santi, mungkin agak berat dan susah diterima olehnya," ucap Kodir pasrah namun optimis.
Mendengar itu, Iroh kembali berbicara mengingatkan suaminya.
"Oh iya Pak... Di rumah itu ada teman yang datang bareng Prediansyah. Awalnya dikira saudara, tapi kalau dilihat dari tingkah lakunya dan cara dia melayani... Ibu yakin 100% itu bukan saudara, tapi anak buah kepercayaannya Nak Predi namanya Alex. Terus ada Zaki juga ikut di sana," jelas Iroh.
"Hmmmmmm..."
Kodir mengangguk-angguk pelan seolah membenarkan dugaan istrinya.
"Bapak sebenarnya sudah curiga dari lama, Bu... Pada diri Prediansyah itu. Dia pasti anak orang berada, anak orang kaya raya."
Wajahnya tampak penuh keyakinan.
"Dan alasan kenapa dia sampai hilang ingatan dan ada di sini... Bapak juga tahu besarnya. Dia lari... lari dari masalah yang begitu berat dan pelik yang menimpanya di kota."
"Makanya Bapak sangat yakin... Dialah orang yang tepat. Prediansyah pasti akan mau dan mampu membantu keluarga kita keluar dari jeratan iblis dan belenggu dosa ini," tegas Kodir.
Obrolan panjang lebar yang membahas segala misteri, dosa masa lalu, hingga rencana masa depan akhirnya usai sudah. Segala pertanyaan terjawab, segala keraguan kini hilang berganti menjadi keyakinan bulat.
Sepasang suami istri itu saling berpandangan, hati mereka kini terasa jauh lebih ringan dan tenang.
"Sudah selesai Bu..."
"Sudah ketemu jalannya Pak..."
Mereka sudah yakin sepenuhnya pada keputusan bersama yang telah diambil. Kini tinggal menunggu pagi tiba, turun gunung, dan memulai langkah baru untuk membebaskan diri dari belenggu kegelapan!
⏭️ KEMBALI KE MASA SEKARANG
Suasana di tepi sungai begitu ceria. Prediansyah dan Alex duduk santai di atas batu besar, ditemani Santi yang melayani kopi dan rokok. Tawa dan canda ria terdengar memecah keheningan hutan, melupakan sejenak ketegangan semalam.
Tiba-tiba...
"Anak-anak... Santi... Yuk kita pulang sekarang!"
Terdengar suara Iroh memanggil. Sedangkan suaminya, Mang Kodir, baru saja turun dari puncak gunung dan langsung menuju masuk kerumah nya.
"Ibu...............
"IBUUUUUUUU............!!"
Santi berteriak kaget dan haru, matanya langsung berkaca-kaca melihat ibunya sudah pulang. Semalam ia ditinggal dalam ketakutan yang luar biasa, kini rasa lega luar biasa menyelimuti hatinya.
"Mana Ibuuuuu kak........... !"
Mendengar teriakan sang kakak, keempat adiknya yang sedang asyik bermain air di sungai langsung menoleh serentak. Wajah mereka ceria melihat Ibunda sudah kembali.
Iroh tersenyum lebar menyambut anak-anaknya.
"Ibu sudah pulang..."
"Malam rame ya Bu..." celetuk salah satu anaknya.
"Iya dong... Malam itu rame tapi horor banget Bu!" timpal si Bungsu dengan polosnya.
"WADUH!!"
Seketika itu juga Prediansyah, Alex, dan Zaki langsung salah tingkah! Wajah mereka berubah pucat dan panik setengah mati.
'Aduh jangan dong... Jangan diceritain...' batin mereka berteriak.
Takut banget nih kalau si kecil sampai cerita ke Ibunya: soal Mas Alex yang tadi gagah mau ngusir hantu, eh pas ada apa-apa malah buruannya gelantungan dan ngompol di celana!
Iroh tersenyum geli melihat tingkah lucu Prediansyah, Zaki, dan Alex yang jadi salah tingkah tak karuan. Ia paham betul apa yang sedang dikhawatirkan mereka.
Dengan nada lembut namun tegas, sang ibu menasihati anak-anaknya.
"Sudah, sudah... tak usah diceritakan lebih jauh. Anak-anak harus bisa menjaga privasi orang lain. Harus pandai memilah mana yang boleh diucapkan dan mana yang sebaiknya ditutup rapat."
"Kalian harus bisa mengkaji perasaan orang lain. Ingat pesan Kakek Buyut: 'Ngaji Rasa, Ngaji Diri'."
"Sebelum kita bercerita atau membuka aib orang, cobalah tanya pada diri sendiri dulu... Apakah kalau hal itu terjadi pada kita, kita akan merasa sakit? Apakah hati kita akan terluka jika hal itu diumbar-umbar? Kalau iya, maka janganlah kita lakukan pada orang lain," jelas Iroh penuh kearifan lokal.
Mendengar nasihat itu, Prediansyah dan Alex pun menghela napas lega, sekaligus makin segan dan hormat pada keluarga ini.
"Siap Bu... Kami paham. Hehehe." jawab mereka serempak sambil terkekeh lega, berterima kasih dalam hati pada Ibu yang sudah bijak menutup aib mereka.
"Ya sudah, ayo naik... kita pulang. Barang-barang jangan lupa dibawa semua ya," titah Ibu lembut.
Tiba-tiba wajah Ibu berseri-seri, ia menoleh ke arah ketiga pemuda itu dengan senyum lebar.
"Nak Prediansyah, Mas Alex, Zaki... ayo cepat... Pemuda itu sudah bangun!"
"HAH?! BENAR BU?!"
Mereka bertiga terkejut bukan main, mata langsung melotot tak percaya. Begitu juga keempat anak kecil yang baru saja naik dari sungai, mendengar kata-kata itu langsung bersorak kegirangan.
"AYO KITA LIIIIHAT!!"
Tanpa menunggu lama, mereka semua langsung berlari kencang menuju rumah, ingin segera melihat sosok Daniel yang sudah sadar dan membuka mata!
Iroh hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah keempat anaknya. Baru naik dari sungai, badan masih basah kuyup, rambut juga masih meneteskan air, eh lari lebih kencang dari kuda! Padahal tadi disuruh bawa barang-barang, tapi begitu dengar kata "bangun", barang langsung ditinggal begitu saja!
Melihat keributan itu, Santi sebagai anak pertama tersenyum dan langsung bersuara.
"Biar Santi aja yang bawa pelan-pelan ya Bu... Kita duluan saja," ajaknya tak sabar ingin memastikan kabar baik itu benar adanya.
Bersambung.