"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skak Mat
Tanpa mengubah posisinya, Sisil melihat pada Anyelir dari balik Alvin. Wajah wanita itu terlihat masam. Ada kecemburuan di matanya.
“Aku lagi gulung lengan kemeja Om Alvin. Makasih Tante, aku dikasih kesempatan buat ngurus Om Alvin,” jawab Sisil santai yang hampir membuat Anyelir meledak.
Sisil melanjutkan pekerjaannya, melipat lengan kemeja Alvin tanpa mempedulikan reaksi Anyelir.
“Sudah selesai, Om udah ganteng,” ujar Sisil sambil menepuk dada Alvin yang terbalut kaos berwarna putih. Pria itu memang senang mengenakan kaos polos yang dilapisi kemeja lengan panjang yang dilipat sampai ke siku.
“Ayo … sarapan dulu, Om.”
Sisil menarik tangan Alvin menuju ruang makan. Anyelir bertambah geram. Dengan cepat keduanya menyusul dari belakang. sesampainya di ruang makan, Dia menghempas tangan Sisil yang masih memegang tangan Alvin.
“Kenapa sih, Tan? Takut Om Alvin diambil sama aku? Makanya kalau punya suami itu diurus,” ceplos Sisil sekenanya.
“Apa maksu—“
“Sudahlah!” hardik Alvin membuat Anyelir sontak membungkam mulutnya.
Diam-diam Sisil tersenyum senang. Alvin membelanya dibanding Anyelir. Tanpa diminta, gadis itu langsung mengambilkan nasi dan telur ceplok untuk Alvin.
“Dicoba, Om. Nasi goreng spesial buatan aku. Dijamin enak,” ujar Sisil sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Anyelir langsung mengambil nasi goreng lalu mencicipinya.
“Hambar,” ceplos Anyelir, hendak membuat Sisil jatuh di mata Alvin.
“Masa sih? Emang beneran hambar, Om?”
Alvin tidak langsung menjawab pertanyaan Sisil. Pria itu mencicipi dulu nasi goreng buatan gadis cantik ini. mengunyahnya pelan kemudian menelannya. Lalu dia melihat pada Sisil. “Nasinya enak, rasanya pas, ngga hambar. Kamu yakin nasi gorengnya hambar?” tanya Alvin sambil melihat pada istrinya.
Anyelir merasa kesal, dia seperti dijatuhkan oleh suaminya sendiri. Sudah memuji masakan Sisil, kemudian mempertanyakan penilaiannya, double kill untuknya.
Sisil berlari ke dapur kemudian datang dengan membawa garam meja. Tanpa diminta Sisil langsung menaburkan garam ke dalam nasi goreng di piring Anyelir. Sontak mata wanita itu langsung membulat.
“Kenapa ditambah garam?” protes Anyelir.
“Katanya hambar, makanya aku tambah garam. Masih kurang ngga garamnya, Tante? Mau kutambah lagi?”
“Ngga usah!”
Dengan sangat terpaksa Anyelir menelan nasi goreng yang tentu saja rasanya jauh lebih asin. Padahal tadi dia sengaja ingin menjatuhkan Sisil di depan suaminya. Yang ada justru dirinya yang dikerjai balik gadis tengil ini.
Kehadiran Sisil di rumah ini sepertinya berpotensi membuat tekanan darahnya naik.
“Mas … hari ini aku malas bawa mobil. Antar aku ya?” nada suara Anyelir dibuat manja.
“Hem ….”
Sebuah senyuman tercetak di wajah Anyelir. Dia melirik Sisil, matanya menyiratkan kemenangan. Senang karena Alvin langsung menyetujui keinginannya.
Usai sarapan, wanita itu langsung bersiap untuk pergi. Dia mengambil dulu tasnya di kamar, baru kemudian keluar.
Alvin sudah berada di belakang kemudi ketika Anyelir masuk. Baru saja dia menutup pintu mobil, ketika pintu bagian belakang terbuka. Sisil masuk lalu duduk di jok belakang.
“Kamu ngapain?” tanya Anyelir sambil menolehkan kepalanya ke belakang.
“Aku mau ke AlMart yang dekat Blue Mart. Memangnya Om Alvin ngga bilang?”
“Iya, Mas?” tanya Anyelir sambil melihat pada suaminya.
Sebenarnya Alvin terkejut mendengar jawaban Sisil. Sebelumnya gadis itu tidak mengatakan hendak mengunjungi cabang AlMart yang berada di dekat kantor Anyelir. Namun pria itu malah menganggukkan kepala, membenarkan pernyataan Sisil barusan.
Anyelir menghempaskan punggungnya ke sandaran sambil melipat kedua tangannya. Wajahnya nampak cemberut. Kehadiran Sisil benar-benar membuatnya kesal. Gadis itu selalu saja mencoba mendekati suaminya.
Sepanjang perjalanan, Anyelir sudah seperti kambing congek saja. Mendengarkan pembicaraan antara Alvin dan Sisil yang berkesinambungan. Keduanya hanya membahas tentang AlMart, tapi tetap membuat Anyelir kesal.
Sebelumnya Alvin tidak pernah membahas soal AlMart dengannya. Tapi dengan Sisil, pria itu bicara panjang lebar.
“AlMart yang dekat kantorku, maju pesat, Mas? Kok aku ngga tahu? Mas ngga pernah kasih tahu aku,” Anyelir mencoba masuk dalam pembicaraan.
“Kamu tidak pernah bertanya,” jawab Alvin singkat.
“Memangnya harus nunggu aku tanya dulu?”
“Aku udah pernah coba cerita soal perkembangan AlMart, tapi kamu kan ngga peduli. Malah mengalihkan pembicaraan ke arah lain.”
“Ehem ….”
Skak mat! Anyelir hanya bisa berdehem saja. Kembali dia dibuat malu. Alvin seolah tengah menelanjanginya di hadapan Sisil.
Alvin sendiri tidak mengerti kenapa dia justru melakukan ini. Seolah dia ingin memperlihatkan kondisi rumah tangganya dengan Anyelir tanpa harus bercerita.
Dari kursi belakang, Sisil sudah mulai bisa meraba komunikasi di antara keduanya. Gadis itu menebak kalau Anyelir sama sekali tidak peduli dengan usaha yang dikembangkan suaminya. Terbukti dari obrolan mereka barusan.
“Tante Anye harusnya bangga loh punya suami seperti Om Alvin. Punya usaha sendiri, ngga dapat gaji dari orang lain, tapi justru menggaji orang lain. Mandiri secara finansial. Harusnya Tante ngga usah kerja sih.”
“Tapi kalau Tante ngga kerja, terus usaha Mas Alvin bangkrut, gimana? Kalau Tante kerja kan masih ada penopang.”
“Astaghfirullah. Tante jangan bilang gitu. Kata-kata itu doa, apalagi datangnya dari istri. Harusnya sebagai istri, Tante mendoakan suaminya supaya sukses, bukan menyumpahinya bangkrut.”
“Tante ngga nyumpahi, tapi hanya berandai-andai.”
“Orang tuh berandai-andai usaha suaminya besar, maju dan sukses. Bukan berandai-andai bangkrut!”
Untuk kedua kalinya Anyelir dibuat skak mat.
Diam-diam Alvin tersenyum tipis. Dia senang sekali Sisil melontarkan kalimat seperti itu pada Anyelir. Setidaknya sekarang istrinya ini punya lawan seimbang. Jika dia selalu memilih diam, tidak dengan Sisil yang selalu membelanya.
“Kamu berapa lama di Jakarta?” tiba-tiba saja Anyelir mengubah topik pembicaraan.
“Kenapa tanya-tanya, Tan? Kepo banget deh. Dilarang kepo, Tante. Pernah dengar ngga kalau orang kepo bisa kena penyakit panu, kadas kurap dan rorombeheun.”
“Hahaha ….”
Tawa Alvin langsung meledak begitu saja. Anyelir sampai mencubit lengan suaminya. Tapi Alvin sama sekali tidak menghentikan tawanya, membuat sang istri bertambah gondok.
“Aku agak lama di Jakarta kayanya, Tan. Aku kan sekalian cari jodoh,” lanjut Sisil.
“Bagus, deh. Biar kamu ngga gatel.”
“Gatel sama siapa, Tante? Sama Om Alvin? Tapi kalau Omnya senang digatalin sama aku, ngga apa-apa kan? Hihihi ….”
Uhuk … Uhuk …
Alvin sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar kata-kata Sisil. Sementara Anyelir, jangan ditanya. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun.
Namun wanita itu terpaksa mengubur kalimat yang hendak disemprotkan pada Sisil karena mobil yang dikendarai Alvin sudah berbelok memasuki pelataran parkir Blue Mart.
Setelah sampai di depan lobi, Anyelir langsung turun. Sisil juga ikut-ikutan turun.
“Kamu kenapa turun?” ketus Anyelir.
“Aku mau pindah ke depan. Om Alvin pasti kesepian kalau aku duduk di belakang. Bye … Tante. Kerja yang rajin ya. Ngga usah pikirin soal Om Alvin, ada aku yang mengurusnya.”
“Ka—“
BRAK!
Ucapan Anyelir terhenti begitu saja ketika Sisil tiba-tiba menutup pintu mobil. Hanya selang beberapa detik, kendaraan yang dikemudikan Alvin bergerak maju.
Begitu keluar dari pelataran parkir Blue Mart, Alvin menepikan dulu kendaraannya. Dia melepaskan sabuk pengaman lalu mencondongkan tubuhnya pada Sisil membuat gadis itu menahan nafasnya.
Nafas Alvin menghangat di pipi Sisil. Untuk pertama kalinya mata pria itu melihatnya dengan tatapan tajam sekaligus lembut. Ada sesuatu di sorot matanya yang sulit dijelaskan.
***
Hayo ... Mau apa?
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭