NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Gagal Melupakan

Sebelum terjadi kecelakaan.

Di sebuah tempat minum-minum, Arvin keluar dari pintu itu setelah merasa puas minum dan kepalanya sudah berputar-putar seperti gasing.

Arvin bukan tipe orang yang suka mabuk. Pola hidupnya suka kebiasaan sehat. Bahkan minuman favoritnya adalah air putih.

Akan tetapi, demi bisa menghilangkan ingatan tentang mendaratkan bibir di bibir lembut Ayu, Arvin sampai rela membatalkan rapat lalu pergi minum-minum bersama pak Toni dari sore.

Kini Arvin jalan sempoyongan menuju mobilnya.

Dia sempat ditegur oleh petugas parkir saat Arvin akan membuka pintu mobil. “Pak, sebaiknya jangan menyetir dalam keadaan begini.”

“Diam kamu Ayu! Aku begini juga gara-gara kamu!” bentak Arvin sambil mendorong petugas parkir jauh-jauh.

Setelah berhasil mengusir petugas parkir, Arvin masuk ke dalam mobilnya. Mobil berbelok dan berhasil berjalan mulus di jalan raya.

Dia masih sadar dirinya sedang mabuk, jadi laju mobil ia atur lebih pelan demi keselamatan. Sejauh ini perjalanan masih lancar.

Hening di dalam mobil membuat Arvin nampak semakin rileks. Padahal sebenarnya, dia sedang menahan tangis.

Dia ingin menangis karena meski sudah mabuk begini wajah Ayu tetap saja tidak bisa hilang dari kepalanya. Sia-sia.

“Ayu sialan! Gara-gara kamu aku begini!” racau Arvin sambil berusaha memelekkan mata, mencoba menyetir lurus.

Tiba-tiba, Arvin merasa perutnya melilit sakit.

“Uweek!”

Arvin muntah.

Fokusnya langsung tertuju ke jas kerja yang dipakainya, basah terkena muntahan.

Mobil pun bergerak oleng.

Brak!

Mobil Arvin menabrak pohon pinggir jalan.

Mesin berhenti menderu, bodi depan ringsek. Asap mulai mengepul.

Di dalam mobil, Arvin tidak sadarkan diri, kepalanya berbaring ke permukaan bantal pengaman (airbag) yang otomatis terbuka saat mobil mendapatkan benturan.

Berapa menit kemudian, polisi datang menolong berkat orang-orang yang melihat kecelakaan sigap menelepon polisi.

Lantaran tidak mengalami luka-luka dan memang bukan kecelakaan yang membahayakan, Arvin pun pulang diantar polisi.

Ayu membuka pintu, menyambut dengan sangat prihatin.

Arvin yang tertidur dipapah kanan-kiri oleh dua polisi, dibawanya ke kamar dan menidurkannya ke sana.

Selesai membantu, dua polisi itu pamit pergi.

“Lain kali, nasehati suami anda agar jangan mengendarai mobil dalam keadaan begitu,” pesan salah satu polisi kepada Ayu.

“Baik Pak. Maaf telah merepotkan. Terimakasih telah menolong suami saya.” Ayu menunduk malu.

Pintu ditutup setelah polisi pergi. Ayu lalu bergegas ke kamar Arvin, melihat keadaan suaminya.

Arvin tidur terlentang. Sesekali dadanya tersentak cepat karena efek cegukan dengan mata tetap tertutup.

Ayu pelan-pelan mendekat sambil menutup mulut.

“Pak Arvin, kenapa sampai begini? Perasaan kuli di kampung kalau mabuk gak sampai teler begini,” gumam Ayu.

Arvin terlihat sangat berantakan. Rambut pendeknya yang biasa rapi kini acak-acakan, jas dan kemeja yang biasanya wangi kini bau menyengat karena bekas muntahan.

Ayu sebenarnya ingin keluar dari kamar saja, tapi melihat sang suami dalam keadaan kotor pasti tidak akan nyaman beristirahat.

“Aku lepas saja deh jasnya. Kasihan,” inisiatif Ayu.

Pelan-pelan, Ayu duduk di samping Arvin dan mulai melepas kancing jas, satu persatu.

Lalu, Ayu beranjak naik ke atas tempat tidur, sekuat tenaga mengangkat punggung Arvin dari belakang hingga pria itu berubah menjadi posisi duduk.

“Aduuh! Bapak berat banget!” keluh Ayu, saat sekuat tenaga mengangkat punggung Arvin.

Dari belakang, baru Ayu mulai bebas melepas jas kotor itu. Selesai, Arvin dibaringkan kembali.

Ayu segera turun dari tempat tidur sambil membawa jas kotor Arvin, lalu menyeka keringat di keningnya.

Baru mengangkat punggung suaminya saja Ayu sudah dibuat bercucuran keringat.

“Ya ampun. Ternyata kemeja pak Arvin juga kotor parah!”

Ternyata melepas jas saja tidak cukup.

Baru hendak akan pergi, Ayu baru menyadari kemeja kerja putih Arvin beserta dasinya di sana juga perlu dilepas.

Tapi apa perlu melepasnya? 

Ayu langsung gugup kebingungan. Kakinya mulai mondar-mandir kecil.

Ini bukan soal mudah atau tidaknya melepas kemeja, tapi ini soal Pemandangan yang akan dilihat Ayu jika berhasil melepasnya.

Ayu pun coba membayangkannya.

Pipinya langsung memerah hingga merambat ke telinga.

Ayu menggeleng-geleng cepat.

“Tidak!” Gak boleh lakuin itu. Gimana kalau pak Arvin tiba-tiba sadar, pasti marah besar. Terus aku pasti bakalan dituduh yang enggak-enggak. Tapi kalau dibiarin, kasihan Pak Arvin,” bingung Ayu sembari menggigit ujung kukunya.

Bagi Ayu, keputusan yang akan dibuat terasa seperti mempertaruhkan hidup dan mati.

Hingga datanglah ide yang bagus. Sebuah jalan tengah.

“Oh iya, kan bisa dibersihkan pakai kain hangat. Gak perlu buka kemeja.”

Dengan sigap, Ayu berlari ke dapur. Tak butuh waktu lama baginya masuk ke kembali kamar Arvin sambil membawa baskom kecil berisi air hangat dan kain lembut.

Ayu duduk kembali ke tepi tempat tidur, samping berbaringnya Arvin.

“Permisi Ya, Pak,” izinnya pelan sebelum memulai.

Ayu mulai menggosok lembut kemeja Arvin mulai dari area dada hingga perut.  Sebelum itu, dasi juga dilepas, dibersihkan, lalu diletakkan di atas nakas.

Ternyata berhasil. Noda muntahan dan bau tak sedapnya terangkat. Meski tidak sepenuhnya bersih, tapi ini terbilang cukup.

Akan tetapi, muncul masalah baru yang lebih besar.

Dan sumbernya dari Ayu sendiri.

Kemeja Arvin yang sudah lumayan bersih menjadi semakin basah. Dan basahnya kemeja membuat dada bidang dan perut sixpack Arvin mudah terlihat meskipun tertutup kain.

Melihat keindahan maskulin itu, Ayu jadi mematung sejenak. Dia menelan saliva bulat-bulat.

Mulai tidak kuat iman.

“Sepertinya memang perlu dibersihkan juga. Kalau cuma dari luar, di dalam sana pasti belum bersih,” gumam Ayu dengan sorotan mata tak lepas pada pemandangan berotot itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!