Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Xavier masih berdiri mematung. Matanya yang biasanya tajam kini tampak kosong, menatap dinding di belakang Aeryn. Suara hujan di luar balkon perlahan mereda, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam kamar.
"Kau ingin tahu siapa kau bagiku?" Xavier akhirnya bersuara. Rendah dan parau, seolah kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.
Aeryn tidak menjawab. Ia hanya menunggu, tangannya mengepal di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya sudah meluap, namun kedinginan di hatinya jauh lebih mendominasi.
Xavier berjalan perlahan menuju meja rias. Ia mengambil foto kecil itu dengan ujung jarinya, menatapnya seolah benda itu bisa bicara. "Ayahku meninggal dengan penyesalan besar, Aeryn. Dia tahu ibumu tidak bersalah. Dia punya bukti bahwa Baskara memanipulasi segalanya, tapi dia kalah di pengadilan karena Arkananta saat itu belum punya kuasa atas hukum. Kami dihancurkan secara finansial dan reputasi karena mencoba membela Maryam."
Ia menarik napas panjang, lalu berbalik menatap Aeryn. "Aku berumur lima belas tahun saat itu. Ayah membawaku ke penjara untuk terakhir kalinya sebelum dia jatuh sakit. Aku melihat Bu Maryam. Dia tidak menangis, dia tidak memohon kebebasan. Dia memberikan foto ini padaku. Dia bilang, 'Xavier, anakku tidak punya siapa-siapa lagi selain pria pengecut itu. Tolong, jaga dia. Jangan biarkan dia berakhir sepertiku'."
Aeryn merasa dadanya sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. "Jadi, kau melakukannya karena perintah? Karena wasiat dari seorang wanita yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri?"
"Aku melakukannya karena aku berjanji padanya," sahut Xavier. "Aku melihatmu tumbuh dari jauh. Aku melihatmu ingin menikah dengan Kaelan, dan aku tahu itu adalah neraka bagimu. Aku mengumpulkan kekuatan, membangun Arkananta Group dari nol, hanya agar aku punya cukup kuasa untuk menarikmu keluar dari sana. Kau pikir aku bisa melakukannya sepuluh tahun lalu? Tidak, Aeryn. Aku akan hancur bersama kalian."
Aeryn tertawa, sebuah tawa pendek yang terdengar menyakitkan. "Menarikku keluar? Kau tidak menarikku keluar, Xavier. Kau hanya memindahkan aku dari satu kandang ke kandang yang lain. Kau membiarkan aku menderita bersama Kaelan selama bertahun-tahun, membiarkan aku dipukuli secara mental oleh keluarga Valerine, hanya supaya kau bisa muncul sebagai penyelamat di waktu yang kau anggap paling menguntungkan."
"Aku tidak punya pilihan! Saat itu aku belum siap melawan Baskara! Jika aku bergerak terlalu cepat, dia akan melenyapkanmu lebih dulu sebelum aku sempat menyentuh tangannya!"
"Kau selalu punya pilihan!" teriak Aeryn. "Tapi kau memilih untuk bermain tuhan. Kau mengawasiku seperti penguntit, menyimpan fotoku di dompetmu seolah aku adalah trofi masa depanmu. Kau menganggapku sebagai beban moral yang harus kau selesaikan agar ayahmu bisa tenang di alam baka. Apakah aku ini manusia, atau hanya tugas yang belum selesai?"
Xavier melangkah maju, mencoba meraih tangan Aeryn, tapi Aeryn mundur dengan cepat hingga punggungnya menabrak lemari.
"Jangan sentuh aku," desis Aeryn. "Selama ini aku pikir kau melihat bakatku. Aku pikir kau menikahiku karena kau percaya pada visi bisnisku. Aku pikir, meski dingin, kau menghargai aku sebagai rekan. Tapi ternyata... aku hanya proyek amal bagimu. Aku hanya barang titipan yang harus kau jaga agar kontrak masa kecilmu terpenuhi. Apakah setiap ciuman yang kau berikan juga bagian dari janji itu?"
Xavier terdiam. Wajahnya mengeras, rahangnya terkatup rapat. "Jangan rendahkan niatku, Aeryn."
"Dan kau apa? Kau merasa kasihan? Setiap kali kau menyentuhku, apakah kau membayangkan ibuku yang memohon di balik jeruji?" potong Aeryn. "Setiap kali kau membantuku menghancurkan Kaelan, apakah kau merasa sedang mencoret satu daftar di buku utang ayahmu? 'Satu tugas selesai, Maryam akan bangga'. Begitu?"
"Aku tidak pernah melihatmu sebagai beban," suara Xavier bergetar karena amarah yang ditahan. "Aku memberikanmu senjata untuk melawan mereka. Aku memberimu kuasa!"
"Tapi kau juga tidak melihatku sebagai manusia, Xavier. Kau melihatku sebagai tanggung jawab. Sebagai objek berharga yang harus diamankan dalam brankas besi," Aeryn menghapus air matanya dengan kasar. "Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Aku mulai percaya padamu. Aku mulai merasa aman di rumah ini. Aku mulai berpikir bahwa mungkin, pria kaku ini benar-benar peduli padaku. Tapi ternyata, rasa aman ini hanyalah bagian dari prosedur keamanan yang kau susun agar barang titipanmu tidak rusak."
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Xavier, suaranya mulai meninggi karena frustrasi. "Aku sudah memberimu segalanya. Gedung Valerine yang kau idamkan, namamu kembali bersih, perlindungan dari orang-orang yang ingin membunuhmu. Apa itu belum cukup?"
"Aku ingin harga diriku kembali, Xavier! Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bayang-bayang janji masa kecilmu yang menjijikkan itu! Aku tidak mau menjadi bagian dari penebusan dosamu!"
Aeryn menatap pergelangan tangannya. Di sana melingkar jam tangan mahal pemberian Xavier. Di jarinya, melingkar cincin berlian yang menjadi simbol pernikahan kontrak mereka. Semuanya terasa sangat berat sekarang. Semua pemberian Xavier terasa seperti rantai emas yang mengikatnya pada masa lalu yang tidak pernah ia minta.
"Kau bilang kita adalah rekan bisnis," ucap Aeryn, suaranya kini mendatar dan dingin. "Tapi rekan bisnis tidak menyimpan foto masa kecil rekannya di dompet mereka selama dua puluh tahun. Rekan bisnis tidak mengatur hidup orang lain secara diam-diam seolah mereka adalah pion di atas papan catur."
"Aku melakukan itu untuk melindungimu, Aeryn! Kau tidak tahu seberapa besar bahaya yang mengincarmu! Kau tidak tahu siapa yang membunuh Pak Herman!"
"Bahaya itu ada karena aku bersamamu, Xavier! Pak Herman mati karena aku bersamamu! Jika aku tetap menjadi Aeryn yang biasa, Aeryn yang tidak kau lirik, mungkin aku tidak akan pernah terlibat dalam permainan maut ini! Kau membawaku ke tengah badai dan berkata kau sedang melindungiku?"
Xavier terdiam. Ia tahu Aeryn benar soal Pak Herman. Kesalahan terbesarnya adalah meremehkan seberapa jauh musuh-musuh Maryam akan bertindak untuk menutupi masa lalu yang mulai terkuak.
"Kau lelah, Aeryn. Masuklah ke kamar," kata Xavier setelah keheningan yang lama. "Kau sedang emosi. Kita bicara besok saat kepalamu sudah dingin."
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan besok, lusa, atau kapan pun," sahut Aeryn.
Ia berjalan menuju meja samping tempat tidur. Dengan gerakan pasti, ia melepas cincin berlian dari jari manisnya. Ia menatap benda berkilau itu sejenak. Berlian itu tampak mengejeknya—mengingatkannya bahwa kecantikannya adalah hasil dari sangkar yang dibuat pria ini.
Xavier mengerutkan kening. "Apa yang kau lakukan? Pakai kembali cincin itu."
"Aku bukan boneka ibuku. Aku bukan proyek ayahmu. Dan aku bukan milik Arkananta," kata Aeryn tegas. Langkahnya mantap mendekati Xavier. Jarak mereka sangat dekat, namun terasa seperti ada jurang yang tak berdasar memisahkan mereka. Aeryn menatap langsung ke mata Xavier, mencari pria yang ia pikir ia cintai, namun hanya menemukan seorang pria yang terjebak dalam obsesi masa lalu.
"Jika kau menikahiku hanya untuk memenuhi janji, maka kontrak ini selesai sekarang. Aku tidak mau menjadi utang yang kau bayar."
"Aeryn, jangan bodoh. Di luar sana kau tidak punya siapa-siapa!"
"Aku lebih baik tidak punya siapa-siapa daripada punya seseorang yang melihatku sebagai tugas sekolah yang belum selesai!"
Aeryn mengangkat tangannya yang memegang cincin itu. Tanpa ragu, ia melempar cincin pernikahan itu tepat ke dada Xavier. Benda logam itu menghantam jas mahal Xavier dengan suara berdenting kecil sebelum jatuh ke lantai karpet yang tebal.
"Ambil kembali perlindunganmu, Xavier. Ambil kembali janji-janjimu," bisik Aeryn, suaranya bergetar karena amarah dan luka yang teramat dalam. "Mulai detik ini, aku akan mengambil kembali hidupku. Aku bukan barang titipan ibuku, Xavier! Dan aku bukan milikmu!"
Aeryn berbalik dan berjalan menuju pintu kamar tanpa menoleh lagi. Ia meninggalkan Xavier yang berdiri mematung di tengah ruangan yang kini terasa sangat luas dan hampa.