kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.
Marsha Zaiva Dominic.
Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.
Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Valerina tertunduk dalam. Ia tahu posisi favoritnya telah runtuh total sejak Marsha kembali.
Keheningan di dapur itu semakin mencekam. Penjelasan Andreas tentang kepulangan Valerina ke Indonesia untuk mengurus butik milik Selena seolah menegaskan garis pemisah yang nyata di antara mereka. Valerina mewarisi sisa-sisa kejayaan ibunya, sementara Marsha putri yang dibuang, kini kembali sebagai pemilik tahta di hati ayahnya.
Marsha mendengus sinis, matanya melirik Valerina yang masih tertunduk. "Butik? Jadi dia akan melanjutkan apa yang dibangun oleh wanita yang membuang anaknya sendiri ke tempat sampah?"
Valerina meremas jemarinya, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku hanya... aku hanya ingin menjaga apa yang tersisa, Marsha. Ibu sudah di penjara. Ayah sudah tidak mau lagi bicara padanya. Jika aku juga pergi..."
"Maka pergilah," potong Marsha tanpa ampun. "Bukankah itu yang kalian lakukan padaku dua puluh tahun lalu? Membiarkanku pergi, membiarkanku hilang seolah aku tidak pernah ada?"
Andreas meletakkan piring sate yang baru saja ia selesaikan ke atas meja. Ia menatap Valerina, lalu beralih ke Marsha, tatapannya pada Valerina dingin dan datar, namun saat tertuju pada Marsha, matanya melunak secara drastis.
"Biarkan dia kembali ke Indonesia," ucap Andreas pelan namun tegas. "Rumah ini terlalu sesak untuk masa lalu yang buruk. Dia punya dunianya sendiri di sana, dan mulai detik ini, duniamu di sini tidak akan pernah lagi bersinggungan dengan kepentingan mereka."
Andreas menarik kursi untuk Marsha, mempersilahkannya duduk dengan gerakan yang sangat protektif. "Malam ini, biarkan aroma sate ini yang bicara, Sayang," bisik Andreas lembut. "Jangan biarkan bayang-bayang Selena merusak meja makan kita lagi. Kamu sudah di rumah. Dan di rumah ini, Daddy adalah pelindungmu. Siapa pun yang pernah menyakitimu, termasuk mereka yang diam saat kamu dibuang, harus berhadapan denganku."
Marsha menarik napas panjang. Ia menatap sate ayam di piringnya, lalu menatap ayahnya yang kini benar-benar "hadir" untuknya. Di rumah ini, ia mulai menyadari bahwa meski Valerina ada di sana, dia bukan lagi siapa-siapa. Dia hanya bayangan dari masa lalu yang kalah oleh cinta seorang ayah yang siap memasak sate ayam setiap malam demi satu detik senyuman putrinya.
Marsha duduk, menatap sate ayam dengan bumbu kacang yang melimpah di hadapannya. Aroma kacang yang gurih dan manis itu menusuk indra penciumannya, membawa kembali kilasan ingatan tentang seorang pria yang dulu sering menggendongnya sambil meniup makanan yang panas.
Ia mengambil satu tusuk sate, lalu menggigitnya.
Rasa itu meledak di lidahnya. Sempurna.
Marsha terdiam, mengunyah perlahan sambil menahan genangan air mata yang mulai berkumpul di kelopak matanya. Ia membenci Valerina, ya. Ia membenci Selena hingga ke tulang. Tapi di sini, di depan piring sate ini, ia menyadari satu hal yang sangat menyakitkan, Ia sangat merindukan ayahnya.
Andreas memperhatikan ekspresi Marsha dengan napas tertahan. Ia tidak butuh kata-kata pujian; ia hanya butuh melihat Marsha menghabiskan masakannya. Bagi Andreas, setiap suapan yang ditelan Marsha adalah satu langkah kaki putrinya yang kembali mendekat ke arahnya.
"Enak?" tanya Andreas lirih, tangannya bergerak ragu seolah ingin mengusap kepala Marsha namun ia menahan diri.
Marsha tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil sambil terus makan, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang mulai basah oleh air mata.
Valerina tersenyum ia mencoba menebus kesalahannya, "kakak sudah menyiapkan pakaian untukmu, semuanya baru, kakak berkonsultasi dengan fashion styles untuk mengisi lemari yang sesuai dengan karaktermu."
Dimasa lalu Valerina mendapatkan pakaian baru dan bermerk, sedangkan Marsha hanya mendapatkan pakaian bekas miliknya, itu karena ibunya tidak pernah membelikan pakaian baru. Tapu tidak dengan ayahnya yang selalu membelikan pakaian baru dan buku-buku untuk Marsha.
Kalimat Valerina barusan seolah melempar Marsha kembali ke masa lalu. Dalam ingatan yang mulai tersingkap, Marsha ingat bagaimana dulu ia selalu berdiri di bawah bayang-bayang kakaknya. Valerina dengan gaun-gaun indah bermerek yang masih berbau toko, sementara Marsha harus puas dengan pakaian lungsuran yang sudah pudar warnanya dan kebesaran di tubuhnya yang kecil.
Namun, di tengah perlakuan pilih kasih ibunya, selalu ada satu tangan yang berbeda. Tangan Andreas. Ayahnya yang diam-diam akan pulang membawa kantong belanja berisi pakaian baru yang cantik dan tumpukan buku cerita, hanya untuk melihat mata putri kecilnya berbinar.
Marsha enggan menanggapi, tapi ingatan bayang-bayang seorang anak kecil yang berdiri menjauh, memperhatikan gadis lainnya yang tengah tertawa mencoba gaun barunya.
Setelah makan malam yang melelahkan secara emosional, Marsha masuk ke kamarnya. Ia membuka lemari besar yang disebut Valerina tadi. Benar saja, deretan pakaian dengan potongan elegan, bahan premium, dan warna-warna yang sangat sesuai dengan kepribadiannya sebagai dokter profesional namun anggun berjejer rapi.
Tapi pandangan Marsha justru teralih pada sebuah rak kecil di sudut kamar. Di sana, tertata rapi buku-buku kedokteran dasar dan ensiklopedia lama. Ia mengambil salah satunya. Di halaman depan, ada tulisan tangan yang mulai memudar namun sangat tegas.
"Untuk putri kecilku, Marsha. Bacalah dunia, agar suatu hari kamu bisa menaklukkannya. Daddy selalu bersamamu.”
Marsha mendekap buku itu ke dadanya. Tangki cintanya yang sudah penuh dari keluarga Dominic kini terasa meluap. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar kehilangan kasih sayang seorang ayah; Andreas telah menanamkan benih kekuatan itu sejak ia masih balita, bahkan sebelum Selena memisahkan mereka.
Di luar pintu kamar, Andreas berdiri mematung. Ia tidak mengetuk, ia hanya ingin memastikan putrinya merasa aman di dalam "dunianya" yang baru.
Suara Andreas pecah di tengah keheningan kamar itu. Pertanyaan yang ia ajukan bukan hanya sekadar permintaan, melainkan sebuah permohonan dari seorang pria yang telah menghabiskan dua dekade hidupnya hanya untuk momen ini.
Marsha masih mendekap buku ensiklopedia lama itu di dadanya. Bahunya mulai bergetar. Dinding pertahanan yang ia bangun dengan label "Dokter yang Tegas" runtuh seketika saat ia melihat mata ayahnya yang berkaca-kaca, mata yang menyimpan luka yang sama dengan luka yang ia rasakan.
"Papah..." bisik Marsha, suara yang sudah bertahun-tahun terkubur dalam ingatannya kini muncul kembali dengan alami.
Tanpa kata lagi, Marsha melepaskan buku itu ke atas tempat tidur dan menghambur ke pelukan Andreas.
Andreas segera menyambutnya, mendekap putrinya begitu erat seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, Marsha akan menghilang kembali ke dalam kabut masa lalu. Ia membenamkan wajahnya di rambut Marsha, menghirup aroma yang kini telah berubah, namun detak jantung yang ia rasakan di dadanya tetaplah detak jantung putri kecilnya.
"Maafkan Papah, Sayang... Maafkan Papah karena terlambat menemukanmu," bisik Andreas dengan suara serak, air mata yang selama dua puluh tahun ia tahan demi terlihat kuat di depan mafia dan musuh-musuhnya, kini jatuh membasahi bahu Marsha.
Marsha tidak menjawab. Ia hanya menangis sesenggukan di dada ayahnya. Rasa rindu yang selama ini ia sangkal, rasa rindu yang ia sembunyikan di balik kecintaannya pada pelukan Erlan Dominic kini menemukan muaranya.
Di pelukan itu, Marsha merasakan sisa aroma bumbu kacang dan sate ayam yang tadi dimasak ayahnya, bercampur dengan aroma parfum maskulin yang sangat ia kenali dari masa kecilnya.
Ia merasa seperti anak kecil berusia lima tahun lagi, yang merasa dunia adalah tempat yang aman selama ia berada di dalam dekapan pria ini.
"Daddy Erlan benar," gumam Marsha di sela tangisnya. "Papah tidak pernah berhenti mencari..."
"Tidak akan pernah, Marsha. Bahkan jika dunia ini harus kuhancurkan, aku akan tetap mencarimu," Andreas melepaskan pelukannya sedikit, memegang kedua pipi Marsha dengan tangannya yang hangat, menghapus air mata putrinya dengan ibu jari. "Jangan pernah pergi lagi. Rumah ini... Papah... kami semua adalah milikmu.”
___
Valerina menyandarkan kepalanya di kosen pintu, air matanya jatuh tanpa suara. Ia ingat betapa seringnya ia dipuji dan diutamakan oleh Selena, sementara Marsha kecil hanya mendapatkan sisa-sisa. Ia mendapatkan kasih sayang ibu yang palsu, namun kehilangan kasih sayang ayah yang nyata.
"Jujur aku iri, Kak," bisik Valerina pada Xabiru. "Tapi di sisi lain, aku bahagia melihat Ayah kembali hidup. Aku salah... hari itu aku melihat Mamah membawa Marsha pergi, tapi aku diam saja. Aku tidak menyangka Mamah akan sejahat itu membuang adik kita sendiri."
Xabiru menghela napas panjang, tangannya masih bertumpu di bahu Valerina. Sebagai kakak tertua, ia memikul beban tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga kewarasan adik-adiknya.
"Jangan biarkan iri merusak hatimu, Val. Jangan jadi seperti Mamah yang membenci darah dagingnya sendiri," ucap Xabiru tegas namun lembut. "Kamu wanita yang bijaksana. Kamu tahu posisi ini adalah hak Marsha yang dirampas selama dua dekade.”
Archio, sang kakak kedua yang biasanya lebih banyak bertindak daripada bicara, menatap punggung Marsha dan Andreas dari kejauhan. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang berbeda.
"Menurutmu... apakah Marsha akan tinggal bersama kita setelah ini?" tanya Archio lirih.