Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Setelah Gerry dibawa pergi, raut wajah Imam sedikit membaik. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Lutfi yang tampak gelisah. Imam merasa bimbang; sebagai bawahannya, Lutfi biasanya cukup patuh. Memecatnya begitu saja terasa seperti kerugian, namun jika tidak ditindak tegas, posisi Imam sendiri yang akan terancam. Bagaimanapun, insiden ini sudah sangat keterlaluan. Bahkan jika Lutfi menanggung semua kesalahan, Imam tetap akan mendapat teguran keras dari atasan. Kini, nasib mereka semua bergantung pada keputusan Pak Sutrisno.
"Lutfi, dalam kapasitas saya sebagai anggota pimpinan kepolisian dan Direktur Reserse, saya perintahkan Anda untuk dibebastugaskan sementara demi kepentingan penyelidikan, sambil menunggu keputusan dari komisi disiplin."
Setelah menjatuhkan vonis itu, Imam berbalik menghampiri Yudha.
Di belakangnya, tubuh Lutfi mendadak lemas tak bertulang. Bertahun-tahun menjadi polisi dan memegang jabatan strategis, ia tahu betul apa arti dari "pembebasan tugas". Kecuali ada mukjizat, ini adalah akhir dari kariernya.
Imam berjalan mendekati Yudha, lalu menatapnya dengan senyum yang dipaksakan dan berkata, "Anak muda, bagaimana menurutmu? Jika ada yang masih kurang, katakan saja! Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi permintaanmu."
Yudha mengamati seluruh drama itu dengan tatapan dingin dari pinggir ruangan. Ia cukup puas dengan cara Imam menangani situasi ini. Ia melihat Imam tidak berusaha melindungi anak buahnya secara terang-terangan. Tentu saja, Yudha tidak tahu—dan tidak peduli—permainan politik apa yang ada di balik layar; yang ia inginkan hanyalah hasil yang nyata.
"Pak Imam, saya rasa penanganan Bapak cukup adil. Tapi jujur saja, saya sangat prihatin dengan kualitas beberapa oknum polisi Anda! Sebagai pelindung rakyat, bagaimana mungkin mereka tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Bukankah mereka sudah mengkhianati kepercayaan masyarakat?" tanya Yudha dengan nada bicara yang masih terasa ketus.
Sebagai petinggi kepolisian di Bandung, wajah Imam terasa panas seperti ditampar mendengar ucapan frontal seperti itu. Namun, karena memang pihaknya yang salah, ia hanya bisa menelan harga dirinya. Ia berkata dengan sungguh-sungguh, "Jangan khawatir, Nak. Kami tidak akan pernah lunak terhadap 'apel busuk' di institusi kami. Kami pasti akan memberimu keadilan yang seadil-adilnya."
Yudha hanya mengangguk singkat. Tepat saat itu, sesosok gadis cantik berlari kencang dari kejauhan menuju ke arahnya. Kilat kegembiraan muncul di wajah Yudha saat ia membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Gadis itu tidak lain adalah Luna. Setelah dibawa ke kantor polisi, ia dikurung di ruangan terpisah. Tak peduli seberapa banyak ia memohon, polisi menolak melepaskannya atau memberikan informasi apa pun. Selama berjam-jam ia dicekam ketakutan, terutama memikirkan keselamatan Yudha. Ia baru dilepaskan setelah seorang polisi muda membuka pintunya.
Luna langsung menghambur ke pelukan Yudha, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil terisak sedih.
"Yudha... aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi... hiks hiks!"
Wajah Imam seketika berubah menjadi sangat buruk melihat pemandangan itu. Pada momen inilah ia benar-benar memahami betapa biadabnya perlakuan anak buahnya terhadap sepasang kekasih ini. Ia melemparkan tatapan penuh kemurkaan pada Lutfi yang masih terduduk tak berdaya di lantai.
Tiba-tiba, seorang petugas polisi berlari dengan raut wajah tegang dan segera melapor kepada Imam, "Komandan... Pak Sutrisno sudah sampai. Beliau baru saja turun dari mobil dan sedang menuju ke sini."
"Pak Sutrisno datang ke sini?" Imam terperanjat. Ia tidak menyangka masalah ini benar-benar menarik perhatian sang Walikota secara langsung.
Tak lama kemudian, Sutrisno melangkah masuk didampingi sekretaris pribadinya. Sambil berjalan, ia bertanya dengan nada berwibawa, "Hmm! Di mana pemuda yang bernama Yudha itu?"
Yudha tidak menyangka bahwa pejabat tinggi di Bandung akan turun tangan secara pribadi. Hal ini membuktikan betapa besarnya pengaruh yang dimiliki Bang Januar. Ia bahkan mulai penasaran, siapa sebenarnya sosok yang dihubungi Bang Januar hingga mampu membuat pejabat sekelas Pak Sutrisno datang dengan begitu tergesa-gesa; bahkan mungkin intervensi tingkat provinsi pun belum tentu secepat ini.
"Saya Yudha!" sahut Yudha tenang. Meskipun orang tuanya adalah PNS, Yudha sendiri tidak besar di lingkungan birokrasi, sehingga ia tidak merasa terintimidasi oleh jabatan mentereng pria di depannya.
"Hahaha!" Sutrisno tertawa renyah begitu melihat Yudha.
"Nak, jangan khawatir. Pemerintah Kota Bandung dan pihak Provinsi Jawa Barat pasti akan memberikan keadilan atas perlakuan tidak menyenangkan yang kamu terima. Siapa pun yang terlibat, kami akan usut tuntas tanpa pandang bulu," ujar Sutrisno sambil menjabat tangan Yudha dengan erat begitu ia tiba di depannya.
Jika Yudha tidak tumbuh besar dalam keluarga yang paham seluk-beluk politik dan tahu bahwa pejabat sering kali memiliki "dua wajah", ia mungkin akan benar-benar terharu oleh sikap manis ini.
Setelah itu, Sutrisno menjamu Yudha dan Luna dalam sebuah jamuan makan formal, di mana Imam turut hadir mendampingi. Sepanjang acara, Sutrisno bersikap sangat ramah; jika Yudha tidak tahu identitas aslinya, ia mungkin akan mengira pria itu hanyalah paman biasa dari lingkungan perumahannya. Jika ayahnya tahu apa yang terjadi di sini, entah apa yang akan ia pikirkan! Ini adalah pemimpin tingkat tinggi—posisi yang jauh melampaui pangkat ayahnya, sebuah tingkatan yang mungkin takkan pernah dicapai oleh banyak politisi seumur hidup mereka.
Yudha bahkan sempat berpikir untuk menghubungkan ayahnya dengan relasi baru ini. Ia tahu bahwa meskipun Pak Sutrisno berada di Bandung, pengaruhnya sebagai anggota elite pemerintahan Jawa Barat sangat luar biasa bagi kepemimpinan di daerah bawahannya. Satu patah kata saja bisa memberikan manfaat besar bagi karier ayahnya. Namun, itu hanya lintasan pikiran; ia membiarkan segalanya berjalan mengikuti takdir.
Setelah beristirahat semalam di Bandung, Yudha dan Luna akhirnya kembali ke kampus. Setelah melewati cobaan yang berat ini, ikatan batin di antara mereka berdua semakin dalam. Luna kini merasa jauh lebih bergantung dan lekat pada Yudha.
Tentu saja, Gerry menerima hukuman yang setimpal. Ia dijatuhi hukuman dua tahun penjara atas percobaan penculikan. Keputusan ini cukup memuaskan hati Yudha, terutama karena ia tahu bahwa ayah Gerry adalah tokoh berpengaruh di Bandung.
Berdiri di balkon lantai teratas asrama kampus, Yudha tiba-tiba merasa emosional. Peran individu terkadang terasa sangat kecil; ia menyadari bahwa jika ingin mengendalikan segala sesuatu dan melindungi apa yang berharga baginya, ia harus memperkuat kuasanya sendiri. Kilatan ambisi muncul di matanya; ia telah mengambil keputusan. Ia akan menggunakan sumber daya dari perusahaannya untuk memperluas jaringan "bawah tanah". Mungkin sudah waktunya memboyong Jevan dan yang lainnya ke Bandung untuk mengembangkan bisnis mereka. Ide ini sebenarnya sudah terlintas sejak ia meminta Jevan dan rekannya merambah industri hiburan. Namun, Yudha juga sadar bahwa rencana ini mungkin tidak akan langsung mendapat dukungan penuh dari mereka.