Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Telepon Rahasia
Setelah penolakan mentah-mentah dari Theo dengan alasan menjaga kesucian, Bianca beralasan ingin memperbaiki riasannya ke toilet.
"Theo, aku pergi sebentar ke toilet. Aku mau memperbaiki riasanku." ujarnya
Theo mengangguk sambil mengelus rambut Bianca. Begitu mengunci diri di dalam toilet yang mewah, wajah terharu dan polos yang tadi dia pamerkan di depan Theo langsung luntur, digantikan oleh ekspresi wajah yang sangat murka dan dingin.
"Bodoh! Sialan! Pria tidak berguna!" ujar Bianca setengah berbisik.
Bianca kemudian mengeluarkan sebuah ponsel murah sekunder yang tidak pernah diketahui oleh Theo.
Tangannya dengan cepat mencari sebuah nomor, dan hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu langsung diangkat.
"Halo, Sayang? Bagaimana rencanamu? Apa si bodoh Theo itu sudah masuk ke dalam perangkapmu?" suara seorang pria terdengar di seberang telepon.
Itu adalah Reno, kekasih rahasia Bianca yang sebenarnya.
"Gagal, Reno! Si idiot itu menolaku karena alasan gengsi moralnya yang konyol! Dia bilang dia ingin menjagaku sebagai wanita karier yang terhormat sampai pernikahan nanti. Menjijikkan sekali!" adu Bianca dengan suara bergetar menahan kesal.
Reno ditelepon tertawa remeh.
"Lalu bagaimana dengan nasib Falcon Corp? Kudengar dari jaringan perbankan, perusahaan itu sudah masuk daftar hitam dan tidak akan bisa mendapatkan pinjaman dari bank mana pun."
Wajah Bianca langsung memucat mengingat kondisi kantor.
"Benar, sayang. Perusahaan itu di ambang kebangkrutan total dalam hitungan minggu jika proyek pelabuhan itu lepas. Kita tidak bisa mengandalkan Theo lagi untuk menjadi pabrik uang kita, Reno. Kita harus segera bergerak secepat mungkin."
Mata Bianca terlihat licik saat menatap pantulan dirinya di cermin toilet.
"Aku masih memegang posisi sebagai Manajer Pemasaran dan memiliki akses ke beberapa rekening sekunder serta aset pencairan vendor Falcon Corp. Reno... siapkan rencanamu. Kita akan mulai menyedot sisa-sisa dana operasional Falcon Corp lewat dokumen proyek fiktif sebelum Theo menyadari bahwa dia sudah kehilangan segalanya."
"Ide yang bagus, Sayang. Biarkan Theo Falcon mati bersama kesombongannya, sementara kita pergi membawa sisa hartanya," sahut Reno ditelepon dengan tawa puas.
Setelah mematikan telepon, Bianca tersenyum penuh kemenangan. Jika dia tidak bisa menjadi nyonya besar di perusahaan Falcon Corp yang megah, maka dia akan memastikan dirinya keluar sebagai pemenang dengan membawa sisa-sisa kekayaan Theo.
Bianca kembali pada Theo yang masih dalam keadaan mabuk
"Aku sudah cantik?" tanya Bianca dengan nada manjanya
Mata Theo langsung berbinar dan meraih dagu Bianca seolah ingin menciumnya padahal tidak.
"Sangat cantik sayang." ujar Theo
Bianca pun terpaksa memasang wajah manisnya padahal didalam hatinya, Ia sudah muak.
...****************...
Keesokan harinya, suasana di ruang rapat utama Avalanka Group terasa begitu formal dan berkelas.
Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca besar, menyinari meja marmer panjang di mana dokumen-dokumen bernilai ratusan miliar rupiah telah tertata rapi.
Hari ini adalah hari pertama pembahasan resmi pengambilalihan proyek pelabuhan baru yang ditinggalkan oleh Falcon Corp. Tristan Avalanka duduk di kursi utama dengan setelan jas formal berwarna abu-abu gelap, memancarkan aura pemimpin yang sangat dominan. Namun, pandangan matanya tidak terfokus pada tumpukan berkas di depannya, melainkan pada wanita yang duduk tepat di sebelah kanannya, itu adalah Zarlin Rahesa.
Hari ini, Zarlin tampil memukau dengan pakaian bisnis yang elegan, rambutnya diikat setengah dengan rapi, memancarkan aura boss lady yang sesungguhnya sebagai perwakilan dari Aricia International.
Tidak ada lagi sisa-sisa wanita rumahan bercelemek yang selama tiga tahun ini dikurung di dapur Falcon.
"Bagian awal dari analisis risiko sudah diperiksa oleh timku, Tristan," ujar Zarlin, suaranya terdengar begitu profesional dan tegas saat menggeser sebuah dokumen ke arah Tristan.
"Falcon Corp melepaskan proyek ini karena kekurangan dana setelah investor asing mereka ditarik. Tapi secara infrastruktur, fondasi pelabuhan ini sangat menguntungkan jika dikelola oleh jaringan logistik milik Avalanka Group."
Tristan menerima dokumen itu, namun tangannya sengaja bersentuhan tipis dengan tangan Zarlin, membuat wanita itu sedikit tersentak kecil.
Tristan menatap lurus ke dalam mata Zarlin dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikannya.
"Aku tidak pernah meragukan analisis bisnismu, Zarlin," ucap Tristan, suaranya berat namun terdengar begitu lembut di telinga Zarlin.
"Sejak SMA, kau selalu menjadi yang terbaik dalam menyusun strategi. Kerja sama antara Avalanka Group dan Aricia International untuk proyek pelabuhan ini bukan hanya tentang keuntungan, tapi tentang bagaimana kita membangun ekosistem bisnis baru yang tidak akan bisa disentuh oleh perusahaan seperti Falcon Corp."
Zarlin tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang aneh di dadanya. Selama tiga tahun menikah dengan Theo, jangankan diajak berdiskusi tentang bisnis kelas atas, pendapatnya saja selalu dianggap angin lalu dan diremehkan.
Theo selalu menganggapnya bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang dunia luar. Namun di sini, di depan penguasa bisnis sekelas Tristan Avalanka, setiap kata dan pemikirannya dihargai seperti emas.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan Avalanka," ujar Zarlin pelan, mencoba mengalihkan debaran aneh di jantungnya akibat tatapan intens Tristan.
Tristan terkekeh sebentar, sebuah pemandangan langka yang tidak pernah dilihat oleh karyawan Avalanka Group mana pun. Pria dingin itu bersandar di kursinya, menatap Zarlin dengan senyum menawan.
"Jangan terlalu formal saat hanya ada kita berdua di ruangan ini, Zarlin. Aku lebih suka kau memanggil namaku seperti dulu."
Zarlin menunduk sambil merapikan berkasnya, menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya.
"Kita sedang di ruang rapat, Tristan. Kita harus tetap profesional."
"Tentu, kita akan sangat profesional," sahut Tristan dengan nada penuh arti.
"Dan secara profesional, aku akan memastikan proyek pelabuhan ini berjalan dengan sangat sukses, hingga mantan... maksudku, hingga suamimu itu hanya bisa melihat dari kejauhan bagaimana kita berdua bersinar di puncak, sementara dia perlahan merangkak di dasar kehancuran."
Zarlin menatap Tristan, menyadari bahwa pria di depannya ini benar-benar sekutu yang luar biasa. Tristan tidak hanya menawarkan kerja sama bisnis, tapi dia juga memberikan kesempatan besar bagi Zarlin untuk menunjukkan kepada dunia dan kepada Theo Falcon siapa diri Zarlin Rahesa yang sebenarnya.
itu justru malah menguatkan kebenaran...