Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukit Orang Mati
Langit merah dipenuhi asap.
Jeritan manusia masih terdengar dari segala arah.
Namun Gerald tidak lagi melihat medan perang itu sebagai kekacauan.
Baginya…
Ini hanya situasi tempur.
Dan setiap situasi tempur selalu punya jalan keluar.
“Asal otaknya dipakai,” gumamnya pelan.
“Hah?” Elias menoleh bingung.
“Tidak ada.”
Gerald terus berjalan menuju bukit kecil di timur medan perang.
Boris berjalan di belakang sambil ngos-ngosan.
“Kenapa bukit ini jauh banget…”
“Karena kakimu pendek,” jawab Elias.
“BADAN GUA YANG BESAR!”
Mereka masih sempat ribut di tengah neraka perang.
Aneh.
Namun justru itu membuat Elias sedikit lebih tenang.
Kalau Boris masih bisa ngomel soal capek…
Mungkin mereka belum akan mati sekarang.
DUARRR!!
Seekor orc menghantam kereta perang di belakang mereka hingga terbalik.
Api mulai menyebar ke rumput kering.
Asap hitam naik ke langit.
Gerald melirik cepat.
Api.
Matanya menyipit sedikit.
Ia mulai memikirkan sesuatu.
“Cepat,” katanya.
“Kita hampir sampai.”
Bukit kecil itu ternyata dipenuhi mayat.
Sebagian besar adalah pemanah manusia yang terbunuh saat perang manusia sebelumnya.
Bau darah dan daging terbakar menusuk hidung.
“Ugh…”
Elias hampir muntah.
Boris malah jongkok di dekat mayat.
“Masih ada roti.”
“JANGAN MAKAN ROTI DEKAT MAYAT, GOBLOK!!”
“Aku lapar…”
Gerald mengabaikan mereka.
Ia berdiri di puncak bukit sambil melihat seluruh medan perang.
Dan wajahnya perlahan berubah serius.
Buruk.
Sangat buruk.
Jumlah orc terlalu banyak.
Lebih parah lagi…
Mereka tidak bergerak asal.
Gerald melihat:
kelompok pemburu
unit garis depan
bahkan orc yang menjaga jalur belakang
Mereka punya pemimpin.
Yang berarti mereka punya: strategi.
“Sial…”
Kalau monster-monster ini benar-benar cerdas…
Maka umat manusia berada dalam masalah besar.
“Gerald.”
Elias menunjuk kejauhan.
“Itu apa?”
Gerald melihat ke arah yang ditunjuk.
Puluhan tentara manusia berkumpul di dekat kereta rusak sambil bertahan mati-matian dari serangan orc.
Mereka terkepung.
“Masih ada yang hidup…” gumam Elias.
Boris langsung berdiri.
“Mereka punya makanan gak?”
“ISI OTAKMU ITU DAGING SEMUA YA?!”
Namun Gerald tetap memperhatikan kelompok itu.
Sekitar tiga puluh orang.
Kalau dibiarkan…
Mereka mati.
Dan Gerald butuh orang.
Semakin banyak manusia hidup, semakin besar peluang bertahan.
“Ambil semua panah yang masih bisa dipakai,” ujar Gerald tiba-tiba.
“Hah?”
“Cepat.”
Elias dan Boris langsung bergerak mencari perlengkapan di sekitar mayat pemanah.
Tak lama kemudian mereka kembali membawa:
beberapa busur
anak panah
tombak patah
Gerald memeriksa semuanya cepat.
Kualitas jelek.
Tapi cukup.
“Apa kita mau bantu mereka?” tanya Elias.
Gerald mengangguk.
“Kita bertiga lawan puluhan orc?!”
“Bukan.”
Gerald menunjuk api besar di dekat kereta perang terbakar.
“Kita pakai itu.”
Elias mengernyit.
“Api?”
Gerald mulai mengambil kain dari mayat tentara.
Lalu membungkus ujung anak panah.
Mata Elias perlahan membesar.
“Kau mau membakar mereka?”
“Orc takut api.”
“Kau tahu dari mana?!”
“Mereka selalu menghindari bagian medan perang yang terbakar.”
Gerald sudah memperhatikannya sejak tadi.
Monster tetaplah makhluk hidup.
Mereka punya naluri.
Dan api adalah salah satu ketakutan tertua semua makhluk.
“Boris.”
“Hm?”
“Kau masih bisa lempar kapak?”
“Kalau habis ini makan, bisa.”
“…Nanti aku carikan roti.”
“MANTAP!”
Elias memegang kepalanya.
Pasukan macam apa ini?
Gerald menyiapkan panah api.
Lalu menatap kelompok tentara yang hampir habis dibantai.
“Dengar baik-baik,” katanya.
“Kita cuma punya satu kesempatan.”
“Kalau gagal?” tanya Elias gugup.
Gerald menatap ribuan orc di bawah sana.
“Ya mati.”
“….”
Jawaban paling tidak menenangkan yang pernah Elias dengar.
Gerald mengambil napas panjang.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia memimpin operasi kecil seperti ini.
Aneh.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia merasa benar-benar hidup.
“Siap?” tanya Gerald.
Boris mengangkat kapak.
Elias menelan ludah.
Gerald menyalakan panah apinya.
Lalu—
“Mulai.”
WHUSSH!!
Panah api meluncur ke langit malam.
Dan perang kecil pertama The 10th Battalion…
Akan segera dimulai.