Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
Terkadang pergi bukan berarti menyerah, melainkan satu‑satunya cara menyelamatkan sisa ketenangan yang masih ada.
Rasa sakit itu belum juga mereda. Naysilla melangkah gontai, membawa hati yang hancur dan keyakinan yang mulai luntur.
Namun ia belum tahu, sejauh apa pun ia lari, benang takdir akan tetap menariknya kembali, menuju kenyataan tersembunyi, dan sosok yang menyimpan banyak rahasia di balik topeng misteri.
“Terima kasih untuk semuanya… aku pamit.” bisiknya lirih, dalam hati.
Ia mengusap lukisan wajah Mohan dengan penuh rasa, lalu menutupnya rapat dengan kain putih. Langkahnya terasa berat sekali, spontan ia menatap pada unit yang Mohan huni, sebelum memaksakan diri untuk benar-benar pergi.
Berhenti sejenak, ia memandang pohon tabebuya yang berbunga indah, satu‑satunya hal yang benar‑benar ia sukai dari tempat ini. Ia menghirup dalam, aroma tabebuya sebagai salam perpisahan. Lalu menggenggam gagang koper miliknya, menaiki kendaraan yang mengantarkannya menuju bandara.
****************
Hujan turun dengan deras memukul atap dan jendela sepanjang malam, angin dingin menerobos celah dinding membawa hawa lembap yang menusuk tulang.
Di tengah kegelapan dan suara gemuruh hujan, Mohan menyeret tubuh Satria yang terkulai lemah. Pakaiannya basah bercampur hujan dan darah. Tubuhnya penuh lebam dengan beberapa sayatan menyakitkan.
Segenap tenaga, Mohan membawanya masuk ke ruang UKS di ujung koridor. Pintu kayu berderit perlan, menyambut kedatangan mereka dalam hening malam.
Ruangan tak terpakai tapi cukup sering ia kunjungi, sekedar menenangkan diri. Hanya menyisakan hawa dingin dan kesunyian yang menyelimuti, diterangi cahaya lampu redup yang cukup memancarkan sinar lembut ke setiap sudutnya.
“Siapin” perintah Mohan dengan suara rendah namun tegas kepada Dewi yang mengikuti dari belakang, wajah gadis itu langsung memucat melihat kondisi Satria yang mengenaskan.
Dewi segera merapikan matras serta bantal, menyusunnya sedikit gemetar saat melihat luka-luka yang menghiasi kulit pemuda itu.
“Ya Tuhan… lukanya parah banget,” bisik Dewi pelan, menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Mohan tak langsung menjawab. Ia berjongkok sebentar, memeriksa denyut nadi dan mendengarkan napas Satria, memastikan nyawanya masih aman meski kondisinya lemah.
Setelah semuanya aman, ia berdiri dan merogoh ponsel dari saku celana yang juga basah terkena air hujan. Jari-jarinya bergerak cepat, siap menghubungi Naysilla, batinnya sedari tadi gelisah, merasa ada yang tidak beres.
Namun tepat saat jari hendak menekan tombol panggil, matanya tak sengaja menangkap lingkaran berwarna di bagian paling atas layar. Story Naysilla baru saja diperbarui.
Dengan napas yang sedikit tertahan, ia membukanya.
Di sana terlihat gadis itu duduk tenang di dekat jendela, memegang kuas dan melukis dengan hati-hati. Cahaya lembut menyelimuti wajahnya, terlihat damai, jauh dari rasa takut atau tertekan. Tertulis satu kalimat pendek di bawah gambar itu, mencari ketenangan di antara warna.
Jantung Mohan yang tadinya berdegup kencang perlahan melambat. Rasa cemas yang menyelimuti dadanya perlahan surut.
"Jadi dia baik-baik saja… hanya butuh ruang sendiri, ingin menenangkan pikiran. Kalau aku hubungi sekarang, hanya akan mengganggu ketenangan yang baru dia dapatkan" batinnya.
Ia menghela napas panjang, lalu mematikan layar ponsel tanpa jadi mengirim pesan atau menelepon. Biarkan saja. Nanti kalau sudah selesai, dia pasti akan menghubungi, pikirnya.
Ia tak tahu, ketenangan yang terlihat di layar ponsel itu hanyalah penutup dari kepergiannya. Dan ia juga belum menyadari, badai kebenaran yang jauh lebih besar baru akan dimulai, ketika Satria perlahan membuka matanya dan menceritakan segalanya.
Belum sempat Mohan beranjak, terdengar suara batuk ringan memecah keheningan. Satria perlahan membuka matanya, lalu terbatuk lagi, kali ini sedikit darah segar menetes di sudut bibirnya. Wajahnya pucat pasi, namun sorot matanya terlihat panik saat mencoba mengangkat kepala.
“Nay… di mana Naysilla? Apa dia aman?” tanyanya terbata, suara parau dan lemah.
Mohan segera mendekat, menahan bahunya agar tidak bergerak terlalu banyak. “Tenang. Dia baik‑baik ajah, lagi nenangin diri.”
Mendengar jawaban itu, raut wajah Satria justru semakin kusut. Ia menggigit bibirnya sendiri, lalu menutup matanya sejenak seolah menahan rasa bersalah yang membakar dada.
“Bukan… bukan gitu, gue salah, gue gagal lindungi dia,” ucapnya terbata, napasnya terasa sesak. "Sekelompok pria tadi… mereka menyekap Naysilla, hampir saja… hampir saja mereka... Ya ampun, gue nggak bisa bayangin kalo itu semua benar-benar terjadi"
"Apa yang terjadi?" tanyanya penuh desak.
"Naysilla dijebak, di kasih minuman yang di campur obat tidur, lalu diberikan pada, pada..." ucapnya lirih, terbata dan terjeda. Tapi Mohan tau apa maksudnya.
Darah seolah mendidih di sekujur tubuh Mohan. Jemarinya mengepal erat hingga buku‑buku jarinya memutih, rahangnya mengeras menahan amarah yang meledak tiba‑tiba. Rasa lega tadi seolah dibuang jauh, digantikan oleh ketakutan dan kemarahan yang membara.
Tanpa membuang waktu, ia kembali meraih ponselnya, membuka nomor yang tersimpan rahasia, lalu mendekatkan ke telinga. Suaranya berubah menjadi dingin, datar, namun mengandung ancaman mematikan saat ia membisikkan perintah itu dalam keheningan malam:
“Kumpulkan...!"
cupu tuh apaan ?