NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:933
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Pertemuan di Balik Rak Souvenir

"Eve, telan ini! Cepat telan!" Sofia buru-buru memasukkan benda bulat hitam itu ke dalam mulut Evelyn, lalu membantunya meneguk sisa air mineral yang ada.

GULP.

Evelyn menelan benda itu bulat-bulat. Namun, alih-alih obat kimia biasa, The Heart Pearl milik Pangeran Merman Kaelen Marine kini meluncur masuk ke dalam kerongkongan Evelyn dan menyatu dengan aliran darah Multi-Mate-nya.

"Eve, kau harus bertahan!" teriak Sofia panik. "Aku akan memanggil bantuan guru!"

Sofia hendak berbalik untuk berlari, namun tangan kurus Evelyn dengan cepat menahan pergelangan tangannya.

"Tidak usah, Sof..."

"Kau yakin?" tanya Sofia, menatap ragu dengan sepasang mata yang masih basah oleh air mata.

Tak lama kemudian, Evelyn tersentak hebat. Tubuhnya menegang sesaat ketika sensasi sejuk yang murni mendadak menjalar dari kerongkongan, melesat cepat menuju otaknya.

Secara ajaib, rasa sakit mematikan yang beberapa detik lalu nyaris merenggut kesadarannya hilang tanpa bekas. Pendarahan di hidungnya berhenti seketika.

Evelyn menarik napas sedalam-dalamnya, lalu menatap Sofia dengan binar haru. "Sofia, terima kasih. Kau telah menyelamatkanku tepat waktu. Sakit kepalaku sudah benar-benar hilang."

Evelyn mengira butiran hitam yang diberikan Sofia adalah obat darurat yang sangat manjur. Ia sama sekali tidak menyadari adanya sensasi aneh yang mulai bergejolak di dalam dadanya—sebuah perpaduan rasa panas yang membakar tenggorokan, berbenturan dengan hawa sedingin es yang kini berpusat di jantungnya.

Energi The Heart Pearl sedang menyatu secara permanen dengan darah Multi-Mate-nya.

Sofia mengembuskan napas lega yang panjang, lalu menyeka sisa air matanya. "Syukurlah kau baik-baik saja sekarang. Aku nyaris terkena serangan jantung melihat kondisimu yang mengerikan seperti tadi, Eve."

Sementara itu, jauh di dalam dekapan samudra...

Kaelen yang baru saja menenggelamkan diri untuk merenungi nasibnya mendadak membeku. Pemuda itu mencengkeram dada kirinya saat merasakan detak jantungnya berdentum dengan ritme abnormal. Rasa sakit yang pekat sekaligus getaran takdir yang absolut menghantam jiwanya.

Kaelen tahu pasti apa arti dari fenomena ini. Seseorang baru saja memakan mutiara jiwanya secara utuh. Ikatan mate telah terkunci secara paksa.

Seketika, Kaelen tidak bisa berenang lebih jauh atau menyelam lebih dalam lagi ke area laut lepas. Secara instinktif, jiwanya ditarik kembali menuju daratan. Lagipula, wilayah kekuasaan Ras Merman dan Ras Siren berbatasan sangat tipis.

Berbeda dengan bangsa Siren yang menguasai lautan terdalam, jarang menampakkan diri, dan hanya naik ke permukaan untuk berburu manusia atau saat ada rapat petinggi klan, Ras Merman justru lebih banyak berbaur dan tinggal di daratan sekitar Kota Blue Waves. Teritori mutlak mereka mencakup bibir pantai hingga setengah bagian lautan dangkal.

Didorong oleh rasa penasaran dan firasat buruk yang membakar batinnya, Kaelen berbalik arah. Ia berenang cepat membelah arus, sementara ekor biru gelapnya yang dipenuhi sisik berkilau memancarkan cahaya keemasan yang memukau.

Begitu kepalanya memecah permukaan air di balik dinding karang, netra biru safirnya langsung mengunci dua siluet gadis di tepi pantai. Tepat di saat Sofia sedang mengusap dada Evelyn yang baru saja menelan bulat-bulat The Heart Pearl miliknya.

Kaelen sontak tertegun. Detik berikutnya, rasa syok itu berubah menjadi amarah dan kebencian yang meluap-luap. Tatapannya menajam, mengunci paras pucat Evelyn dengan kilat murka.

Kaelen menghafal betul wajah itu. Dia adalah teman sekelasnya dulu di Luminara High School. Putri kandung dari Ghost Hunter sialan yang hampir membantai seluruh sepupunya yang merupakan ras immortal campuran.

Evelyn sendiri sebenarnya tidak pernah tahu-menahu tentang dosa ayahnya. Selama ini, ia hanya tahu bahwa teman-teman satu sekolahnya mendadak berbalik membencinya tanpa sebab yang jelas. Baru setelah kematian sang ayah, potongan-potongan konspirasi itu mulai perlahan terkuak di kepalanya.

"Dia... gadis pembawa sial itu lagi..." geram Kaelen dengan suara bariton yang bergetar menahan gejolak amarah naga samudra di dalam diri Merman-nya. "Kenapa dia harus ada di sini?! Dan kenapa harus manusia rendahan seperti dia yang menelan mutiaraku?!"

Kaelen mencengkeram tepi batu karang hingga jemarinya memutih. Ia terpaksa menahan diri untuk tidak langsung melompat ke daratan dan mencekik leher Evelyn saat itu juga. Di sekeliling tempat itu terlalu ramai oleh kerumunan siswa Vesperanian High School yang sedang berlarian di pantai.

"Aku akan menghabisimu, Evelyn Moonshade," desis Kaelen tajam pada gulungan ombak, menyunggingkan senyum seringai yang sarat akan dendam. "Takdir ataupun bukan, kau tetaplah musuhku."

Setelah meluapkan ancamannya pada gulungan ombak, Kaelen berenang menjauh menuju pesisir pantai yang sepi. Ia memutuskan untuk pergi ke toko souvenir milik keluarganya yang terletak tak jauh dari dermaga.

Cklek.

Toko itu dikelola oleh Nerissa Marine, kakak dari neneknya. Di Kota Blue Waves, keluarga besar Nixie dan Marine dikenal sebagai penguasa lautan. Nerissa sendiri adalah seorang Mermaid. Sama seperti kaum immortal lainnya, ia memiliki umur panjang dan paras yang menolak tua.

Gelombang rambut merah mudanya kontras dengan manik mata biru safir yang jernih—ciri fisik mutlak yang membedakan kaum Mermaid wanita dengan para pria yang seluruhnya berambut hitam ikal.

"Kael, kau tampak lesu? Ada apa?" tanya Nerissa tanpa mengalihkan pandangan dari kesibukannya menata aksesori baru di rak.

"Mungkin karena aku belum sempat sarapan, Nek," dalih Kaelen berbohong.

Nerissa menghentikan gerakannya sejenak. "Makanlah dulu. Nenek kebetulan memasak sup kerang di belakang. Cepat sana makan. Nenek tidak mau mendengar ocehan ibumu jika kau sampai sakit."

Kaelen mengangguk patuh. Langkah beratnya membawa pemuda itu masuk ke dalam area dapur yang berada di bagian belakang toko.

Tak lama setelah tirai dapur tertutup, lonceng di pintu depan berdenting. Sofia dan Evelyn melangkah masuk ke dalam toko.

"Selamat datang di toko souvenir kami," sapa Nerissa ramah dengan senyuman hangat yang tulus.

Evelyn dan Sofia membalas senyuman itu dengan anggukan sopan. Sofia yang langsung terpikat oleh deretan barang berkilau segera menarik tangan Evelyn menuju sudut ruangan yang dipenuhi gantungan kunci.

"Wah, barang-barang di sini cantik sekali, Eve!" gumam Sofia takjub seraya menyentuh gantungan kerang itu satu persatu.

"Kau benar. Apa kau mau membelinya untuk oleh-oleh?" tanya Evelyn.

"Iya, aku ingin membelinya untuk keluargaku. Kau mau beli yang mana, Eve? Biar sekalian aku yang bayar."

"Tidak usah, Sof, biar aku sendiri saja. Aku sepertinya ingin mencari jepitan rambut. Aku ke sebelah sana dulu, ya," pamit Evelyn sambil menunjuk ke rak paling belakang. Sofia hanya mengangguk tanpa menoleh karena terlalu fokus memilih.

Evelyn berjalan menyusuri lorong rak. Jemarinya bergerak menelusuri deretan jepitan rambut hingga pandangannya terpaku pada sebuah jepitan dengan hiasan mutiara hitam yang sangat indah. Namun, tepat saat tangannya baru saja terulur...

Set!

Sebuah tangan kekar mendadak mencengkeram pergelangan tangan Evelyn dengan kasar, menarik tubuhnya secara paksa melewati tirai pembatas menuju area dapur yang sepi.

"Eh! Apa-apaan kau—" Evelyn terpekik, namun suaranya langsung tertahan di tenggorokan saat melihat siapa pelakunya. "Kaelen? Kau... kenapa bisa ada di sini?"

Kaelen menghempaskan tangan Evelyn dengan kasar. Sepasang mata biru safirnya menatap Evelyn dengan kilat kebencian yang begitu pekat.

"Cepat berikan mutiara hitam itu padaku," ucap Kaelen dingin, tanpa basa-basi.

Dahi Evelyn berkerut dalam. Ia mengira Kaelen sedang membahas jepitan rambut yang hendak ia sentuh tadi. "Aku sama sekali belum menyentuhnya, apalagi membelinya! Lagi pula, untuk apa laki-laki sepertimu menginginkan jepitan wanita?"

Mata Kaelen melotot sempurna. Amarahnya kian memuncak, namun ia mati-matian menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Nerissa di depan.

"Heh, bodoh! Bukan jepitan sialan itu maksudku!" desis Kaelen dengan suara rendah yang bergetar murka. "Mutiara hitam yang kau telan di pantai tadi! Cepat muntahkan sekarang! Jika tidak, aku akan memaksamu mengeluarkannya. Bila perlu, aku sendiri yang akan membedah tubuhmu!"

Kaelen tahu usahanya mungkin sia-sia. The Heart Pearl yang sudah tertelan akan menyatu secara permanen dengan jiwa wadah barunya. Namun, ego Kaelen menolak keras takdir konyol ini. Ia tidak akan pernah sudi terikat dengan gadis di depannya.

Evelyn tertegun, semakin tidak mengerti arah pembicaraan Kaelen. "Apa maksudmu, Kael? Aku tidak pernah menelan mutiara milikmu. Kita bahkan baru bertemu lagi hari ini setelah sekian lama!"

Evelyn bisa merasakan dendam yang membara dari sorot mata Kaelen. Beberapa bulan lalu, sebelum diasingkan ke Vespera, Evelyn bahkan sudah merendahkan hatinya untuk meminta maaf atas nama mendiang ayahnya kepada seluruh sepupu Kaelen yang hampir dibantai. Namun tampaknya, maaf saja tidak akan pernah cukup.

Kaelen yang sudah kehilangan seluruh sisa kesabarannya langsung mencengkeram bahu Evelyn dan mendorong tubuh ringkih itu ke sudut tembok.

Duak!

"Aww! Kenapa kau kasar sekali padaku?!" ringis Evelyn kesakitan saat punggungnya membentur dinding keras.

"Cukup, sialan! Kau tidak usah banyak berbohong!"

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!