NovelToon NovelToon
Hubungan Terlarang

Hubungan Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cintapertama
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpuruk

Biasanya Sukma baru sampai di rumah saat matahari sudah tergantikan oleh bulan sepenuhnya. Tapi hari ini, senja baru saja muncul. Tetapi wanita itu sudah sampai di rumah.

"Bagimana perusahaan? sudah dapat tambahan modal?"

Baru saja ia melangkah masuk. Pantatnya juga belum sempat merasakan empuknya bantalan sofa. Tetapi terjangan pertanyaan soal keadaan perusahaan sudah diberondong oleh ayahnya.

Sukma menggeleng. Ia sudah berusaha untuk mencari investor baru. Tetapi entah mengapa, para pengusaha itu tidak ada yang tertarik pada proposal yang ia tawarkan.

"Dasar tidak berguna!" ketus Hardiman, bersamaan dengan tatapan tajam yang siap membunuh jika tatapan itu terbuat dari samurai yang tajam. "Andai kakak kamu gak meninggal. Perusahaan kita pasti sudah jadi perusahaan terhebat no 1 di dunia!" lanjut Hardiman bersama sesal yang sampai saat ini masih ia rasakan.

Sukma menarik nafas panjang. Ini bukan kali pertama ia dibandingkan dengan kakaknya yang sudah meninggal itu.

"Kenapa bukan kamu aja sih yang mati? kenapa harus Jaka?" Hardiman melayangkan tinjunya ke udara. Mungkin, dengan cara itu bisa sedikit mengurangi rasa kesal akibat takdir yang tidak sesuai dengan harapannya.

"Papa keterlaluan!" santak Sukma, untuk pertama kali ia mengeluarkan suara yang tinggi. "Apa Papa pikir Kak Jaka itu becus jadi pemimpin? Papa lupa, saat dia meninggal perusahaan hampir kolaps. Selama dia menjabat, tak terhitung berapa banyak uang yang dia gunakan untuk keuntungan pribadi? Dan berapa banyak projek yang gagal karena dia selalu malas-malasan! Aku Pa.... anak perempuan yang Papa anggap gak berguna ini yang menyelesaikan semuanya. Aku... anak perempuan yang selalu diremehkan ini yang berhasil membawa perusahaan dari posisi terbawah sampai ke posisi saat ini!"

Deru napasnya memburu. Urat lehernya menegang, dan kedua tangannya refleks bergetar sendiri.

Entah mendapatkan keberanian mana? ia sendiri juga tidak tahu. Tapi yang pasti, ia sudah berhasil mengeluarkan setitik kecil beban yang selama ini menumpuk di dalam hatinya.

"BERANI KAMU MELAWAN PAPA!" tangannya sudah terangkat, siap melayangkan tamparan ke pipinya.

"Ayo tampar aku Pa! TAMPAR!" teriaknya semakin berani. "Dari dulu Papa selalu memihak ke Kakak! Semua untuk kakak! Apa-apa demi kakak. Tidak pernah sekalipun Papa melihat aku sebagai anak. Hanya karena ku seorang perempuan, Papa menyepelekan kemampuanku. Papa selalu menganggap aku tidak berguna. Padahal anak kesayangan Papa itu yang sampah!" lanjutnya.

Wajah Sukma memerah. Mungkin karena tangis, mungkin karena amarah. Atau mungkin karena keduanya. Dadanya naik turun, dengan tangan mengepal, seakan ingin melayangkan pukulan ke arah Ayah kandungnya sendiri.

"Memang kalian perempuan itu tidak berguna! hanya anak laki-laki yang bisa mengangkat dan mengharumkan nama baik keluarga!" balas Hardiman.

Pria tua itu masih tetap bertahan pada prinsipnya. Semua yang Sukma katakan memang benar adanya, dan pria tua itu juga mengetahuinya. Tetapi entah kenapa, Hardiman selalu yakin dan percaya jika nama keluarga Hardiman akan terkenal jika dipimpin oleh seorang laki-laki.

Sukma tak bisa lagi bicara. Bukan karena kehabisan kata-kata. Tapi ia tahu, tidak ada gunanya berdebat dengan sang ayah lebih lama lagi. Karena tidak ada yang bisa menyadarkan diri pria tua itu, selain dirinya sendiri.

"Jangan pernah lagi menganggap dirimu hebat dihadapan Papa! Karena tanpa kelurga Hardiman, kamu cuma bisa jadi buruh cuci di rumah orang! Oh iya, besok jangan lupa jemput Leo. Setelah dia kembali, carikan kampus terbaik untuknya. Dia harus segera memegang kendali perusahaan. Karena ditangan kamu, perusahaan itu hanya jadi cangkang kosong yang tidak berguna!" Lanjutnya.

Hardiman pergi begitu saja. Meninggalkan putrinya, tanpa peduli dengan hati dan perasaannya yang terluka. Bukan hanya satu luka, tapi banyak luka lama maupun yang baru.

Tubuh Sukma jatuh merosot. Ia terduduk di sofa dengan air mata yang mengalir deras. Sebenarnya ia tidak ingin menangis lagi. Tapi air mata itu selalu jatuh dengan sendirinya.

"Kenapa aku harus lahir ditengah keluarga ini?" sesalnya.

Sukma tahu betul bagaimana sakitnya ada di posisi itu. Tetapi secara tidak langsung, ia juga pelan-pelan mengarahkan putrinya ke posisi yang sama dengannya.

Ia masih di posisi sama, padahal magrib sudah menjelang. Tetapi Sukma masih tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan tempatnya. Ia mesih menangis, tapi air matanya sudah tidak sederas sebelumnya. Hanya tinggal tetes demi tetes yang keluar. Tapi sakitnya, masih tetap sama.

"Kamu kenapa?" tanya Angkasa, yang baru saja sampai di rumah.

"Angkasa!" Sukma berdiri, ia berlari memeluk Angkasa dengan erat.

"Sakit sekali Angkasa!" ucap Sukma menangis di dada sang suami yang terkejut dengan pelukan dadakan itu.

Angkasa membatu. Ia ingin melepaskan pelukan itu, takut jika kekasihnya akan melihat dan salah paham padanya. Tapi saat ia merasakan ada air mata dan tubuh Sukma yang bergetar, ia mengurungkan niatnya untuk melakukan itu.

"Memangnya ada apa?" Angkasa tidak membalas pelukannya, tetapi ia membiarkan pelukan Sukma yang saat ini sedang membutuhkan seseorang disampingnya.

"Papa kejam sekali Angkasa! Kapan dia bisa melihatku sebagai anak!" jawab Sukma.

Tidak perlu diperjelas, Angkasa sudah tahu duduk permasalahannya seperti apa. Karena masalah yang Sukma hadapi, tidak jauh berbeda dengan yang sering kekasihnya alami.

"Tidak perlu kamu pikirkan! ucapan Papa jangan diambil hati. Kamu hanya perlu membuktikan, jika kamu bisa lebih hebat dari kakakmu!" ujarnya menasehati.

Angkasa tahu itu hanya kata-kata penenang yang sepele. Tapi terkadang, kata-kata sepele seperti itu, bisa membawa dampak yang besar bagi seseorang yang sedang terpuruk dan sedih seperti ini.

Mereka masih berpelukan. Sukma masih menangis dan Angkasa juga masih menenangkan. Tapi tiba-tiba, terdengar suara paper bag yang jatuh bersamaan tepat di belakang mereka.

"S-sayang!" gumam Angkasa, saat melihat Leya berdiri terpaku dengan mata yang melotot.

"Kamu sudah pulang Nak!" ucap Sukma, yang refleks melepaskan pelukannya.

"Maaf sudah menganggu!" sahut Leya dingin.

Gadis itu gegas mengambil kantung belanjanya. Lalu melangkah cepat, segera berlari menaiki anak tangga.

"Sa..." Angkasa hampir salah memanggil. "Leya tunggu! ada yang mau Papa bicarakan padamu!" Angkasa memanggil, ia segera mengejar Leya yang menjauh.

Leya berlari, menaiki anak tangga dengan segera dan masuk ke kamarnya.

Braaak!

Leya membanting pintu, lalu menguncinya tepat sebelum Angkasa berhasil masuk ke kamarnya.

Tok! Tok! Tok!

"Leya, buka pintunya. Ada yang mau Papa bicarakan denganmu!" Angkasa panik, kekasihnya pasti salah paham. Jika sudah seperti ini, akan sulit untuk membujuk kekasihnya.

Tetapi Leya yang sudah terlanjur salah paham sama sekali tidak mau membuka pintu. Ia tahu Angkasa ada di luar sana. Tapi ia sedang tidak mau menemui pria itu.

"Kamu jahat Mas! Kamu bohong padaku. Katanya kamu gak mau dekat-dekat Mama! Katanya hubungan kalian hanya sebatas rasa saling menghormati saja. Tapi apa buktinya, kalian malah peluk-pelukan. Wajar sih bagaimanapun juga kalian itu suami istri!"

Leya jatuh terduduk dibalik pintu. Ia menangis sambil memeluk lututnya sendiri. Hatinya sakit, ia terluka melihat pria yang ia cintai memeluk wanita lain. Meskipun secara status, mereka sah sebagai pasangan suami istri.

1
Jhesika Cika
bagus cta ny
Dew666
👑👑👑
Dew666
💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!