Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback Nujuh Bulan Kenzie
Sebenarnya Daisy tidak terlalu meributkan soal acara nujuh bulan kehamilannya tapi dokter Lucky protes keras. Dia bersikukuh secara tradisional, khususnya dalam adat Jawa ( disebut Mitoni atau Tingkeban ), acara tujuh bulanan memang umumnya dilaksanakan khusus untuk kehamilan anak pertama. Dan pria itu tetap mengeyel. Ditambah dukungan Leia dan Iris yang suka acara tradisional seperti itu.
Keluarga Jakarta pun ikutan heboh karena memang mereka tidak pernah melewatkan acara kumpul keluarga. Daisy dan dokter Lucky memilih mengundang keluarga serta sahabat saja. Mereka tidak mau terlalu ramai dan acara diadakan di Mansion Giandra yang lebih luas daripada Mansion Pratomo. Apalagi taman belakang rumah peninggalan Abimanyu Giandra yang sudah direnovasi dan diperbesar dari jaman Bara Giandra, sangat cocok untuk acara outdoor.
Pagi ini sudah diadakan acara pengajian dengan mengundang grup pengajian PRC Hospital atas permintaan Remy dan Ratimaya Giandra. Semua keluarga Jakarta, Turin dan Rio de Janeiro pun datang ke mansion. Mereka semua memakai kebaya dengan nuansa biru muda karena tahu jenis kelamin bayi yang dikandung Daisy adalah laki-laki.
Pagi ini Daisy dan dokter Lucky yang memakai beskap, memulai acara pertama yaitu pengajian. Semua tampak khidmat dan Daisy tampak terharu dengan khusyuk nya tim gabut, tim bedah dan tim PRC Hospital melakukan acara pengajian. Dokter Lucky yang duduk di sebelah Daisy, mengelus perut istrinya yang sudah besar.
"Ngaji sayang, bukan elus perut," bisik Daisy.
"Wong pengen kok," senyum dokter Lucky. "Kan habis ini diguyur."
Daisy menatap tajam ke arah suaminya yang asbun. Ya memang habis ini siraman tapi bukan berarti diguyur juga!
Rentetan acara tujuh bulanan ( Mitoni/Tingkeban ) dalam tradisi Jawa bertujuan memohon keselamatan ibu dan janin, biasanya dilakukan untuk anak pertama. Prosesi utama meliputi pengajian, sungkeman, siraman (air 7 sumber), pecah telur/kelapa, ganti busana 7 kali, jualan rujak/cendol, dan ditutup tumpengan.
Semua orang menyelesaikan acara pengajian lalu dilanjutkan dengan acara sungkeman. Karena dokter Lucky sudah tidak ada orang tua, maka Eduardo dan Regina Oliviera yang menjadi wakil pria itu. AKP Nana dan Rommy tidak mau karena merasa tua ( alasan saja emoh ada sungkem dari adiknya ).
Eduardo dan Regina benar-benar antusias dengan acara tradisional yang berbeda dengan acara tradisional Brazil. Sama-sama punya budaya yang dilestarikan, Vovô dan Vovó ( kakek dan nenek dalam bahasa Portugis ) lebih suka dengan budaya Jawa. Bahkan kedua orang itu lebih heboh saat memakai beskap dan kebaya serta jarik.
Saat acara sungkeman, dokter Lucky tampak bingung.
"Kenapa Mas?" tanya Daisy.
"Aku harus bilang pakai bahasa Inggris, Portugis atau Jawa?" jawab dokter Lucky.
Daisy memejamkan matanya. "Maaaasss ...."
"Eh, iya. Indonesia saja!" cengir dokter Lucky.
Daisy menghela nafas panjang. "Karepmu Mas!"
Acara sungkeman ternyata tidak sesyahdu yang dibayangkan karena dokter Lucky memakai bahasa Jawa, membuat Vicenzo dan Dante menatap sebal.
"No one understands, Lucky!" omel Vicenzo.
"Ini otomatis Papa Mertua," jawab dokter Lucky membuat Vicenzo ingin mengeplak menantunya pakai selopnya.
"Sudah! In English!" putus Vicenzo membuat Dylan dan Naava menggeleng gemas dengan ipar mereka.
"Datang lagi orang absurd di keluarga absurd. Broken tenan!" kekeh Dylan.
Naava tertawa kecil. "Kalau begitu, nggak seru deh!"
Dylan mencium bibir Naava. "Kita belum ada anak, tidak apa-apa kan?"
"Santai saja Dylan. Lagipula, aku juga sudah berencana melepaskan KB aku setelah surat ijin mengajar di Turin keluar," senyum Naava Moretti, cucu Raffa Moretti.
"Aku senang jika sudah bersama lagi," senyum Dylan sambil memeluk Naava. "By the way, kamu cantik lho pakai kebaya."
"Benarkah? Aku senang mendengarnya."
***
Usai acara sungkeman yang super membagongkan, akhirnya tiba di acara siraman. Daisy sudah menunjuk tujuh orang yang akan menyirami dirinya. Pertama adalah dokter Lucky, Dante dan Leia, Vicenzo dan Iris serta Eduardo dan Regina. Tepat tujuh orang karena aturannya memang harus ganjil.
Begini kira-kira visualnya
Daisy sudah duduk di kursi dan berfoto bersama dengan suaminya. Setelahnya, saat hendak siraman, dokter Lucky mengecek air dalam gentong itu.
"Mas Lucky ngapain?" tanya Daisy.
"Cek air. Anget atau enggak. Kasihan kamu dan si Boy kedinginan," jawab dokter Lucky sambil memasukkan telunjuknya ke dalam gentong tanah liat itu.
Anatara terharu dan gemas dengan perhatian suaminya, Daisy hanya bisa tersenyum kikuk saat para tamu yang memang sahabat dan keluarga mulai cekikikan melihat kelakuan dokter bedah itu.
"Woi, Lucky! Airnya anget kok! Sudah, nggak usah panik!" seru AKBP Victor usil.
"Jaga-jaga," jawab dokter Lucky kalem.
"Astagaaa adikku satu itu!" AKBP Nana memegang pelipisnya. "Sayang, aku pakai jarik. Coba kalau nggak, udah aku keplak deh!"
Dokter Lucky pun bersiap melakukan acara siraman berdasarkan tuntutan dari ibu Oti yang paham dengan tata aturan acara mitoni Jawa. ( Yep, ini Bu Oti yang nanti direpotkan dengan pernikahan Paklik dan Bulik untuk membuat seragam pernikahan kabupaten Pratomo ).
"Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah Sang Penjaga, jaga anakku selama dia berada di perut ibunya, beri kesehatan pada dia dan ibunya. Engkau Sang Pemberi Kesehatan," bisik dokter Lucky sembari menuangkan air siraman dari gayung batok kelapa ke Daisy.
Bu Oti dan Daisy terkejut karena dokter Lucky bisa serius. Daisy pun salim ke suaminya yang langsung menciumi kening, kedua pipi, pucuk hidung dan bibirnya.
"Lengkap ya mas?" kekeh Daisy.
"Harus lengkap dong Jeng!" senyum dokter Lucky.
Setelahnya acara siraman dilanjutkan oleh keluarga Daisy. Semua orang memberikan doa terbaik bahkan Dante dan Eduardo paling terharu saat melakukan siraman dan mencium kening cucunya lama. Vicenzo mencium kening dan kedua pipi putrinya penuh haru. Setidaknya Daisy tidak hamil di luar nikah dan itu menjadi kelegaan tersendiri bagi Vicenzo yang disimpannya dalam hati.
Usai siraman, dilaksanakan acara pecah telur dan membelah kelapa oleh dokter Lucky.
"Belah kelapa ya Dok, bukan bikin sayatan," seru dokter Juno membuat semua orang terbahak.
"Nanti aku buat sayatan Y!" balas dokter Lucky cuek membuat suasana jadi seru.
"Itu kan Dash, Oom!" seru Hana Akihiro Sankara.
"Sudah, sudah. Ayo, Oom!" seru Seiya penasaran.
Dokter Lucky membelah kelapa itu menjadi belahan sempurna. Kelapa terbelah menjadi dua belah bagian yang rapi dan seimbang, yang sering diartikan sebagai laki-laki.
"Dokter bedah memang beda! Presisi dan jelas Lanang anaknya versi USG!" ujar Ryuga Giandra membuat para tamu terbahak.
Dokter Lucky cemberut mendengar godaan dokter obgyn Daisy. "Iyeeee yang tahu duluan jenis kelamin anak gue!"
"Salah satu hal VIP dokter obgyn," jawab Ryuga kalem.
Bu Oti hanya cekikikan mendengar kerusuhan keluarga Sultan satu ini. "Mari pak dokter, acara selanjutnya, ganti kain buat mbak Daisy."
Dokter Lucky pun mengangguk. Daisy pun dibawa ke kamar untuk acara ganti jarik tujuh kali. Dokter Lucky dan Daisy menikmati proses acaranya. Wajah sumringah tampak terlihat di keduanya begitu juga dengan para anggota keluarganya.
Para tamu undangan yang hadir, tampak senang karena meskipun Daisy keturunan Italia, sangat mendukung budaya Jawa. Usai acara berganti kain hingga tujuh kali, Daisy memakai kebaya biru tua seragam dengan beskap dokter Lucky. Keduanya pun bersiap untuk berjualan cendol atau dawet.
Seiya dan Raynard bagian sibuk membagikan kreweng ke para tamu untuk membeli cendol. Dokter Lucky memayungi Daisy yang duduk sambil menyendokkan cendol ke dalam gelas.
"Kalau pegal, aku bawa voltaren kok Dok," goda dokter Rahmat yang datang bersama istrinya Fifi.
"Aku juga siapin obat relaksasi otot," timpal Ambar Kim Prawiro yang berada di belakang.
Para tamu yang antri pun cekikikan mendengar para dokter saling menggoda. Dokter Lucky hanya tersenyum kikuk.
"Ada param kocok nggak?" tanya dokter bedah itu cuek.
"Malah param kocok!" seru semua orang di sana.
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
hikksss.....
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣