Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Kota Maratama bukan lagi sekadar pemukiman; ia adalah organisme hidup yang dikendalikan oleh denyut infrasonik dari menara sekolah. Adella melangkah melewati kerumunan penduduk yang berdiri mematung, mata mereka tertuju padanya dengan kekosongan yang mengerikan. Di sampingnya, Lukas memejamkan mata, tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih.
"Aku bisa merasakan arusnya, Kak," bisik Lukas. "Ini bukan hanya suara. Ini adalah perintah yang dipaksakan masuk ke saraf tulang belakang mereka."
"Tetap fokus, Lukas. Cari sumber frekuensinya," instruksi Adella.
Mereka memasuki gerbang sekolah. Di aula besar yang dindingnya dilapisi peredam suara mutakhir, Pak Adwan berdiri di atas podium. Ia tampak lebih kurus, namun matanya memancarkan kegilaan yang jauh lebih murni daripada sebelumnya. Di sampingnya, berdiri seorang wanita dengan pakaian instruktur yang kaku.
Adella tersentak. Wanita itu adalah Nyonya Sarah, ibu kandung Nadia. Namun, wajah yang dulu penuh kesedihan itu kini hanya menunjukkan ketenangan robotik.
Lihatlah, Adella," suara Pak Adwan bergema tanpa bantuan pengeras suara, berkat akustik ruangan yang dirancang sempurna. "Di sini, tidak ada pengkhianatan. Tidak ada ego. Hanya ada harmoni. Aku telah menyempurnakan naskah yang kamu tulis dengan darah dan air mata."
"Ini bukan harmoni, Pak. Ini adalah kuburan bagi orang-orang yang masih bernapas," balas Adella, suaranya lantang menantang kesunyian aula.
Pak Adwan tertawa, sebuah suara yang kering dan pecah. "Nyonya Sarah adalah bukti kesuksesanku. Dia tidak lagi meratapi Nadia. Dia telah menemukan 'kedamaian' dalam kepatuhan. Bukankah itu yang diinginkan semua manusia? Akhir dari rasa sakit?"
Adella melirik Lukas. Anak itu mulai gemetar. Cahaya biru di matanya berdenyut liar, menyinkronkan diri dengan gelombang infrasonik yang memenuhi ruangan. Lukas bukan hanya mendengar; ia mulai menyerap frekuensi tersebut untuk membalikkannya.
"Sekarang, Lukas!" teriak Adella.
Lukas membuka matanya yang kini bersinar terang. Sebuah gelombang kejut elektromagnetik keluar dari tubuhnya, menghantam sistem audio di langit-langit aula. Suara dengung rendah yang menyesakkan itu mendadak berubah menjadi pekikan statis yang memekakkan telinga.
Pak Adwan terhuyung, menutup telinganya. "Apa yang kamu lakukan?! Kamu merusak simfoninya!"
Di saat yang sama, Nyonya Sarah jatuh berlutut. Matanya berkedip, kesadaran mulai kembali ke wajahnya seiring hilangnya pengaruh infrasonik. Ia menatap Pak Adwan dengan kebencian yang meledak seketika.
"Adella, ambil kendali podiumnya!" teriak Viona melalui alat komunikasi. "Ada saklar manual untuk memutus seluruh pemancar di kota ini!"
Adella berlari menuju podium, namun para instruktur berseragam—siswa-siswa senior yang telah dicuci otak paling dalam—menerjangnya. Adella bergerak dengan presisi yang mematikan. Ia tidak lagi menggunakan pulpennya untuk menulis; ia menggunakannya untuk melumpuhkan saraf lawan dalam hitungan detik.
Ia mencapai podium dan berhadapan langsung dengan Pak Adwan. Pria itu mengeluarkan sebuah pisau bedah dari sakunya, wajahnya merah padam karena amarah. "Kamu adalah mahakarya yang gagal, Adella! Dan kegagalan harus dimusnahkan!"
Perkelahian itu terjadi di atas panggung, di bawah sorotan lampu yang berkedip kacau. Pak Adwan menyerang dengan gerakan yang terukur, namun Adella bertarung dengan amarah seorang penyintas. Ia menghindari sabetan pisau itu, menangkap pergelangan tangan Pak Adwan, dan dengan satu sentakan keras, ia membenturkan kepala pria itu ke meja kayu jati yang masif.
"Pelajaran ini benar-benar selesai, Pak," desis Adella.
Ia menekan tombol merah di bawah konsol podium. Di luar sana, menara pemancar Maratama meledak mengeluarkan percikan api. Suara dengung di seluruh kota mati seketika.
Penduduk di luar sekolah mulai tersadar, memegangi kepala mereka dalam kebingungan yang luar biasa. Mantra itu telah patah. Maratama kembali menjadi manusia.