Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Gema di Pegunungan Alpen
Dunia mengenal Elena sebagai penakluk raksasa bisnis Jakarta, namun di desa kecil wilayah Interlaken, Swiss, ia hanyalah seorang wanita dengan mantel wol abu-abu yang berdiri diam di depan sebuah nisan marmer putih.
Di nisan itu terukir nama: Sarah Adiguna.
Tidak ada bunga mewah atau pelayan yang berjaga. Hanya ada Elena dan angin dingin yang berembus dari puncak Alpen.
Paman Han berdiri beberapa meter di belakangnya, memberi ruang bagi sang Nona untuk bernapas setelah badai yang ia lalui.
"Ibu," bisik Elena. Suaranya hilang ditelan angin. "Aku sudah mengambil semuanya kembali. Nama Adiguna sudah runtuh, dan namamu kini berdiri tegak di jantung kota yang dulu mengabaikanmu."
Ia meletakkan setangkai bunga edelweiss di atas nisan itu. Selama ini, ia pikir balas dendam akan membuatnya merasa "penuh".
Namun, berdiri di sini, ia sadar bahwa dendam hanyalah bahan bakar untuk bertahan hidup.
Sekarang, setelah bahan bakar itu habis, ia harus belajar caranya benar-benar hidup.
Elena memutuskan untuk tinggal di Swiss selama beberapa minggu untuk menenangkan diri.
Ia menginap di sebuah chalet kayu mewah yang menghadap ke Danau Brienz.
Jauh dari hiruk-pikuk berita saham dan skandal keluarga Adiguna.
Sore itu, saat ia sedang berjalan di pinggiran danau, seorang pria yang sedang melukis di atas kanvas besar menarik perhatiannya.
Pria itu tampak berusia awal tiga puluhan, dengan jaket kanvas cokelat dan rambut yang sedikit berantakan.
Elena melewati pria itu tanpa niat menyapa, namun sebuah suara menghentikannya.
"Warna matamu... sangat sulit untuk dicari padanannya di palet catku," ujar pria itu tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada kanvas.
Elena berhenti. Ia tidak terbiasa dengan percakapan kasual dari orang asing semenjak ia menjadi "Elena". "Maaf?"
Pria itu berbalik. Wajahnya ramah, namun matanya memiliki kedalaman yang aneh—tipe mata yang sudah melihat banyak hal di dunia ini.
"Warna mata yang penuh cerita. Biasanya orang ke sini untuk mencari kedamaian, tapi matamu seolah sedang merencanakan perang berikutnya."
Elena tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih tulus dari biasanya.
"Perangku sudah selesai. Aku hanya sedang belajar cara meletakkan senjata."
"Kalau begitu, kau ada di tempat yang tepat," pria itu mengulurkan tangan yang terkena noda cat biru.
"Aku Julian. Aku datang ke sini lima tahun lalu untuk melupakan dunia, tapi malah berakhir dengan melukisnya setiap hari."
Malam harinya, saat Elena kembali ke chalet, ia menemukan Paman Han sedang menunggu di ruang tamu dengan wajah cemas.
"Ada apa, Paman? Jangan katakan Adrian melarikan diri dari penjara," canda Elena sambil melepas mantelnya.
"Lebih buruk dari itu, Nona," Paman Han menyerahkan sebuah surat kabar lokal Swiss.
"Seseorang telah membeli seluruh aset properti di sekitar chalet ini atas nama sebuah perusahaan cangkang. Dan sore tadi, saya melihat seseorang yang sangat mirip dengan... pengacara pribadi Haryo Adiguna di bandara Zurich."
Elena mengerutkan kening. "Pengacara Haryo? Bukankah dia ikut terseret kasus pencucian uang?"
"Dia sempat menghilang sebelum penangkapan. Namanya Lukas. Dia adalah orang kepercayaan Haryo yang menangani 'urusan kotor' yang bahkan Adrian tidak tahu."
Elena terduduk di sofa. Ia menyadari satu hal: Haryo Adiguna adalah pria yang penuh dengan rencana cadangan.
Kematiannya mungkin sudah ia prediksi, dan bisa jadi, ia meninggalkan "hadiah terakhir" untuk menghancurkan Elena dari balik liang kubur.
Kecurigaan Elena terbukti keesokan harinya. Sebuah undangan makan malam tiba di chaletnya.
Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah koordinat lokasi dan sebuah pesan singkat: 'Warisan Sarah belum sepenuhnya terungkap'.
Elena datang ke lokasi tersebut—sebuah restoran tua di puncak bukit yang hanya bisa diakses dengan kereta kabel.
Di sana, Lukas sang pengacara sudah menunggu di sebuah meja sudut yang gelap.
"Nona Alana... atau haruskah saya panggil Nona Elena?" Lukas menyapa dengan nada sinis.
"Anda benar-benar melakukan pekerjaan yang luar biasa di Jakarta. Haryo pasti bangga sekaligus benci melihat betapa miripnya Anda dengannya."
"Langsung saja, Lukas. Apa yang kau inginkan? Uang? Atau kau ingin mencoba membunuhku di sini?" Elena bertanya dengan nada bosan.
Lukas tertawa.
"Membunuhmu? Tidak. Haryo memberiku satu tugas terakhir sebelum dia meninggal. Dia tahu kau akan menemukan brankas di Puncak.
Dia juga tahu kau akan mengambil alih perusahaan.
Tapi ada satu rahasia yang bahkan ibumu, Sarah, tidak sempat memberitahumu."
Lukas mengeluarkan sebuah dokumen tua yang tersegel lilin merah.
"Ibumu tidak hanya memiliki aset di Indonesia. Dia adalah bagian dari konsorsium gelap yang mendanai proyek-proyek bawah tanah di Eropa. Dan sekarang, setelah kau mengambil alih yayasannya, kau secara otomatis mewarisi... hutang nyawa mereka."
Elena membaca dokumen itu. Jantungnya seakan berhenti.
Ternyata, kekayaan ibunya bukan berasal dari warisan keluarga biasa.
Ibunya adalah seorang pelarian dari sebuah organisasi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar keluarga Adiguna.
"Haryo tidak 'melenyapkan' ibumu hanya karena harta, Elena," bisik Lukas. "Dia membunuhnya untuk melindungimu.
Organisasi itu mencari Sarah, dan jika mereka tahu Sarah punya anak yang kini menguasai aset mereka... mereka akan datang menjemputmu."
Elena keluar dari restoran itu dengan pikiran yang kacau. Langit Alpen yang indah kini terasa menekan.
Ternyata, selama ini ia hanya berperang melawan semut (Keluarga Adiguna), sementara monster yang sebenarnya baru saja terbangun.
Ia kembali ke danau, tempat ia bertemu Julian sore tadi.
Pria itu masih di sana, sedang mengemasi alat lukisnya di bawah cahaya bulan.
"Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," ujar Julian lembut.
Elena menatap danau yang tenang.
"Mungkin memang benar. Ternyata masa lalu bukan untuk dikalahkan, tapi untuk dijalani selamanya."
"Tergantung," jawab Julian.
"Kau bisa terus berlari, atau kau bisa membangun bentengmu sendiri. Kau punya kekuatan, kan?"
Elena menoleh ke arah Julian. Ada sesuatu pada pria ini yang terasa terlalu tenang untuk seseorang yang hanya "pelukis biasa".
"Siapa kau sebenarnya, Julian?" tanya Elena curiga.
Julian tersenyum, lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah lencana perak kecil dengan simbol yang sama dengan yang ada di dokumen tersegel milik Lukas.
"Aku adalah orang yang dikirim organisasi itu untuk mengawasimu. Tapi tenang saja... aku lebih suka melukismu daripada menyerahkanmu pada mereka."
Elena mundur selangkah, tangannya meraba pistol kecil yang selalu ia selipkan di balik pinggang celananya.
"Jangan repot-repot, Elena," Julian berkata santai.
"Jika aku ingin kau mati, kau sudah mati saat di danau tadi. Aku di sini karena aku punya tawaran. Bantu aku menghancurkan organisasi ini dari dalam, dan kau akan benar-benar bebas. Bukan hanya dari nama Adiguna, tapi dari semua bayang-bayang yang menghantuimu."
Elena menatap Julian lama. Ia menyadari bahwa hidupnya memang tidak akan pernah sesederhana itu.
Identitas rahasianya bukan lagi tentang topeng, tapi tentang menjadi pemain dalam permainan yang lebih besar.
Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk bersalaman, tapi untuk mengambil kuas lukis Julian dan mematahkannya menjadi dua.
"Aku tidak suka menjadi pion, Julian. Jika kita bekerja sama, aku yang memegang kendali," tegas Elena.
Julian tertawa lepas. "Itulah Nyonya yang aku cari. Selamat datang di babak baru, Elena."
Di kejauhan, Paman Han mengawasi dari balik pohon, jarinya berada di pelatuk senapan, menunggu komando.
Namun Elena memberi kode rahasia agar Paman Han menurunkan senjata.
Malam itu, di bawah bayang-bayang pegunungan Alpen, Elena menyadari bahwa balas dendamnya di Jakarta hanyalah latihan.
Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan sekadar harta—tapi eksistensinya di dunia ini.
Bersambung...
Ayo buruan baca...