NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 16: Garis Demarkasi

​Pernikahanku berlangsung tepat selama dua belas menit.

​Tidak ada gaun putih menjuntai yang menyapu lantai kapel. Tidak ada buket bunga mawar putih, tidak ada isak tangis haru dari bangku penonton, dan jelas tidak ada janji suci sehidup semati yang diucapkan dengan suara bergetar.

​Semuanya dieksekusi di sebuah ruang meeting kedap suara di kantor firma hukum pribadi milik Adristo Group.

​Pihak yang hadir hanya empat orang: Aku (mengenakan kemeja putih lungsuran yang sama), Rayan Adristo (mengenakan setelan jas Bespoke abu-abu gelap yang harganya mungkin setara dengan harga ginjalku), seorang petugas sipil kenalan pengacara Rayan yang disumpah untuk tutup mulut, dan Daniel yang berdiri di sudut ruangan sebagai saksi merangkap pemegang dokumen.

​"Tanda tangan di sebelah sini, Pak Rayan. Dan Ibu Nara, di sebelah sini."

​Petugas itu menyodorkan selembar dokumen legal berlambang negara. Rayan menandatanganinya dalam waktu kurang dari dua detik. Aku menyusul, membubuhkan tinta di atas namaku dengan gerakan mekanis.

​Selesai.

​Secara hukum negara, aku kini berstatus sebagai Nyonya Rayan Adristo. Tidak ada ciuman di dahi. Tidak ada adegan penyematan cincin berlama-lama Daniel hanya menyerahkan sebuah kotak beludru berisi sepasang cincin platina polos yang harus kami pakai mutlak setiap kali keluar dari penthouse.

​"Kerja bagus," kata Rayan, merapikan kancing jasnya segera setelah petugas sipil itu keluar dari ruangan. Ia menoleh padaku. "Daniel akan mengantarmu kembali ke penthouse. Saya harus kembali ke kantor, ada rapat pemegang saham dalam dua puluh menit."

​"Silakan, Pak," jawabku seraya memasukkan cincin platina dingin itu ke jari manis kananku. Ukurannya pas. Entah dari mana Daniel mendapatkan ukuran jariku. Mungkin mereka mengukurnya lewat CCTV lobi kemarin. Di titik ini, aku sudah berhenti mempertanyakan cara kerja kapitalisme tingkat tinggi.

​Begitulah. Peristiwa yang bagi sebagian besar perempuan dianggap sebagai hari paling sakral dalam hidup mereka, bagiku hanyalah sebuah birokrasi legal bernilai satu miliar.

​Tiga hari pertama tinggal di bawah atap yang sama dengan Rayan Adristo, aku menyadari satu hal: memiliki apartemen seluas lapangan basket membuatmu sangat mudah untuk pura-pura hidup sendirian.

​Garis demarkasi yang ditetapkan Rayan di malam pertama itu benar-benar ditaati dengan presisi militer.

​Sayap Barat adalah teritori Rayan. Sayap Timur adalah wilayah kekuasaanku. Dan area tengah ruang tamu, dapur, serta ruang makan marmer itu adalah Zona Demiliterisasi (DMZ).

​Kenyataannya, kami nyaris tidak pernah bertemu.

​Rayan adalah hantu korporat yang mengenakan setelan Tom Ford. Setiap pagi, saat aku baru melangkah keluar dari kamarku pukul enam, ia sudah menghilang, hanya menyisakan aroma kopi hitam pekat dari mesin espresso di dapur. Ia baru akan kembali jauh setelah tengah malam, saat aku sudah mematikan lampu kamarku.

​Di satu sisi, absensinya membuatku leluasa. Di sisi lain, penthouse ini terlalu sepi. Kesunyian di sini berbeda dengan kesunyian di rumah Ibuku. Di rumah Ibu, kesunyian adalah hasil dari ketegangan bom yang sedang menghitung mundur. Di sini, kesunyian adalah kemewahan yang dibeli dengan harga mahal untuk mengusir dunia luar.

​Aku menolak tenggelam dalam kemewahan kosong ini.

​Sesuai dengan Klausul Tambahan yang kutulis dengan pena biru: Hidup saya, tetap milik saya. Aku memiliki uang lima ratus juta di rekeningku, tapi aku tidak akan menyentuh sepeser pun uang itu untuk kebutuhan konsumtif. Uang itu adalah dana pelarian, bukan voucher belanja.

​Maka, mulai hari Selasa hingga Kamis, rutinitasku terbagi menjadi dua hal yang sangat ekstrem.

​Di sisi kiri meja kitchen island marmer, tergeletak binder hitam tebal berlogo 'A'.

Di sisi kanannya, laptop tuaku menyala, membuka belasan tab portal lowongan pekerjaan.

​Aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk menelan informasi dari binder hitam itu. Menghafal silsilah dan aib keluarga Adristo ternyata jauh lebih rumit daripada menghafal teori manajemen ekonomi mikro.

​Keluarga ini dipimpin oleh Ratih Adristo, sang Nenek sekaligus matriark absolut. Ia memegang 30% saham pendiri dan merupakan dewan penasihat yang titahnya lebih ditakuti daripada hukum perdata. Di bawahnya, ada dua faksi utama: Faksi ayah Rayan (yang sudah meninggal) dan Faksi paman Rayan dari pihak ayah (Paman Haris), yang selalu berusaha mencari celah untuk mendepak Rayan dari kursi CEO.

​Lalu ada Helena Adristo. Ibu kandung Rayan. Profilnya di binder ini sangat sedikit, tapi keterangannya diberi stabilo merah: Sangat terobsesi pada pernikahan Rayan dan penerus garis keturunan.

​Dan yang paling berbahaya: Dika Adristo. Kakak tiri Rayan dari pernikahan pertama ayahnya. Ia adalah komisaris perusahaan yang membenci Rayan sampai ke sumsum tulang.

​Sambil menghafal jaring laba-laba beracun itu, jari-jariku dengan agresif mengetik surat lamaran kerja di laptop.

​Aku tidak lagi melamar ke posisi eksekutif di konglomerasi raksasa. Targetku sekarang adalah perusahaan logistik dan data analitik level menengah yang lokasinya berjarak logis dari apartemen ini. Perusahaan yang tidak akan curiga jika aku pamit di jam lima sore, dan perusahaan yang tidak akan diliput oleh majalah bisnis.

​Pada hari Kamis siang, agresivitasku membuahkan hasil.

​Sebuah perusahaan logistik bernama PT. Bina Tirta, memanggilku untuk tes online dan interview via Zoom. Posisi: Staf Analis Data Junior. Gaji UMR plus tunjangan transport. Sempurna.

​Aku menyelesaikan interview itu dalam waktu empat puluh lima menit dengan sangat meyakinkan. HRD-nya menanyakan kapan aku bisa bergabung jika lolos. Aku menjawab: "Senin depan."

​Kamis malam, pukul sebelas lewat tiga puluh menit.

​Aku sedang duduk di kursi bar kitchen island, mengenakan piyama katun kotak-kotak berlengan panjang. Di depanku terdapat secangkir teh hijau hangat, binder hitam yang terbuka di halaman profil Paman Haris, dan laptop yang menyala menampilkan email balasan dari PT. Bina Tirta.

​Terdengar suara denting pelan dari arah pintu masuk utama.

​Cklek.

​Pintu terbuka. Rayan melangkah masuk.

​Ia terlihat kacau dengan cara yang tetap estetis. Jasnya sudah disampirkan di lengan kirinya, dasinya ditarik longgar, dan kancing kerahnya terbuka dua. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi dengan pomade kini sedikit berantakan.

​Langkahnya terhenti saat melihat lampu dapur masih menyala terang dan aku duduk di sana seperti penjaga warnet shift malam.

​Ini adalah interaksi tatap muka pertama kami sejak "pernikahan" dua belas menit di kantor pengacara tiga hari lalu.

​Rayan berjalan mendekati area dapur. Ia meletakkan jas dan tas kerjanya di kursi kosong, lalu membuka kulkas dua pintu raksasa itu untuk mengambil sebotol air mineral dingin.

​"Belum tidur?" tanyanya datar, meneguk air mineralnya setengah botol sekaligus. Suaranya serak karena kelelahan.

​"Menunggu briefing intelijen ini selesai terunduh ke dalam otak saya," jawabku tanpa basa-basi, menunjuk binder hitam di atas meja dengan ujung penaku.

​Rayan meletakkan botolnya. Ia berjalan memutari kitchen island dan berhenti tepat di seberang tempatku duduk, hanya dipisahkan oleh marmer selebar satu meter.

​Ia menundukkan pandangannya, menatap binder yang terbuka, lalu menatap mataku. Matanya menyipit, menguji.

​"Siapa nama istri kedua Paman Haris, dan apa afiliasi bisnisnya?" tembak Rayan tiba-tiba, tanpa aba-aba.

​Aku bahkan tidak berkedip.

​"Sonia. Mantan presenter TV. Tidak punya saham langsung di Adristo Group, tapi memiliki galeri seni yang menjadi salah satu vendor penyuplai interior untuk divisi properti hotel Bapak. Dia juga orang pertama yang membocorkan isu akuisisi tahun lalu ke media gosip."

​Rayan terdiam selama dua detik. Ia mengangguk samar.

​"Lalu, apa kelemahan utama Dika Adristo?"

​"Validasi publik," jawabku langsung. "Dia memiliki kompleks inferioritas terhadap Bapak karena Bapak yang dipilih oleh Nenek Ratih sebagai CEO. Cara terbaik untuk membungkam Dika di meja makan bukan dengan menyerang argumen bisnisnya, tapi dengan mengabaikan pencapaian yang sedang ia pamerkan secara pasif-agresif."

​Kali ini, sebelah sudut bibir Rayan tertarik ke atas. Sebuah seringai yang sangat tipis dan berdurasi kurang dari satu detik, tapi aku melihatnya.

​"Kamu mengerjakan pekerjaan rumahmu dengan sangat baik, Nara," pujinya pelan. "Setidaknya, investasiku tidak sia-sia."

​"Saya dibayar satu miliar, Pak. Saya tidak punya niat untuk mempermalukan diri saya sendiri dan dituduh melakukan wanprestasi di bulan pertama."

​Rayan hendak berbalik menuju Sayap Barat ketika matanya secara tidak sengaja menangkap pendaran cahaya dari layar laptopku di sebelah binder tersebut.

​Ia berhenti. Matanya yang tajam memicing membaca header email yang terbuka di layarku.

​Subjek: Offering Letter - Staf Analis Data Junior PT. Bina Tirta.

​Rayan kembali menoleh ke arahku. Ekspresinya yang tadinya lelah kini berubah menjadi keras dan sangat dingin. Rahangnya menegang.

​"Apa ini?" tanyanya, nada suaranya turun satu oktaf, mengisyaratkan ketidaksukaan yang absolut.

​"Surat penawaran kerja," jawabku santai. Aku memutar layar laptop itu sedikit agar ia bisa membacanya dengan lebih jelas. "Saya baru saja menyelesaikan tes interview siang tadi, dan mereka menawari saya posisi Data Analyst."

​Kedua tangan Rayan bertumpu di tepi meja marmer. Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.

​"Kamu sedang melamar pekerjaan staf murahan dengan gaji lima juta rupiah, sementara kamu baru saja menerima lima ratus juta dari saya tiga hari yang lalu?" desisnya. "Apa kamu lupa siapa kamu sekarang? Kalau ada satu saja media atau kenalan keluarga saya yang melihat 'Nyonya Rayan Adristo' duduk mengetik data di kubikel perusahaan logistik kelas teri, itu akan menjadi skandal memalukan."

​Aku meletakkan penaku di atas meja. Menautkan kedua tanganku, dan membalas tatapan intimidasinya tanpa mundur satu sentimeter pun.

​"Saya ingat betul siapa saya, Pak Rayan," balasku tenang. "Saya adalah Pihak Kedua dalam Perjanjian Pernikahan Kontrak Terbatas."

​Aku menarik napas pelan, mengaktifkan argumen yang sudah kupersiapkan.

​"Pertama, perusahaan ini bukan pesaing Adristo Group, jadi tidak ada konflik kepentingan. Kedua, tidak ada media yang akan tahu karena saya melamar menggunakan status single dan KTP asli saya, bukan KTP Nyonya Adristo. Saya akan menjadi karyawan biasa yang menaiki KRL atau taksi online, tidak akan ada sorotan."

​Rayan masih menatapku dengan mata mematikan. "Saya tidak mentolerir risiko kebocoran identitas."

​"Dan saya tidak mentolerir sangkar yang mengekang hak asasi saya," balasku tak kalah tajam.

​Aku berdiri dari kursi bar, menyamakan level pandangan kami agar ia tidak menatapku dari atas ke bawah.

​"Bapak sudah menandatangani klausul tambahan yang saya buat. 'Hidup saya, tetap milik saya'. Uang lima ratus juta yang Bapak transfer itu adalah kompensasi untuk waktu saya berakting di depan keluarga Bapak. Bukan uang untuk membeli hak saya mencari nafkah, dan bukan uang untuk menyuruh saya diam membusuk di penthouse ini selama enam bulan tanpa melakukan apa-apa."

​Aku menunjuk layar laptopku.

​"Uang Bapak adalah tameng saya. Tapi pekerjaan ini... ini adalah identitas saya yang asli. Dan saya tidak akan melepaskannya demi ego keluarga Bapak."

​Ruangan dapur itu mendadak hening. Udara terasa sangat padat, diisi oleh benturan dua ego yang sama-sama keras kepala dan terbiasa mendikte keadaan.

​Rayan menatap mataku lekat-lekat. Ia mencari celah keraguan, mencari tanda bahwa aku hanya sedang menggertak. Namun yang ia temukan hanyalah dinding baja hasil tempaan didikan keras Sri Wahyuni selama dua puluh dua tahun.

​Perlahan, ketegangan di bahu Rayan mengendur. Ia menegakkan tubuhnya kembali.

​Pria itu mendengus pelan. Bukan dengusan marah, melainkan dengusan sarkastis yang menertawakan keras kepalanya situasinya sendiri.

​"Silakan lakukan apa yang kamu mau dengan karirmu yang bernilai lima juta itu, Nona Staf Analis," kata Rayan, suaranya kembali datar. "Tapi camkan ini: jadwal kerjamu tidak boleh berbenturan dengan jadwal keluarga saya. Kalau saya butuh kamu hadir di sebuah acara jam tujuh malam, saya tidak mau dengar alasan kamu sedang disuruh lembur memfotokopi dokumen oleh atasanmu."

​"Dimengerti, Pak. Prioritas kontrak tetap nomor satu," jawabku puas.

​Rayan membalikkan badan, mengambil jas dan tas kerjanya.

​"Tidurlah," perintahnya tanpa menoleh, berjalan menuju koridor gelap Sayap Barat. "Simpan energimu. Besok malam kita berangkat ke kediaman utama. Bersiaplah untuk masuk ke dalam kandang singa."

​"Selamat malam, Pak," balasku pelan.

​Aku menatap punggungnya yang menghilang di balik lorong. Jantungku yang sedari tadi berdetak kencang menahan argumen, akhirnya kembali ke ritme normal.

​Garis demarkasi kami sudah jelas. Ia tidak akan mencampuri karirku, dan aku tidak akan mencampuri urusan pribadinya. Kami adalah dua rekan bisnis yang sama-sama tersandera oleh keadaan.

​Aku duduk kembali di kursi bar. Menatap email penerimaan kerja di layar laptopku.

​Aku menang hari ini, batinku.

​Tapi besok malam adalah hari Jumat. Acara makan malam keluarga Adristo. Ujian pertama untuk membuktikan apakah satu miliar yang ada di rekeningku benar-benar sepadan dengan racun yang akan kutelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!