Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Pria Tua di Kaki Gunung
Kota Hujan menyambut mereka dengan langit abu-abu dan gerimis tipis yang menggigit kulit. Udara di sini jauh lebih sejuk dan bersih dibandingkan polusi Jakarta. Dari stasiun, Luna menyewa sebuah angkot tua untuk mengantarkan mereka ke daerah pinggiran di kaki Gunung Salak, sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Sepanjang perjalanan menanjak melewati jalanan aspal yang berlubang, pemandangan berubah dari ruko-ruko padat menjadi hamparan pohon pinus dan kabut tipis. Hawa mistis di daerah ini sangat kental. Luna bisa melihat berbagai siluet makhluk astral bergelantungan di dahan-dahan pohon besar. Namun, seperti biasa, begitu angkot yang mereka tumpangi melintas dan aura biru Nando terpancar keluar jendela, bayangan-bayangan itu buru-buru menyingkir dengan panik.
"Kau benar-benar penolak bala berjalan," gumam Luna takjub, memandangi sosok hantu wanita berkebaya merah yang melompat ketakutan dari atas jembatan bambu saat mereka lewat.
"Tentu saja. Kualitas selalu berbicara," sahut Nando dengan senyum congkaknya, kembali memamerkan jam tangan Rolex ilusi di pergelangan tangannya. "Bahkan di dunia hantu, aku adalah kelas premium yang tidak bisa disentuh sembarangan."
Angkot berhenti di sebuah pertigaan jalan tanah berbatu. Sopir angkot menolak masuk lebih jauh karena medannya yang sulit. Luna membayar ongkosnya dan mulai berjalan kaki menanjak. Sepatunya berdecit menginjak lumpur basah.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit menembus rimbunnya kebun bambu, mereka tiba di depan sebuah rumah kayu tradisional bergaya Sunda. Rumah itu tampak sederhana, dikelilingi pagar tanaman teh-tehan, namun Luna bisa merasakan dinding energi yang sangat tebal mengelilingi pekarangan rumah tersebut. Bukan energi gelap, melainkan energi putih yang hangat dan berbau dupa cendana yang menenangkan.
"Ini tempatnya," ucap Luna, napasnya sedikit tersengal. "Rumah Ki Ardi."
"Kau yakin pria tua yang tinggal di gubuk kayu ini bisa membantuku mengembalikan perusahaanku yang bernilai triliunan?" tanya Nando skeptis, menilai rumah itu dengan tatapan mengkritik.
"Jaga mulutmu, Nando," desis Luna memperingatkan. "Ki Ardi bukan dukun palsu yang mencari uang. Dia adalah Kuncen, penjaga spiritual wilayah ini. Ayahku dulu sering membantunya, dan Ki Ardi adalah satu-satunya orang yang percaya padaku saat aku bilang orang tuaku dibunuh oleh makhluk hitam."
Luna melangkah masuk ke pekarangan. Belum sempat ia mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu, suara berat yang serak terdengar dari dalam.
"Masuklah, Neng Luna. Pintunya tidak dikunci. Dan bawa serta teman gaibmu yang auranya seterang lampu stadion itu."
Luna dan Nando saling berpandangan. Nando tampak sedikit terkejut. Mereka membuka pintu dan melangkah masuk ke ruang tamu yang hanya diterangi oleh cahaya matahari dari jendela dan sebuah lampu minyak di sudut ruangan. Aroma dupa cendana menguar kuat.
Di tengah ruangan, duduk bersila di atas tikar anyaman pandan, adalah seorang pria paruh baya yang usianya sulit ditebak. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, diikat ke belakang, mengenakan pakaian serba hitam khas pangsi Sunda. Matanya tertutup, namun tangannya terus bergerak memutar tasbih kayu berukuran besar.
Ki Ardi membuka matanya. Bola matanya jernih, menatap tajam langsung melewati Luna, dan mengunci pandangannya pada Nando.
Nando, untuk pertama kalinya sejak ia menjadi roh, merasa terintimidasi. Pria tua ini tidak sekadar menatapnya menembus ruang, tetapi seolah menguliti jiwanya hingga ke dasar.
"Aura biru yang murni," gumam Ki Ardi perlahan, mengangguk-angguk kecil dengan ekspresi kagum. "Luar biasa. Sudah puluhan tahun Aki tidak melihat anomali jiwa seperti ini. Anak muda, tubuhmu terbaring sekarat, tapi jiwamu menolak mati bukan karena dendam, melainkan karena keangkuhan dan logika murni yang kau miliki. Kau menolak ilmu hitam karena akal sehatmu tidak mengakuinya. Itulah yang membuatmu menjadi perisai mutlak."
Nando berdeham, berusaha mempertahankan wibawanya. "Tentu saja. Saya adalah pria yang rasional, Pak Tua. Saya tidak percaya pada hal-hal klenik. Ini semua hanya anomali fisika kuantum yang belum bisa dijelaskan."
Ki Ardi terkekeh pelan, tawanya terdengar kering. "Fisika kuantum, katamu? Coba katakan itu pada benda yang dibawa oleh Neng Luna di dalam tasnya."
Luna tersentak. Ia segera melepas ranselnya, mengeluarkan mangkuk keramik yang berisi garam hitam padat, dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kayu rendah di depan Ki Ardi. "Ki, saya menemukan ini di bawah bantalnya di rumah sakit. Semalam benda ini menyerang kami... makhluk yang keluar dari sana..." Suara Luna tercekat, kenangan buruk itu kembali mencekik lehernya. "...makhluk itu sama dengan yang membunuh Bapak dan Ibu."
Raut wajah Ki Ardi seketika berubah tegang. Ia menyingkirkan tasbihnya, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan mengarahkan telapak tangannya tepat di atas mangkuk tersebut tanpa menyentuhnya. Mata Ki Ardi memutih sejenak. Udara di dalam ruangan mendadak terasa berat. Nando bahkan secara refleks melangkah maju, memposisikan dirinya di samping Luna.
"Astaghfirullah..." bisik Ki Ardi, menarik tangannya dengan cepat seolah baru saja tersengat api. Napas pria tua itu memburu. "Ini bukan sekadar buhul santet biasa, Luna. Ini adalah Rantai Sukma. Ilmu hitam tingkat tinggi kuno yang sudah lama dilarang."
"Rantai Sukma?" Nando mengernyitkan dahi. "Apa itu? Bisakah dijelaskan dengan istilah yang lebih sistematis?"
Ki Ardi menatap Nando. "Artinya, kawanmu yang mengkhianatimu itu tidak hanya ingin membunuh tubuh fisikmu. Dia ingin mengikat sukmamu, memenjarakannya di dimensi antara, agar jiwa dan energimu bisa dihisap terus-menerus untuk memperkaya dirinya. Tumbal hidup. Selama benda ini aktif, kau tidak akan pernah bisa kembali ke tubuhmu, dan kau tidak akan pernah bisa bereinkarnasi atau menuju alam baka. Kau akan terjebak bersamanya selamanya."
Nando tertegun. Wajahnya yang arogan kini memucat. "Bara... dia berniat menjadikanku budak gaibnya untuk memajukan perusahaan yang aku bangun?" Kemarahan murni meledak di dada Nando, membuat pendar birunya kembali berkedip agresif.
"Lalu, bagaimana dengan makhluk hitam itu, Ki?" tanya Luna, suaranya bergetar hebat. "Kenapa energinya sama dengan pembunuh orang tuaku?"
Ki Ardi menatap Luna dengan sorot mata penuh duka. "Luna, Nak. Dukun yang menyegel nyawa temanmu ini... adalah dukun yang sama. Makhluk bermata merah yang kau lihat itu bukanlah hantu biasa. Itu adalah Perewangan—khodam jin peliharaan sang dukun. Jin ini hanya diwariskan atau dikendalikan oleh satu garis keturunan ilmu hitam yang sangat spesifik dari pesisir Utara Jawa."
Dunia Luna seakan berhenti berputar. Lima belas tahun ia hidup dalam ketakutan, mencari jawaban atas malam berdarah yang merenggut masa kecilnya. Dan kini, jawaban itu datang melalui seorang CEO angkuh yang terbaring koma.
"Bara tidak mungkin mengenal dukun itu secara kebetulan," gumam Nando, otak analitisnya bekerja dengan kecepatan penuh. Matanya menyipit, menghubungkan titik-titik konspirasi di kepalanya. "Bara berasal dari pesisir Utara. Keluarganya dulu bangkrut karena kasus sengketa tanah dengan... sebuah perusahaan properti besar di Jakarta."
Nando menoleh ke arah Luna, matanya membelalak lebar. "Luna, apa pekerjaan ayahmu sebelum meninggal?"
Luna menelan ludah kasar. Ingatan masa lalunya kembali menyeruak. "Ayahku... dia bukan orang kaya. Dia hanya seorang akuntan biasa... yang bekerja untuk grup perusahaan properti. Dia pernah bilang sedang mengaudit kasus sengketa tanah besar yang penuh dengan penggelapan dana."
Keheningan yang mencekam memenuhi ruangan kayu itu. Benang merahnya akhirnya terhubung. Tragedi yang menimpa Luna dan kecelakaan yang menimpa Nando bukanlah kebetulan semata. Ini adalah jaring laba-laba raksasa dari keserakahan, ilmu hitam, dan balas dendam yang diarsiteki oleh satu pihak yang sama.
"Bara..." desis Nando, suaranya sedingin es. "Dia bukan hanya mengkhianatiku. Keluarga atau dukun sewaannya adalah monster yang menghancurkan hidupmu, Luna."
Ki Ardi menghela napas panjang, menatap mangkuk di depannya dengan waspada. "Segel garammu kuat, Luna, tapi itu tidak akan bertahan lama. Sang dukun tahu kalian telah mengambil buhul ini. Dia akan mengerahkan seluruh pasukannya untuk memburumu, karena jika buhul ini dihancurkan dengan benar, ilmu hitamnya akan berbalik menyerang si pengirim."
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Ki?" tanya Luna, keputusasaan mulai merayap dalam nadanya.
"Kalian tidak bisa menghancurkannya di sini. Energi kota ini terlalu terbuka," jawab Ki Ardi tegas. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju sebuah lemari kayu jati kuno di sudut ruangan. "Kalian harus mencari pusatnya. Kalian harus menemukan tempat ritual si dukun, membawa buhul ini ke sana, dan menghancurkannya tepat di atas altar tempat perjanjian itu dibuat. Hanya dengan begitu ikatan Rantai Sukma akan putus permanen. Nando bisa bangun, dan dalang di balik kematian orang tuamu akan hancur oleh kutukannya sendiri."
Ki Ardi kembali dengan sebuah kotak kayu kecil berukir huruf Jawa kuno. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah pisau belati berkarat tanpa sarung, yang gagangnya terbuat dari tanduk rusa.
"Ini adalah Keris Pangruwat," ucap Ki Ardi, menyerahkan benda itu pada Luna. "Hanya manusia yang bisa memegangnya. Saat kau menemukan altarnya nanti, tusukkan keris ini tepat ke jantung buhul tersebut. Tapi ingat, perjalanannya tidak akan mudah. Dukun itu akan mengirim hal-hal yang jauh lebih mengerikan dari sekadar bayangan semalam."
Luna menerima keris itu dengan tangan gemetar. Benda itu terasa sangat berat, seolah menyimpan ribuan jiwa di dalamnya. Ia menoleh ke arah Nando. Pria itu membalas tatapannya, tidak ada lagi senyum congkak atau keluhan tentang fasilitas bus. Yang ada hanyalah tekad baja seorang pria yang bersiap berperang demi hidupnya, dan demi keadilan gadis di depannya.
"Kita akan menemukannya," sumpah Nando pelan namun tegas. "Kita kembali ke Jakarta. Kita geledah apartemen Bara. Kita cari tahu di mana sarang dukun keparat itu berada."
Petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Garis takdir telah mengikat seorang gadis minimarket dan seorang miliuner tembus pandang dalam sebuah perang melawan kegelapan yang telah menunggu selama lima belas tahun.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣