NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 033

Sinar matahari Minggu siang menyelinap masuk lewat celah gorden, namun ketenangan itu tidak berlaku bagi dua sahabat Ziva yang sedang dilanda kebosanan akut. Di tempat yang berbeda, Manda dan Tika sedang berbaring malas sambil menatap layar ponsel mereka, menunggu notifikasi dari grup "Trio Mager" yang tak kunjung berbunyi.

Denting notifikasi WhatsApp memecah keheningan di kamar Manda.

[​Manda]: Tik, ngapain ya enak menikmati hari Minggu ini? Gue rasanya udah lumutan di kamar.

[Tika]: Jalan-jalan ke mall yuk? Cuci mata, siapa tahu nemu diskon atau nemu cogan nyasar.

[​Manda]: Malas ah. Pasti rame banget, males antre parkirnya.

[Tika]: Hadeh, lo ketularan virus magernya Ziva ya? Ngomong-ngomong, Ziva mana nih? Nggak ada bales pesan gue dari tadi pagi.

[​Manda]: Nggak tahu tuh anak. Mungkin masih molor kali, atau lagi hibernasi tingkat dewa. Kan semalam abis drama panjang sama si Reygan.

[Tika]: Iya sih, tapi biasanya dia tetep baca grup. Ini centang satu doang.

[​Manda]: Udahlah, biarin dia mimpiin martabak. Gimana kalau ke taman aja yuk? Joging sore-sore biar keringetan dikit.

[Tika]: Berdua aja nih?

[​Manda]: Ya iyalah, emang lo mau ngajak siapa lagi? Satpam komplek?

[Tika]: Sialan lo. Oke, jam 3 sore aja ya. Siang gini masih panas banget, ntar kulit gue eksotisnya nambah.

[​Manda]: Oke, fiks ya. Jam 3 gue jemput!

*

*

*

​Manda dan Tika sama sekali tidak tahu bahwa sahabat mereka, yang mereka duga sedang tidur pulas, saat ini sedang mengalami "serangan jantung" berulang kali di ruang tengah rumahnya sendiri.

Ziva melirik ponselnya yang tergeletak di atas karpet, menampilkan rentetan pesan dari Manda dan Tika yang masuk lewat pop-up notifikasi. Ia ingin membalas, ingin berteriak lewat grup bahwa dirinya sedang disandera oleh manusia kaku yaitu seorang Aksa Erlangga. Namun, tangannya sedang tidak bebas.

Aksa sedang fokus. Sangat fokus. Pria itu baru saja membuka plester di lutut Ziva dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menangani porselen mahal yang mudah retak.

​"Sakit?" tanya Aksa tanpa mendongak, tangannya mulai membersihkan sisa luka itu dengan kapas beralkohol.

​"Dikit... perih," ringis Ziva, jarinya tanpa sadar meremas ujung kaos Aksa yang duduk tepat di hadapannya.

"Tahan sebentar, sayang. Supaya nggak infeksi," ucap Aksa lagi.

Ziva memejamkan mata rapat-rapat. Sayang lagi. Panggilan itu benar-benar lebih mematikan daripada alkohol yang menyentuh lukanya. Ia merasa seolah-olah seluruh dunianya sedang dijungkirbalikkan. Di sekolah ia dikenal sebagai antagonis yang ditakuti, di rumah ia adalah adik mager yang bandel, tapi di depan Aksa... ia merasa seperti pusat semesta pria itu.

​"A-Aksa... pelan-pelan," bisik Ziva, wajahnya sudah memerah sampai ke telinga.

​Aksa mendongak sebentar, menatap wajah Ziva yang sedang menahan malu. Ia tidak berkata apa-apa, tapi tangannya bergerak mengusap kepala Ziva sebentar sebelum kembali fokus menempelkan plester baru yang bergambar karakter lucu—entah dari mana Aksa mendapatkan plester seperti itu.

​"Selesai," ucap Aksa. Ia merapikan kotak P3K itu, lalu kembali duduk bersandar, menatap Ziva dengan tatapan yang sangat dalam.

*

*

*

Di sela-sela waktu istirahat balapan semalam yang masih menyisakan euforia, markas besar Black Eagle sore ini justru terasa lebih panas karena perdebatan tak berujung para anggotanya. Di tengah kepulan asap kopi dan deru suara knalpot dari bengkel depan, keempat sahabat Aksa ini sedang berkumpul dengan spekulasi yang liat.

​Vino melempar ponselnya ke atas meja kayu yang penuh coretan. "Hah... enaknya kita ngapain nih? Gabut banget gue!"

Bram yang sedang sibuk memutar-mutar kunci inggris hanya menyahut malas, "Entahlah. Gue berasa jompo kalau cuma nongkrong begini."

Kenan menghela napas, ia teringat kejadian pagi tadi saat mereka menjadi kurir dadakan. "Bos juga nggak tahu kemana sekarang. Mana tadi pagi perintahnya ajaib banget; bawa bunga, martabak manis keju jam 9 pagi, cokelat mahal, draf belanjaannya udah kayak mau lamaran."

Daren yang biasanya kalem dan irit bicara hanya bergumam pendek, "Hm."

"Eh, bentar," Bram tiba-tiba menghentikan kegiatannya. "Jangan-jangan Aksa ada pacar rahasia kali ya? Makanya dia pesen semua barang romantis itu?"

Bram langsung melotot dengan ucapannya sendiri. "Lah! Masa iya? Terus buat apa dia selama ini mepet-mepet Ziva kalau ternyata dia udah punya pacar? Nggak mungkinlah Bos kita se-buaya itu."

Kenan mendadak pasang wajah serius. "Wah, kalau beneran gitu, nggak bener ini. Kita harus aduin sama Bang Abian nih. Jangan sampai adeknya cuma dijadiin pelarian doang sama si Bos."

"Eh, bego!" Vino menjitak kepala Kenan. "Aksa itu selama ini belum pernah deket sama cewek mana pun. Seumur hidup gue temenan sama dia, yang dia pegang cuma stang motor sama bola basket. Sekali-kalinya dia nempel, ya cuma sama Ziva doang."

​Daren, Bram, dan Kenan terdiam serempak. "Hmm... ya juga ya."

​Mereka berempat hening sesaat. Suara kipas angin tua di ruko itu terdengar jelas di tengah kebuntuan pikir mereka. Hingga tiba-tiba, sebuah kesadaran menghantam mereka dalam waktu yang bersamaan.

​"JANGAN-JANGAN..." teriak mereka serempak sampai membuat tukang tambal ban di depan ruko kaget. "...AKSA MAU NEMBAK ZIVA BUAT JADI PACARNYA?!"

Bram menggeleng-gelengkan kepala. "Gak mungkin! Aksa nembak cewek? Cowok kaku itu mana bisa ngomong manis."

​Vino langsung angkat tangan. "Gak, gak, gak! Gue nggak mau tebak-menembak ya, takut salah terus kena stoppie sama dia."

Kenan melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan angka tiga lewat sedikit. "Daripada kita mati penasaran di sini, lebih baik kita ke taman aja yuk? Jalan-jalan sambil beli jajan, hehe."

​"Yo! Gas kan aja! Udah jam 3 sore nih, cocok buat jalan-jalan kayaknya. Siapa tahu nemu pencerahan," sahut Bram semangat.

​Daren dan Vino mengangguk setuju. "Oke."

*

*

*

Deru empat motor sport kelas berat membelah keheningan sore di sekitar area taman kota. Suara knalpot yang berat dan berwibawa itu langsung mencuri perhatian, bahkan sebelum pemiliknya membuka helm.

Begitu mereka memarkirkan motor dengan posisi berjajar rapi, nuansa "berbahaya" namun mempesona langsung terpancar.

​Vino turun pertama, mengibaskan rambutnya yang sedikit berantakan, diikuti oleh Bram, Kenan, dan Daren. Meskipun Aksa tidak ada bersama mereka, pesona empat anggota Black Eagle ini tetap sanggup membuat beberapa cewek-cewek yang sedang duduk di bangku taman mendadak salah tingkah.

​"Rame juga ya. Gue kira taman sore-sore isinya cuma kakek-kakek senam," gumam Vino sambil memakai kacamata hitamnya.

​Bram menyeringai lebar saat melihat beberapa cewek melirik ke arah mereka. "Efek visual kita emang nggak bisa bohong, Vin. Meskipun matahari mulai turun, pesona kita tetep terbit."

​"Narsis lo dikurangin dikit kenapa," sahut Kenan sambil mengedarkan pandangan mencari tukang jajanan. "Ayo cari es potong atau apa gitu, gerah gue."

​Di sisi lain jalur joging, Manda dan Tika baru saja menyelesaikan satu putaran pemanasan. Manda sedang sibuk mengelap keringat di dahi dengan handuk kecil, sementara Tika sibuk mengatur playlist lagu di ponselnya.

​"Tik, liat deh di parkiran," Manda menyenggol lengan Tika, dagunya menunjuk ke arah sekumpulan motor besar yang baru sampai. "Itu kayak... motor anak-anak Black Eagle nggak sih?"

Manda dan Tika melangkah dengan sisa tenaga joging mereka menuju deretan motor besar yang berkilau di bawah cahaya matahari sore. Semakin dekat, siluet empat pria yang sedang tertawa sambil memegang bungkusan plastik jajanan itu semakin jelas.

​"Mmm, iya juga ya. Ngapain mereka di sini?" bisik Manda sambil menyipitkan mata, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah karena kelelahan.

​Tika mengangkat bahu, napasnya masih sedikit memburu. "Entahlah.

"Kita deketin aja lah," ajak Manda dengan nada penuh rasa ingin tahu.

​"Ayok," balas Tika singkat.

Di sisi lain, Bram, Kenan, Vino, dan Daren benar-benar sedang berada dalam dunianya sendiri. Kesan "angker" anggota geng motor paling ditakuti di sekolah itu luntur seketika saat mereka berdiri mengerumuni gerobak cilok dan es potong.

​"Bang, ciloknya bumbunya banyakan ya! Jangan pelit-pelit, ini temen saya yang mukanya paling kaku mau bayar pake uang seratus ribu!" seru Vino sambil menunjuk Daren yang hanya menatapnya datar.

​"Gue nggak bilang mau bayarin lo, Vin," gumam Daren, namun tangannya tetap merogoh saku mengambil dompet.

​"Buset, Ken! Es potong rasa duriannya juara!" Bram bicara dengan mulut penuh, matanya berbinar senang. "Ternyata hidup tanpa Aksa sore ini damai juga ya, hehe."

"Woi, liat tuh. Ada sirkelnya Bu Bos," bisik Kenan sambil menyikut Vino.

​Vino dan Bram serempak menoleh, masih dengan plastik cilok di tangan. Manda dan Tika berdiri tepat di depan mereka dengan tangan bersedekap, memberikan tatapan yang sulit diartikan.

​"Wah, wah... ternyata para penguasa jalanan kalau sore-sore berubah jadi penguasa jajanan taman ya?" sindir Manda sambil tersenyum miring.

Bram hampir tersedak ciloknya. Ia segera menelan makanannya dan memasang pose sok keren, meski ada sisa bumbu kacang di sudut bibirnya. "Eh, ada Manda sama Tika. Lagi joging apa lagi nyari kita nih?"

​Tika memutar bola matanya. "Narsis lo nggak sembuh-sembuh, Bram. Kita lagi joging, terus liat ada motor kalian di parkir, ya kita samperin. Takutnya ada yang mau maling."

​"Maling hati kalian maksudnya?" Vino mengedipkan sebelah matanya, membuat Manda mendengus geli.

"Gombal lo basi, Vin," sahut Manda. Ia melirik ke arah motor sport hitam yang biasanya ada di antara mereka. "Tumben, Bos kalian nggak kelihatan? Biasanya kalian selalu bareng ni malah kurang satu personil."

1
CaH KangKung,
astaga...ikut deg"an aq....aksaaaaa....
ana Ackerman
salting brutal gue thorrr
W: hehe 🤭
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak💪
ana Ackerman
serius kak bab ini ngk bisa nahan tawa anjir🤣
ana Ackerman
lanjut kak💪
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
mom_nurul
aku masih stay disini kak,ga mau berpaling 🤭
di tunggu selalu update nya👍
W: siap👌
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!