Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 022
Suara sorakan "Cieee!" dari balkon lantai dua yang dipenuhi anggota Black Eagle sukses membuat suasana lapangan yang tadinya tegang berubah menjadi riuh dengan nada menggoda. Aksa memberikan tatapan mematikan ke arah Kenan dan kawan-kawan, yang bukannya takut, malah makin menjadi-jadi dengan siulan nakal.
"Woi, Bos! Jangan galak-galak, ntar pawangnya kabur!" teriak Vino sambil tertawa lepas dari atas.
Ziva hanya bisa menutup wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melambai malas ke arah mereka. "Duh, temen-temen lo beneran nggak ada yang bener ya, Aks?"
"Abaikan. Mereka emang kurang kerjaan," gumam Aksa, meski ujung telinganya kini terlihat memerah sempurna.
...KRIIIING! KRIIIING!...
Bel tanda jam pelajaran pertama berbunyi nyaring, memecah kerumunan murid yang masih haus akan gosip. Para guru mulai terlihat keluar dari ruang guru dengan wajah tegas, memaksa semua orang untuk segera bubar.
Di sudut lapangan, tampak Reygan berjalan dengan langkah terseret menuju gerbang sekolah. Ia tidak menuju kelas. Ia bahkan tidak menoleh saat beberapa murid sengaja berbisik kencang saat ia lewat. Reygan meraih kunci mobilnya di saku, masuk ke dalam SUV perak yang tadi ia parkir sembarangan, dan melesat pergi meninggalkan area sekolah.
"Dia beneran cabut?" tanya Tika sambil memperhatikan mobil Reygan yang menghilang.
"Pilihan bijak," sahut Liana pelan. "Kalau dia masuk kelas sekarang, dia cuma bakal jadi bahan tontonan. Setidaknya dia tau kapan harus nyerah."
Ziva menatap kepergian Reygan tanpa sisa emosi. Baginya, itu adalah penutup bab yang adil. "Ayo masuk. Gue nggak mau kena poin gara-gara telat jam pertama Bu Lastri lagi."
Melangkah menuju koridor kelas XI. Suasana lapangan perlahan sepi, menyisakan debu-debu drama yang baru saja mengendap. Namun, langkah Ziva terhenti ketika ia merasakan sebuah kehadiran yang masih menetap di sampingnya.
Aksa tidak langsung pergi menuju tangga lantai dua. Ia berdiri tepat di depan Ziva, menghalangi jalan gadis itu sejenak.
"Aksa? Katanya mau masuk kelas?" tanya Ziva bingung, mendongak menatap wajah cowok yang kepalanya jauh lebih tinggi darinya itu.
Aksa tidak menjawab. Matanya yang tajam menyapu wajah Ziva, memeriksa sisa-sisa ketegangan yang mungkin masih tertinggal.
Secara tak terduga, Aksa mengangkat tangannya. Dengan gerakan yang sangat lembut dan perlahan, ia mengelus pipi Ziva menggunakan ibu jarinya. Hanya sebentar, sebuah sentuhan hangat yang seolah ingin menghapus jejak lelah dari pagi yang penuh huru-hara tadi.
"Belajar yang bener. Jangan tidur terus," ucap Aksa rendah, suaranya hampir menyerupai bisikan yang hanya bisa didengar oleh Ziva.
Setelah itu, Aksa berbalik begitu saja. Ia melangkah dengan tenang menuju tangga, menyampirkan tas punggungnya di satu bahu tanpa menoleh lagi, seolah-olah ia tidak baru saja melakukan hal yang sanggup membuat jantung seseorang meledak.
Ziva mematung. Tangannya perlahan naik menyentuh pipinya sendiri yang masih terasa hangat bekas sentuhan Aksa. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar.
"Ziv? Lo... lo oke?" Manda menyenggol lengan Ziva, wajahnya sendiri sudah merah padam karena gemas. "Gila! Gue nggak salah liat kan?! Si Manusia Es barusan ngelus pipi lo?!"
"Woi, Ziva! Nyawa lo masih di sini kan?" Tika ikut mengguncang bahu Ziva yang masih terbengong di tempat.
Ziva akhirnya tersadar. Ia merasakan panas yang luar biasa merambat dari leher hingga ke seluruh wajahnya. "D-dia... dia tadi ngapain sih? Tangannya... tangannya nggak sopan banget!" gerutu Ziva dengan nada yang tidak meyakinkan, sementara pipinya sudah merah sempurna menyerupai kepiting rebus.
Liana yang berdiri di samping mereka hanya bisa tersenyum penuh arti. "Sepertinya Kak Aksa menyukai kak Ziva deh".
Di lantai dua, Aksa yang baru saja menaiki tangga langsung disambut oleh empat anggota Black Eagle yang sudah berdiri berjejer seperti barisan kehormatan. Vino dan Bram bahkan sampai melakukan gerakan hormat secara serempak.
"Gila, Bos! Gue kira lo cuma pinter main basket sama main saham, ternyata main skinship lo lebih pro!" Vino langsung merangkul bahu Aksa yang langsung ditepis oleh cowok itu.
"Tangan lo bau rokok, Vin. Jauh-jauh," sahut Aksa datar, berjalan lurus menuju kelas XII-IPA 1.
"Elah, sombong banget yang abis ngelus pipi Ratu Mager," Bram menyengir lebar, mengikuti langkah Aksa dari belakang. "Aks, jujur deh. Rasanya gimana? Kenyal nggak?"
Aksa berhenti di depan pintu kelasnya, menoleh sekilas ke arah Bram dengan tatapan yang bisa membekukan kutub utara.
"Mau gue patahin jari lo, atau mau diem?"
Bram langsung menutup mulutnya rapat-rapat, tapi tangannya tetap membuat gestur "oke" yang menyebalkan.
Kenan yang berjalan di samping Aksa hanya terkekeh pelan. Ia tahu Aksa sedang menutupi rasa canggungnya yang luar biasa. "Aks, lo tau kan satu sekolah bakal heboh lagi gara-gara kejadian barusan? Besok-besok jangan kaget kalau ada paparazzi di depan kelas lo."
Aksa masuk ke kelasnya, duduk di bangku paling pojok dekat jendela—posisi favoritnya. Ia tidak menjawab Kenan, namun pandangannya langsung beralih ke arah lapangan di bawah lewat jendela kaca. Ia melihat Ziva dan teman-temannya baru saja masuk ke gedung kelas XI.
Aksa melirik telapak tangannya sendiri. Masih ada sisa kehangatan dari kulit wajah Ziva yang tadi ia sentuh. Lembut, batinnya singkat sebelum ia mengeluarkan buku sketsanya dan mulai menggambar sesuatu yang sangat jauh dari pelajaran Biologi yang akan segera dimulai.
Di kelas XI, suasana tidak jauh berbeda. Meski guru sudah masuk, bisik-bisik tentang kejadian di lapangan dan "elusan maut" Aksa masih terdengar seperti dengungan lebah.
Ziva duduk di bangkunya dengan perasaan campur aduk. Ia mencoba fokus pada penjelasan guru di depan tentang jaringan tumbuhan, tapi setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan sentuhan ibu jari Aksa di pipinya.
"Sial," umpat Ziva pelan, menelungkupkan kepalanya di atas meja. "Gimana caranya gue bisa tidur kalau jantung gue bunyi sekenceng ini?"
Liana yang duduk di depannya menoleh ke belakang, memberikan sebuah susu kotak cokelat yang tadi sempat ia beli di kantin. "Diminum dulu Kak, biar tenang. Kak Aksa nggak bakal pergi kok."
Ziva hanya bisa mendengus dari balik lengannya yang terlipat. Hari Senin ini benar-benar tidak berjalan sesuai rencana "hibernasi" miliknya. Dari skandal taruhan hingga serangan jantung mendadak karena perlakuan Aksa, Ziva sadar satu hal: menjadi pusat perhatian Aksa Erlangga jauh lebih melelahkan daripada menghadapi sepuluh orang seperti Reygan.
Namun, di tengah rasa lelahnya, Ziva menyadari bahwa rasa hangat di pipinya adalah hal paling nyata yang pernah ia rasakan sejak ia bangun di dunia ini. Dan anehnya, ia sama sekali tidak keberatan.
lanjut ya thor... 🤧