Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
...~•Happy Reading•~...
Walau masih kesal, Laras mengambil nasi dan lauk yang disediakan Rafael. Dan ketika hendak makan, sendok jadi menggantung di depan mulutnya.
Dia menatap Rafael lalu meletakan sendok ke dalam piring dengan kasar. "Kau tidak ikut makan?" Tanya Laras yang melihat Rafael hanya duduk diam di depannya.
"Kau makan dulu." Rafael berkata singkat, sebab dia belum bisa makan. Seluruh indra di tubuhnya belum kembali normal setelah mendengar yang dilakukan Laras tanpa memikirkan dia sebagai suami dan calon Papa dari bayi yang dikandung.
"Kalau begitu, aku juga tidak makan." Laras mendorong piring di depannya dan hendak berdiri meninggalkan meja makan dengan kesal.
"Duduk... Aku akan makan." Rafael berkata serius sambil menggerakan wajah, meminta Laras duduk. Dia mengalah karena keberadaan calon bayi yang sedang dikandung.
Tanpa banyak kata, dia menyendok nasi dan sedikit lauk sebagai syarat akan makan. Agar Laras tidak jadi berdiri dan meneruskan makannya.
Namun sebelum makan, Rafael menunduk untuk berdoa. 'Ya, Tuhan, tolong aku. Agar makanan ini tidak membunuhku.' Rafael mohon pertolongan Tuhan, sebab tenggorokannya seakan tertutup dan tidak bisa digunakan untuk menelan.
Dia minum sedikit air mineral sebelum makan. Tanpa melihat Laras, dia menyuap sesendok nasi dan lauk, lalu makan perlahan, agar tidak tersedak. Itu dia lakukan beberapa kali sambil melihat isi piringnya mulai berkurang.
Mereka makan dalam diam, bukan seperti sepasang suami istri yang baru menerima karunia seorang anak. Tapi hanya suatu tindakan formalitas untuk bertahan hidup.
Setelah makan, Rafael tidak berdiri dari meja makan. Dia menunggu apa yang akan dilakukan Laras. Hal yang sama dilakukan Laras, tetap duduk. "Ada yang mau kau katakan?" Rafael bertanya sebab melihat Laras mau berbicara.
"Apa kau tidak bisa terima dan mempersoalkan yang aku lakukan ini? Apa kesepakan kita tidak berlaku lagi?" Laras khawatir Rafael akan pergi, karena orang tuanya juga mendukungnya.
Rafael menyingkirkan piring kosong di depannya lalu menatap lurus ke mata Laras. "Kesepakan mana yang kau maksudkan?"
"Ya, kesepakatan sebelum menikah." Laras gelagapan menjawab pertanyaan Rafael.
"Kau minta kita sepakat untuk bertukar peran dalam pekerjaan, sebab pekerjaanku belum stabil. Aku menerima, tapi hanya dalam hal itu."
"Saat aku terima, aku memposisikan diri di sini sebagai suami yang bekerja di rumah." Rafael mengetuk ujung jarinya ke atas meja.
"Aku tidak menghitung yang aku kerjakan akibat kesepakan itu. Tapi sekarang aku akan katakan, agar kau tahu apa arti kesepakatan itu dan bagaimana mengikatku sebagai pria dan suami."
"Aku kerjakan semua yang dikerjakan dalam rumah, layaknya ibu rumah tangga. Termasuk menyediakan makanan ini." Rafael menyentuh wadah nasi dan lauk di depannya.
"Padahal aku bisa minta kau sediakan ART. Tetapi aku tidak lakukan, karena ini adalah konsekuensi dari kesepakatan kita."
"Selain itu, aku tidak mengijinkan seorang pelayan wanita berada dalam rumah ini, karna aku tinggal sendiri di sini. Apa aku perlu jelaskan alasannya?"
"Tidak perlu." Laras mengerti maksud Rafael tentang hidup berdua dengan seorang pelayan wanita dalam rumah.
"Apa kau mau membuat kesepakatan lagi untuk hal-hal yang berhubungan dengan perasaan?" Rafael bertanya untuk menyingkirkan sekat kasat mata dan sering menjadi penghalang bagi mereka.
"Kalau kau berpikir itu harus disepakati juga, ayo lakukan. Dari pada kau tantrum begini, bikin aku pusing." Laras berkata tanpa berpikir. Sehingga Rafael menegakan punggung. Makanan yang mungkin belum sempat dicerna di lambung seakan mau melompat keluar.
"Laras, pikiranmu sangat dangkal dan ego sudah menumpulkan perasaanmu. Kau kira bisa membuat kesepakan untuk mengatur sesuatu yang berhubungan dengan perasaan?" Suara Rafael naik level.
"Kau yang bertanya." Laras tidak terima.
"Tidak ada lembar kertas yang bisa menampung isi kesepakatan itu." Rafael menarik nafas perlahan agar tidak emosi. "Kalau kau benar sayang, tidak perlu banyak aturan untuk mengatur sikap dan ucapan."
"Tapi kau hanya pikirkan perasaanmu. Tadi aku pikir yang kulakukan bisa menyenangkanmu dan tidak ada lagi perselisihan." Laras mengatakan yang ada di pikirannya.
Rafael terdiam mendengar yang dikatakan Laras. Dia tidak meneruskan yang ada di pikiran dan hatinya. 'Laras hanya memikirkan dirinya dan perasaannya.' Rafael membatin untuk mengingatkan dirinya.
'Baik. Aku menganggap kehamilanmu sebagai sarana memurnikan hati dan menguji kesabaranku. Tapi jangan sampai aku menyesali semua kesepakan yang kita lakukan.' Rafael membatin sambil menatap Laras dengan perasaan berkecamuk.
"Terima kasih sudah berusaha menyenangkan hatiku. Silahkan berdiri dan istirahat. Aku mau rapikan meja." Ucap Rafael sambil berdiri.
Laras berdiri sambil melihat wajah Rafael menjadi tenang, tapi dia tidak bisa menebak yang sedang dipikirkan Rafael. 'Mengapa dia tiba-tiba tenang dan tidak emosi?' Laras jadi curiga, apa lagi dia sedang hamil.
"Rafa, ingat janjimu. Kau akan merawat bayi ini." Laras mengingatkan sebelum keluar dari ruangan.
"Aku tidak lupa janjiku. Apa lagi berhubungan dengan anakku.... darah dagingku." Rafael meneruskan dalam hati, agar mereka tidak lama bertukar kata yang tidak perlu dibahas.
Rafael mengangkat peralatan makan kotor ke tempat cuci piring. Agar Laras bisa meninggalkan ruang makan. Sambil mencuci, dia memikirkan Ayahnya yang sudah tiada, melihat jalan hidup yang dia pilih.
Dia ingat pesan Ayahnya. 'Rafa, kalau ada orang yang tidak terima saran baikmu, biarkan saja. Jangan ulangi berikan saran padanya, sebab itu sama seperti membuang benda berharga ke dalam kubangan.' Rafael menarik nafas kuat.
'Tapi jangan kesal atau marah padanya. Mungkin orang itu tidak bisa membedakan emas dan tembaga.' Rafael ingat lagi yang dikatakan Ayahnya, setelah mengeringkan tangan dan berjalan ke kamar.
"Belum tidur?" Tanya Rafael yang melihat Laras hanya memeluk guling tanpa menutup mata.
"Aku tunggu. Gak bisa tidur, sebelum dipeluk." Laras berkata tanpa mengalihkan matanya dari Rafael.
"Kalau begitu, tunggu. Aku ganti ini." Rafael menunjuk kaosnya yang basah oleh percikan air cucian.
Setelah mengganti kaos dan ke kamar mandi, Rafael naik ke tempat tidur dan tidur di samping Laras. "Tidur." Bisik Rafael sambil memeluk Laras yang menunggu dipeluk.
"Mengapa tidak kesal lagi padaku?" Bisik Laras yang masih penasaran dengan perubahan sikap Rafael.
"Kesusahan dan perselisihan hari ini cukup sehari saja. Besok punya kesusahan sendiri. Jadi tidur, supaya kuat hadapi hari esok." Rafael mengatakan hal yang dipahami dari Ibunya.
Dia tidak mau mengatakan perubahannya karena tidak mau perasaan tidak bahagia Laras mempengaruhi pertumbuhan calon bayi. Dan juga, agar Laras tidak mempergunakan calon bayi untuk menekannya.
Rafael mulai memahami yang terjadi. Laras bisa menggunakan calon bayi untuk mewujudkan keinginannya. "Hhhmmmm..." Guman Laras yang langsung tertidur. Walau heran Laras bisa langsung tertidur, Rafael bersyukur dalam hati. Laras tidak memperpanjang pembahasan.
Perlahan dia mengusap perut Laras yang masih datar beberapa kali dan berhenti. 'Tetaplah sehat di sana. Papa ada di sini menunggumu.' Rafael membatin seakan calon bayi bisa mendengarnya.
...~•••~...
...~•○♡○•~...