Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Hakim Mengantuk, Alibi Kafein, dan Pembelaan Barista
[Balai Sidang Keadilan Ibu Kota]
[Pukul 13.00 - Jam Rawan Mengantuk]
Suasana ruang sidang penuh sesak. Kasus ini menarik perhatian publik karena melibatkan Kedai Nusantara yang sedang viral.
Di kursi terdakwa, aku duduk tegak dengan dagu terangkat. Aku tidak memakai baju tahanan, tapi memakai kebaya terbaikku.
Di bangku penonton barisan depan, Jenderal Arga duduk dengan wajah keruh. Tangannya mengepal di atas lutut. Dia ingin sekali membubarkan sidang ini dengan pasukannya, tapi aku sudah melarangnya. Ini ranah sipil. Kalau dia ikut campur, Diah akan menuduhnya menyalahgunakan kekuasaan militer.
Di meja penuntut, duduk teman Diah, seorang Jaksa muda ambisius bernama Raden Darma. Di sebelahnya, Diah Pitaloka tersenyum puas, yakin kemenangan sudah di tangan.
"Sidang dimulai!" Hakim Ketua mengetuk palu.
Hakim Ketua adalah seorang pria tua gemuk yang terlihat sangat lelah. Matanya sayu, dia menguap dua kali bahkan sebelum dakwaan dibacakan. Sempurna.
[Sesi Dakwaan]
Raden Darma berdiri, memegang gulungan tuntutan.
"Yang Mulia Hakim," suaranya lantang dan teatrikal. "Terdakwa Nyonya Tantri dituduh melakukan Monopoli Perdagangan dengan merusak pasar teh yang sudah mapan. Lebih parah lagi, dia menjual minuman bernama 'KOPI' yang mengandung zat adiktif berbahaya!"
Jaksa menunjuk saksi ahli mereka—Tabib Buyung (tabib bayaran Sengkuni).
"Saksi Ahli, jelaskan bahaya Kopi!"
Tabib Buyung maju, berdehem. "Ehem. Kopi adalah biji setan dari tanah hitam. Meminumnya menyebabkan jantung berdebar tak terkendali, mata melotot tidak bisa tidur, dan kecanduan parah. Jika tidak minum, korban akan sakau, lemas, dan gila. Ini adalah Narkoba jenis baru!"
Pengunjung sidang ribut.
"Wah, pantesan aku ketagihan!"
"Berarti kita semua pemakai narkoba dong?"
Hakim Ketua mengangguk-angguk (sambil menahan kantuk). "Terdengar serius. Terdakwa, apakah Anda punya pembela? Pengacara?"
Aku berdiri.
"Tidak, Yang Mulia. Saya akan membela diri sendiri."
Diah tertawa mengejek di kursinya. Cari mati.
[Sesi Pembelaan]
Aku berjalan ke tengah ruangan. Aku menatap Tabib Buyung, lalu menatap Hakim.
"Yang Mulia Hakim," kataku sopan. "Dakwaan Jaksa didasarkan pada ketidaktahuan. Kopi bukan narkoba. Kopi adalah Zat Penyegar Alami, sama seperti Teh."
Aku menunjuk Jaksa. "Jaksa bilang kopi bikin jantung berdebar. Benar, jika diminum berlebihan. Tapi apakah Teh kental tidak bikin jantung berdebar? Apakah memakan durian terlalu banyak tidak bikin pusing? Segala sesuatu yang berlebihan itu racun, Yang Mulia. Bahkan air putih pun kalau diminum 10 liter sekaligus bisa mematikan."
"Keberatan!" seru Raden Darma. "Teh menenangkan! Kopi memicu kegilaan!"
"Kegilaan?" Aku tersenyum miring. "Mari kita bicara fakta. Di kedai saya, orang minum kopi lalu mereka berdiskusi, menulis puisi, dan bekerja lebih giat. Sedangkan di Kedai Tuak... orang minum alkohol lalu berkelahi, memukul istri, dan muntah di jalanan."
Aku menatap mata Hakim.
"Mana yang lebih berbahaya bagi keamanan kerajaan, Yang Mulia? Minuman yang membuat rakyat produktif dan melek? Atau minuman beralkohol yang membuat rakyat mabuk dan rusuh? Kenapa arak legal, tapi kopi dilarang?"
Hakim terdiam. Logikanya masuk.
"Dan soal kecanduan..." lanjutku. "Tabib Buyung bilang kalau tidak minum jadi lemas. Saya tanya pada Anda, Tabib: Kalau Anda tidak makan nasi seharian, apakah Anda lemas?"
"Y-ya tentu saja," jawab Tabib Buyung gugup.
"Berarti Nasi juga zat adiktif dong? Nasi juga narkoba? Karena kalau tidak makan nasi kita sakau?"
Pengunjung sidang tertawa terbahak-bahak. Arga di bangku penonton menyembunyikan senyum bangganya di balik tangan.
Wajah Tabib Buyung memerah. "I-itu beda! Nasi kebutuhan pokok!"
"Kopi juga kebutuhan pokok bagi orang yang butuh inspirasi!" balasku telak.
"Cukup debat kusirnya!" potong Hakim (menguap lagi). "Saya butuh bukti nyata. Terdakwa, bisakah Anda membuktikan bahwa kopi ini aman dan bermanfaat?"
"Bisa, Yang Mulia," mataku berbinar. Inilah momen yang kutunggu.
"Izinkan saya menyeduh kopi di sini, sekarang juga. Saya tantang Yang Mulia dan Pak Jaksa untuk meminumnya. Jika dalam satu jam kalian jadi gila, silakan pancung saya. Tapi jika kalian malah merasa segar dan pintar... bebaskan saya."
Hakim tertarik. "Baik. Lakukan."
[Demonstrasi Barista]
Sari dan Bagas masuk membawa peralatan brewing manual (V60) dan kompor kecil (tungku kecil yang aku minta buat ke pemandai besi)
Aku mulai menggiling biji kopi fresh.
Aroma kopi bubuk yang kuat dan wangi langsung memenuhi ruang sidang yang pengap. Bau apek gedung tua tergantikan aroma nutty dan caramel.
Hidung Hakim kembang kempis. Matanya yang tadi 5 watt, mulai terbuka sedikit.
Aku menyeduh kopi itu dengan air panas suhu 90 derajat. Blooming (buih kopi) muncul cantik.
Aku tidak pakai gula aren kali ini. Aku sajikan Long Black (Kopi Hitam) encer yang elegan, disajikan dengan sepotong kue jahe.
"Silakan, Yang Mulia."
Hakim menerima cangkir itu. Dia menghirup aromanya.
"Harum..." gumamnya.
Dia menyeruputnya.
Rasa pahit yang sopan, diikuti rasa asam buah (fruity) yang segar, dan aftertaste manis.
Satu teguk. Dua teguk.
Kafein mulai bekerja. Mengalir ke darah, memblokir reseptor adenosine (zat ngantuk) di otak.
Lima menit kemudian.
Mata Hakim terbuka lebar. Punggungnya tegak. Rasa kantuk berat yang menyiksanya sejak siang tadi hilang tak berbekas. Pikirannya jernih. Dia merasa... Powerful.
"Luar biasa..." Hakim menatap cangkir itu takjub. "Aku merasa seperti baru bangun tidur pagi hari! Semangatku kembali!"
Dia menoleh ke Jaksa Raden Darma yang juga meminumnya (dengan terpaksa). Raden Darma pun terlihat lebih segar, kakinya bergoyang-goyang (efek kafein bikin jittery dikit kalau nggak biasa).
"Bagaimana Pak Jaksa? Apakah Anda merasa ingin membunuh orang? Atau malah merasa ingin menyelesaikan berkas perkara yang menumpuk?" tanyaku.
Raden Darma terdiam. Dia tidak bisa bohong. Dia merasa sangat fokus.
"Tabib Buyung," panggil Hakim dengan suara lantang dan bertenaga. "Kau bilang ini racun otak? Aku justru merasa otakku encer! Kau ini tabib palsu atau bagaimana?"
Tabib Buyung gemetar. "A-anu... mungkin efeknya beda-beda..."
"Omong kosong!" Hakim mengetuk palu. TOK!
[Vonis]
"Berdasarkan bukti nyata, KOPI dinyatakan sebagai Minuman Herbal Penyegar. Bukan Narkoba. Bukan Racun."
"Tuduhan Monopoli ditolak karena Terdakwa menciptakan pasar baru, bukan merebut paksa."
"Segel Kedai Nusantara dibuka. Terdakwa BEBAS MURNI."
"Dan satu lagi... Terdakwa, tolong kirimkan dua toples bubuk hitam ini ke rumah saya tiap bulan. Saya butuh ini buat lembur."
TOK! TOK! TOK!
Sorak sorai membahana.
Arga langsung melompat pagar pembatas, memelukku erat di depan semua orang.
"Kau jenius! Istriku jenius!"
Aku tersenyum lega di pelukan Arga. Aku melihat ke arah Diah Pitaloka.
Diah duduk terpaku, wajahnya pucat pasi. Dia kalah lagi. Dia kalah di medan perang, dan sekarang kalah di pengadilan.
Dia menatapku dengan tatapan kosong, lalu berdiri dan pergi tanpa kata, diikuti Sengkuni yang menahan amarah sampai wajahnya ungu.
Di luar gedung pengadilan Wira dan Kereta kuda kami telah menunggu
Tapi tiba-tiba...
Duniaku berputar.
Suara sorak sorai terdengar menjauh.
Pandanganku menggelap. Titik-titik hitam muncul.
Kelelahan fisik, stress sidang, dan kehamilan muda akhirnya menagih bayarannya.
"Tantri?" suara Arga terdengar panik. "Tantri!"
Tubuhku limbung.
Hal terakhir yang kuingat adalah tangan kekar Arga menangkap tubuhku sebelum menyentuh tanah, dan teriakan paniknya memanggil tabib.
Maaf Arga... Chef Kirana butuh cuti...
[Kamar Tidur Utama - Malam Hari]
Aku membuka mata perlahan.
Cahaya lampu temaram. Arga duduk di samping tempat tidur, menggenggam tanganku erat. Wajahnya terlihat sangat lelah dan khawatir.
Di pojok kamar, Tabib Li sedang meracik obat.
"Kau sudah sadar?" Arga mencium tanganku. "Kau membuatku hampir mati ketakutan."
"Haus..." bisikku.
Arga segera membantuku minum.
"Tabib bilang kau kelelahan parah," kata Arga lembut tapi tegas. "Mulai besok, tidak ada lagi masak di kedai. Tidak ada lagi sidang. Tidak ada lagi strategi perang."
"Tapi Kedai..."
"Kedai biar Panji yang urus. Dia punya saham kan? Biar dia kerja," potong Arga. "Tugasmu sekarang cuma satu: Makan, tidur, dan besarkan anak kita."
Aku mau protes, tapi badanku memang remuk rasanya.
"Baiklah, Jenderal. Aku cuti hamil."
Arga tersenyum, mengelus kepalaku.
"Oh ya, ada kabar dari perbatasan. Strategi blokade logistikmu berhasil. Pemberontak Bukit Kabut menyerah tadi sore karena kelaparan."
Aku tersenyum lemah. "Bagus."
"Raja sangat senang," lanjut Arga. "Dan karena kau hamil dan berjasa besar... Raja memberikan titah."
"Titah apa?"
"Minggu depan, kita akan mengadakan Upacara Syukuran Kehamilan 4 Bulan (walau baru 2 bulan, dipercepat biar aman). Dan Raja akan mengangkatmu resmi menjadi Penasihat Logistik Militer Kehormatan."
Aku melongo.
Dari Istri Jahat -> Koki -> Tersangka -> Penasihat Militer?
Karir macam apa ini?
"Tapi ada satu masalah kecil," wajah Arga berubah sedikit tegang.
"Apa?"
"Untuk upacara syukuran itu... Ibu Suri (Ibunda Raja) akan datang. Dan beliau... terkenal sangat tradisional, kolot, dan... dia adalah bibi dari Diah Pitaloka."
Aku menepuk jidat.
Musuh baru lagi? Boss Level: Ibu Mertua Raja.
"Dia benci masakan modern. Dia benci perubahan. Dan dia pendukung kuat Diah untuk jadi istriku," tambah Arga ngeri.
"Bagus," gumamku sambil memejamkan mata. "Bangunkan aku kalau nenek sihir itu sudah datang. Aku mau tidur dulu."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal