NovelToon NovelToon
Aku Dipaksa Menjadi Pelakor

Aku Dipaksa Menjadi Pelakor

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:647
Nilai: 5
Nama Author: Siti_1234

Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..

Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?

Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 7: "HARAPAN DAN KEMITRAAN"

*****

Sinaran matahari pagi kali ini terasa lebih hangat menyentuh wajah Ratna. Setelah dua minggu menjalani perawatan secara teratur, warna wajahnya mulai kembali cerah dan energi dia sedikit meningkat. Dia sedang duduk di kursi dekat jendela, menikmati pemandangan taman kecil di luar rumah sakit sambil memegang buku bacaan yang dibawa Raisa.

“Kakak terlihat lebih baik hari ini ya,” ujar Raisa sambil memasang bantal di belakang punggung kakaknya. “Dokter bilang kalau hasil tes terbaru menunjukkan perkembangan yang luar biasa.”

Ratna tersenyum lebar. “Ya, Ras. Rasanya seperti tubuhku mulai merespon dengan baik. Malam ini aku bahkan bisa tidur nyenyak tanpa merasa mual lagi.”

Rio masuk ke kamar dengan dua gelas jus buah segar, wajahnya penuh dengan senyum lega. “Dokter Arif baru saja memberi kabar baik, sayang. Dia bilang kalau kita bisa mempertimbangkan untuk melanjutkan perawatan secara rawat jalan mulai minggu depan, selama kondisi kamu tetap stabil.”

“Benarkah?” Ratna tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Aku sangat merindukan rumah kita dan tempat tidur sendiri.”

Sri Wahyuni yang baru saja datang dengan makanan pagi segera mendekat. “Alhamdulillah, Nak. Rumah sudah kubersihkan bersih, dan aku sudah menyiapkan kamar dengan baik agar kamu bisa istirahat dengan nyaman.”

Sementara itu, di kantor PT. Pratama Properti, suasana sudah jauh berbeda dari dua minggu yang lalu. Ruang rapat penuh dengan semangat positif saat Bapak Darmawan dan timnya menerima kunjungan dari tim manajemen PT. Mega Konstruksi Jakarta, yang dipimpin oleh Direktur Utamanya, Pak Surya.

“Setelah mempelajari proposal yang kalian kirimkan, kami sangat tertarik untuk menjalin kemitraan,” ucap Pak Surya dengan suara yang mantap. “Proyek perumahan di kawasan baru memiliki potensi besar, dan kami yakin bisa bekerja sama dengan baik.”

Pak Hendra mengangguk dengan antusias. “Kami siap memberikan akses penuh ke lahan dan data proyek yang sudah ada. Kalian membawa pengalaman dan sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi hambatan yang kita hadapi.”

Pak Sudarto kemudian menjelaskan rincian perjanjian yang telah disusun bersama Bu Rina, sekutu hukum perusahaan. “Kemitraan ini akan berjalan dengan pembagian keuntungan 60-40, dengan kita sebagai pihak yang menyediakan lahan dan mereka sebagai pihak yang menangani konstruksi serta pemasaran bersama.”

“Kita juga siap membantu mempercepat proses izin yang tertunda,” tambah Pak Surya. “Kami memiliki hubungan baik dengan pihak berwenang dan bisa memastikan bahwa semua prosedur berjalan sesuai aturan.”

Setelah beberapa jam diskusi, kedua pihak akhirnya menandatangani naskah kesepakatan kemitraan. Tanda tangan itu bukan hanya sekadar kontrak bisnis, tetapi juga harapan baru bagi masa depan perusahaan dan seluruh karyawannya.

“Dengan kemitraan ini, kita bisa menyelesaikan proyek dalam waktu yang lebih singkat dan meningkatkan penjualan,” ucap Bapak Darmawan kepada timnya setelah tamu dari Jakarta pergi. “Dan yang terpenting, kita bisa memastikan bahwa semua biaya operasional serta kebutuhan keluarga bisa terpenuhi dengan baik.”

Sore hari itu, Rio datang ke kantor untuk bertemu dengan Bapak Darmawan. Dia sudah diberitahu tentang kesepakatan kemitraan dan ingin menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Pak, terima kasih banyak atas segala usaha yang telah Pak lakukan,” ujar Rio dengan suara penuh penghargaan. “Tanpa dukungan perusahaan, saya tidak bisa fokus sepenuhnya pada perawatan Ratna.”

Bapak Darmawan berdiri dan menepuk bahu Rio dengan lembut. “Kamu adalah bagian penting dari keluarga perusahaan kita, Rio. Kita akan selalu saling mendukung dalam suka maupun duka. Selain itu, ada kabar baik lain yang ingin kuberi.”

Dia membuka sebuah berkas dan menunjukkan kepada Rio. “Kami telah memutuskan untuk memberikan tunjangan kesehatan tambahan bagi kamu dan keluarga, serta memastikan bahwa posisi kerja kamu tetap aman selama Ratna menjalani perawatan. Selain itu, beberapa karyawan juga mengumpulkan sumbangan untuk membantu biaya perawatan.”

Rio merasa mata nya berkaca-kaca. “Saya tidak tahu harus bagaimana berterima kasih, Pak. Ini benar-benar membantu kami banyak sekali.”

“Jangan sungkan, Rio. Sekarang kamu harus fokus pada kesembuhan Ratna saja. Semua urusan kerja akan kami kelola dengan baik,” ucap Bapak Darmawan dengan senyuman hangat.

Kembali ke rumah sakit, malam itu ada kejutan khusus untuk Ratna. Seluruh keluarga—termasuk adik Rio yang datang dari Surabaya dan sepupu-sepupu yang tinggal di Semarang—berkumpul di kamar perawatan untuk merayakan perkembangan positif kondisinya. Mereka membawa kue kecil tanpa gula dan dekorasi sederhana yang membuat kamar terasa seperti rumah.

“Kami ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini,” ujar adik Rio, Rian, sambil memberikan bunga tangan buatan sendiri. “Semua dari kita selalu berdoa untukmu.”

Ratna merasa haru dan menangis bahagia. “Terima kasih semua. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kalian semua. Dukungan kalian adalah alasan aku bisa tetap kuat hingga saat ini.”

Di tengah suasana hangat itu, Dokter Arif mampir untuk memeriksa kondisinya. Setelah memeriksa tanda-tanda vital Ratna, dia memberikan kabar yang membuat semua orang semakin gembira.

“Berdasarkan perkembangan yang kita lihat, saya yakin bahwa kesembuhanmu akan lebih cepat dari perkiraan awal,” ucap Dokter Arif dengan senyuman ramah. “Yang penting kamu tetap menjaga pola makan dan istirahat yang cukup setelah pulang nanti.”

Setelah keluarga pulang dan kamar kembali tenang, Rio dan Ratna duduk berdampingan di sisi ranjang. Bulan sudah tinggi di langit, dan cahayanya menerangi kamar dengan keindahan yang damai.

“Kamu tahu kan, sayang,” ucap Rio sambil menggenggam tangan Ratna. “Dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini, aku semakin menyadari betapa berharganya kamu dan keluarga kita. Setelah kamu sembuh, kita akan menjalani hidup dengan lebih berharga setiap detiknya.”

Ratna menyandarkan kepalanya pada bahu Rio. “Ya, sayang. Aku juga berjanji akan selalu bersyukur dan tidak pernah menyerah lagi. Kita punya masa depan yang cerah untuk dijalani bersama.”

......................

...****************...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!