NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak

“Bagaimana dengan pekerjaan kalian hari ini?” ucap Natasya Ayu Pramudya, ibu dari Nathan dan Naura, dengan suara lembut namun tetap berwibawa.

“Lancar, Mom,” jawab Naura santai, sambil tetap menikmati makan malamnya.

“Biasa saja,” sahut Nathan singkat, nadanya datar seperti biasa.

Natasya mengangguk pelan, sorot matanya bergantian menatap kedua anaknya.

Gerakannya tenang, elegan, namun jelas penuh kendali.

“Lancar… dan biasa saja,” ulangnya pelan, seolah menimbang jawaban mereka.

Ia mengambil gelasnya, meneguk sedikit, lalu kembali meletakkannya dengan rapi.

“Biasanya,” lanjutnya, “kalau Nathan bilang ‘biasa saja’, itu berarti ada sesuatu yang menarik.”

Nathan tersenyum tipis.

“Tidak ada yang terlalu penting, Mom.”

Natasya menatapnya beberapa detik, lalu beralih ke Naura.

“Kalau kamu?” tanyanya lembut. “Ada yang ingin kamu ceritakan?”

Naura mengangkat bahu ringan.

“Meeting seperti biasa,” ucapnya santai. “Ada beberapa penawaran kerja sama, tapi tidak semua cocok.”

Natasya mengangguk kecil.

“Termasuk dari Mahendra Group?” tanyanya tiba-tiba.

Naura sedikit berhenti mengunyah.

Nathan pun melirik sekilas, namun tetap diam.

“Iya,” jawab Naura akhirnya. “Kami menolaknya.”

Hening sesaat.

Namun bukan hening biasa, melainkan hening yang terasa, diperhatikan.

Natasya tersenyum tipis.

“Keputusan yang berani,” ucapnya.

Naura menatap ibunya.

“Keputusan yang tepat,” koreksinya tenang.

Sudut bibir Natasya sedikit terangkat, seolah menyukai jawaban itu.

“Dan?” lanjutnya santai. “Siapa yang pertama kali mengangkat keberatan?”

Naura melirik sekilas ke arah Nathan, lalu kembali pada ibunya.

“Asisten baru aku.”

Alis Natasya terangkat tipis.

“Oh?”

Nathan, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara.

“Aku yang pilih, Mom.”

Natsya mengangguk pelan.

“Yang bernama, Xavero, ya?”

Naura sedikit terkejut.

“Mommy sudah tahu?”

Natasya tersenyum tipis.

“Dalam keluarga ini,” ucapnya lembut, “tidak banyak hal yang benar-benar luput dari perhatian Mommy.”

Ia menyandarkan tubuhnya perlahan.

“Bagaimana dia?” tanyanya lagi, kali ini lebih dalam.

Naura terdiam sejenak.

Pertanyaan itu, terasa lebih dari sekadar basa-basi.

“Dia cepat,” jawab Naura akhirnya. “Dan… cukup objektif.”

Nathan menambahkan singkat,

“Dia tahu posisinya.”

Natasya mengangguk pelan.

“Menarik.”

Ia kemudian menatap suaminya yang tampak tenang menikmati makan malam. “Daddy sudah mengujinya? Mommy tidak mau Naura dekat dengan orang asing.”

Nico menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap istrinya dengan lembut, lalu mengangguk pelan. “Sudah, sayang. Kamu jangan ragukan pilihan putra kita,” jawabnya tenang, sembari melirik ke arah Nathan.

Natasya akhirnya menghela napas lega. “Baguslah Mommy bisa tenang kalau asisten Naura sudah kalian uji.”

Mereka kembali melanjutkan makan malam, suasana perlahan mencair, topik pembicaraan pun berganti.

Hingga beberapa saat kemudian—

Ponsel Nathan berdering.

Nathan menoleh ke arah ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Nama Adit tertera jelas di layar. Tanpa menunda, ia langsung mengangkat panggilan itu.

“Hm?”

“Tuan, maaf mengganggu waktu Anda.”

“Katakan.”

“Xavero dikeroyok, Tuan.”

Nathan terdiam sesaat. Rahangnya mengeras. Seketika itu juga, perhatian semua orang di meja makan tertuju padanya.

“Di mana dia sekarang?” tanya Nathan, suaranya berubah lebih rendah.

“Rumah sakit daerah timur, Tuan.”

Suasana meja makan yang semula tenang, seketika berubah.

Sendok di tangan Naura berhenti di udara.

Natsya langsung mengangkat pandangan, sorot matanya menajam.

Sementara Nico meletakkan alat makannya perlahan, ekspresinya tetap tenang, namun jelas penuh perhatian.

Nathan berdiri dari kursinya.

“Bagaimana kondisinya?” tanyanya tegas.

“Cukup parah, Tuan. Tapi masih sadar,” jawab Adit dari seberang.

Nathan menghela napas pendek.

“Pastikan dia mendapat penanganan terbaik. Saya ke sana sekarang.”

“Baik, Tuan.”

Sambungan terputus.

Hening.

Naura langsung berdiri.

“Aku ikut.”

Nathan menoleh padanya sekilas, lalu mengangguk.

“Siapkan mobil.”

Naura sudah lebih dulu melangkah cepat keluar dari ruang makan.

Langkahnya tidak lagi tenang seperti biasa, kali ini tergesa.

Natasya memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa. Ia melirik suaminya, sorot matanya tenang namun penuh arti.

“Ini bukan kebetulan, kan?” ucapnya pelan.

Nico mengangguk tipis.

“Tentu saja bukan.”

Tatapannya sempat mengarah ke pintu yang baru saja dilewati Naura, sebelum kembali tenang seperti semula.

“Sepertinya… seseorang tidak senang dengan keputusan kita.”

Nico menyandarkan tubuhnya dengan santai.

“Justru itu,” balasnya singkat.

“Berarti kita memilih orang yang tepat.”

Natasya mengangguk pelan, memahami maksud di balik ucapan suaminya.

“Dad?”

“Iya?”

“Daddy yakin dengan apa yang Daddy katakan tadi pada Mommy?”

Nico tidak langsung menjawab. Ia menatap istrinya beberapa detik, seolah memastikan keyakinannya sendiri sebelum akhirnya berbicara dengan tenang.

“Daddy yakin, Mom. Dia, sangat mirip.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.

“Setelah makan malam ini, Daddy akan menemuinya.”

Natasya mengangguk pelan, ekspresinya berubah lebih lembut.

“Jika benar, sahabat kita pasti akan merasa bahagia.”

°°

Mobil Nathan berhenti di depan rumah sakit.

Naura langsung turun tanpa menunggu.

Langkahnya cepat menuju dalam.

Nathan mengikuti di belakang.

Di lorong rumah sakit, Adit sudah menunggu.

“Di mana dia?” tanya Nathan.

“Di ruang perawatan, Tuan.”

Mereka langsung berjalan menuju ruangan tersebut.

Pintu terbuka—

Dan di sana—

Xavero terbaring di atas ranjang.

Beberapa luka terlihat jelas di wajah dan lengannya.

Perban melilit sebagian tubuhnya.

Namun, matanya masih terbuka.

Tenang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Naura berhenti di ambang pintu.

Untuk sesaat, ia hanya menatap.

Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak.

Xavero menoleh pelan.

Tatapan mereka bertemu.

Dan di tengah kondisi seperti itu, Xavero masih sempat tersenyum tipis.

“Maaf, Nona,” ucapnya serak.

“Sepertinya, saya terlambat untuk besok.”

Naura terdiam.

Lalu perlahan, ia melangkah masuk.

Tatapannya berubah.

Dingin.

Tegas.

Namun, ada sesuatu yang berbeda.

“Diam saja,” ucapnya pelan.

“Fokus sembuh.”

Xavero tidak menjawab.

Namun kali ini, ia tidak mengalihkan pandangan.

Sementara di belakang, Nathan berdiri diam.

Matanya menajam.

“Jelaskan.”

Xavero yang sudah memahami maksud pertanyaan itu langsung berbicara. “Saat saya pulang kerja, di daerah timur… saya tiba-tiba dihadang oleh beberapa orang, Tuan. Saya sempat melawan, tapi tetap kalah. Mereka lebih banyak dari saya.”

Xavero menjeda ucapannya. Pandangannya perlahan terangkat, menatap langit-langit ruangan dengan napas yang sedikit berat.

“Untung saja… ada sekelompok orang yang menyelamatkan saya, Tuan.”

“Sekelompok?”

“Iya, Tuan.”

Nathan terdiam sejenak, pikirannya bekerja cepat. Tatapannya lalu beralih ke Adit.

Adit yang memahami maksud itu hanya mengangguk pelan.

Krek! Pintu ruangan terbuka.

Perawat itu melangkah masuk dengan tenang, membawa beberapa obat dan cairan infus.

“Maaf mengganggu, saya hanya ingin memberikan obat,” ucapnya sopan.

Naura mengangguk singkat, memberi ruang.

Perawat itu bergerak cepat dan terlatih, memeriksa kondisi Xavero sekilas, mengganti cairan, lalu meletakkan beberapa obat di meja samping ranjang.

“Untuk sementara, pasien harus banyak istirahat,” tambahnya singkat.

Nathan hanya mengangguk.

Tak lama, perawat itu pun keluar.

Krek—

Pintu kembali tertutup.

Ruangan kembali hening.

Beberapa detik berlalu.

Xavero menarik napas pelan, lalu mencoba menggerakkan tubuhnya.

Perlahan, ia berusaha bangkit dari posisi tidurnya.

Namun—

“Uh…”

Tubuhnya langsung terasa berat.

Rasa nyeri menjalar dari bahu hingga ke sisi perutnya.

Tangannya sempat menahan ranjang, mencoba mendorong diri.

Namun tenaga itu, tidak cukup.

Tubuhnya kembali melemah.

Naura yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung bergerak.

“Jangan dipaksakan.”

Tanpa menunggu jawaban, ia meraih lengan Xavero, menopangnya dengan hati-hati.

Gerakannya tegas, tapi tetap terkontrol.

Xavero sempat terdiam sesaat.

Mungkin tidak menyangka.

Dengan bantuan Naura, ia akhirnya berhasil duduk, meski napasnya sedikit tertahan.

“Terima kasih, Nona,” ucapnya pelan.

Naura tidak langsung menjawab.

Ia memastikan posisi Xavero sudah stabil, baru kemudian menarik tangannya.

“Kalau belum mampu, jangan memaksakan diri,” ucapnya datar.

Namun nadanya, tidak sedingin biasanya.

Dengan telaten, Naura menyiapkan obat untuk Xavero, lalu memberikannya dengan gerakan yang tenang namun tegas.

Xavero kembali terkejut dengan perhatian atasannya. Tatapannya sempat beralih ke Nathan, namun pria itu hanya menatapnya datar, seolah semua itu adalah hal yang wajar.

“Minum cepat, saya masih perlu kamu,” ucap Naura singkat.

Xavero akhirnya mengangguk. Ia menerima obat itu, lalu menelannya. Naura kemudian menyodorkan air mineral, yang langsung ia terima.

“Terima kasih, Nona.”

“Hm. Besok kamu gak usah masuk kerja.”

“Saya tetap akan masuk, Nona.”

“Pulihkan kesehatan kamu dulu.”

Belum sempat Xavero membalas, Naura sudah mengangkat tangannya—tanda bahwa keputusannya tidak bisa diganggu gugat.

“Baiklah,” ucap Xavero akhirnya, pasrah.

Nathan yang sejak tadi memperhatikan, melangkah mendekat. Sorot matanya serius.

“Setelah kamu sembuh, kamu harus berlatih bela diri.”

Xavero menatap Nathan, sedikit terkejut.

“Kamu tahu, kan, dunia bisnis?” lanjut Nathan dengan nada tegas. “Apalagi kamu asisten Naura Safira Pramudya—musuh ada di mana-mana. Kamu harus bisa melindunginya.”

Xavero mengangguk paham.

“Baik, Tuan.”

“Kamu akan dilatih oleh bawahan saya.”

°°

“Apa?!”

Arga menatap tajam para pengawal yang ia perintahkan untuk mencelakai Xavero. Sorot matanya penuh amarah saat mendengar laporan kegagalan itu.

“Maaf, Tuan… ada sekelompok orang yang membantu dia.”

Bragh!

Arga membanting vas yang ada di dekatnya hingga pecah berserakan di lantai.

“Dasar bodoh kalian!” bentaknya dengan suara rendah namun penuh tekanan. “Hanya lima orang… kalian kalah, padahal jumlah kalian lebih banyak dari mereka. Cih!"

Rahangnya mengeras, napasnya memburu, jelas tak terima dengan hasil tersebut.

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!