Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana penghabisan
“Xavero harus dilenyapkan.”
Suara Bima terdengar tegas dan dingin, memecah suasana meja makan yang semula tenang.
Semua yang berada di sana langsung mengangguk, seolah tidak ada yang berani membantah keputusan itu.
“Posisi itu sangat tidak cocok untuk kaum rendahan seperti dia,” timpal Yuliana dengan nada merendahkan.
Arden ikut mengangguk setuju. “Dia hanya cocok menjadi buruh pabrik,” ucapnya sinis.
Sementara itu, Liora dan Layla hanya terdiam.
Liora sibuk dengan pikirannya sendiri, bagaimana caranya melepaskan diri dari Arga tanpa membongkar fakta bahwa ia pernah menikah.
Di sisi lain, Layla tampak tenang di luar, namun dalam hatinya ia menunggu kabar dari seseorang—tentang foto suaminya dengan wanita lain di hotel. Apakah itu benar… atau hanya rekayasa.
Yuliana melirik kedua putrinya yang tidak memberikan reaksi.
“Ada apa dengan kalian?” tanyanya, nada suaranya penuh selidik.
Layla menoleh, lalu menggeleng pelan. “Aku cuma mikirin pekerjaan, Mah. Soal Xavero… kalian saja yang atur bagaimana caranya. Aku nggak punya ide,” jawabnya tenang.
Ardian mengerutkan kening, lalu menoleh pada istrinya yang tampak berbeda dari biasanya.
“Sayang, kamu nggak usah pikirin pekerjaan. Aku kan ada. Kamu cukup duduk santai, nikmati uangku saja,” ucapnya dengan nada santai.
Layla tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Iya, sayang. Aku cuma kepikiran tadi,” balasnya.
Yuliana menatap Layla dengan penuh selidik. Ia tahu, jawaban itu tidak sepenuhnya jujur. Namun ia memilih diam—menyimpan pertanyaannya untuk nanti.
Perlahan, tatapannya beralih pada Liora.
“Liora…” ucapnya.
Liora menoleh.
“Ada apa denganmu?” lanjut Yuliana.
Belum sempat Liora menjawab—
Bima lebih dulu memotong.
“Arga sudah tahu bahwa Liora sudah menikah.”
“Apa?!”
Ardian menyandarkan tubuhnya, menatap Liora lebih dalam.
“Arga tahu dari mana?” tanyanya tajam. “Kamu pernah cerita ke dia?”
“Tidak!” jawab Liora cepat, kepalanya langsung terangkat. “Aku tidak pernah bilang apa pun ke dia.”
“Lalu bagaimana dia bisa tahu?” timpal Yuliana, kini nada suaranya berubah lebih curiga.
Liora kembali terdiam, pikirannya kacau.
Ia sendiri tidak punya jawaban pasti.
“Dia juga mengancamku…” ucapnya dengan sangat pelan.
“Mengancam?” ucap Layla, nada suaranya berubah serius.
Liora mengangguk pelan. “Kalau Papa tidak menyuntikkan dana ke perusahaannya, dia akan membuka semuanya ke media.”
Deg!
Ardian langsung mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Perusahaan Arga kenapa?” tanyanya tajam.
“Di ambang kebangkrutan,” jawab Bima singkat. “Entah apa yang dia lakukan sampai bisnisnya bisa jatuh seperti ini.”
“Kurang ajar…” desis Yuliana, wajahnya penuh amarah. “Dia memanfaatkan Mahendra Group.”
“Pah, aku nggak mau media tahu kalau aku pernah menikah, Pah,” ucap Liora, suaranya terdengar sedikit tertekan meski berusaha tetap tenang.
Bima mengangguk mantap. “Itu tidak akan pernah terjadi, Liora. Itu sama saja memperburuk citra Mahendra,” ucapnya tegas, nada suaranya tidak memberi ruang untuk keraguan.
Bima berdiri dari kursinya, membuat suara gesekan kursi terdengar cukup keras.
Tatapannya tajam, penuh keputusan.
“Kalau begitu…” ucapnya pelan, namun penuh tekanan, “kita tidak punya pilihan lain.”
Ia menatap satu per satu anggota keluarganya.
“Arga juga harus disingkirkan.”
Semua mengangguk setuju, membuat Liora akhirnya bisa bernapas sedikit lega.
“Papa punya rencana apa?” tanya Yuliana, menatap suaminya penuh selidik.
Senyum miring perlahan terbit di bibir Bima. Ia melirik sekilas ke arah Liora sebelum berbicara.
“Katakan padanya… Mahendra akan menyuntikkan dana ke perusahaannya.”
“Pah, jangan gila,” potong Layla cepat, jelas tidak setuju. “Suntikan yang dia butuhkan itu besar. Saham Mahendra Group bisa turun drastis, Pah.”
“Aku setuju sama Layla, Pah. Ini bukan cara yang tepat,” timpal Ardian, nadanya serius.
"Pah, aku juga nggak setuju dengan ide Papa,” ucap Yuliana, nada suaranya tegas namun tetap terkendali. “Papa mau Mahendra Group ikut anjlok? Baik jika Arga cepat mengembalikan dana kita.”
Bima tetap tenang. Ia menyandarkan tubuhnya sedikit, senyum tipis masih menghiasi wajahnya, penuh perhitungan.
“Kalian tenang saja,” ucapnya perlahan. “Serahkan semuanya ke Papa. Papa tidak sebodoh itu.”
°°
“Mau ke mana kamu?”
Ardian menoleh. Terlihat istrinya baru saja keluar dari kamar mandi.
“Aku mau keluar sebentar, sayang. Ada keperluan,” jawabnya santai, sambil menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Layla menyipitkan mata, lalu melangkah mendekat.
“Keperluan apa?” tanyanya, nada suaranya mulai terdengar curiga.
“Biasa, sayang. Urusan bisnis,” balas Ardian singkat.
Layla terdiam sejenak di depan suaminya.
Tatapannya turun, memperhatikan penampilan Ardian yang terlalu rapi, terlalu wangi, untuk sekadar “urusan bisnis” mendadak.
“Urusan bisnis?” ulangnya pelan, nadanya terdengar ringan, tapi sorot matanya menajam.
Ardian mengangguk santai, seolah tidak ada yang perlu dipertanyakan.
“Iya. Meeting kecil saja, nggak lama,” jawabnya sambil merapikan kerah kemejanya di depan cermin.
Layla tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Kamu bahkan belum bilang dari tadi,” ucapnya pelan, kini berdiri tepat di belakang Ardian. “Biasanya kamu selalu bercerita kalau ada meeting.”
Ardian terdiam sepersekian detik.
Sangat singkat, hampir tidak terlihat.
Namun cukup untuk membuat Layla menangkapnya.
“Aku juga baru dapat kabar,” balas Ardian cepat, lalu meraih jam tangannya. “Dadakan.”
Layla mengangguk pelan.
“Hmm… begitu ya.”
Tangannya terangkat, merapikan kerah baju Ardian dengan gerakan lembut.
Terlalu lembut.
“Meeting sama siapa?” tanyanya lagi, suaranya nyaris berbisik.
Ardian menatap pantulan istrinya di cermin.
“Klien lama,” jawabnya singkat.
Layla berhenti sejenak, lalu tersenyum lagi.
“Klien lama…” ulangnya pelan.
Ia mundur satu langkah.
“Ya sudah,” ucapnya ringan. “Hati-hati di jalan.”
Ardian mengangguk.
“Pasti.”
Tanpa curiga, ia mengambil ponselnya dan berjalan keluar kamar.
Klik.
Pintu tertutup.
Hening.
Senyum di wajah Layla perlahan menghilang.
Tatapannya berubah dingin.
Ia berjalan perlahan menuju meja, meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di sana.
Layar menyala.
Foto itu masih ada.
Ardian…
dan seorang wanita.
Di sebuah kamar hotel.
Jelas. Tidak terbantahkan.
Jari Layla menggenggam ponselnya lebih erat.
“Klien lama…?” gumamnya pelan.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Namun bukan senyum.
Lebih seperti, penahanan emosi.
Ia menarik napas dalam.
Lalu menekan sebuah nomor.
Beberapa detik.
Panggilan terhubung.
“Bagaimana?” ucapnya tanpa basa-basi.
“Foto itu asli, Nyonya. Bukan editan,” jawab seseorang di seberang sana dengan nada yakin.
Layla langsung mengepalkan tangannya.
“Brengsek…” gumamnya pelan.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia memutus sambungan telepon.
Layla menatap layar ponselnya cukup lama.
Sorot matanya kini berubah—dingin, tajam.
“Kamu sudah berani bohong sama aku…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar, tangannya mengepal erat.
Ting!
Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya, membuatnya langsung tersadar.
Pesan dari nomor misterius itu lagi.
Layla segera membukanya. Matanya melebar saat melihat isi pesan tersebut, sebuah lokasi.
(Ikuti dia, atau kamu akan menyesal.)
“Hotel…” gumamnya pelan.