NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMPURAN DUA KUTUB KEGELAPAN

Mo Gui melangkah maju, setiap jejak kakinya meninggalkan cairan hitam yang membakar bebatuan. "Mati? Aku menolak untuk mati sebelum mencapai keabadian. Dan Bunga Hati Langit itu... adalah potongan terakhir yang kubutuhkan untuk menyempurnakan raga busukku ini. Berikan padaku, bocah, dan aku akan memberikanmu kematian yang cepat."

Fang Han meludah ke samping, darah ikut keluar dari mulutnya. Ia merentangkan tangannya di depan Mu Chen, melindungi kotak cendana itu. "Kau sudah menunggu lima puluh tahun? Sayang sekali, penantianmu akan berakhir dengan kehampaan. Bunga ini adalah nyawa pamanku, dan aku tidak akan memberikannya pada mayat hidup sepertimu!"

Mo Gui menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang menghitam. "Keras kepala... Aku suka itu. Energi Nirwana Sunya-mu terasa sangat lezat. Aku akan memanennya bersama jantungmu!"

Mo Gui tidak menggunakan senjata. Ia mengangkat tangannya yang hanya tinggal tulang berselaput kulit hitam, dan tiba-tiba, ribuan tangan hantu berwarna hijau zamrud muncul dari balik jubahnya. Teknik ini dikenal sebagai "Ribuan Cengkeraman Neraka". Tangan-tangan itu melesat seperti kilat, mencoba merobek ruang untuk mencapai leher Fang Han.

Fang Han berteriak, memanggil sisa-sisa energi abu-abunya. "Nirwana Sunya: Dinding Ketiadaan!"

Sebuah penghalang transparan berwarna abu-abu muncul di depan Fang Han. Saat tangan-tangan hantu itu bersentuhan dengan penghalang, terdengar suara desisan mengerikan seperti daging yang disetrika panas. Energi kehampaan Fang Han mencoba menghapus eksistensi tangan hantu tersebut, namun kekuatan Mo Gui sangat masif.

BOOOM!

Penghalang itu retak. Fang Han terlempar ke belakang, punggungnya menghantam pilar batu dengan keras hingga pilar itu hancur berkeping-keping. Ia merasakan tulang belikatnya retak, dan sensasi dingin yang mematikan mulai merayapi punggungnya.

"Teknikmu menarik, bocah. Tapi kau terlalu lemah karena pertarungan sebelumnya!" seru Mo Gui.

Mo Gui menghilang dalam kepulan asap hitam dan muncul tepat di depan Fang Han. Ia melayangkan pukulan dengan tangan busuknya yang dilapisi oleh aura "Corrosive Soul-Qi".

Fang Han menangkis dengan menyilangkan kedua lengannya yang dilapisi energi emas Segel Inti Sukma.

DUAKKK!

Hantaman itu tidak hanya menghasilkan benturan fisik, tapi juga ledakan energi yang sangat merusak. Fang Han merasakan tekanan seberat gunung menghimpit dadanya. Efek dari pukulan Mo Gui sangat mengerikan; meskipun kulit Fang Han tidak robek, energi korosif dari Mo Gui menembus pori-porinya, mencoba membusukkan pembuluh darahnya secara instan.

Fang Han membalas dengan serangan balasan. Ia memutar tubuhnya di udara, kaki kanannya melepaskan tendangan yang membawa pusaran energi abu-abu pekat—"Void-Crusher Kick".

Tendangan itu menghantam telak rusuk kiri Mo Gui yang terbuka.

KRAAAAAKKKK!

Suara tulang patah bergema di seluruh puncak. Tubuh Mo Gui yang mulai membusuk terpental sejauh sepuluh meter, menabrak tumpukan abu naga tulang. Namun, bukannya merintih kesakitan, Mo Gui justru berdiri kembali sambil membetulkan posisi rusuknya yang remuk dengan tangan kosong, seolah-olah rasa sakit adalah hal yang asing baginya.

"Pukulan yang bagus... Aku bisa merasakan energi kehampaanmu mencoba menghapus sel-selku. Tapi kau lupa satu hal, bocah..." ucap Mo Gui dengan mata merah yang semakin menyala.

"Sesuatu yang sudah membusuk tidak bisa lagi dihancurkan oleh kematian! Teknik Rahasia: Hujan Nanah Jiwa!"

Mo Gui menyentak tangannya ke langit. Seketika, awan merah di atas Puncak Menangis berubah menjadi hitam pekat dan mulai menjatuhkan cairan berwarna kuning kehijauan yang kental. Setiap tetes yang menyentuh tanah menciptakan lubang sedalam sepuluh inci. Cairan ini adalah racun jiwa yang paling murni; sekali terkena, pikiran target akan dipenuhi oleh halusinasi penderitaan ribuan mayat.

"Mu Chen! Gunakan pelindung obatmu! Sekarang!" teriak Fang Han.

Fang Han melepaskan teknik "Sunya-Dome", menciptakan kubah energi abu-abu yang menutupi dirinya dan Mu Chen. Cairan racun itu menghantam kubah dengan suara berdesis yang memekakkan telinga. Setiap tetesan yang jatuh seolah-olah memiliki berat ribuan kilogram, memaksa Fang Han untuk berlutut di atas salju, menopang berat beban serangan Mo Gui dengan seluruh sisa hidupnya.

Dialog di Tengah Keputusasaan

Keringat bercampur darah menetes dari dahi Fang Han, membasahi matanya. Ia menatap Mo Gui yang berdiri di luar kubah dengan tenang, seolah sedang menikmati pemandangan seekor serangga yang sedang sekarat.

"Menyerahlah, Fang Han. Kau telah melakukan hal yang hebat dengan membunuh naga itu. Serahkan bunganya, dan aku berjanji tidak akan menyentuh teman alchemist-mu itu," kata Mo Gui dengan nada yang hampir terdengar seperti kasih sayang seorang kakek yang gila.

Fang Han terengah-engah, setiap napasnya terasa seperti menghirup pecahan kaca. "Kau... kau adalah sampah sejarah yang seharusnya sudah terkubur. Membiarkanmu mendapatkan bunga ini... sama saja dengan memberikan pedang pada iblis untuk membelah dunia!"

"Dunia ini memang layak dibelah, Nak! Dunia yang membiarkanku membusuk di tempat dingin ini selama setengah abad?! Aku akan mengambil bunga itu, memulihkan ragaku, dan aku akan membakar setiap jengkal tanah yang pernah menghinaku!" teriak Mo Gui, amarahnya meledak menciptakan gelombang energi hitam yang meretakkan kubah pelindung Fang Han.

Mu Chen, yang berada di dalam kubah, memegang pundak Fang Han dengan tangan gemetar. "Han-er... Gunakan itu. Gunakan esensi terakhir dari Segel Inti Sukma. Jika tidak, kita berdua tidak akan pernah keluar dari sini."

Fang Han menatap Mu Chen, lalu menatap kotak kayu cendana itu. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Namun harganya adalah... sebagian dari umurnya sendiri.

"Maafkan aku, Paman Zhou... sepertinya aku akan pulang dengan tubuh yang sedikit lebih tua," bisik Fang Han dalam hati.

Kebangkitan Terakhir: Sang Penghapus Legenda

Fang Han berdiri perlahan. Rambutnya yang tadinya hitam kini mulai memutih secara drastis dari akar hingga ujungnya, efek dari membakar "Life-Essence" untuk memicu Nirwana Sunya tingkat lanjut. Aura di sekitarnya bukan lagi abu-abu pucat, melainkan hitam pekat yang tampak seperti lubang di alam semesta.

"Mo Gui... Hari ini, sejarah akan benar-benar melupakan namamu," ucap Fang Han. Suaranya tidak lagi memiliki nada manusia, melainkan suara gema yang datang dari dimensi lain.

Fang Han menghilang. Benar-benar menghilang dari persepsi visual. Mo Gui terbelalak, ia mencoba meraba keberadaan Fang Han melalui Qi, namun ia tidak merasakan apa pun. Seolah-olah Fang Han telah menjadi ketiadaan itu sendiri.

SREEEEEETTTT!

Tiba-tiba, lengan kanan Mo Gui terlepas dari bahunya tanpa ada suara tebasan. Tidak ada darah yang mengalir; luka di bahu Mo Gui tampak bersih, seolah lengan itu memang tidak pernah ada di sana sejak awal.

"APA?! Teknik macam apa ini?!" raung Mo Gui dalam ketakutan yang nyata.

Fang Han muncul kembali di belakang Mo Gui, matanya adalah kegelapan total. "Ini bukan teknik pedang. Ini adalah 'Void-Erasure'. Aku tidak memotongmu... aku menghapus ruang yang ditempati oleh lenganmu."

Mo Gui mencoba memutar tubuhnya dan melepaskan seluruh energi mayatnya dalam satu ledakan bunuh diri, "Apocalypse of the Dead". Sebuah bola energi hitam raksasa membungkus seluruh puncak gunung, menghancurkan bebatuan menjadi debu.

Namun, Fang Han tetap diam di tengah ledakan itu. Ia mengangkat telapak tangannya dan melakukan gerakan melingkar yang lambat.

"Nirwana Sunya: Pembalikan Titik Nol." bisik Fang Han

Seluruh energi hitam yang masif itu seolah-olah tersedot ke dalam satu titik kecil di telapak tangan Fang Han. Ledakan yang seharusnya menghancurkan gunung itu lenyap dalam hitungan detik, ditelan oleh kehampaan yang jauh lebih lapar.

Fang Han meluncur maju, menanamkan telapak tangannya langsung ke dada Mo Gui, tepat di tempat jantung busuknya berada.

BOOOOM-SHAKKK!

Efek hantamannya sangat dahsyat. Gelombang kejut abu-abu menembus punggung Mo Gui, menciptakan lubang besar yang menganga. Daging Mo Gui yang membusuk mulai menguap menjadi partikel abu-abu halus. Ia tidak bisa lagi menyatukan tubuhnya; energi korosifnya sendiri dimakan oleh kehampaan Fang Han.

"Tidakkk... Keabadianku... Aku tidak boleh mati di tangan seorang bocah...!" teriak Mo Gui, suaranya perlahan mengecil saat kepalanya mulai terurai.

"Keabadian adalah beban bagi mereka yang tidak memiliki cinta. Pergilah ke ketiadaan," bisik Fang Han.

Dengan satu dorongan terakhir, tubuh legenda jahat itu hancur total, menjadi debu yang langsung tersapu oleh badai salju Puncak Menangis. Tidak ada sisa, tidak ada kuburan. Dewa Mayat Mo Gui telah benar-benar dihapus dari muka bumi.

Fang Han jatuh bertumpu pada kedua lututnya. Rambutnya kini telah memutih sepenuhnya, dan wajahnya tampak jauh lebih dewasa dan lelah. Ia terengah-engah, paru-parunya terasa seperti terbakar. Darah hitam keluar dari hidung dan telinganya.

Mu Chen segera berlari mendekat, ia tidak peduli lagi pada kotak cendana itu. Ia memegang nadi Fang Han dan wajahnya kembali memucat. "Han-er... Kau... kau kehilangan empat puluh tahun umurmu dalam satu serangan tadi."

Fang Han mencoba tersenyum, meski itu lebih terlihat seperti seringai kesakitan. "Empat puluh tahun... untuk satu nyawa yang sangat berarti bagiku... Itu adalah kesepakatan yang sangat murah, Mu Chen."

Ia menatap ke arah matahari yang mulai terbit di ufuk timur, cahayanya menerangi Puncak Menangis yang kini telah sunyi. Pilar cahaya putih Bunga Hati Langit mulai meredup, karena penjaganya telah tiada dan bunganya telah dipetik.

"Ayo pergi... Sebelum sekte-sekte lain sampai di sini," bisik Fang Han sambil mencoba berdiri dengan bantuan pundak Mu Chen.

Mu Chen membantu sahabatnya berdiri, matanya berkaca-kaca. "Kau adalah orang paling gila yang pernah kutemui, Fang Han. Tapi kau juga yang paling hebat. Mari kita bawa pulang bunga ini. Pamanmu akan bangga padamu."

Mereka berdua bak ingin membuang waktu lagi dan berniat untuk segera meninggalkan Puncak gunung menangis yang meniyisaan tumpukan abu naga dan kenangan buruk tentang Mo Gui disana Meskipun tubuh Fang Han kini lemah dan umurnya terpangkas hebat, di dalam matanya yang hitam kembali terpancar sebuah harapan baru. Harapan untuk melihat senyuman pamannya sekali lagi, di rumah mereka yang sederhana di Desa Qinghe.

Pertarungan di puncak langit itu mungkin tidak akan pernah tertulis dalam buku sejarah manapun, namun bagi Fang Han, itu adalah perjalanan di mana ia bukan hanya mengalahkan monster, tapi ia juga mengalahkan takdir kematiannya sendiri.

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!