Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Baterai litium solid state
...----Cafetaria Victory Group----...
Tampak tiga orang nampak menikmati hidangan di depannya, ketiga orang itu adalah Alvaro, Lucas, dan Andrian yang baru saja selesai melakukan rapat beberapa saat lalu.
"Nak, kamu itu memang sudah berapa lama berkecimpung di dunia bisnis ini?" Tanya Lucas setelah menyelesaikan makanan nya.
Alvaro yang mendengar itu mendongakkan kepalanya mengarah ke Lucas.
"Tidak kok paman, ini saya baru saja belajar mengenai bisnis. Saya hanya mempelajari secara otodidak tentang saham saja." Balas Alvaro sambil menggeleng pelan.
"Oh begitu ya?" Ucap Lucas. "Tapi permulaanmu cukup mengerikan ya langsung membeli saham perusahaan begitu?, hahaha" Tawa Lucas.
Alvaro yang mendengar itu hanya menggaruk kepalanya pelan.
"Oh iya Andrian, tentang rapat terakhir itu kira kira bagaimana caramu melanjutkan perusahaan mu kedepannya?" Tanya Lucas pada Andrian yang hanya nampak termenung.
"Eh, I-itu.. Saya juga bingung, sepertinya saya akan menjual perusahaan itu untuk membayar para peneliti dan karyawan." Jawab Andrian dengan sedih.
"Hhh.. aku ingin minta maaf, itu karena memang tak ada jalan lain selain melepaskan perusahaan mu karena hampir semua investor sudah menolakmu" Ucap Lucas sedikit menyayangkan.
"Bahkan walaupun aku sebagai pemegang keputusan akhir sekalipun, aku juga tak bisa tak menghiraukan orang orang lain." Tambahnya.
"Anda tak perlu minta maaf kak, bagaimanapun itu kekuranganku dan kesalahanku karena selalu membebani perusahaan." Pasrah Andrian, ia hanya bisa tersenyum getir membayangkan bagaimana nasibnya ke depan.
"Hemm.. Sebelum bapak mengambil keputusan akhir, bisakah saya mengetahui sampai sejauh mana riset yang bapak lakukan?" Potong Alvaro tiba tiba.
Andrian yang mendengar itu nampak mengeluarkan sebuah kertas Blue print.
"Sebenarnya kami sudah berusaha memperbaiki problem yang dilakukan eksperimen terdahulu." Ucapnya memulai penjelasan.
Lalu dia menunjuk ke arah inti baterai. "Kami sudah menemukan cara untuk meningkatkan kapasitas baterai, ukuran yang semakin kecil, serta mempercepat pengisian daya yang merupakan kelemahan baterai generasi sekarang." Tambahnya, Andrian mulai menjelaskan apa yang dia dan anggota nya lakukan.
Lucas yang sebelumnya tidak terlalu tertarik tiba tiba menunjukkan ketertarikan, ia seperti bisa mencium peluang besar saat melihat pengembangan baterai itu.
"Lalu?, bukankah dengan hal itu saja sudah bisa mengubah pasar bahkan industri elektronik secara besar besaran?" Tanya Lucas semakin tertarik.
"Itu benar, tapi juga tidak" Jawab Andrian sambil menggeleng.
"Karena kekurangan terbesarnya inilah yang mengakibatkan riset dahulu dihentikan." Tambahnya lagi.
Alvaro yang mendengar itu nampak memiringkan kepalanya bingung.
"Maksudnya?"
"Baterai ini sangat rawan meledak." Ucap Andrian yang membuat Lucas serta Alvaro membelalakkan matanya.
"Hal itu juga alasan mengapa sampai terjadi kecelakaan yang menimpa dua rekan saya, karena ketika pengisian daya suhu nya tiba tiba naik secara drastis, elektrolit cair yang tidak stabil, hingga mengakibatkan ledakan dan kebakaran." Jelasnya lagi yang menambah rasa terkejut Lucas serta Alvaro.
"Apakah tidak ada jalan keluar?" Tanya Lucas.
"Itulah yang masih saya teliti kak." Ucap Andrian menjelaskan.
Alvaro yang mendengar itu nampak berfikir, ia mengambil kertas itu dan melihat komponen komponen penyusunnya.
"Veronica, bisa kamu bantu aku?" fikir Alvaro dalam hatinya.
"Bisa tuan, biaya membutuhkan 5 juta rupiah." Jawab Veronica dalam kepala Alvaro.
"Baiklah gunakan saja." Ucap Alvaro.
"Ting.. Scanning....
10%.. 40%... 90%... 100%... Selesai
Hasil telah didapatkan, mengirim informasi kedalam memori..." Dering sistem terdengar di kepala Alvaro diikuti informasi mengenai baterai serta penyusunnya mulai memasuki otak Alvaro.
"Bukan Litium masalahnya pak, tapi zat penghantarnya.." Celetuk Alvaro tiba tiba yang membuat perhatian keduanya beralih kepada Alvaro.
"Maksudnya?" Tanya keduanya cukup bersamaan.
"Apakah saya bisa minta blueprint baterai generasi sekarang?" Balik tanya Alvaro.
Andrian yang mendengar itu langsung mengangguk singkat dan mengeluarkan blueprint lain yang nampak cukup lama.
"Kita bisa lihat dari sini" Ucap Alvaro menunjuk ke arah inti baterai.
Alvaro mulai menjelaskan bahwa eksperimen yang dilakukan Andrian sudah sempurna dengan mengganti Litium murni dengan grafit yang menyekat litum, namun yang dipermasalahkan itu bukan litiumnya.
Andrian dan Lucas nampak mendengarkan dengan seksama, "Lalu?" Tanya Andrian tak sabar.
"Cairan Elektrolit memang memiliki keunggulan dalam hal menyalurkan energi lebih cepat, namun resiko kenaikan suhu drastis adalah masalahnya." Ucap Alvaro menjelaskan.
Andrian yang mendengar itu nampak mengangguk.
"Lalu kenapa tidak kita ganti cairan ini dengan padatan?" Tanya Alvaro yang membuat Andrian nampak membeku.
“Material padat memang lebih sulit menghantarkan ion…”
“Tapi kalau berhasil… struktur baterai akan jauh lebih stabil…”
“Tunggu… kenapa kami tidak pernah mencoba pendekatan ini?”
Lalu Andrian pun melihat blueprint yang dipegang oleh Alvaro dan melihat dengan seksama.
"Itu.. Itu bukanlah hal yang mustahil." Ucapnya dengan raut muka nampak berseri, namun tiba tiba raut muka tiba tiba berubah lagi.
"Tapi itu berarti..."
"Ya, satu satunya kekurangan adalah energinya yang bergerak lebih lambat." potong Alvaro sambil mengangguk.
"Namun jika dibandingkan dengan Nikel itu masih beberapa kali lebih cepat, dan yang perlu di perhitungkan adalah masalah biaya yang akan lebih besar serta efisiensi nya saja." Tambah Alvaro yang membuat Andrian nampak berfikir.
Sedangkan Lucas, ia nampak melihat Alvaro dengan tertarik, ia benar benar tak menyangka jika pemuda di depannya memiliki wawasan sebesar itu yang bahkan seorang peneliti di depannya tak pernah memikirkan hal itu.
"Jadi bagaimana?" Tanya Lucas tiba tiba.
"Menurut saya dengan menggunakan cara yang dijelaskan Alvaro, itu akan memiliki presentasi keberhasilan lebih besar. Namun dengan mempertaruhkan biaya lebih besar" Jawab Andrian.
"Berapa persen?" Tanya Lucas lagi.
Andrian yang mendengar itu mencoba menghitung. "Jika dibandingkan dengan yang kita lakukan sebelumnya. Rencana ini saya optimis 70% berhasil" Jawab Andrian yakin.
Lucas yang mendengar itu nampak mengangguk. "Kalau begitu aku akan mengakui sisi perusahaan mu sepenuhnya, dan 20% saham akan aku berikan pada Alvaro" Ucap Lucas yang membuat Andrian dan Alvaro kaget.
"Maksudnya?, apakah Kakak akan membantu saya?" Tanya Andrian kaget.
Lucas yang mendengar itu nampak terkekeh. "Kau adalah juniorku, selain itu aku melihat sepertinya layak untuk ku mempertaruhkan keberhasilan itu." Tambah Andrian.
"Sebentar sebentar, sebelum itu. Kenapa saya malah diberi saham?" Potong Alvaro tergesa gesa, ia bingung karena ia hanya memberikan masukan saja.
Lucas yang mendengar itu nampak tertawa. "Hahahaha.. Jika bukan saran mu barusan, mana mungkin kita menemukan jalan keluar permasalahan ini?" Tanya Lucas.
"Dan ketahuilah bahwa orang lain akan memasang harga tinggi hanya untuk mendengar saran seperti itu, karena saran itu memperbesar keberhasilan proyek besar untuk masa depan" Tambah Lucas lagi.
Pada akhirnya hari itupun diakhiri dengan Alvaro yang dipaksa menandatangani kepemilikan 15% saham, berbeda 5% dari ucapan awal karena penolakan Alvaro terus menerus.
"Baiklah kalau begitu saya pamit undur diri dahulu" Ucap Alvaro berpamitan kepada Lucas.
Lucas yang mendengar itu mengangguk. "Baiklah berhati hatilah di jalan, jangan lupa kapan kapan datanglah ke rumahku" Ucap Lucas.
Alvaro yang mendengar itu hanya mengangguk canggung. "Te-tentu jika ada waktu" Ucapnya lalu ia pun memasuki taksi yang sudah ia pesan.
"Ting... Misi selesai.
Selamat anda mendapatkan hadiah
Uang tunai sebesar 200 juta, 100 poin sistem, 1× gacha ticket, skill card upgrade Linguistic talent tingkat atas, 1 kotak misteri tingkat silver"
...Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω...
aku mampir kak, ikut meramaikan.
mampir juga ya, mafia jatuh Cinta pada Gadis Desa.....
yuk, saling dukung....💪💪