NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Janji Padamu, Christaly

“Sean, aku sudah nggak tahan. Uh! Ini terlalu dingin, aku udah nggak sanggup lagi.”

“Bertahanlah, Christaly. Kamu pasti bisa,” sahut Sean. Dia menyadari betul jika tubuh Christaly sudah menggigil kedinginan. “Aku akan menghangatkanmu, aku janji.”

Sean mengerahkann seluruh sisa tenaga yang dimilikinya. Dia bergerak lebih cepat lagi, keluar masuk ke dalam tubuh Christaly sambil menahan dinginnya terpaan angin yang berembus bersama air hujan.

Sean memeluk tubuh Christaly erat-erat agar lebih hangat. Sebenarnya dia sendiri juga sama kedinginannya, akan tetapi, tidak mungkin dia menunjukkan itu di depan Christaly.

Bagi Sean adalah satu pantangan besar menunjukkan kesedihan dan kelemahan di hadapan seorang wanita. Itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. Sean mengertakkan gigi, dia sambil terus memberi Christaly kekuatan agar dia bisa bertahan.

“Aku janji kamu akan baik-baik saja, kamu akan hangat. Aku janji, Christaly,” kata Sean.

Untuk pertama kali setelah sekian lama Sean tidak pernah berdoa, saat itu dia kembali berdoa. Dengan segenap hati dia memohon kepada Tuhan agar hujan lekas berheti untuk memberi kesempatan agar dia bisa menggendong Christaly pulang.

Letak gubuk itu sebenarnya sudah tidak jauh lagi dari rumah yang mereka tinggali, akan tetapi dalam kondisi hujan lebat seperti saat itu sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Apalagi dengan kondisi Christaly sekarang.

“Bertahanlah, Christaly. Bertahanlah.” Sean menggosok-gosok punggung telanjang Christaly sambil terus berusaha menghangatkan tubuh bagian bawahnya.

“Katakan sesuatu, aku mohon.”

Christaly tersenyum tipis. “Aku emmang sangat kedinginan, tapi, aku belum mati, Sean. Aku masih hidup, sialan,” kata Christaly terbata-bata.  Bibirnya masih gemetar menahan udara dingin yang kian menusuk. Air hujan yang terbawa angin jatuh di dahinya, terasa seperti butiran es.

Sean terus beregerak lebih cepat, menggesekan tubuhnya dengan tubuh Chrstaly dengan harapan api gairah berahi kembali menyala menghangatkan tubuh mereka.

Sementara itu hujan terus bertambah lebat, udara berubah menjadi dingin luar biasa apalagi ditambah angin dari gunung yang ikut berdesir.

Sekarang Sean punya masalah lain. Di udara yang suhunya terus turun, ereksinya pun melemah. Sebesar apa pun libidio yang dia miliki, tetap saja, pada posisi itu semuanya kembali lagi pada hukum alam. Karena kondisinya yang sudah tidak memungkinkan, mau tidak mau Sean harus menarik dirinya keluar dari diri Chrsitaly. Sambil mengertakkan gigi karena frustrasi dan putus asa alih-alih dia mencapai puncak kenikmatan, Sean menggeram.

“Sial!” umpat Sean. Tapi dia tidak melanjutkan apa yang ada di kepalanya, yaitu merasa kesal karena Tuhan sama sekali tidak mendengarkan doanya. Malah, seolah sengaja membuat Sean tidak bisa ereksi karena cuaca yang begitu dingin.

Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah memeluk erat Christaly dan menggosok-gosok punggungnya sambil meringkuk bersembunyi dari udara dingin yang menusuk kulit hingga ke sumsum tulang.

“Sean, apa kita akan mati kedinginan di sini?” gumam Christaly. Suaranya lirih dan lelah.

“Kamu jangan ngomong sembarangan, Christaly. Kita nggak akan mati di sini karena kedinginan. Enak saja, aku nggak mau mati dengan cara seperti ini. Karena itu sangat memalukan,” sahut Sean dengan nada tegas dan tandas. “Kamu nggak usah khawatir, kita pasti akan baik-baik saja. Aku janji.”

“Tapi aku sudah sangat kedinginan, Sean. Kakiku mulai mati rasa,” ujar Christaly lagi. “Hujannya entah kapan reda, sepertinya bakal sampai besok pagi. Kita akan mati beku kalau begini.”

“Sudah aku bilang jangan ngomong yang bukan-bukan. Kita nggak akan mati di sini dalam keadaan seperti ini. Kamu percaya saja sama aku, sebentar lagi hujannya pasti berhenti.” Sean berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan Christaly dan dirinya sendiri. “Nanti, kalau kita sudah sampai di rumah kita mandi air panas dan lanjut bercinta sampai klimaks. Oke?”

“Astaga, Sean. Di situasi seperti ini kenapa yang ada di kepalamu hanya bercinta dan bercinta? Kamu ini, keterlaluan sekali. Padahal kita sebentar lagi  mati beku,” jawab Chrsitaly kesal.

Sean menggosok punggung Christaly, dan menggesek-gesekkan kakinya juga agar kaki mereka tetap hangat. “Asal kamu tahu saja, Christaly. Bagiku bercinta adalah semangat hidup yang nggak akan pernah bisa padam. Aku hidup untuk bercinta, dan aku bercinta untuk hidup,” sahut Sean sambil tertawa lirih. “Kedengarannya agak aneh memang, tapi, itulah kenyataannya. Aku orang yang nggak takut mati, tapi, aku takut kalau nggak bisa bercinta lagi.”

“Dasar maniak seksual!” cibir Christaly dengan suara yang bergetar. “Apa Vera tahu kalau kamu secabul itu, Sean?”

“Ya, tentu saja. Tapi dia sama sekali nggak mempermasalahkan itu, dia nggak peduli aku tidur dengan siapa. Karena dia tahu kalau pada akhirnya aku juga akan kembali ke Vera, aku nggak bisa lepasin Vera,” jawab Sean jujur sejujur-jujurnya.

“Hem, tapi, sayang sekali. Setelah ini kisah petualangan ranjangmu akan berakhir. Karena kita berdua akan mati beku. Ya, nggak akan lama lagi kita akan mati. Aku bisa merasakannya. Aku sudah mulai lemas.”

Saat Christaly mengatakan itu suaranya pelan dan nyaris terdengar seperti berbisik lirih. Dia kemudian memejamkan mata, Sean yang melihat hal itu langsung menampar-nampar kecil mukanya, berusaha membangunkan gadis itu agar tetap sadar.

“Hei, jangan tidur!” seru Sean sambil menampar-nampar kecil wajah Chrsitaly. “Kamu harus terus membuka mata, jangan tidur. Ini belum waktunya kamu tidur.”

“Aku ... capek, Sean,” bisik Christaly.

Sean yang menyadari situasi buruknya terus berusaha menyadarkan Christaly. Dia menggosok-gosok punggung gadis itu dengan lebih keras lagi, begitu juga lututnya.

“Hei, buka matamu! Sialan, kamu harus buka matamu, Christaly!”

Sean benar-benar dibuat frustrasi dan putus asa. Hujan masih belum mereda, kilat terus menyambar-nyambar dan angin masih berdesir dingin. Kondisi Chrsitaly sudah sangat mengkhawatirkan. Sekujur tubuhnya dingin seperti mayat.

“Gawat! Kalau begini terus bahaya. Huh! Aku nggak punya pilihan lain selain harus menerobos hujan lebat ini. Ya, cuma itu satu-satunya cara.” Sean berbicara pada dirinya sendiri dan meyakinkan kalau dia pasti akan berhasil.

Meski ada sedikit keraguan di dalam hati kecilnya, akan tetapi, karena tidak ada jalan lain lagi dan tidak ada harapan mereka akan mendapat bantuan, akhirnya mau tidak mau Sean harus mengambil keputusan yang sulit dan berbahaya itu.

Dia melepaskan pelukannya, memakaikan kembali pakaian yang dikenakan Chrsitaly. Setelah Sean selesai mengenakan pakaian Chrsitaly, selanjutnya giliran dia yang berpakaian. Sean menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keyakinan. Lalu dia membungkuk dan menggendong Chrsitaly di punggungnya.

Sebelum Sean pergi meninggalkan gubuk itu, dia melihat ke arah jalan yang harus dia lalui. Jalan setapak yang gelap dan sangat sepi. Jika dia tidak berhati-hati, dia pasti akan terpeleset. Jika dia jatuh ke sebelah kiri, maka dia akan terperosok ke sawah. Tapi, jika ke kanan, dia akan terperosok masuk ke semak belukar liar yang berduri.

Namun, setelah Sean mempertimbangkan segala sesuatunya, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil satu keputusan berani. Di tengah hujan lebat yang berangin dan petir yang menyambar-nyambar, sambil menggendong Christaly Sean berlari membelah kegelapan malam. Tekadnya untuk bertahan hidup dan menyelamatkan Christaly secepat mungkin jauh lebih besar dari apa pun.

Sean berlari sekuat tenaga, melewati bebatuan yang licin dengan Christaly yang sudah tak sadarkan diri di punggungnya.

Suara hujan dan angin bergabung dengan gemuruh petir, menciptakan orkestra alam yang megah dan menakutkan. Tidak peduli seberapa berat perjalanan pulang kali ini, Sean tidak akan menyerah. Dia melangkah dengan keberanian yang terpancar dari matanya, memandang jauh ke depan meskipun pandangannya kadang-kadang terhalang oleh tetes air hujan yang jatuh di wajahnya.

Hati Sean membara seperti bara api, mendorongnya untuk terus maju meskipun dia mulai terengah-engah kehabisan napas dan tenaganya kian menipis. Sean terus melanjutkan langkah kakinya, mengabaikan percikan air dan angin dingin yang menusuk kulit seolah-olah mencengkeramnya.

Cahaya petir memberikan penerangan singkat, menyoroti jejak kaki Sean yang basah dan lumpur yang mengotori sepatunya.

“Aku sudah janji pada Christaly kalau aku akan membawanya pulang apa pun yang terjadi,” gumam Sean memberikan semangat pada dirinya sendiri. “Nggak akan ada yang bisa menghalangi aku pulang kali ini.”

Dalam setiap langkah yang Sean ambil, dia dapat merasakan beban Christaly di punggungnya. Dia bisa merasakan napasnya yang semakin terengah-engah akibat perjalanan yang berat ini. Namun, dia tahu bahwa dia harus tetap kuat. Dia harus melindungi Christaly, tidak peduli apa pun yang datang menghadang.

Hujan semakin deras, dan Sean harus terus berlari melewati jalan-jalan yang tergenang air. Setiap langkah terasa berat, tetapi Sean terus mendorong dirinya maju. Dia berusaha untuk tidak memikirkan dingin yang menusuk tulang atau bahaya yang mengancam.

Tiba-tiba, suara petir yang sangat keras mengguncang langit, kilatnya seolah jatuh tepat di hadapan Sean. Sontak, Sean pun menghentikan langkahnya.

“Astaga, bahkan dalam situasi seperti sekarang ini pun sempat-sempatnya Tuhan bercanda denganku,” ujar Sean yang kaget setengah mati dan hampir saja melompat menjatuhkan Christaly yang berada di punggungnya. “Kamu nggak perlu khawatir, Christaly. Kita pasti bisa pulang. Aku di sini, aku akan melindungimu. Jangan takut.”

Sean kembali  berlari dengan sekuat tenaga. Di kejauhan dia bisa melihat lampu rumahnya yang artinya dia sudah separuh jalan dan sudah hampir sampai.

“Lihat itu, kita sudah hampir sampai Christaly. Kamu harus tahan sedikit lagi,” kata Sean pada Christaly yang sudah tidak sadarkan diri. “Bersabarlah sedikit lagi, aku janji kita akan segera sampai.”

Sean mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya. Dia yang sudah tidak mampu berlari lagi berusaha berjalan secepat yang dia bisa karena sejujurnya dia sudah sangat khawatir dengan kondisi Christaly. Kepalanya di penuhi dengan pikiran buruk, yang memang sangat beralasan.

“Bertahanlah sebentar lagi, aku mohon.”

Kilat masih menyambar-nyambar, gemuruhnya memekakan telinga. Sean tergopoh-gopoh melanjutkan langkah kakinya di mana kakinya yang sudah sangat kedinginan dan lelah terasa mulai mati rasa.

“Aku bisa, aku harus kuat,” gumam Sean memberi semangat untuk dirinya sendiri. “Aku sudah janji dengan Christaly, aku nggak boleh mengingkari ucapanku sendiri.”

Sean mengerahkan seluruh tenaga yang dia miliki. Sekarang dia sudah semakin dekat dengan rumahnya, sudah bisa melihat halamannya. Meskipun Sean terengah-engah kehabisan napas dan kakinya mulai gemetaran, tapi, pantang baginya mengingkari janji. Dia terus memaksa tubuhnya bergerak, berjalan.

Namun, tanpa dia sadari, tanah di bawah kakinya yang berada di celah-celah bebatuan gunung, menjadi licin karena hujan. Sean terpeleset, dan dalam sekejap, dia hampir saja terjatuh ke dalam semak belukar yang berduri.

Dalam keadaan genting seperti ini, Sean berjuang untuk menemukan pijakan yang aman, hingga akhirnya dia berhasil mempertahankan keseimbangannya dengan susah payah.

Dia berhasil  menghindari terjatuh ke dalam semak belukar yang berduri. Setelah berhenti sebentar untuk mengatur napas, Sean melanjutkan langkahnya dengan lebih berhati-hati, melewati area yang licin dengan penuh perhatian.

Rumah yang Sean tinggali sudah berada di depan mata. Naluri untuk bertahan hidup Sean kembali membara, dia berjalan dengan terhuyung-huyung selangkah demi selangkah hingga akhirnya dia pun sampai di halaman rumanya.

“Kita sampai, Christaly. Kamu akan baik-baik saja, aku janji.”

Sean berjalan ke arah teras, dia menurunkan Christaly di dekat pintu, mendudukkannya dengan punggung menyandar pada dinding. Sementara itu dia mencari kunci untuk membuka pintu. Setelah pintu berhasil dibuka, Sean kembali membopong Christaly untuk masuk ke dalam. Dia tidak berani memeriksa denyut nadinya untuk satu alasan.

“Kamu lihat, kan, kita pasti sampai di rumah dan akan baik-baik saja.”

Sean membaringkan Christaly di kursi kayu dan dengan terburu-buru kembali melucuti pakaian Christaly juga pakaiannya sendiri.

Setelah itu dia mengeringkan tubuhnya lalu membungkus tubuh Christaly dengan selimut tebal dan membopongnya ke kamar tidur. Agar lebih panas, Sean juga meletakan bantal di kaki dan perut Christaly. Baru setelah selesai mengurus Christaly dia mengambil baju juga celana panjang dan mengenakannya.

“Sekarang aku harus merebus air buat mengompres Christaly. Baru aku periksa denyut nadinya.”

Setelah Sean memastikan Christaly mendapatkan kehangatan di pembaringannya dia bergegas merebus air dan dengan sangat telaten mengompres tiap jengkal tubuh Christaly dengan air hangat berharap hal yang dia lakukan itu dapat memberikan kehangatan yang lebih lagi.

Kemudian dengan segera dia memeriksa denyut nadi Christaly. "Syukurlah denyutnya masih ada. Sadarlah Christaly, aku mohon sadarlah. Kita sudah ada di rumah dan kamu aku pastikan nggak akan kedinginan lagi." Entah mengapa baru ini Sean merasa cemas akan keadaan seseorang. Tangannya membelai lembut pipi Christaly yang masih terlihat putih pucat.

"Aku masih hidup, sialan." Christaly berkata tanpa membuka matanya. "Aku nggak mungkin mati semudah itu meninggalkan banyak hutang dunia. Setidaknya mengurangi siksaanku di akhirat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!