Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15: Retakan di Balik Tembok Beton
Malam di Markas Omega tidak sesunyi yang kubayangkan. Meskipun tempat ini berada di lembah tersembunyi yang jauh dari hiruk-pikuk kota yang terbakar, suara mesin generator raksasa yang menderu pelan menciptakan getaran konstan di bawah lantai barak. Aku berbaring di atas ranjang lipat militer yang keras, kedua tanganku terlipat di belakang kepala. Mataku menatap langit-langit barak yang terbuat dari seng bergelombang, menghitung setiap garis karat yang ada di sana. Di sekelilingku, suara dengkuran dan napas berat dari puluhan penyintas lain memenuhi ruangan.
Mereka bisa tidur nyenyak karena mereka merasa aman. Mereka pikir tembok setinggi sepuluh meter dan kawat berduri di luar sana adalah jaminan keabadian. Naif. Benar-benar naif.
Logikaku berbisik sebaliknya. Semakin banyak manusia yang berkumpul di satu titik, semakin besar magnet yang diciptakan untuk menarik kekacauan. Virus ini tidak hanya menyerang tubuh, tapi juga menghancurkan struktur sosial. Dan di sini, di bawah kekuasaan Mayor David, struktur itu sedang dipaksakan kembali dengan tangan besi.
Aku memiringkan tubuh, meraba pinggangku yang kosong. Rasanya aneh tidak merasakan berat shotgun di sana. Senjata itu bukan sekadar alat pembunuh bagiku; itu adalah ekstensi dari kehendak ku untuk bertahan hidup. Tanpanya, aku merasa seperti singa yang dicabut taringnya. Tapi aku tahu, ini hanya sementara. Aku akan mengambilnya kembali, atau aku akan mengambil sesuatu yang lebih baik dari gudang persenjataan mereka.
Pikiranku beralih pada Kurumi. Dia ada di sektor medis sekarang. Aku tahu dia pasti ketakutan berada di lingkungan asing tanpa kehadiranku. Tapi di sisi lain, ini adalah ujian baginya. Dia tidak bisa selamanya bergantung pada punggungku. Jika dia ingin bertahan di dunia yang baru ini, dia harus belajar berdiri di atas kakinya sendiri, bahkan jika itu berarti harus berlumuran darah lagi.
Tiba-tiba, pintu barak terbuka sedikit. Sinar lampu sorot dari luar masuk ke dalam, menciptakan siluet panjang di lantai. Seorang prajurit berdiri di sana, memegang daftar nama.
"Zidan! Bangun! Mayor David memanggilmu ke ruang operasional. Sekarang!"
Aku tidak terkejut. Aku sudah menduga dia tidak akan membiarkanku tidur tenang. Aku bangkit, mengenakan sepatu botku yang masih kotor, dan berjalan keluar tanpa suara. Para penyintas lain bahkan tidak terusik dari tidur mereka. Mereka adalah domba yang terlalu lelap untuk menyadari serigala sedang berjalan di antara mereka.
Aku mengikuti prajurit itu menyusuri koridor beton yang dingin. Markas ini dibangun dengan arsitektur fungsional—kaku, efisien, dan tanpa estetika. Setiap sudut dijaga oleh kamera pengawas dan sensor gerak. Militer benar-benar terobsesi dengan kontrol.
Kami sampai di ruang operasional. Ruangan itu dipenuhi dengan layar monitor besar yang menampilkan peta satelit dan rekaman kamera pengawas dari berbagai titik perimeter. Mayor David berdiri di tengah ruangan, menatap sebuah layar yang menampilkan rekaman hitam putih.
"Kamu datang tepat waktu, Zidan," katanya tanpa menoleh. "Kemari. Lihat ini."
Aku melangkah maju. Di layar itu, aku melihat gerbang luar Markas Omega. Sesuatu sedang bergerak di kegelapan hutan pinus. Gerakannya patah-patah, cepat, dan tidak teratur.
"Itu Variant Alpha. Atau yang kamu sebut Crawler," bisik Mayor David. "Mereka mulai berkumpul di perimeter luar sejak helikopter kalian mendarat. Seolah-olah mereka mengikuti aroma kalian."
"Atau mungkin mereka mengikuti suara mesin helikopter mu yang berisik itu," balasku datar. "Logikanya sederhana: predator akan selalu mengikuti mangsa yang paling mencolok."
Mayor David menoleh, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mungkin kamu benar. Tapi masalahnya bukan hanya jumlah mereka yang bertambah. Masalahnya adalah cara mereka bergerak. Mereka tidak menyerang gerbang secara membabi buta seperti zombi biasa. Mereka mengintai. Mereka mencari titik lemah di tembok kami."
"Artinya mereka punya sisa-sisa intelejensia, atau setidaknya naluri berburu kelompok yang sangat tajam," kataku, menganalisis rekaman itu. "Tembokmu tidak akan cukup jika mereka mulai memanjat satu sama lain."
"Itulah sebabnya aku memanggilmu. Unit pengintai kami melaporkan adanya 'sarang' yang terbentuk sekitar tiga kilometer dari sini. Sebuah gua di lereng gunung. Kami butuh seseorang yang sudah pernah berhadapan langsung dengan mereka untuk ikut dalam tim pembersihan subuh nanti."
Aku tersenyum tipis. "Tim pembersihan? Atau tim umpan?"
Mayor David tidak berkedip. "Dalam militer, setiap peran punya nilai strategisnya sendiri. Kamu memiliki pengalaman lapangan yang tidak dimiliki prajuritku terhadap varian ini. Kamu tahu cara mereka bereaksi terhadap tembakan jarak dekat."
"Aku ikut. Tapi dengan dua syarat," kataku, melipat lengan di dada.
"Sebutkan."
"Pertama, kembalikan shotgun-ku dan berikan aku peluru slug tambahan. Peluru sebar tidak akan cukup untuk menembus kulit mereka yang bermutasi di area terbuka. Kedua, aku ingin Kurumi tetap berada di sektor medis yang paling aman selama aku pergi. Jika terjadi sesuatu pada markas ini saat aku di luar, pastikan dia yang pertama masuk ke bunker."
Mayor David terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Diterima. Senjatamu akan ada di meja perlengkapan pukul empat subuh. Mengenai Kurumi, dia aman di bawah pengawasan Dokter Alice."
"Kesepakatan tercapai," kataku. Aku berbalik untuk pergi, tapi langkahku terhenti saat melihat sebuah layar di sudut ruangan. Layar itu menampilkan data logistik makanan. Grafiknya menunjukkan penurunan tajam.
"Stok makananmu tinggal untuk dua minggu, Mayor?" tanyaku tanpa menoleh.
Aku bisa merasakan ketegangan di ruangan itu meningkat. Para operator radar di belakangku berhenti sejenak dari aktivitas mereka.
"Itu urusan internal militer, Zidan," jawab Mayor David dengan suara rendah yang mengancam.
"Urusan internal yang akan menjadi masalah eksternal begitu para penyintas di barak itu mulai merasa lapar," balasku dingin. "Logika perut jauh lebih kuat daripada logika disiplin militer. Jika kamu tidak segera menemukan sumber makanan baru, tembok ini akan hancur dari dalam, bukan dari luar."
Aku meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu jawabannya. Aku tidak butuh konfirmasi; data tidak pernah berbohong. Markas Omega yang terlihat kokoh ini sebenarnya sedang berada di ujung tanduk. Krisis pangan, mutasi virus, dan tekanan kepemimpinan—semuanya adalah bahan peledak yang hanya menunggu pematik.
Aku kembali ke barak, tapi aku tidak tidur. Aku duduk di tepi ranjang, mengasah pisau lipat kecil yang berhasil ku sembunyikan di dalam botku. Aku butuh rencana cadangan. Jika misi subuh nanti gagal, atau jika markas ini mulai runtuh, aku harus punya jalur evakuasi untukku dan Kurumi.
Pukul tiga tiga puluh pagi, aku sudah berada di gudang perlengkapan. Suasananya sibuk. Para prajurit sedang memakai rompi anti peluru dan memeriksa senapan serbu mereka. Aku melihat shotgun pompa kesayanganku tergeletak di atas meja kayu. Aku mengambilnya, merasakan beratnya yang familiar. Aku mengokang senjatanya sekali. Klik-klak. Suara mekanis yang merdu.
"Ini peluru slug yang kamu minta," seorang bintara menyerahkan dua kotak kecil peluru kepadaku. "Hati-hati, hentakannya lebih besar dari peluru biasa."
"Aku bisa mengatasinya," jawabku singkat. Aku memasukkan peluru-peluru itu ke dalam sabuk taktikal yang baru diberikan.
Aku juga mengambil sebuah rompi ringan dan beberapa granat flashbang. Di area gua yang gelap, membutakan sensor gerak mereka adalah pilihan yang jauh lebih logis daripada mencoba bersembunyi.
Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri melewati sektor medis. Aku tahu ini berisiko, tapi aku harus memastikan satu hal. Melalui jendela kaca kecil di pintu bangsal, aku melihat Kurumi. Dia sedang duduk di sebuah kursi, membantu melipat kain kasa. Dia tampak lelah, lingkaran hitam terlihat di bawah matanya.
Dia tidak melihatku. Dan aku tidak memanggilnya. Perpisahan yang dramatis hanya akan melemahkan tekadnya. Aku hanya perlu memastikan dia masih di sana, masih hidup, dan masih memiliki kemauan untuk berguna.
"Zidan, tim sudah siap di hanggar kendaraan," suara prajurit di belakangku memutus lamunanku.
Aku mengangguk. Aku berbalik dan berjalan menuju hanggar. Di sana, dua buah kendaraan taktis Humvee sudah menyala, lampunya menembus kegelapan subuh yang berkabut. Tim pembersihan terdiri dari delapan orang prajurit terlatih, dipimpin oleh Letnan Aris, seorang pria muda yang tampak terlalu bersemangat untuk ukuran orang yang akan menuju sarang monster.
"Jadi ini warga sipil yang sombong itu?" tanya Letnan Aris saat aku mendekat. Dia tersenyum meremehkan, matanya menatap shotgun kunoku. "Bawa mainan itu dengan benar, jangan sampai kamu menembak kaki sendiri saat ketakutan nanti."
Aku menatapnya datar. "Ketakutan adalah emosi bagi mereka yang tidak punya rencana. Aku punya rencana. Kamu punya apa? Keberanian buta?"
Senyum Aris menghilang. "Sialan kamu. Masuk ke mobil!"
Kami berangkat saat fajar belum benar-benar menyingsing. Humvee melaju menembus gerbang markas, meninggalkan perlindungan tembok beton menuju hutan pinus yang kelam. Jalanan di sini terjal dan berbatu. Pepohonan yang menjulang tinggi seolah-olah ingin menelan kendaraan kami.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Para prajurit sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Aku menatap keluar jendela, mengamati pergerakan di balik semak-semak. Mataku sudah terlatih untuk melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada.
"Kita hampir sampai di koordinat sarang," kata pengemudi melalui radio. "Bersiap!"
Kami berhenti sekitar lima ratus meter dari mulut gua. Udara di sini terasa sangat berat, berbau busuk yang jauh lebih pekat daripada di kota. Bau ini adalah campuran dari daging busuk, kotoran, dan sesuatu yang manis... bau virus yang terkonsentrasi.
Kami turun dari kendaraan, membentuk formasi tempur. Aku berada di posisi tengah, sesuai instruksi Mayor David. Letnan Aris memimpin di depan dengan senapan serbu M4-nya.
"Gunakan kacamata night vision!" perintah Aris.
Aku tidak memakai kacamata itu. Cahaya hijau dari NVG seringkali mengaburkan detail jarak dekat dalam kegelapan total. Aku lebih percaya pada senter taktikal yang terpasang di bawah laras shotgun-ku. Logikaku mengatakan, cahaya putih yang tajam akan memberikan efek kejut sesaat pada mata makhluk yang terbiasa di kegelapan.
Mulut gua itu tampak seperti lubang hitam yang siap menelan apa saja. Ada sisa-sisa pakaian dan tulang belulang manusia berserakan di depannya. Ini bukan sekadar tempat tinggal; ini adalah tempat pengolahan mangsa.
"Masuk! Tetap dalam formasi!" bisik Aris.
Kami melangkah masuk. Suara sepatu bot kami di atas lantai gua yang basah bergema pelan. Dinding gua ditutupi oleh semacam lendir hitam yang berdenyut pelan. Virus ini tidak hanya menginfeksi makhluk hidup, dia mulai mengubah lingkungan sekitarnya.
"Apa itu?" tanya salah satu prajurit, menunjuk ke arah langit-langit gua.
Aku mengarahkan senterku ke atas. Mataku membelalak. Di atas sana, puluhan kepompong yang terbuat dari lendir hitam bergelantungan. Di dalamnya, samar-samar terlihat siluet tubuh manusia yang sedang bermutasi.
"Ini bukan sarang biasa," bisikku, tanganku mengencang di gagang senjata. "Ini inkubator."
Tiba-tiba, suara derit tajam terdengar dari kedalaman gua. Puluhan pasang mata merah mulai menyala di kegelapan. Mereka tidak hanya merayap di lantai; mereka ada di dinding, di langit-langit, dan di belakang bebatuan besar.
"Kontak! Pukul dua belas!" teriak Aris.
RATATATATATA!
Senapan mesin mulai menyalak, membelah keheningan gua dengan kilatan api. Aku tidak langsung menembak. Aku menunggu mereka mendekat. Logika peluru: satu peluru slug harus berarti satu nyawa yang hilang.
Sesosok Crawler melompat ke arah prajurit di sebelah kananku. Dengan gerakan refleks, aku mengarahkan shotgun dan menarik pelatuk.
DOR!
Peluru slug menghantam dada makhluk itu, menembusnya hingga hancur berkeping-keping dan menghantam dinding gua di belakangnya. Prajurit itu selamat, tapi dia tampak syok melihat betapa dekatnya kematian tadi.
"Terus bergerak! Jangan biarkan mereka mengepung!" teriakku, mengambil alih komando secara tidak langsung.
Tapi ada yang aneh. Makhluk-makhluk ini tidak menyerang dengan liar. Mereka seolah-olah sedang menggiring kami lebih dalam ke dalam gua. Menuju area yang lebih luas, di mana jumlah mereka jauh lebih banyak.
"Letnan! Mundur! Ini jebakan!" teriakku.
"Jangan bicara sembarangan! Kita harus hancurkan pusatnya!" balas Aris dengan keras kepala.
Logikanya sudah tertutup oleh ego dan perintah atasan. Dia tidak menyadari bahwa di dunia ini, perintah seringkali menjadi surat kematian jika tidak disertai dengan pengamatan lapangan yang jernih.
Tiba-tiba, lantai gua di bawah kami bergetar hebat. Sebuah retakan besar muncul, dan dari dalamnya, keluar sesuatu yang jauh lebih besar dari Crawler biasa. Makhluk itu tingginya hampir tiga meter, dengan otot-otot yang membengkak secara tidak proporsional dan tangan yang menyerupai gada berduri.
"Itu apa lagi?!" teriak Aris, wajahnya pucat pasi.
"Itu alasan kenapa kita harus lari sekarang!" kataku sambil melempar granat flashbang ke arah makhluk besar itu.
BOOM!
Cahaya putih menyilaukan memenuhi gua. Dalam kekacauan itu, aku menarik kerah baju prajurit terdekat. "Mundur ke kendaraan! Sekarang! Itu perintah logis!"
Kami berlari kembali menuju mulut gua, dikejar oleh raungan monster raksasa itu. Beberapa prajurit tumbang di belakangku, dicabik-cabik oleh Crawler yang memanfaatkan kegelapan. Aku tidak berhenti untuk menolong mereka. Jika aku berhenti, aku juga akan mati, dan informasi tentang inkubator ini tidak akan pernah sampai ke markas.
Aku melepaskan tembakan terakhir ke arah langit-langit mulut gua saat kami berhasil keluar. Langit-langit itu runtuh, menghalangi jalan keluar untuk sementara.
Kami melompat ke dalam Humvee. Hanya empat dari kami yang tersisa. Letnan Aris duduk di kursi depan, tangannya gemetar hebat. Dia tidak lagi sombong. Dia baru saja melihat neraka yang tidak bisa diatasi dengan senapan serbunya.
"Zidan... apa yang harus kita katakan pada Mayor?" tanyanya dengan suara serak.
Aku memasukkan peluru baru ke dalam shotgun-ku, mataku menatap dingin ke arah gunung yang kini tampak seperti ancaman raksasa.
"Katakan padanya bahwa tembok Markas Omega tidak akan berarti apa-apa," jawabku datar. "Katakan padanya untuk menyiapkan evakuasi. Karena dunia ini... baru saja melahirkan mimpi buruk yang sebenarnya."
Aku bersandar pada kursi mobil, menutup mata sejenak. Aku harus segera menemui Kurumi. Waktu kami di lembah ini sudah habis. Logikaku berkata, perjalanan panjang kami yang sebenarnya... baru saja akan dimulai.
Catatan Penulis:
Chapter 15 membawa Zidan ke dalam sarang mutasi yang mengerikan. Dengan munculnya 'Inkubator' dan zombi raksasa 'Tanker', ancaman terhadap Markas Omega meningkat drastis. Akankah Mayor David mendengarkan peringatan Zidan? Dan mampukah Zidan menyelamatkan Kurumi sebelum semuanya terlambat? Jangan lupa Like, Favorit, dan Komentar kalian ya! Update Chapter 16 segera!